Archive | serius RSS feed for this section

TEMILNAS FoSSEI 2010

18 Jan

assalamualaikum wr wb

berikut info TEMU ILMIAH NASIONAL IX 2010 oleh Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (TEMILNAS 2010 FoSSEI).

info dapat di download lewat link-link berikut:

Proposal TEMILNAS

Teknis LKTEI

Teknis olimpiade

sekedar tambahan, kami sertakan juga soal soal TEMILNAS-TEMILREG Jogja terdahulu, semoga bermanfaat.

Soal Olimpiade TEMILNAS 2008 UGM

PenyisihanTEMILREG Jogja 2009

TEMILNAS 2009__Soal Babak Penyisihan Sesi I – Multiple Choice

TEMILNAS 2009__Soal Babak Penyisihan Sesi II – Jawaban Singkat

tambahan:

KEWAJIBAN PESERTA TEMILNAS IX

1. Mengisi Formulir Pendaftaran

2. Membawa surat keterangan utusan dari universitas yang disahkan oleh rektor atau dekan.

3. Membawa surat Mandat bagi utusan KSEI.

4. Menyerahkan Pasphoto 3X 4 = 2 lembar

5. Membayar Kontribusi Peserta Rp. 300.000,-

info lengkap: http://temilnas-fossei2010.blogspot.com/

sekian,

wassalamualaikum wr wb

 

 

PS: berhubung ini posting sudah lama sekali,,, bagian lain sudah tidak berlaku yaa

Advertisements

Sharia Economic Training FoSSEI Jogja

17 Dec

Sharia Economic Training atau SET, merupakan bagian dari alur kaderisasi FoSSEI setelah DEI.
untuk itu, kami dari foSSEI Regional Yogyakarta mengadakan SET pada 18-20 Desember 2009 di PP Nurul Huda Tempel Sleman. Mohon doan dan dukungannya……..
terimakasih

Indonesia dan Ekonominya

24 Aug

Saat ini, sistem perekonomian dunia, khususnya negara kita, Indonesia bisa dikatakan sedang terpuruk. Nilai tukar rupiah yang tidak kunjung menguat, menunjukkan kelemahan daya saing Indonesia di Pasar Global. Mengapa demikian? Sistem Ekonomi yang saat ini diterapkan Indonesia dan banyak negara-negara lain di Dunia adalah sistem ekonomi konvensional, sistem yang dibuat oleh dan untuk manusia yang kurang lebih ditujukan untuk menyejahterakan manusia yang berekonomi kuat atau kaum kapitalis saja. Berbeda dengan sistem ekonomi Islam, yang dengan jelas dan nyata bersumber pada AlQuran dan Hadits. Pembuat sistem ekonomi Islam adalah langsung dari Sang Pemilik Manusia yang sangat mengerti seluk beluk manusia dan memahami apa yang perlu dilakukan manusia untuk mencapai kesejahteraan bersama. Sehingga sangat jelas bahwa sistem ekonomi Islam jika diterapkan dengan benar dan sesuai dengan sumbernya akan membuahkan kesejahteraan yang sebenar-benarnya.

Tidak hanya dari sumbernya, perbedaan lain dalam kedua sistem ekonomi ini terletak pula pada kurva konsumsi. Konsumsi pada sistem ekonomi islam terdapat tambahan untuk zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS). Sesuatu yang tidak ada pada ekonomi konvensional. Terlihat sudah dengan jelas bahwa sistem ekonomi Islam cenderung lebih memperhatikan aspek kesejahteraan bersama dan solidaritas dibanding ekonomi konvensional yang cenderung egois dan berpihak pada kapitalis saja. Padahal, dengan ketertiban zakat, infaq, dan shodaqoh, keharmonisan hubungan antara kaum Muzakki dan Mustahiq pun akan terjaga. Sehingga perilaku menyimpang akibat dorongan ekonomi dapat terminimalisir.

Sayangnya, dari sekian banyak masyarakat muslim Indonesia yang benar-benar memiliki kesadaran untuk tertib membayar zakat dan rajin berinfak masih sedikit. Keinginan untuk menimbun harta sebanyak-banyaknya berbanding lurus dngan keengganan untuk berbagi. Sesuai dengan hukum ekonomi yang menyatakan bahwa keinginan manusia tak terbatas, maka segala cara ditempuh untuk memperbanyak harta. Jika demikian, bagaimana mungkin akan timbul semangat berbagi kalau harta yang didapat saja bukan dari jalur yang halal. Padahal, dengan kemajuan teknologi, telah dibuat cara-cara praktis untuk berzakat. Bahkan kini telah dipraktekkan zakat melalui sms yang jelas memberti kemudahan. Tetapi, hal ini tidak merubah keengganan tersebut.

Permasalahan lain ZIS terletak pada pengalokasian dananya yang cenderung memberi kesejahteraan melalui kemudahan berkonsumsi. Kurang lebih hanya sekedar bantuan sementara dan layanan fasilitas gratis untuk masyarakat kurang mampu. Seperti yang menjadi salah satu produk dalam lembaga-lembaga distributor ZIS di Indonesia, misalnya, ambulance dan mobil jenazah gratis, sekolah gratis,  bantuan korban bencana, dan lain-lain. Fasilitas gratis seperti ini memang sangat membantu golongan Mustahiq. Karena dengan itu, kondisi masyarakat yang terdesak dapat terbantu. Akan tetapi, apakah mereka akan selalu bergantung pada ke’gratis’an tersebut? Sampai kapan?

Masyarakat mampu yang tertib berzakat diketahui jumlahnya tidak banyak sementara kaum miskin yang merasa berhak untuk mendapatkan haknya sangat banyak, hingga akhirnya banyak kaum miskin yang tidak mendapatkan haknya. Sebagaimana yang terjadi pada bulan Ramadhan 1428 H kemarin. Kekhawatiran para penerima zakat akan habisnya zakat yang akan dibagikan kepada mereka menjadikan pembagian zakat menjadi ajang rebutan dan tidak jarang saling sikut dan menjatuhkan orang lain yang dianggap sebagai pesaingnya. Akibatnya, korban yang berjatuhan tidak sedikit. Bahkan ada pula anak kecil yang belum cukup umur   yang pingsan di tempat pembagian zakat. Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di satu titik. Tetapi sebagian besar titik-titik pembagian zakat fitrah di seluruh Indonesia. Menunjukkan bahwa betapa banyak masyarakat Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan dan merasa sangat terbantu dengan zakat, sampai saling menjatuhkan sesama rekannya.

Ada juga golongan kurang mampu yang lantas menggantungkan diri pada  kebaikan dan kemurahan hati orang lain yang kemudian menyebabkannya menjadi bermalas-malasan. Dengan terbantunya dengan kemurahan hati dan kebaikan orang lain sehingga keinginan untuk menjadi lebih produktif pun makin lama makin menipis dan akhirnya hilang sama sekali. Sebagaimana yang terjadi pada mereka yang hidup dan tinggal bersama di lingkungan masyarakat yang berjiwa sosial tinggi. Dalam kondisi seperti ini, pengalokasian dana ZIS menjadi tidak efektif dan  kurang mendidik kemandirian. Bahkan bisa dikatakan simbiosis parasitisme antara si kaya dan si miskin.

Dengan dana ZIS yang ada, mengapa tidak dicoba untuk mendidik kemandirian dan produktifitas mereka saja?

Kendala yang seringkali dianggap menghalangi produktifitas golongan tidak mampu terletak pada masalah finansial. Sulitnya mendapatkan bantuan untuk suntikan modal menyebabkan usaha kecil dan keinginan untuk mandiri menjadi terhenti. Pinjaman lunak yang bisa digunakan untuk mempermudah pengembangan usaha mandirinya tidak mudah untuk didapat. Kesulitan seperti ini tidak jarang menenggelamkan kembali semangat untuk mandiri dan akhirnya kembali menggantungkan diri pada fasilitas gratis dan  bantuan-bantuan dari pihak lain. Akibatnya, golongan seperti ini statis dalam kondisi sulit mereka. Dalam situasi seperti inilah ZIS dapat menjadi solusi.

Bagaimana agar dana ZIS dapat menjadi investasi jangka panjang yang tidak hanya sekedar memberi kesejahteraan yang sifatnya sementara saja. Dengan ini masyarakat tidak mampu pun menjadi terbantu secara jangka panjang pula. Dalam kasus ini, bantuan untuk modal dan biaya operasional dalam bentuk pinjaman lunak atau bantuan cuma-cuma khusus rakyat miskin, dapat menjadi pemicu kaum tidak mampu untuk bangkit dan keluar dari kesulitan finansialnya. Dengan pengalokasian yang seperti ini, kaum tidak mampu menjadi lebih produktif dan mandiri serta terangkat derajat sosialnya. Tidak hanya itu, kaum papa juga semakin terlatih untuk menjadi enterpreneur.

Dengan adanya sistem seperti ini, pengusaha kecil bahkan yang paling kecil sekalipun dapat mengembangkan ketrampilan dan usahanya tanpa khawatir menghadapi kendala finansial. Dan penghasilan tetap yang didapat, sedikit banyak akan membantu masyarakat tidak mampu.

Permasalahan yang mungkin akan timbul adalah, kemungkinan penyalahgunaan bantuan ini untuk tujuan yang tidak sesuai. Untuk itu, dari awal transaksi, perlu diadakannya perjanjian bahwa dana yang akan diberikan tersebut benar-benar untuk sebuah usaha dengan pengembalian dapat diangsur atau dibayar kembali tunai melalui hasil keuntungan dari usaha yang dijalankannya tersebut.

Sistem ini telah terbukti berhasil mengentaskan masyarakat miskin dan meningkatkan kemandirian sebagaimana yang terjadi di Bangladesh. Muhammad Yunus, dengan…………… bank nya, mampu mengangkat masyarakat miskin menjadi lebih produktif. Dari situlah Beliau mendapat penghargaan Nobel tahun 2006. karena dengan bantuan modal lunaknya untuk membiayai masyarakat miskin, dalam kasus ini kebanyakan wanita, ribuan anak-anak tidak mampu dapat menikmati bangku pendidikan. Banyak kaum wanita atau para ibu menjadi produktif dan terlatih untuk  menjadi enterpreneur. Problem kemiskinan pun dapat terpecahkan.

Bagaimana dengan Indonesia????????????

diSTribuSi

24 Aug

disampaikan pada mata Kuliah:

TafSir Ekonomi

di ISLAMIC BANKING SCHOOL YOGYAKARTA

Dalam perekonomian modern, tidak dapat dipungkiri bahwa distribusi merupakan sector penting dalam aktifitas perekonomian. Distribusi, termasuk distribusi pendapatan dan distribusi kekayaan, baik yang melalui aktivitas yang bersifat ekonomi maupun social. Distribusi sangat kental dalam perekonomian Islam.

Menurut Muhammad Anas Zarqa (1995)1 terdapat beberapa factor yang menjadi dasar distribusi (atau redistribusi); tukar menukar (exchange), kebutuhan (need), kekuasaan (power), system social dan nilai etika (social system and ethical values). Anas Zarqa melihat begitu pentingnya memelihara kelancaran distribusi agar tercipta sebuah perekonomian yang dinamis, adil dan produktif. Contoh jelas dari urgensi distribusi dalam Islam adalah eksistensi mekanisme zakat dalam ekonomi.

Islam menjunjung tinggi hak individu atas kepemilikan terhadap sesuatu, namun karena mekanisme kepemilikan tidak dapat dilakukan oleh semua individu, bahwa orang yang berkuasa, berkeahlian tertentu, akan mendapatkan “kelebihan” yang dapat saja mengarah kepada “kecenderungan menghambat pemerataan kesejahteraan”. Karena itulah diperlukan system yang menjamin terjadinya distribusi atau redistribusi dalam perekonomian. Ingatlah tentang kelebihan karunia Allah yang diberikan Allah kepada sebagian hamba-hamba-Nya. Pelajari, ayat-ayat berikut; an-Nisa(4): 32, an-Nahl(16): 71, an-Naml(27): 15, al-Isra(17):70, al-Jasiah(45):16, ar-Ra’d(13): 4

Dalam Islam penjaminan kelancaran distribusi ini sudah disistemkan melalui prinsip-prinsip atau ketentuan-ketentuan syariah, misalnya kewajiban menjalankan mekanisme zakat dan mekanisme aktivitas perekonomian yang diatur oleh syariah.

Dari perspektif lain dalam dunia usaha (ekonomi riil) kegiatan distribusi dapat juga diartikan sebagai usaha melancarkan penyebaran sumber daya sehingga kesejahteraan dapat merata dirasakan. Artinya distribusi terjadi karena aktifitas ekonomi, seperti kegiatan jual-beli dan dunia kerja (reward and effort). Bahkan pelaku distribusi kini telah menjadi pelaku ekonomi dominan di samping konsumen dan produsen. Karena itulah, ekonomi Islam menempatkan secara strategsis terhadap posisi sector ini dalam mekanisme perekonomiannya.

Wahai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-haknya dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (Hud(11) : 85)

Fungsi distribusi dalam aktifitas ekonomi pada hakikatnya mempertemukan kepentingan konsumen dan produsen dengan tujuan kemashlahatan ummat. Ketika konsumen dan produsen memiliki motif utama adalah memenuhi kebutuhan maka distribusi sepatutnya melayani kepentingan ini dan memperlancar segala usaha menuju ke arah motif dan tujuan ini.

Aktifitas usaha distribusi ini kemudian dituntut untuk dapat memenuhi hak dan kewajiban yang diinginkan oleh syariat bagi konsumen dan produsen. Dengan demikian, aktifitas distribusi sebaiknya sejalan dengan motif dan tujuan utama dari aktifitas produksi dan konsumsi, yaitu pemenuhan kebutuhan masyarakat luas dengan landasan kemaslahatan. Kebutuhan utama adalah kebutuhan dasar atau pokok yang harus menjadi prioritas utama untuk dipenuhi dari perekonomian yang dijalankan produsen, konsumen dan distributor. Pemenuhan kebutuhan dasar dan penjaminan kelancarannya dalam perekonomian menjadi faktor penentu kestabilan ekonomi, politik dan sosial dalam kehidupan manusia.

Disamping faktor penjaminan distribusi yang dilakukan oleh mekanisme syariah melalui zakat dan lain-lain serta mekanisme ekonomi melalui aktivitas perekonomia seperti jual-beli, reward and effort, peran pemerintah atau negara juga tidak kalah penting dalam memastikan dan menjami kelancaran distribusi ini. Negara memiliki banyak pilihan berupa kebijakan atau instrumen untuk menjamin agar distribusi dapat berlangsung secara baik.

Bahasan Ayat

Pelajaran ayat-ayat di bawah ini dan ayat-ayat lainnya;

Berdasar urutan dalam mushaf adalah ayat-ayat di bawah ini adalah sebagai berikut; Al-Anfal(8): 1, at-Taubah(9): 60 al-Isra’(17): 12, al-Hadid(57): 7, al-Hasyr(59): 7,

Sedangkan berdasarkan kronologis turunnya surat-surat dalam al-Qur’an adalah sebagai berikut;

al-Isra’(17): 12 [ ], Al-Anfal(8): 1[ ], al-Hadid(57): 7, [ ]

al-Hasyr(59): 7 [ ], at-Taubah(9): 60[ ]

Dari urutan demikian dapat disimpulkan pemahaman; Allah telah menyediakan waktu siang dan malam yang beredar terus menerus sebagai media mencari nafkah. Bahwa harta yang didapat (ghanimah dan lain-lain) adalah milik Allah karena kemenangan atau perolehan atas harta itu atas karunia Allah. karena itu nafkahkanlah dari apa yang kamu peroleh. Mengapa? Agar tidak terjadi penumpukan harta di kalangan tertentu. Kepada siapa didistribusikan nafkah atau zakat itu, yaitu kepada 8 asnaf sbagaimana di sebutkan dalam ALQUR’AN…..

1 Muhammad Anas Zarqa, Islamic Distributive Scheme, Readings in Public Finance in Islam, (Edited by Mahamoud A. Gulaid & Mohamed Aden Abdullah), Islamic Research and Training Institute (IRTI) – Islamic Development Bank (IDB), Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia, 1995, pp. 181-184.

I,ROBOT

20 May

Beberapa poin yang menjadi perhatian dari film “I,ROBOT” kaitannya dengan nilai-nilai peradaban pada masyarakat dan dampak perekonomiannya:

Ä Peradaban yang maju, manusia menjadi manja, kurang berusaha

Hal ini terlihat jelas dari bagaimana manusia mengendarai kendaraan tanpa harus menyetir. Tidak perlu belanja sendiri, atau memasak sendiri, karena sudah dapat dilakukan oleh robot dengan baik.

Diceritakan juga dalam film ini, hamper setiap orang memiliki robot pribadi. Menunjukkan betapa manjanya manusia masa itu

Ä Manusia kurang sosialisasi ke sesama karena lebih banyak berinteraksi dengan robot

Baby sitter dari manusia tidak lagi diperlukan, karena cukup dengan robot. Menunjukkan dari kecil seorang anak tidak dibiasakan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan manusia. Sehingga karakter sosialnya tidak terbentuk. Kurangnya sosialisasi dengan orang lain juga menyebabkan pengetahuan tentang tata krama dan adat bergaul sangat minim.

Kondisi seperti ini sangat mempengaruhi peradaban untuk generasi selanjutnya. Minimnya nilai moral dan kebutaan adat social menyebabkan peradaban yang kian buruk dan terpuruk. Nilai moral dan tata krama sedikit demi sedikit akan terkikis, dan individualism serta egoism semakin subur dalam tiap manusia. Jiwa sosialnya pun menurun, karena lebih senang berinteraksi dengan robot.

Ä Kemungkinan pengangguran lebih banyak

Sebagaimana point di atas, tidak diperlukaannya juru masak, baby sitter, sopir, dan profesi lain yang tergantikan oleh keberadaan robot. Pabrik pembuatan robot (USR) pun mempekerjakan robot untuk produksi robot selanjutnya.

Hal seperti ini tentunya melemahkan aktivitas ekonomi itu sendiri dalam masyarakat tersebut. Orang-orang jenius atau ahli mungkin akan memiliki kejayaan karir. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang tak memiliki keahlian khusus atau keahliannya kurang memadai? Apa yang bisa ia lakukan?

Ä Manusia mengagungkan ciptaannya sendiri, ketergantungan dan akhirnya ciptaan manusia tersebut berbalik ingin menguasai manusia

Manusia kagum terhadap dirinya sendiri yang merasa mampu menciptakan sesuatu yang hebat. Ketika robot-robot dan semua benda otomatis tersebut telah menjadi candu, manusia tak bisa lepas darinya (Terlihat pada adegan mengendarai sepeda motor, Dr. Calvin sangat ketakutan, dan tak yakin akan keamanannya), robot-robot ciptaannya yang telah dilengkapi kemampuan berlogika dan berevolusi menjadi berbalik ingin menguasai manusia (dalam film ini, VIKI sebagai prosessor di dunia robot lah pemprakarsa dan pengendalinya)

Bisa jadi hal ini sebenarnya merupakan peringatan atau tadzkiroh bagi manusia yang sombong dan mengagungkan dirinya sendiri dan ciptaannya. Merasa mampu menguasai dunia tanpa menyadari hakikat dirinya yang juga sebagai makhluk, ciptaan Sang Pencipta.

Ä Manusia meniru ciptaan-Nya tetapi takkan mampu

Dalam hal ini, manusia menciptakan robot yang memiliki sifat-sifat seperti manusia, seperti logika, perasaan, bahkan ada robot yang mampu bermimpi. Akan tetapi manusia lupa, bahwa ia takkan mampu mengontrol semua yang telah diberikan pada ciptaan mereka itu. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan terjadi akibat keterbatasan ini.

Karena tipe manusia adalah makhluk ciptaan, sehingga tak mampu tuk menciptakan yang sesuai dengan dirinya. Atau bahkan lebih. Ciptaan manusia tidak akan memiliki keseimbangan sempurna seperti ciptaan Sang Pencipta[1]. Manusia akan lengah untuk mengontrol ciptaannya sementara Sang Pencipta takkan pernah lengah terhadap ciptaan-Nya [2]


[1] Al Quran : Al Mulk 3

[2] Al Quran : Al Mukminun 17

%d bloggers like this: