Archive | serius RSS feed for this section

Buka Rekening Online Bank Sinarmas Kapanpun Dimanapun

6 Jun
sinyal

rekening dalam genggaman

Buat saya yang sering gak jelas ada dimana dan berbuat apa gini, suka ribet kalo harus ngurus hal-hal administratif deh. Sebagai contoh, kaya setelah resign kemarin harus ngantri dan ngurus perubahan data keanggotaan di BPJS. Atau semisal ngurusin perpanjangan kartu ABC yang kudu datang dan antri di kantor terkait. Termasuk juga kalau mau bikin rekening baru dan males setengah mati buat ke bank. Selain bank punya jam buka dan tutup yang kurang lebih sama dengan jam sibuk (atau sok sibuk) saya. Ditambah udah parno duluan bayangin sekian waktu yang bakal kebuang buat antrian. Mau datang dan isi formulir malam-malam juga gak mungkin kan. Mana ada layanan perbankan di luar jam kerja.

Continue reading

Advertisements

[English Friday] Word for 2015: Better

9 Jan

Hello, Friday
image

I love friday cause for me, friday is early weekend. My work is not as busy as other weekdays even still I should available at my office eight to five.

Now, I have to write an english post for this blog everyfriday. I know that I am not that fluent in english. Neiither in speaking nor in writing. That’s why there is no even a post in this blog which is written in English. I am not saying that my Bahasa Indonesia is good, but I think, it’s better than when I write in English. So, I would like to say sorry if this first english post will be so messy.

Blog English Club is the club where bloggers share and study about English. Knowing I am not good in this complicated language, I came to the club. Poor me, I don’t know that by joining this club, I should accept its challenge. BEC gives us challenge that we should write an English post on Friday. BEC will give the theme and topic for the post.

What is your word for 2015 is challenge for this week and there will be different topics for the next weeks. If you feel that the topic suits you, feel free to join.

As I said on the title, my word for 2015 will be BETTER.

Looks cliche or too mainstream, right? But that is the only thing I want whenever the time changes. At night, I hope tomorrow will be a better day and I will be better person. In every way. At the end of month when I look flashback the whole month, I evaluate myself for every mistakes and plan for next month.

Now, it’s new year and throw back my last year, I was nothing. Stayed in my comfort zone, did silly and useless things, wasted my time without any good achievement, etc. Of course I will not do the same stupid things twice, and waste my next 1 year.

Talking about the word BETTER, I couldn’t remember where was the last time I eat Better biscuit. I think I’d better go to minimarket and buy one.

25 November

25 Nov

HARI GURU
PERJALANAN SANG PEJUANG

Guruku sayang guru kukenang
Engkau tak pernah lelah berjuang
Kalimatmu menjadikan hati tenang
Kata-katamu menumbuhkan semangat juang
Walau bebanmu berat tak terbilang
Engkau tetap datang dengan senyum mengembang.
 Guruku sayang guruku pejuang
Engkau bagaikan pohon pisang
Tetap hidup walau di tanah gersang
Engkau berikan buahmu pada semua orang
Engkau relakan daunmu untuk keperluan orang
Engkau korbankan dirimu untuk ditebang
Namun anakmu tetap tumbuh berkembang
Melanjutkan perjuangan untuk menang
Guruku sayang guru ku kenang
Keadaanmu dari dulu hingga sekarang
Tak pernah jadi orang terpandang
Dan kadang dilupakan orang
Namun engkau tak pernah lelah berjuang
 Guruku sayang guruku kenang
Engkau abdikan hidupmu untuk kebaikan orang
Engkau berikan ilmu pada semua orang
Engkau asah jiwa setajam pedang
Agar tumbuh semangat juang
Hingga berhasil dengan gemilang
Hidup mulia dan berjuang  untuk menang
Guruku sayang, tak pernah berhenti berjuang.
Semoga engkau dimuliakan Allah yang Maha Penyayang 
Guruku sayang engkau pejuang yang tak berharap tanda jasa,
Karena jasamu sudah terpahat di dalam jiwa.
Dan pasti tercacat diatas sana,
Yang tidak akan terhapus selamanya,
Meski engkau kelihatan biasa saja,
Namun engkau tetap mulia
engkau ajarkan kebenaran pada siapa saja,
Dengan hanya mengharap ridho Allah semata.

*dikirim oleh bapak saya melalui pesan whatsapp

Judulin Apa Ya?

26 Jul

” Salah satu peristiwa penting di bulan Ramadan perpindahan kiblat ke masjidilharam,
pada awal Ramadan memang
umat Islam berkiblat ke masjidilharam tapi menjelang akhir Ramadan sebagian berkiblat
ke pasar pasar, super market, toko toko, Bank-bank, pegadaian,agen tiket dan tempat tempat lain yang sejenis.
ini kejadian rutin tahunan.
Apakah kita juga akan berpaling dari masjidilharam….???
Berkiblat kemana yang lebih menguntungkan….?
Masih ragukah kita untuk serius dan istiqomah berkiblat kemasjidilharam kapan dan dimana saja kita berada……!!!!?

Copas dari status akun facebook bapak saya.

image

Jogja masih basah pagi ini, Ramadhan tinggal menyisakan 2 hari.

Mahasiswa dan FoSSEI

19 Mar

Di Bio saya ato page “Siapa Saya” di blog ini, saya sebutin kan ya kalo pernah aktif di FoSSEI. Buat yang belum tau, FoSSEI ini semacam organisasi mahasiswa yang orientasinya dakwah di ranah ilmiah. Kepanjangannya Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam.

Cakupannya saat ini sih se Indonesia Raya yaa. Meski tidak menutup kemungkinan kalo bakal melebar ke tetangga2 ata sebelah sebelah ato jauh sekalian. Soalnya di nama aja gak bawa embel2 eksklusif buat Indonesia kan yaa (ini sih saya aja yg maksa).

Cerita dikit sih, benar memang dulu saya sempet aktif di forum ini. Yaa tingkat kroco lah, karir saya sampai di Propinsi DIY saja. Alhamdulillah meski ublek di Jogja aja, namanya forum silaturrahim yaa bisa nyambung sampe kemana mana. Rata-rata sih sesama mahasiswa ekonomi dan semacamnya dari berbagai kampus di negri kitah tercintah ini.
Gak heran saya selalu cari kontak mereka2 yang pernah mengenal FoSSEI setiap kali saya harus ke kota yang baru dan masih asing..

Sebagai forum studi juga, saya bisa belajar dan dapat banyaaaaaak banget dari ikutnya saya disini. FoSSEI sudah kasih saya banyaaak sekali ilmu ilmu yang gak saya dapat di bangku kuliah.
Masih sebagai forum silaturrahim juga, meski tingkat kroco, saya berkesempatan bisa bertemu langsung dan mengenal (merekanya sih gak tau ya kenal saya ato nggak) tokoh2 ekonomi utamanya yg turut jd perintis pertumbuhan lembaga2 keuangan syariah di negara jaya kita iniih.
Gak usah banyak banyak lah ya, semacam ketua OJK sekarang, CEO nya KARIM konsultan yg jd konsultan banyak lembaga keuangan syariah, yg ngurusin dan ngawasin praktek di bank syariah ud bener atau belum dari BI, de el el. Saya bisa belajar langsung kepada beliau beliau karena kemudahan akses saya sebagai kroco di FoSSEI.

image

Silaturrahim Akbar Alumni FoSSEI bareng beliau2 yg expert

Yah intinya sih saya bersyukur banget pernah terlibat dan mengenal FoSSEI. Saya bisa belajar macam2 dari ilmu2 ruwetnya IE, Manajemen, Akuntansi, bahkan sampai mahasiswa2 syariah. Semua blend dan bisa bikin otak saya terasah dan pengwn belajar terus (saat itu). Gak ada pertemuan sesantai apapun yang lewat dr diskusi. Even kita lagi basah2an di pantai, nongkrong di angkringan, atau di forum resmi yang kami harus dan sering bersilang pendapat dan tak jarang berargumen.

Sekarang sudah lewat hampir 5-6 tahun dari masa masa itu. Meski komunikasi sebagian masih terjalin baik. Rekan2 saya di jogja sudah seperti keluarga. Rekan2 yang sempat saya turut kenal dan berbaur, yang menerima saya saat di Jawa Timur juga memberi kesan mendalam. Sempat membuat saya berat meninggalkan jawa timur. Ah apa kabar kalian?

Tiba tiba ingin posting tentang ini karena 2 hal:
1. Akhir2 ini banyak yang nyasar ke blog saya dengan keyword “temilnas (temu ilmiah nasional) fossei 2014”. Event rutin tahunan yang hanya sempat saya ikuti pada 2009 di Bali
2. Baru saja dihubungi rekan mahasiswa yg masih aktif di fossei, untuk share ide terkait agenda Temilnas 2014 di Malang, dan ternyata otak saya buntu dan tumpul. Gak bisa urun apa apa. Ternyata saya kangen diskusi2 masa masa idealis itu.

Peluk, Cium, Cinta untuk FoSSEI. Teruslah bergerak dalam dakwah dalam bingkai ilmiah….

image

Bikin gambar ecek2 ini pas 2010

Saving di Bank Syariah, Dapat Apa?

1 Mar

Ehm ehm. Tes test…
Sesekali sharing dikit topik yang agak serius *rapiin kerah
image

Sebenarnya topik kali ini gak terbatas cuma di lembaga keuangan bernama Bank saja. Tetapi bisa dibilang hampir sama lah untul lembaga keuangan lain, selama masih sama sama berlabel Syariah.
Pernah denger donk ya kalau yang namanya di Bank Syariah, Tidak Boleh ada yang namanya Bunga. Bunga di sini yg berarti interest ya. Kalau main ke bank syariah n nemu di lobi atau di halaman ato teras ato lain lain ada bunganya, gak usah kaget trus mau lapor ke OJK. Hehe ( gak ad  juga kali yg selebay pemikiran sayaa).

Trus kalo gak dapet bunga, saya dapet apa donk kalo mau saving di Bank Syariah? Rugi uang saya disimpen banyak lama lama dipakai buat pembiayaan (kredit), tp gak dpt apa apa.

Santaiii. Tetap ada yg namanya return, tapi bukan bunga. Ketentuan mengenai hal ini sudah di atur dlm fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) yg khusus ngatur fatwa2 buat lembaga keuangan dengan prinsip syariah. Selain itu tiap Bank Syariah juga wajib punya Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang memastikan produk2 di Bank Syariah tersebut sudah sesuai ketentuan (dalam hal ini fatwa DSN).

Balik lagi ke return buat nasabah yang menyimpan dana. Di sini, saya share 2 yang paling populer dulu yaa…

1. Bagi Hasil
Mungkin ini istilah yang paling populer. Perlu diingat kalo bagi hasil ini gak cuma satu satunya bentuk return di Bank Syariah. Jadi jangan asal ngganti bunga dengan bagi hasil ya.
Sesuai namanya, bagi hasil berarti kita sebagai nasabah mendapat bagian dari hasil diinvestasikannya harta kita oleh bank tersebut.
Berapa besarnya? Tentu saja gak bisa dipastiin di awal. Karna bagi hasil yang kita dapat itu baru bisa kita tau setelah duitnya beneran dipake usaha sama si bank. Yang dikasih bank ke kita cuma prosentase porsi (nisbah) dari total bagi hasil yg kita dapet (semacam 60%:40%, 50%:50%, 30%:70%, dst)

Ilustrasi:
Saya deposito 1 tahun sebesar 10jt dg nisbah nasabah:bank 50:50 (angkanya asal ya). Selama satu tahun, bank mendapat keuntungan 1jt per 10jt nya.
Berarti bagi hasil saya diakhir tahun nanti=hasil x nisbah saya –> 1jt x 50%=500,000
Note: ilustrasi ini saya bikin setahun skalian biar gampang. Kalo riilnya tiap bulan koq.

Wah, gak bisa mastiin donk?
Yup bener banget. Tapi kita bisa prediksi koq. Di tiap bank syariah, biasanya mereka pajang tabel equivalen rate mereka. Alias selama ini bagi hasil mereka kalo disetarakan dengan bunga sekitar berapa persennya.
Dari pengalaman saya sih, biasanya riil nya malah lebih gede.

Bagi hasil berlaku di jenis saving yg pake akad investasi. Contohnya deposito atau tabungan mudharabah. Dengan model ini, kita bisa tau gimana perkembangan si Bank. kalo dg jml saldo mengendap yg sama, tiap bulan dpt bagi hasil lebih bagus, brarti keuangan si Bank juga bagus. Kalo semakin lama semakin turun, mending mulai hati hati deh. Karna brarti hasil nya si Bank smakin turun juga kan? (Sebelumnya cek dulu ad perubahan nisbah gak).

2. Bonus

Selain produk saving dengan prinsip mudharabah, ada juga yang namanya wadiah atau kalo dalam bahasa indonesia namanya titipan.
Karna prinsipnya titipan, berarti harus Bank siap siaga kalau sewaktu waktu si empunya harta mau ngambil titipannya. Selain itu juga, Bank sebenarnya boleh boleh aja kalo gak kasih return apapun. Prinsip yang sperti ini biasanya ada di produk tabungan reguler dan giro. Dana-dana yang sewaktu-waktu bisa diambil.

Dalan prakteknya di perbankan syariah, hampir semua prinsip ini dapet return yang namanya bonus. Besarnya bonus ini juga gak boleh dijanjiin di awal. Bisa berapa berapa persen sesuai kebijakan bank nya. Tapi yang jelas, biasanya gak bakal lebih gede dr bagi hasil nya mudharabah ya.
Karna return yang gak terlalu besar, model ini biasanya main promosi di layanan. Misalnya free biaya transfer, free biaya admin bulanan (atau kadang ringan), free biaya atm, setoran dan saldo minimum lebih kecil, endesbra endesbre.

Dengan kedua model ini, bank syariah jd HARUS benar2 mengelola dana nasabah untuk disalurkan ke pembiayaan. Kalo gak, otomatis nasabahnya jadi tau kalo si bank gak ngelola dana dg bener dari bagi hasil atau bonus yang dia dapet. Bisa dilihat Lending to Deposit Ratio LDR (rasio dana yang dipinjamkan dlm kredit/pembiayaan terhadap dana nasabah yg dihimpun bank) bank syariah rata rata jd rada tinggi.

Semoga jabaran di atas bisa jd gambaran dikit ya buat bedain aja kalo gak semua yang berbau syariah pasti bagi hasil.
Intinya sih dengan menyimpan dana di lembaga keuangan apapun itu, berarti turut membantu pihak2 lain yang membutuhkan dana. Seperti yang butuh tambah modal kerja, butuh pinjam buat proyek, buat LC, BG, buat yg butuh kredit rumah, mobil, dst.

Berhubung saya juga bukan expert di perbankan maupun di syariah, jika ada penjelasan yg salah atau kurang, saya trimakasih banget loh kalo diingatkan.

Kontak lain lain kalo rada privat,  bisa ke email saya aqid.aqida@gmail.com

*tidak menerima perdebatan soal syariah-gak syariah, halal-haram, membanding2kan antar lembaga keuangan, atau debat kusir lainnya.
*hal hal yg masih jd perdebatan di kalangan experts,, gak perlu dijadiin bahan debat juga dg saya yg amatir

TEMILNAS FoSSEI 2010

18 Jan

assalamualaikum wr wb

berikut info TEMU ILMIAH NASIONAL IX 2010 oleh Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (TEMILNAS 2010 FoSSEI).

info dapat di download lewat link-link berikut:

Proposal TEMILNAS

Teknis LKTEI

Teknis olimpiade

sekedar tambahan, kami sertakan juga soal soal TEMILNAS-TEMILREG Jogja terdahulu, semoga bermanfaat.

Soal Olimpiade TEMILNAS 2008 UGM

PenyisihanTEMILREG Jogja 2009

TEMILNAS 2009__Soal Babak Penyisihan Sesi I – Multiple Choice

TEMILNAS 2009__Soal Babak Penyisihan Sesi II – Jawaban Singkat

tambahan:

KEWAJIBAN PESERTA TEMILNAS IX

1. Mengisi Formulir Pendaftaran

2. Membawa surat keterangan utusan dari universitas yang disahkan oleh rektor atau dekan.

3. Membawa surat Mandat bagi utusan KSEI.

4. Menyerahkan Pasphoto 3X 4 = 2 lembar

5. Membayar Kontribusi Peserta Rp. 300.000,-

info lengkap: http://temilnas-fossei2010.blogspot.com/

sekian,

wassalamualaikum wr wb

 

 

PS: berhubung ini posting sudah lama sekali,,, bagian lain sudah tidak berlaku yaa

Sharia Economic Training FoSSEI Jogja

17 Dec

Sharia Economic Training atau SET, merupakan bagian dari alur kaderisasi FoSSEI setelah DEI.
untuk itu, kami dari foSSEI Regional Yogyakarta mengadakan SET pada 18-20 Desember 2009 di PP Nurul Huda Tempel Sleman. Mohon doan dan dukungannya……..
terimakasih

Indonesia dan Ekonominya

24 Aug

Saat ini, sistem perekonomian dunia, khususnya negara kita, Indonesia bisa dikatakan sedang terpuruk. Nilai tukar rupiah yang tidak kunjung menguat, menunjukkan kelemahan daya saing Indonesia di Pasar Global. Mengapa demikian? Sistem Ekonomi yang saat ini diterapkan Indonesia dan banyak negara-negara lain di Dunia adalah sistem ekonomi konvensional, sistem yang dibuat oleh dan untuk manusia yang kurang lebih ditujukan untuk menyejahterakan manusia yang berekonomi kuat atau kaum kapitalis saja. Berbeda dengan sistem ekonomi Islam, yang dengan jelas dan nyata bersumber pada AlQuran dan Hadits. Pembuat sistem ekonomi Islam adalah langsung dari Sang Pemilik Manusia yang sangat mengerti seluk beluk manusia dan memahami apa yang perlu dilakukan manusia untuk mencapai kesejahteraan bersama. Sehingga sangat jelas bahwa sistem ekonomi Islam jika diterapkan dengan benar dan sesuai dengan sumbernya akan membuahkan kesejahteraan yang sebenar-benarnya.

Tidak hanya dari sumbernya, perbedaan lain dalam kedua sistem ekonomi ini terletak pula pada kurva konsumsi. Konsumsi pada sistem ekonomi islam terdapat tambahan untuk zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS). Sesuatu yang tidak ada pada ekonomi konvensional. Terlihat sudah dengan jelas bahwa sistem ekonomi Islam cenderung lebih memperhatikan aspek kesejahteraan bersama dan solidaritas dibanding ekonomi konvensional yang cenderung egois dan berpihak pada kapitalis saja. Padahal, dengan ketertiban zakat, infaq, dan shodaqoh, keharmonisan hubungan antara kaum Muzakki dan Mustahiq pun akan terjaga. Sehingga perilaku menyimpang akibat dorongan ekonomi dapat terminimalisir.

Sayangnya, dari sekian banyak masyarakat muslim Indonesia yang benar-benar memiliki kesadaran untuk tertib membayar zakat dan rajin berinfak masih sedikit. Keinginan untuk menimbun harta sebanyak-banyaknya berbanding lurus dngan keengganan untuk berbagi. Sesuai dengan hukum ekonomi yang menyatakan bahwa keinginan manusia tak terbatas, maka segala cara ditempuh untuk memperbanyak harta. Jika demikian, bagaimana mungkin akan timbul semangat berbagi kalau harta yang didapat saja bukan dari jalur yang halal. Padahal, dengan kemajuan teknologi, telah dibuat cara-cara praktis untuk berzakat. Bahkan kini telah dipraktekkan zakat melalui sms yang jelas memberti kemudahan. Tetapi, hal ini tidak merubah keengganan tersebut.

Permasalahan lain ZIS terletak pada pengalokasian dananya yang cenderung memberi kesejahteraan melalui kemudahan berkonsumsi. Kurang lebih hanya sekedar bantuan sementara dan layanan fasilitas gratis untuk masyarakat kurang mampu. Seperti yang menjadi salah satu produk dalam lembaga-lembaga distributor ZIS di Indonesia, misalnya, ambulance dan mobil jenazah gratis, sekolah gratis,  bantuan korban bencana, dan lain-lain. Fasilitas gratis seperti ini memang sangat membantu golongan Mustahiq. Karena dengan itu, kondisi masyarakat yang terdesak dapat terbantu. Akan tetapi, apakah mereka akan selalu bergantung pada ke’gratis’an tersebut? Sampai kapan?

Masyarakat mampu yang tertib berzakat diketahui jumlahnya tidak banyak sementara kaum miskin yang merasa berhak untuk mendapatkan haknya sangat banyak, hingga akhirnya banyak kaum miskin yang tidak mendapatkan haknya. Sebagaimana yang terjadi pada bulan Ramadhan 1428 H kemarin. Kekhawatiran para penerima zakat akan habisnya zakat yang akan dibagikan kepada mereka menjadikan pembagian zakat menjadi ajang rebutan dan tidak jarang saling sikut dan menjatuhkan orang lain yang dianggap sebagai pesaingnya. Akibatnya, korban yang berjatuhan tidak sedikit. Bahkan ada pula anak kecil yang belum cukup umur   yang pingsan di tempat pembagian zakat. Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di satu titik. Tetapi sebagian besar titik-titik pembagian zakat fitrah di seluruh Indonesia. Menunjukkan bahwa betapa banyak masyarakat Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan dan merasa sangat terbantu dengan zakat, sampai saling menjatuhkan sesama rekannya.

Ada juga golongan kurang mampu yang lantas menggantungkan diri pada  kebaikan dan kemurahan hati orang lain yang kemudian menyebabkannya menjadi bermalas-malasan. Dengan terbantunya dengan kemurahan hati dan kebaikan orang lain sehingga keinginan untuk menjadi lebih produktif pun makin lama makin menipis dan akhirnya hilang sama sekali. Sebagaimana yang terjadi pada mereka yang hidup dan tinggal bersama di lingkungan masyarakat yang berjiwa sosial tinggi. Dalam kondisi seperti ini, pengalokasian dana ZIS menjadi tidak efektif dan  kurang mendidik kemandirian. Bahkan bisa dikatakan simbiosis parasitisme antara si kaya dan si miskin.

Dengan dana ZIS yang ada, mengapa tidak dicoba untuk mendidik kemandirian dan produktifitas mereka saja?

Kendala yang seringkali dianggap menghalangi produktifitas golongan tidak mampu terletak pada masalah finansial. Sulitnya mendapatkan bantuan untuk suntikan modal menyebabkan usaha kecil dan keinginan untuk mandiri menjadi terhenti. Pinjaman lunak yang bisa digunakan untuk mempermudah pengembangan usaha mandirinya tidak mudah untuk didapat. Kesulitan seperti ini tidak jarang menenggelamkan kembali semangat untuk mandiri dan akhirnya kembali menggantungkan diri pada fasilitas gratis dan  bantuan-bantuan dari pihak lain. Akibatnya, golongan seperti ini statis dalam kondisi sulit mereka. Dalam situasi seperti inilah ZIS dapat menjadi solusi.

Bagaimana agar dana ZIS dapat menjadi investasi jangka panjang yang tidak hanya sekedar memberi kesejahteraan yang sifatnya sementara saja. Dengan ini masyarakat tidak mampu pun menjadi terbantu secara jangka panjang pula. Dalam kasus ini, bantuan untuk modal dan biaya operasional dalam bentuk pinjaman lunak atau bantuan cuma-cuma khusus rakyat miskin, dapat menjadi pemicu kaum tidak mampu untuk bangkit dan keluar dari kesulitan finansialnya. Dengan pengalokasian yang seperti ini, kaum tidak mampu menjadi lebih produktif dan mandiri serta terangkat derajat sosialnya. Tidak hanya itu, kaum papa juga semakin terlatih untuk menjadi enterpreneur.

Dengan adanya sistem seperti ini, pengusaha kecil bahkan yang paling kecil sekalipun dapat mengembangkan ketrampilan dan usahanya tanpa khawatir menghadapi kendala finansial. Dan penghasilan tetap yang didapat, sedikit banyak akan membantu masyarakat tidak mampu.

Permasalahan yang mungkin akan timbul adalah, kemungkinan penyalahgunaan bantuan ini untuk tujuan yang tidak sesuai. Untuk itu, dari awal transaksi, perlu diadakannya perjanjian bahwa dana yang akan diberikan tersebut benar-benar untuk sebuah usaha dengan pengembalian dapat diangsur atau dibayar kembali tunai melalui hasil keuntungan dari usaha yang dijalankannya tersebut.

Sistem ini telah terbukti berhasil mengentaskan masyarakat miskin dan meningkatkan kemandirian sebagaimana yang terjadi di Bangladesh. Muhammad Yunus, dengan…………… bank nya, mampu mengangkat masyarakat miskin menjadi lebih produktif. Dari situlah Beliau mendapat penghargaan Nobel tahun 2006. karena dengan bantuan modal lunaknya untuk membiayai masyarakat miskin, dalam kasus ini kebanyakan wanita, ribuan anak-anak tidak mampu dapat menikmati bangku pendidikan. Banyak kaum wanita atau para ibu menjadi produktif dan terlatih untuk  menjadi enterpreneur. Problem kemiskinan pun dapat terpecahkan.

Bagaimana dengan Indonesia????????????

diSTribuSi

24 Aug

disampaikan pada mata Kuliah:

TafSir Ekonomi

di ISLAMIC BANKING SCHOOL YOGYAKARTA

Dalam perekonomian modern, tidak dapat dipungkiri bahwa distribusi merupakan sector penting dalam aktifitas perekonomian. Distribusi, termasuk distribusi pendapatan dan distribusi kekayaan, baik yang melalui aktivitas yang bersifat ekonomi maupun social. Distribusi sangat kental dalam perekonomian Islam.

Menurut Muhammad Anas Zarqa (1995)1 terdapat beberapa factor yang menjadi dasar distribusi (atau redistribusi); tukar menukar (exchange), kebutuhan (need), kekuasaan (power), system social dan nilai etika (social system and ethical values). Anas Zarqa melihat begitu pentingnya memelihara kelancaran distribusi agar tercipta sebuah perekonomian yang dinamis, adil dan produktif. Contoh jelas dari urgensi distribusi dalam Islam adalah eksistensi mekanisme zakat dalam ekonomi.

Islam menjunjung tinggi hak individu atas kepemilikan terhadap sesuatu, namun karena mekanisme kepemilikan tidak dapat dilakukan oleh semua individu, bahwa orang yang berkuasa, berkeahlian tertentu, akan mendapatkan “kelebihan” yang dapat saja mengarah kepada “kecenderungan menghambat pemerataan kesejahteraan”. Karena itulah diperlukan system yang menjamin terjadinya distribusi atau redistribusi dalam perekonomian. Ingatlah tentang kelebihan karunia Allah yang diberikan Allah kepada sebagian hamba-hamba-Nya. Pelajari, ayat-ayat berikut; an-Nisa(4): 32, an-Nahl(16): 71, an-Naml(27): 15, al-Isra(17):70, al-Jasiah(45):16, ar-Ra’d(13): 4

Dalam Islam penjaminan kelancaran distribusi ini sudah disistemkan melalui prinsip-prinsip atau ketentuan-ketentuan syariah, misalnya kewajiban menjalankan mekanisme zakat dan mekanisme aktivitas perekonomian yang diatur oleh syariah.

Dari perspektif lain dalam dunia usaha (ekonomi riil) kegiatan distribusi dapat juga diartikan sebagai usaha melancarkan penyebaran sumber daya sehingga kesejahteraan dapat merata dirasakan. Artinya distribusi terjadi karena aktifitas ekonomi, seperti kegiatan jual-beli dan dunia kerja (reward and effort). Bahkan pelaku distribusi kini telah menjadi pelaku ekonomi dominan di samping konsumen dan produsen. Karena itulah, ekonomi Islam menempatkan secara strategsis terhadap posisi sector ini dalam mekanisme perekonomiannya.

Wahai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-haknya dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (Hud(11) : 85)

Fungsi distribusi dalam aktifitas ekonomi pada hakikatnya mempertemukan kepentingan konsumen dan produsen dengan tujuan kemashlahatan ummat. Ketika konsumen dan produsen memiliki motif utama adalah memenuhi kebutuhan maka distribusi sepatutnya melayani kepentingan ini dan memperlancar segala usaha menuju ke arah motif dan tujuan ini.

Aktifitas usaha distribusi ini kemudian dituntut untuk dapat memenuhi hak dan kewajiban yang diinginkan oleh syariat bagi konsumen dan produsen. Dengan demikian, aktifitas distribusi sebaiknya sejalan dengan motif dan tujuan utama dari aktifitas produksi dan konsumsi, yaitu pemenuhan kebutuhan masyarakat luas dengan landasan kemaslahatan. Kebutuhan utama adalah kebutuhan dasar atau pokok yang harus menjadi prioritas utama untuk dipenuhi dari perekonomian yang dijalankan produsen, konsumen dan distributor. Pemenuhan kebutuhan dasar dan penjaminan kelancarannya dalam perekonomian menjadi faktor penentu kestabilan ekonomi, politik dan sosial dalam kehidupan manusia.

Disamping faktor penjaminan distribusi yang dilakukan oleh mekanisme syariah melalui zakat dan lain-lain serta mekanisme ekonomi melalui aktivitas perekonomia seperti jual-beli, reward and effort, peran pemerintah atau negara juga tidak kalah penting dalam memastikan dan menjami kelancaran distribusi ini. Negara memiliki banyak pilihan berupa kebijakan atau instrumen untuk menjamin agar distribusi dapat berlangsung secara baik.

Bahasan Ayat

Pelajaran ayat-ayat di bawah ini dan ayat-ayat lainnya;

Berdasar urutan dalam mushaf adalah ayat-ayat di bawah ini adalah sebagai berikut; Al-Anfal(8): 1, at-Taubah(9): 60 al-Isra’(17): 12, al-Hadid(57): 7, al-Hasyr(59): 7,

Sedangkan berdasarkan kronologis turunnya surat-surat dalam al-Qur’an adalah sebagai berikut;

al-Isra’(17): 12 [ ], Al-Anfal(8): 1[ ], al-Hadid(57): 7, [ ]

al-Hasyr(59): 7 [ ], at-Taubah(9): 60[ ]

Dari urutan demikian dapat disimpulkan pemahaman; Allah telah menyediakan waktu siang dan malam yang beredar terus menerus sebagai media mencari nafkah. Bahwa harta yang didapat (ghanimah dan lain-lain) adalah milik Allah karena kemenangan atau perolehan atas harta itu atas karunia Allah. karena itu nafkahkanlah dari apa yang kamu peroleh. Mengapa? Agar tidak terjadi penumpukan harta di kalangan tertentu. Kepada siapa didistribusikan nafkah atau zakat itu, yaitu kepada 8 asnaf sbagaimana di sebutkan dalam ALQUR’AN…..

1 Muhammad Anas Zarqa, Islamic Distributive Scheme, Readings in Public Finance in Islam, (Edited by Mahamoud A. Gulaid & Mohamed Aden Abdullah), Islamic Research and Training Institute (IRTI) – Islamic Development Bank (IDB), Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia, 1995, pp. 181-184.

%d bloggers like this: