Archive | jalan jalan RSS feed for this section

Pulau Kelagian, Mau Lagi dan Lagi

9 Jul
pertama nyampe. bawaannya masih rempong

pertama nyampe. bawaannya masih rempong

Entah apa asal mula nama Pulau Kelagian yang terletak di Lampung Selatan ini. Tapi bagi saya, sempat mencicip satu malam di Pulau cantik ini, bikin saya KEtagihan pingin kesana LAGI dAN lagi (perhatikan huruf yang capslock).

Pulau Kelagian, saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan saya mengagumi pulau ini. Kelagian menjadi tempat saya tinggal (meski hanya semalam) untuk menemukan bahwa Indonesia Barat pun punya laut yang indah.

Pulau Kelagian. masih takut gosong?

Pulau Kelagian. masih takut gosong?

Pasir putih dan lembut seperti bedak, membuat saya tak ingin sering-sering menggunakan alas kaki di pulau ini. Ditambah air lautnya yang begitu jernih, membuat saya tak perlu ragu ragu bermain air.

SAMSUNG CSC

Di siang hari, terutama jika hari libur, ada permainan-permainan pantai seperti banana boat, atau kapal kapal an (gak tau namanya). Atau mungkin akan lebih menarik untuk berkeliling ke pulau-pulau lain di sekitar seperti Pahawang, Pahawang Kecil, Maitem, Tegal, Tanjung Putus, de el el dengan menyewa snorkel gear. Silahkan cari tau sendiri kenapa perlu snorkeling di Pahawang.

pahawang kecil

pahawang kecil

boong kalo bilang gak pengen nyemplung

boong kalo bilang gak pengen nyemplung

Keasyikan snorkeling jangan sampai membuat terlambat pulang, karena Pantai di Pulau ini menghadap ke barat. Tentu menjadi pesona sendiri, karena berarti Matahari akan langsung berpamitan pada kita dengan caranya yang selalu indah.

cuma bisa motoin ;(

cuma bisa motoin ;(

Ketika malam , desir angin dan suara ombak akan menjadi lagu nina bobo yang mengantar tidur kita. Tak lupa langit dengan taburan bintangnya. Tak perlu buru-buru tidur, mungkin bisa bersantai sejenak di dermaga kecil, memancing, atau menanti bintang jatuh (leebaay).

percaya deh, aslinya jauuuh lebih keren

percaya deh, aslinya jauuuh lebih keren

Untuk menginap di Pulau Kelagian ini, tak perlu khawatir. Ada penginapan kecil dengan fasilitas kasur dan kamar mandi (saya lupa harganya). Atau jika ingin mendirikan tenda, juga tak masalah (mungkin ada biayanya juga tp tidak mahal). Listrik bisa dianggap cukup meski hanya hidup di malam hari. Tak perlu takut kelaparan, karena warung makan dengan aneka makanan, kopi, mie instan tersedia. Tak perlu takut untuk urusan MCK karena cukup tersedia toilet, kamar mandi, dan air tawar untuk menjawab panggilan alam.

duduk galau pagi-pagi. masih muka bantal

duduk galau pagi-pagi. masih muka bantal

Dan ketika pagi datang, tentu sudah cukup siap untuk menyambut mentari dengan suka cita.

Pagi di Kelagian

Pagi di Kelagian

 

*Pulau Kelagian terletak di Kab Pesawaran, Lampung Selatan. Sekitar 20 menit menggunakan perahu motor dari Pelabuhan Ketapang

*Untuk mencapai Pulau Kelagian, dari Jakarta menggunakan Bus ke Pelabuhan Merak ( Rp, 25,000), Ferry hingga Bakaheuni (Rp 13,000). Dari Pelabuhan bisa menggunakan mobil carter ke Pelabuhan Ketapang dan minta diarahkan ke kapal-kapal yang menuju Pahawang. Sewa kapal untuk minta diantarkan ke Pulau Kelagian.

*harga normal per Juni 2014, harga sewa kapal untuk seharian (keliling spot snorkel dan pulau-pulau sekitar) Rp. 500,000 dengan kapasitas 15 orang. Fasilitas: Life jacket. Snorkel Gear bisa disewa juga sekalian seharga Rp. 90,000/set hingga 2 hari. (harga mungkin ada yang berbeda atau berubah).

Advertisements

Waroeng Klangenan, Yogyakarta

20 Jun

image

Kayanya uda lama banget ya gak bikin posting soal makan-makan. Ya sebenarnya sih karna saya makin kesini makin jarang jajan atau nyobain icip-icip sana sini jugak. Kalaupun makan di luar ya yang standar-standar aja. Gak yg seru asik sehingga publishable di blog absurd ini.

Okayh, kali ini saya maen ke Waroeng Klangenan. Ada apa aja di sana? Lihat ini:

image

Aneka sate2an dan nasi kucing

Kalo saya bilang sih, sajian menu di warung ini mirip-mirip sajian angkringan. Ada nasi kucing dengan berbagai jenis pilihan lauk. Misal nasi oseng, nasi cumi, nasi belut, nasi bandeng, dll dengan varian harga yg menyesuaikan juga.
Juga ada berbagai gorengan semacam tempe, tahu, juga sate2an seperti sate usus, sate ati, sate telur puyuh, sate kere, dan macam macam lagi dengan harga yg berbeda-beda pula.

image

Penampakannya

Yang seru disini, saat kita sudah duduk di meja, akan diantarkan semacam tungku kecil, kipas, dan semangkok bumbu untuk kita bakar-bakar sendiri sate-sate an tadi.

image

BAKARRR!!!

Untuk minuman, tersedia aneka minuman khas angkringan seperti Teh, Jeruk, Jahe, Susu Jahe, Wedang Uwuh dan minuman-minuman tradisional lain. Juga ada minuman yang di mix ala Waroeng Klangenan.

image

Separo cangkir Wedang Klangenan

Untuk tempatnya sendiri, cukup asik dan bisa menampung banyak pengunjung. Ada area ber meja kursi yang dalam ruangan. Ada juga yang di luar. Ada juga area untuk makan atau nongkrong2 lesehan.
Di ruangan bagian dalam bahkan ada layar dan proyektor yang bisa seri banget kalo buat nobar (mungkiiin).
Kesimpulan saya sih, Waroeng Klangenan ini semacam versi elit dari angkringan. Dengan pilihan menu yang lebih banyak, dengan tempat yang lebih cozy, dan dengan harga yang lebih mahal pula. 😉

*Waroeng Klangenan terletak di Jl Patangpuluhan, Yogyakarta. Jika dr arah Timur, lampu merah Patangpuluhan, lurus saja ke Barat, letaknya di kanan jalan.
*jika dari Barat, dari UPY lurus saja ke timur, letaknya di kiri jalan sebelum lampu merah patangpuluhan.
* alamat: Jl. Patangpuluhan No. 28 Yogyakarta

Where’s Your Backpack Kidnapping You? #2

16 Jun
image

Red Jacket is my signature style

image

image

image

image

image

Indonesia makin ke timur makin cantik”,

Familiar kah dengan ungkapan itu?
Saya sangat familiar sekali sampai-sampai tidak tau dari mana awalnya pendapat itu. Sebagai mantan warga negara Indonesia Timur yang sesekali masih melakukan perjalanan ke timur, saya sangat percaya dan setuju.

Tapi jangan lupa, di barat negri ini pun masih tersimpan keindahan.

*foto2 di atas sudah dipublish sebelumnya di akun instagram @aqied.
*Lokasi: Pulau Kelagian, Pulau Pahawang Kecil, dan area sekitarnya. Lampung Selatan

Aku cinta saat ini, entah esok

10 Jun

 

Teman Perjalanan

Teman Perjalanan

Saya suka perjalanan, setidaknya sampai saat ini.

Bagian penting dari jalan-jalan yang justru bisa kasih kesan dan pelajaran lebih dalam menurut saya, ada di proses perjalananya itu.

“kalo cuma pantai aja, di Jogja juga banyaak”

Demikian komentar seorang kawan saat saya memutuskan ke Pahawang, Lampung hanya untuk ketemu laut.

“ke Dieng naik motor? Niat amat sih”,

Salah satu komentar kawan lain saat saya bersepeda motor Jogja-Dieng PP dalam sehari.

Bagi saya, jalan-jalan bukan sekedar sampai di destinasi tujuan, berfoto narsis di landmark, share foto di social media, berbelanja oleh-oleh, kemudian pulang. Jalan-jalan saya memang standard dan ublek di situ-situ aja. Namun saya selalu berusaha menikmati setiap proses perjalanan dari setiap jalan-jalan saya.

Perjalanan memberi lebih banyak kesan dan pelajaran dibanding foto narsis yang dipamerkan di sosmed, atau narasi seru dan (mungkin) lebay di blog. Pelajaran yang sifatnya mungkin sangat personal, sehingga sulit untuk dijabarkan atau di share dalam bentuk gambar maupun tulisan. mungkin Tuhan memang tidak menciptakan Pintu Kemana Saja ala Doraemon di dunia, agar kita lebih banyak belajar dari sebuah perjalanan.

Saya mencintai perjalanan pulang pergi kantor saya saat harus bertatap muka langsung dengan matahari, saat mungkin harus berkawan kantuk dan lelah.

Saya mencintai perjalanan berkereta ekonomi dengan segala keunikan dan ramai nya yang ternyata saya rindukan ketika berkereta kelas lain.

Saya mencintai perjalanan sebagai penumpang bus malam dengan berbagai cerita kawan duduk saya, dengan berbagai atraksi unik supir bus yang seringkali memperbanyak dzikir saya.

Saya mencintai saat-saat harus duduk bengong atau mondar-mandir gak jelas di terminal, stasiun, hingga airport.

Saya mencintai perjalanan beramai-ramai dengan kawan sendiri. Saya juga mencintai perjalanan beramai-ramai dengan orang-orang yang baru kenal. Namun ada kalanya saya pun mencintai perjalanan sendiri, merenung dan bertindak sesukanya.

Saya mencintai perjalanan yang terjadwal dan terencana dengan jelas dan detail. Namun ada kalanya saya mencintai perjalanan tanpa rencana dan membiarkan kemana kaki melangkah untuk kemudian menemukan berbagai kejutan-kejutan.

Mungkin karena saya belum banyak melakukan perjalanan, hingga saat ini saya masih mencintai perjalanan. Entah esok hari, entah lusa nanti.

Jadi apakah kamu mau menambah daftar perjalanan saya?*

kapan kita kemana?

kapan kita kemana?

*baca: terima gratisan tiket kemana aja. kemudian ditimpuk sandal

What Are We?

8 Jun

image

(Si)apa kita di semesta yang luas ini?
Bahkan mungkin titik kecil pun masih terlalu besar untuk menggambarkan keberadaan kita.

*pahawang, 8 Juni 2014

Red Island a.k.a Pulau Merah, Banyuwangi

5 Jun

Ada yg sudah pernah ke sini?

image

Foto Panoramaaa

Red Island atau disebut juga Pulau Merah , salah satu pantai cantik di Banyuwangi yang cukup aksesable.

image

Moto dari dalam jeep. Jd gak gitu jelas

Apalagi jika dibandingkan perjuangan besar menemukan pantai-pantai yang bikin saya ternganga-nganga di TN Meru Betiri , yang sampe nemu Phi Phi Island KW, tapi harus ditebus dengan kejedot-jedot berjam-jam dalam jeep.

image

Rombongan trip

Letaknya di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran , Kabupaten Banyuwangi , Jawa Timur dengan akses jalan yang cukup mudah menggunakan kendaraan jenis apapun.

image

Air jernih, pasir putih

Pantai ini disebut Pulau Merah atau Red Island, karna ada segunduk kecil di salah satu sisi pantai yang memiliki tanah berwarna merah. Saat ini, pulau kecil tersebut ditumbuhi vegetasi hijau sehingga tidak tampak lagi merahnya.

image

They believe they can fly

Tenang saja, tidak perlu kecewa karena pantai ini punya garis hingga 3 km dengan hamparan bersih pasir putih. Air lautnya pun, untuk ukuran pantai yang cukup ramai, sangat amat jernih pake banget. Kabarnya, saat sedang surut, pengunjung bisa menuju pulau kecil merah yang sudah hijau itu, dengan berjalan kaki.
Basah dikit gapapa laah, berani basah itu baik.

image

Walo geseng tetep mejeng

Jadi, kamu mau ajak siapa ke Red Island?

Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur

24 May

Saya menghabiskan masa kecil di Sorong, sebelah barat Papua. Surga kecil yang diturunkan Tuhan ke bumi, demikian menurut Franky Sahilatua. Sorong itu dimana? Tengoklah peta pulau Papua yang berbentuk seperti burung. Bagian pucuk kepala, itulah dia. Sisi terbarat Papua. Disekelilingnya terdapat pulau-pulau kecil yang indah. Bahkan lagu Franky yang menyebutkan Papua sebagai surga kecil dibumi itu, sebelum Raja Ampat setenar ini.

 

Tanjung Kasuari Sorong, Papua (yang sempet saya bilang jelek dan kotor), 2010

Tanjung Kasuari Sorong, Papua (yang sempet saya bilang jelek dan kotor), 2010

Tana Papua tanah yang kaya.

Surga kecil jatuh ke bumi

Pantai yang pernah saya kenal sejak kecil adalah pantai-pantai khas Papua. Tenang, biru, pasir putih, lambaian kelapa, disertai angin dan aroma samudra yang berpadu lembut. Saya terbiasa dengan definisi pantai yang seperti itu. Bahkan pantai yang saya anggap jelek dan kotor sekalipun. Sampai pada suatu masa saya mulai menetap di pulau Jawa. Di sisi yang tidak dekat dengan pantai, dan cukup lama tidak ke pantai.

Saleo, Raja Ampat.

Saleo, Raja Ampat.

Jumpa pertama saya dengan pantai di Jawa membuat saya terkejut. Ya, mungkin saya mengunjungi tempat yang salah. Baru saat itu saya tau ada pantai yang pasirnya tidak puti, airnya tidak biru, aroma amisnya menusuk. Alih-alih bias menenangkan diri berkawan debur ombak dan belaian angin dari samudra. Saya terpaksa membiasakan diri di tengah keramaian manusia. Pantai perta ayang saya kunjungi penuh pengunjung, pencari nafkah, dan segala lapak sana sini.

Kecewa? Pasti

Setelah itu, saya tetap rajin menyambangi beberapa pantai. Tentu tak lagi dengan ekspektasi berlebihan. Berharap masih dapat menemukan pantai yang memenuhi definisi pantai semasa kecil saya dulu. Pada pertengahan tahun 2013, saya berkesempatan menjejak dan mengintip sebagian kecil dari emperan Kabupaten Raja Ampat di sela-sela perjalanan mudik saya. Mudik kali itu membuat saya semakin merasa tidak bias menemukan perbandingan alam laut Papua di pulau yang saya diami, Jawa.

tangan saya udah kaya pakai sarung tangan :(

tangan saya udah kaya pakai sarung tangan 😦

April 2014, itu kali pertama saya menjumpa pantai lagi sepulang dari Papua. Anggapan saya seketika runtuh ketika bertemu pantai indah, mungkin inilah surga kecil yang Tuhan titipkan di tanah Jawa, pantai-pantai di TN Meru Betiri.

Foto Panorama Teluk Ijo

Foto Panorama Teluk Ijo

Biru dan hijau tosca laut bagai sapuan kanvas terindah dari Tuhan, menyapa kami di Green Bay alias Teluk Ijo. Salah satu pantai di TN Meru Betiri yang dapat kami capai dengan berperahu dari Pantai Rajegwesi. Putih pasir dan lembutnya menyamankan kaki siapa saja yang menginjak, beralas kaki ataupun tidak. Hamparannya yang berkilau di bawah matahari, menghasilkan paduan apik dengan warna laut. Debur ombak yang melewati karang-karang di kanan dan kiri Teluk Ijo, tidak mudah di dapat di pantai lain. Penampakannya serupa air terjun mini. Selama berperahu, kami diiringi ukiran tangan Tuhan pada tebing-tebing disisi laut.

#sikilfie

#sikilfie

“Phi Phi Island KW” Kata teman seperahu saya.

pasirnyaaaa

pasirnyaaaa

Berperahu selalu mengasyikkan. Tak hanya indra penglihatan saja yang dimanjakan. Suara debur ombak yang mengiringi, lebih indah dari alunan music apapu. Angin dan aroma laut yang kental, memanjakan indra lainnya pula. Betapa tak sopannya saya yang sempat tak percaya bahwa masih ada, pantai indah titisan surga kecil Tuhan di pulau Jawa ini.

it's okay to be geseng in Green Bay

it’s okay to be geseng in Green Bay

Satuan waktu apapun berapapun, tak akan pernah cukup untuk mengagumi kuasa Tuhan. Kau tau, alam selalu punya kejutan untuk kita, dengan cara yang tak pernah sama.

Pantai Rajagwesi, foto panorama

Pantai Rajagwesi, foto panorama

Sayang, kami harus segera bergegas. Ada lukisan alam dahsyat yang sudah menanti kami di sisi lain TN Meru Betiri. Kanvas aneka warna senja telah siap dibentangkan kala kami tiba di Pantai Sukamade. Tepat dibentangkan saat kami usai melepas tukik-tukik kecil menuju hidup baru mereka.

bentangan kanvas warna senja pantai Sukamade

bentangan kanvas warna senja pantai Sukamade

Pantai Sukamade, untuk mencapainya kami harus siap terombang ambing di dalam Jeep yang melaju di medan off road, bahkan menyebrangi sungai. Dengan aneka tumbuhan besar di kanan dan kiri, sesekali beberapa banteng menampakkan diri. Perjalanan yang cukup seru serupa yang biasa saya lihat pada iklan-iklan rokok.

wpid-bkizah0ccae37dk.jpg

foto dari akun twitter @sudutindonesia

Sore hari di pantai ini, pengunjung dapat mengantar langkah-langkah kecil tukik menuju laut. Jika malam tiba, dapat pula menyaksikan mama-mama penyu bertelur.

go run run

go run run

“selamat menempuh hidup baru” bisik saya pada tukik kecil. Tukik yang kemudian saya biarkan langkah-langkah kecilnya meninggalkan jejak mungil pula, menjauhi kami, menjemput hidup baru dengan menghampiri laut dan lukisan senja.

selamat jalan, tukiik

selamat jalan, tukiik

 

Sunset usai melepas tukik

Sunset usai melepas tukik

Pantai Sukamade dan Teluk Ijo hanya dua dari beberapa pantai-pantai indah tersembunyi dalam area TN Meru Betiri. Masih ada Pantai Nanggelan, Bande Alit dan mungkin nama-nama lain atau tak bernama yang belum sempat saya kunjungi tuk kagumi. Kalau begini, bagaimana mungkin saya tak makin cinta dengan Indonesia?

"travel through the worl and see how He began creation " Al Ankabut 20

“travel through the worl and see how He began creation ” Al Ankabut 20

*teks dan foto oleh Aqied

IMG_6233

*isi posting ini sudah pernah dipublikasi dalam kicau bersambung akun microblog saya twitter @aqied, Rabu 21 Mei 2014, dengan sedikit penyesuaian.

*informasi mengenai pantai Bande Alit dan Pantai Nanggelan saya dapat dari akun follower twitter @justlocalview

 

Senja Cara Gue

16 May
image

10 menit sepeda motor dr kantor untuk dpt momen ini

Negri kita, dengan lintasan garis khatulistiwa, sudah pasti bermandi matahari sepanjang tahun. Tak peduli Januari, Juli, Desember. Tak peduli di sisi Indonesia sebelah mana.
Selain pancaran sinarnya yang kadang hangat membelai, atau mungkin panas menggigit, matahari tetap dinanti dan dicari. Suka tak suka.

image

Sunrise di tepi Jl Raya Solo Jogja

Sunrise dan Sunset. Duo golden moment yang menunjukkan bagaimana cara Sang Surya memamerkan keindahannya. Tak sedikit pemburu mentari terbit yang rela mendaki ketinggian. Menembus perjalanan melelahkan, demi melihat sapuan emas pertanda dimulai hari.
Tak sedikit pula yang mengejar matahari sebelum terbenam hingga ke tempat-tempat tersembunyi. Membayar mahal untuk menemani pamitnya Matahari. Meluangkan sekian satuan waktu demi kanvas aneka warna bernama senja.

image

Senja di Embung Nglanggeran, Gn Kidul, Yogyakarta

Saya mencintai matahari. Berusaha mencintai pemberi energi dunia ini seutuhnya. Selalu merindu hadirnya kembali ketika tirai malam turun. Menanti hangatnya ketika tiba di awal hari. Menengadah dan menerima dengan suka rela panas dan teriknya di tengah hari. Mencinta caranya berpamitan kala senja. Merasa kehilangan kala tiba tugasnya menyinari belahan bumi lain.

image

Senja di Pantai Sukamade, TN Meru Betiri, Banyuwangi, Ja Tim

Syukur terbesar pada Tuhan, atas kesempatannya pada saya untuk selalu dekat dengan matahari. Berada di Indonesia, membuat saya selalu bisa merasakan hadirnya. Tak perlu waktu khusus atau perjalanan panjang khusus untuk dapat menikmati kuasa Nya.

image

10 menit berjalan kaki untuk dapat foto ini

Saya diberi jadwal perjalanan yang indah. Rumah tempat pulang di sisi Barat. Kantor untuk bekerja di sisi Timur.
Sudah pasti, pagi menjelang memberi saya waktu menikmati hangatnya mentari yang kadang terlalu cepat menyengat. Sedang saat pulang, warna warni senja yang akan mengantarkan saya.

image

Salah satu yg didapat saat perjalanan pulang

Saya juga tidak harus terjebak dalam hingar bingar perkotaan. Atau terpenjara diantara gedung gedung tinggi yang menghalangi sinar surya. Sehingga saya bisa selalu menikmati duo golden moment cukup dekat, cukup sering.

image

Sekitar 600 meter dr Jl Raya Solo Jogja, Kec Klaten Selatan

Favorit saya, tentu saja kejutan-kejutan warna senja yang bisa selalu saya dapat saat berkendara pulang. Senja yang saya lihat, tak pernah sama. Saya tak perlu mengkhususkan waktu, budget, dan tenaga untuk dapat mengagumi betapa elegannya Matahari beranjak.

image

300 meter dr Jl Raya Solo Jogja. Rute rutin saya

Ya, ada kalanya senja tak harus dinikmati dalam diam. Ada kalanya senja tak butuh diistimewakan dalam waktu khusus untuk dapat terlihat indah. Ada kalanya kita tak perlu pergi jauh untuk dapat melihat matahari yang sama akan pergi.

image

Memotret senja dari depan kamar tidur

Meski ada kalanya kita juga harus melakukan itu. Mengunjungi tempat-tempat dimana matahari berpamitan dengan cara yang tak biasa. Menyiapkan waktu khusus untuk menikmati setiap inci keindahan yang disajikan kanvas bernama senja. Mengabadikan momen istimewa meski yakin esok akan berjumpa lagi.

Ya, Sesekali.

Karna negri ini, punya sejuta senja untuk kita.

Masih ingin membenci matahari?

image

Just Enjoy The Sun (foto saat BN2013)

*teks dan foto oleh Aqied
*posting lain tentang senja
Senja Merah Muda
Satu Jam Bersama Senja
Senja di Africa van Java
Rumput Senja

Pantai Sepanjang

1 May

image

Pantai Sepanjang termasuk salah satu dari pantai yang berderet di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta.
Sudah tau donk ya, pantai-pantai di Gunung Kidul dikenal keren dan cantiknya. Mungkin kalo belum pernah denger atau tau, bisa cek google images pakai salah satu dari nama pantai semacam Krakal, Kukup, Baron, Sundak, Pulang Syawal (lebih dikenal Indrayanti), Wediombo, Drini, Sadranan, Pok Tunggal, dan lain lain.

image

Airnya bening banget. Ad suket segoro (rumput laut) ny juga

Masing masing pantai punya ciri khasnya sendiri. Yang hemat, disini cukup bayar di loket awal saja untuk ke seluruh gugusan pantai yang berderet ini. Jadi disarankan banget sekali datang langaung explore beberapa pantai. Selanjutnya tinggal nyiapin anggaran parkirnya aja di masing-masing pantai.

image

Separo garis pantai yg bisa difoto

Posting kali ini fokus ke satu pantai dulu ya. Sesuai judul, Pantai Sepanjang ini memiliki garis pantai yang cukup panjang. Dengan hamparan pasir putih, dan di ujung sebelah kanan terdapat bebatuan karang, yang katanya sih bikin berasa di Bali (KW tapi pastinya).

Lumayan banget nyusurin pantainya dari ujung yang satu ke ujung lainnya. Apalagi jika kesana saat siang. Lumayan buat menambah coklat kulit saya saat itu.

image

Tampak dari area parkir

Tapi gak perlu khawatir bakal kelaperan atau kehausan setelah nyusur sana sini atau main sana sini. Di sepanjang garis pantai itu pula, berjejer berbagai penjual makanan dan minuman. Lengkap dengan gazebo gazebo beratap semacam rumbia, langsung menghadap pantai. Bisa jadi alternatif buat yang pengen menikmati pantai, tapi malas panas-panasan. Karna lokasinya cukup dekat dengan garis lautnya.

Selain makanan dan minuman untuk dimakan minum disana, juga dijual cemilan semacam keripik rumput laut, peyek dg udang-udang kecil, udang2 kecil goreng yang bisa dibawa pulang untuk oleh oleh. Harganya cukup murah. Ada juga yang menawarkan kerajinan dari kerang kerangan berbentuk bros, gantungan kunci, pajangan, de el el

image

Yg kaya gini 5rb dapet 4

Akses menuju Pantai Sepanjang cukup mudah. Dari gerbang/loket tiket, nantinya sudah banyak petunjuk ke arah masing-masing pantai. Untuk Pantai Sepanjang sendiri, jalannya cukup aman dan nyaman untuk roda 4 atau kendaraan besar semacam Bus Pariwisata. Jalan kaki dari parkir ke pantainya juga sangat dekat.

Sayangnya sepertinya tidak ada akses untuk rada off road sepeda motor atau blusuk dari pantai tetangganya, karena kanan dan kiri pantai sepanjang ada bukit dan karang. Ini sih dulu kebiasaan saya jaman mahasiswa, maksain sepesa motor nyusurin pantai demi nyiasatin ongkos parkir. Hehehehe.

image

Sebagian yg kefoto

Terakhir kunjungan saya ke Pantai Sepanjang, pada 26 April 2014 yang berarti saat weekend. Cukup sepi untuk ukuran tempat wisata di saat weekend. Bahkan sempat terasa seperti pantai milik sendiri. Mungkin juga karena saat itu siang dan cukup panas. Sehingga lebih banyak yang tidak turun dan memilih duduk di gazebo-gazebo.
Tapi bagi saya sepi begini malah lebih menyenangkan. Bandingkan dengan pantai tetangganya, Indrayanti yang penuh sesak seperti ini:

image

Saya sampai bingung mw berdiri dimana

Untuk ambil foto itu aja, saya manjatin karang yang disana udah nangkring 2 fotografer. Soal pantai Indrayanti atau Pulang Syawal ini, mgkn bisa dibahas terpisah.

Siang itu, selain kami yang ke pantai dan merelakan terbakar matahari, ad beberapa bapak dan ibu yang sedang ngarit atau cari rumput laut. Menurut saya, dengan turut membeli hasil karya mereka (kripik2an atau kerajinan), selama tidak merusak alam, berarti turut membantu saudara senegara kita sendiri. Sekaligus ada interaksi dengan masyarakat lokal. Syukur-syukur bisa ngobrol dan mendapat pelajaran berharga dari perjuangan hidup mereka.

image

Kalo panas, lebih asyik neduh di batu2 ;p

Akhirnya, dengan segala keindahan alam ini, tak ada artinya lah bagi saya sedikit terbakar matahari. Justru sayang sekali jika saya harus diribetkan dengan payung, atau hanya duduk diam saja dibawah naungan gazebo, hanya karena takut panasnya matahari.
Air laut, pasir dan karangnya, panas matahari, dan angin pantai, adalah empat elemen yang tidak komplit jika tak dinikmati bersama.

image

*Aqied, totally in love with Sun

The Park Solo Supermall : nge-mall sesi 2

25 Apr

Mengamati (bahasanya gaya ya?) statistik blog saya, rupanya ada posting yang cukup rame meski gak ada komen sama sekali. Posting ini rame karena ternyata sering nongol di Page 1 search engine kalo pake keyword nama tempat ini. Yup, The Park Solo Supermall  yang pernah saya kunjungi akhir tahun lalu menjaring banyak views.
Dari ngobrol-ngobrol asal dengan beberapa teman di Solo (saya sempat hidup 6 tahun di kota ini), rupanya banyak juga yang belum berkunjung. Mungkin sebagian dari yang nyasar ke posting saya itu, mereka mereka yang berniat ke The Park tapi pengen punya gambaran dulu ada apa sih disana.
Dan akhirnya saya merasa sedikit bersalah, karena gambaran yang saya sampaikan di posting tersebut mungkin sudah tidak mewakili keadaannya sekarang. So, selagi saya diberi kesempatan lagi buat nge-mall kesana, saya tulis sebagian yang sudah berubah dari tulisan terdahulu ya.

image

Sapaan pertama di lobi depan

Lahan parkir sepeda motor, masih sama dengan yang dulu. Dimana kita harus muterin gedung itu sampai ke pojok belakang. Hanya saja kali ini tidak perlu jalan kaki jauh sampai ke pintu depan sebagaimana yang saya sempat keluhkan di posting pertama. Ada shortcut yang bisa nyambungin kita langsung ke lobi belakang gedung. Disini kita bisa ketemu kereta-keretaan buat keliling gedung. (Gak moto, hiks).

Yang asyik dan baru saya tau, disini ada semacam tempet ngopi yang (kelihatannya) cozy banget. Kursi dan meja yang ditata apik, dengan berbagai coffeeshop mengelilingi, diantaranya Excelso, OldtimeCoffee, Jco, dan banyak lainnya yang saya koq lupa banget yaa. Ada CoffeeBean juga tp saya gak inget sekompleks sama yg lain atau sendiri. Penampakannya dari lt 2 seperti ini:

image

Tempet ngopi asik

Jadi bisa nongkrong bareng, meskipun kopinya nanti beda beda. Apalagi buat saya yang suka srobot kopi sana sini pengen cicip. Hehe.

image

Kopiiiiiii

Selayaknya mall, di Lt 1 ada Metro yang masih jd satu-satunya di Solo. Juga berbagai produk lain tapi masih terasa cukup sepi (saya kesana malam jumat).
Di Lt 2 ada Family Karaoke milik penyanyi dangdut, Inul Vizta. Letaknya tepat di atas tempet ngopi tadi. Sebelahnya tepat ada Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk. Di dalamnya, sama lagi semacam mall. Juga ada foodpark yang masih coming soon plus arena bermain semacam timezone.

Lagi lagi di Lt 3, selain ada Foodcourt, rencananya akan ada XXI juga yang keterangannya masih belum berubah sejak November 2013, opening soon yang semakin gak jelas soon nya itu kapan.
Yang masih belum berubah, area buat foto foto sesukanya. (Baca tentang area foto-foto ini di posting pertama saya). Enaknya di mall ini, petugas2nya wolez aja gitu kita ngeluarin kamera atau foto-foto dimana aja.

image

Dimakan.

Tapi memang beberapa gambar sudah berubah jika dibanding kunjungan pertama saya. Berijyt diantaranya

*peringatan: bakal banyak foto saya. Boleh siapin kantong muntah dulu

image

Ini versi sudah di edit pake Picsart Hp

image

Ini foto gagal karna ada bayangannya

image

Kalo ini foto di Lt 2

Ada juga yang masih eksis alias gak berubah dari kunjungan pertama saya. Alias gambar itu masih nongol nongol aja. Contohnya ini:

image

Kalo yang saya baru lihat juga, dan sempet buat mejeng:

image

Versi berwarna dari yang di atas

image

Maafkan saya kalo kebanyakan mejeng yah. Mumpung ada yang bersedia suka rela motoin. Apalagi di kunjungan saya dulu ya g pertama, saya datang sendiri dan kalo mau foto kudu selftimer ato pake jurus Tong-Bro (Tolong potoin donk, Bro). Kasian amat kan yaaa.
Sekali lagi, saya memang bukan anak mall. Saya lebih suka main yang panas-panasan daripada keliling mall yang adem. Saya lebih suka motret suket daripada poto selfie di toilet mall.

image

Selfie kaya gini lebih asyik kaan. Foto dr koh @ferryrusli

Tapi sekali-kali main yang gak bikin kulit saya berubah warna, gak salah kaan?

image

Fakta aneh: saya pakai jilbab yang sama dengan yang saya pakai sebelumnya di posting kunjungan pertama.

Kalau mau bandingin atau tambahan info, bisa ke posting pertama saya. Yg sudah ada disana, tidak saya ulangi lagi. Misal tampak depan, alamat, foto miniatur, de el el