Tag Archives: sorong

Aqied Kecil Bersekolah *catatan Papua 1994-2001

23 Jan

Untunglah saya sempat tinggal di ujung timur negri. Tidak berhenti saya bersyukur pada skenario Yang Maha Kuasa tentang masa kecil saya.
Tahun 1994, saya menjejak Kota Sorong, Papua (saat itu Irian Jaya) untuk pertama kali. Kami sampai di pelabuhan dini hari.
Tahun 1995, saya Aqied kecil iseng didaftarkan Bapak di salah satu sekolah dasar Islam dekat tempat tinggal kami. Kala itu usia saya seharusnya belum saatnya masuk SD. Orang tua memandang niat dan keinginan saya yang begitu membaja (ceilah) untuk sekolah seperti Qolbiy. Mari kita bayangkan Sorong di tahun 1994.
Tidak ada TK terdekat di sekitar kami. Bahkan yang searah dengan sekolah tempat Bapak ngajar. Saya tinggal di Jl Basuki Rahmat KM 9,5 (sekarang sebelah Perumahan Pertamina pas) sedang Bapak mengajar di KM 13. Akhirnya saya diikutkan sekolah SD yang masih bisa ditempuh jalan kaki.
Menonton Laskar Pelangi mengingatkan saya pada sekolah Aqied kecil. Sekolah swasta dengan siswa/siswi low-end meski kondisi sekolah lebih baik dari SD Muhammadiyah Gantong.
Sekolah Aqied kecil ad 6 kelas, masing2 untuk satu tingkat. Jumlah guru ad 7, sudah termasuk satu kepala sekolah.
Lapangan sekolah sangat cukup untuk upacara bendera, bermain kasti, atau olahraga lain. Sebagian besar tanah berwarna coklat-oranye, sebagian ditumbuhi rumput, dan ad beberapa pohon kelapa di salah satu bagian. Jika musim hujan, ad baiknya berhati hati kecuali bagi penganut paham ‘berani kotor itu baik’
Ruang kelas kami beralas semen, sebagian mulai berlubang2. Setiap satu meja dilengkapi bangku panjang kapasitas 2 anak kecil. Kaca jendela model nako yang sudah tidak lengkap baik jumlah kaca maupun besi teralisnya. Memudahkan beberapa teman Aqied kecil kabur saat mobil puskesmas datang. Jarum suntik masih tajam dan menakutkan kala itu. Jendela yang bolong2 juga memudahkan tebu tebu dibelakang sekolah menerobos masuk kelas. Yang kemudian kami potong dan berebut potongan tebu untuk di sesap.
Toilet sekolah ada dua. Disebelahnya ada sumur untuk mengambil air. Jadi kalau sedang kebelet, mohon menimba dulu. Oya nimbanya gak pke katrol yaa, jadi ada ember yg diikat dengan tali panjang. So, timbanya tanpa bantuan ‘pesawat sederhana’ bernama katrol.
Ada sungai berair coklat di belakang sekolah. Jembatan kecil titian bambu menjadi penghubung untuk ke sebrang. Aqies kecil tidak begitu tau apa saja yg ada di sebrang. Yang Aqies kecil tau hanya Soa-soa (semacam kadal besar, sekitar 70cm-1meteran, tp gak pernah ngukur juga sik) sering terlihat di pepohonan sebrang sana. Kadang entah kenapa Soa-soa tersebut terlihat di kamar mandi/toilet. Mungkin nyasar.
Tapi itu masa lampau.
Seiring berjalan waktu, prestasi demi prestasi menghiasi sekolah ini. Peminat nya turut meningkat. Lama kelamaan sekolah ini bermetamorfosa. Cukup melesat jauh. Jumlah siswa yang terus meningkat, berbanding lurus dengan jumlah kelas yang akhirnya dibangun.
2001 Aqied kecil lulus, sekolah ini sudah menambah jumlah ruang kelas. Ad beberapa perubahan  semacam ruang guru, toilet, dan jumlah siswa. Tepat angkatan sekolah dibawah Aqied kecil, satu tingkatnya ada dua kelas, A dan B. H+1 menerima ijazah, saya diterbangkan Merpati (MNA) ke pulau Jawa.
Baru pada 2010 lalu saya sempat menengok silaturrahim, dan bingung (pertama mudik setelah 9 tahun di jawa). Hampir tidak menemukan nostalgia masa lalu si Aqied kecil.
Ruangan2 sederhana dulu telah menjadi gedung bertingkat. Lengkap dengan R Multimedia, Masjid sekolah dan ramainya lalu lalang siswa siswa di sekolah ini (saya tidak memperhatikan banyak). Menurut cerita Bapak, kini halaman sekolah itu sesekali ad tampilan Ka’bah, untuk latihan manasik haji.
Ah, betapa merindu masa masa kami mengenal hampir seluruh siswa satu sekolah. Betapa merindu masa masa kami bergantian merebus air dan membuat teh untuk bapak ibu guru. Betapa merindu tidur tiduran dan bermain sesukanya di atas rerumputan bersandar pohon kelapa. Betapa merindu saat saat menjerit heboh kala soa-soa mengintip kami dari luar kelas. Betapa merindu tidur dan camping di sekolah untuk pesantren kilat Ramadhan. Betapa merindu ketika harus terpleset genangan air pasca hujan di halaman sekolah yg becek. Betapa merindu Bapak dan Ibu guru yang bisa bisa nya masih bertahan dengan segala keanehan dan kenakalan kami. Betapa ah betapa……..

*Aqied kecil, seandainya neverland itu ada

Advertisements

Ibu dan Lumia nya

18 Jan
image

Lumia Ibu, sedang transit di Sultan Hasanudin Airport Makassar

Saya dan orang tua memang sudah sejak SMP tidak tinggal bersama. Saya menjalani sekolah berasrama di Solo sejak lulus SD, sementara kedua orang tua saya di Sorong, Papua. Kontak memang sering, dari jaman kombinasi telpon dan surat pos, ponsel, hingga sekarang pesan instan dan jejaring sosial.
Awalnya, memang sudah cukup bagi kami berbincang dan bercerita secara audio saja (baca: telpon) atau sms. Seiring semakin banyak hal baru yang kami temui, dan sangat ingin kami ceritakan, kami mulai hal baru. Jadi biasa setelah cerita by phone, ad gambar2 atau foto yang kami saling kirim melalui email.
Contohnya saat saya ikutan volunteer ASEAN Para Games di Solo, Bapak pingin tau gimana gimana nya atlet atlet difable di event pasca SEA GAMES itu. Juga saat saya wisuda, bapak gak ikutan. Jadi dikirimnya via email. Pernah juga waktu Bapak dan Ibu ada acara tahun baru di Waisai Raja Ampat. Kami anak anak beliau penasaran maka di email lah foto2 beliau berdua disana.
Lama kelamaan, kami mulai merasa email tidak cukup praktis. Fyi, jangan bayangkan kualitas koneksi di pelosok sana dengan pulau jawa. Juga listriknya. Selain itu, koq jd ngerasa ud gak real time. Kerasa gak sih, ketika ud penasaran bangeet ato ud seru banget ceritanya, gambar visualnya masih meraba raba. Dan pas diterima sudah gak se exciting pas seru2nya. Gak cuma itu, banyak hal remeh temeh yg selalu pengen kami bagi, dan gak asyik banget kalo harus di email dan bapak downloadnya masih entaran banget. Pas selo, pas sinyal bagus, pas bukan jam kerja tp pas gak di rumah juga (sinyal di rumah juelek maksimal). Selain itu, kami pengen juga kan selalu berbagi tumbuh kembang baik diri kami sendiri masing2 atau segala hal di sekitar kami.
Maka, Qonita dan Qolbi muncul dengan ide menghadiahkan smartphone untuk Ibu. Awalnya karna kami belum uji coba sinyal di sana, bayangan mereka tar bisa skype an gitu. Atau minimal bisa kirim2an foto sesukanya di whatsapp. Dua itu harapan minimal kakak dan adik saya yg cerdas (saya gak ikutan punya ide pas itu, bodohnya).
Misi pun di mulai, setelah mencari tau sana sini dan berunding antar kami, disepakati Lumia dari brand (yang sempat) Besar. Ini untuk bujukan lebih mudah juga sih, karna Bapak gak pernah beli ponsel selain merk ini. Pada Juli 2013, Qonita sebagai sesama pengguna Windows Phone mulai membeli dan membekali ponsel tersebut dg aplikasi2 yang dibutuhkan.
Karena Qonita dan si kecil gak ikutan mudik lebaran, saya jadi petugas yang mengantarkan ponsel tersebut pada 3 Agustus 2013. Berhubung saya gak ngerti ngerti banget Windows Phone, jadilah disana Ibu tinggal belajar n make aja. Satu satu nya aplikasi paling aktif adl Whatsapp. Selain berkomunikasi dengan kami, Ibu juga bisa komunikasi dengan teman2nya sesama ibu ibu, teman2 kuliahnya, dosennya, dan siapa aja. Saya cuma bisa ngajari penggunaan search engine yg bisa dg scan dan ketik manual. Yang Ibu suka banget, karena Ibu bisa ngetik arab dan bisa translate di ponselnya. Bisa baca quran beserta terjemahnya, bisa cek kata2 sulit di Quran dan langsung ke search engine (meski dulu Sarjana di Matematika, sekarang Ibu kuliah lagi Bahasa Arab).
Akhir tahun kemarin, Ibu ke Jawa. Mulai berdiskusi dengan Qonita soal ponselnya. Pernah suatu hari saat saya utak atik ponselnya, saya tanya
“Bapak suka make juga gak sih?”
Ibu: “iya, kadang yg kirim2 foto itu bapak. Kadang juga bapak cari2 kalian tuh di situ (nunjuk tanda search engine).”
Saya: “What? Nyari Aqida Shohiha gitu?”
Ibu: “gak tau tuh bapak. Aqied gitu deh kayanya. Tar ketemu yg itu tu satunya facebook(twitter). Kadang ya Aqida Shohiha kayanya”.
Oh my, bagi Anda pembaca twitter saya, tentu tau kalo saya lebih banyak nyampah, alay dan gak mutu kalo ngetwit.
Saat itu saya rada kaget. Twitter saya memang gak pernah digembok. Jadi Ortu tau donk saya suka galau galu gak jelas, saya mention2an sama siapa aja, ato kalo saya lagi kode kode n no mention. !!!
Ternyata setelah percakapan itu, Qonita kembali dengan ide brilliannya
“Ibu follow aja twitnya Aqido. Tar aku taro di home biar tinggal baca”
Dziiiiiiinnngggg!!!
Belum sempat saya protes, Ibu sudah bersuara
“O iyo sudah”
dan nemplok lah shortcut ke timeline twitter saya dengan manis di home windowsphone yang kotak kotak itu. Sebelumnya facebook 4 anaknya ud berjejer manis.
Yasudah lah, saya pikir biarlah malah saya jadi gak harus panjang2 kan kalo crita di telp. Kan ud baca sendiri. Hehehehe. Telp nya bisa buat ngobrol2 yang lain yg private2 ajah.
Tapi lucu juga, meski saya tau kalo Ibu dan Bapak suka kepoin saya, Ibu semacam gak pengen ketahuan gitu kalo kepo.
Pada suatu hari:
Saya: “aku tau loh kalo Ibu kepo in aku. Ibu suka gak sengaja kepencet favorit kaaan”
Ibu: “hah iya ya? Masa sih? Kalo kaya gitu emang ketahuan ya kalo suka baca baca?”

Sebelum mudik kmaren, Ibu sempet juga tanya tanya instagram. Tapi oleh Qonita saat itu disampaikan kalo instagram gak penting2 amat dan di WindowsPhone masih versi Beta.
So, mulai saat itu, twit, posting facebook, bahkan posting di blog ini bisa jadi bahan bacaan Ibu dan Bapak saya. Soal blog saya masum radar bwliau berdua juga saya baru tau beberapa hari lalu.
Ibu via Whatsapp : “maksudnya apa sih kamu menang undian PKK Anak SMA? Kalo artikelnya aku sudah baca sih”
Nah looo. Bahkan posting absurd yang itu pun dibaca oleh beliau. Mungkin hanya akun Path aja yang sampai sekarang belum masuk radar.

Posting yang ini pun sepertinya bakal dibaca beliau. Haiii Ibuuu, Haiiiii Bapaaakkkk…… 😉

Mencicipi Emperan Raja Ampat

12 Jan
bukti sudah sampai Kab Raja Ampat

bukti sudah sampai Kab Raja Ampat

Lebaran 2013 lalu saya berencana mudik. Rumah orang tua di Kota Sorong, Papua Barat membuat rncana mudik saya harus disiapkan jauh jauh hari. Apalagi kali ini mudik nya atas kemauan sendiri 9of course berarti budget sendiri).
Ada beberapa alternatif transportasi untuk menuju Sorong.  Melalui udara, bisa pilih maskapai Merpati Nusantara Airlines, Sriwijaya Air, Lion Air dan Expressair. Dari pulau jawa bisa pilih titik keberangkatan Jakarta, Jogja dan Surabaya.

Paket paling hemat sampai di Sorong, kalau waktu tidak menjadi kendala Anda, bisa menggunakan jasa PELNI. Harga kelas Ekonomi hanya Rp. 556.Xxx untuk tarif dewasa dari Surabaya, dan sekitar 700an dari Jakarta. Perjalanan normal 3 hari 2 malam saja. Ada juga kapal lain seperti Dobonsolo, Sinabung, dan lainnya saya gak ngerti lagi.

Hasil survey saya akhirnya memilih Sriwijaya Air (sebelumnya selalu MNA), Surabaya-Sorong dan Sorong Surabaya meski akhirnya harus saya reschedule dan ganti rute jadi Jogja-Sorong dan Sorong-Surabaya. Total tiket pertama untuk PP saya bulatkan jadi Rp. 3,200,000 (seharusnya bisa 2,9 tp telat booking, jd uda naik harganya)  setelah ganti route jadi via Jogja,  nambah Rp. 700,000. Itulah kenapa saya gak ganti rute yang perjalanan balik nya (kena nambah 900-1jt an kalo mau mendarat di Jogja) :(.

Saya berangkat sendiri 3 Agustus malam dari Jogja dan tiba di Domine Eduard Osook Airport Sorong pukul 7 Pagi. Transit di Surabaya +/- 30 menit dan di Makassar 3-4 jam, membuat saya mau gak mau sahur di Airport. Jam segitu tidak semua outlet makanan buka. Akhirnya saya memilih istirahat di Starbucks.

Setelah Ramadhan dan tamu-tamu Ied Fitri mulai mereda, saya dan kakak saya Qolbi bersama Bapak berangkat ke Waisai (Ibu Kota Kab Raja Ampat). Kapal menuju Raja Ampat dijadwalkan berangkat pukul 14.00. Jadi kalau Anda menggunakan Sriwijaya, tidak perlu menginap di Sorong bisa langsung berangkat ke R4 (Raja Ampat). Merpati jam tiba di Sorong sesuai jadwal pukul 13.00, saya pikir terlalu terburu2 meski seharusnya bisa terkejar. Asal gak lama nunggu bagasi, asal kendaraannya lancar, asal pesawatny gak delay, de el el.

Kapal ke Waisai ad beberapa macam. Yang kami pakai untuk berangkat ini modelnya kursi kursi seperti Bus. Ad kelas Ekonomi (tanpa AC, letaknya di lantai atas Kapal), VIP dan VVIP. Tiket VIP saat itu Rp. 130,000. Berikut penampakan kapalnya:

sambil nunggu antrian keluar kapal, mejeng dulu

sambil nunggu antrian keluar kapal, mejeng dulu

image

Ini jenis kapal yang cepat. Sekitar 3 jam perjalanan. Pukul 17.00 WIT kami tiba di Port of Waisai, pelabuhan Raja Ampat.

Kapal tampak luar. ini posisi sudah di Port of Waisai

Kapal tampak luar. ini posisi sudah di Port of Waisai

Dejemput dan jalan jalan sore pake Strada oleh Pak Tony. Kami diajak santai sore di Pantai WTC, disambung sholat maghrib di Masjid Raya Raja Ampat . (tentang masjid raya, WTC dan gedung Pari pernah saya posting di https://aqied.wordpress.com/2013/10/15/raja-ampat-tidak-melulu-laut/ )

malamnya, kami diantar ke tempat menginap. karena gelap banget (jalan umum baru dibuka dan masih terus dalam proyek pembuatan jalan) gak banyak lampu, jadi saya tidak tau kalau ternyata tempat menginap kami berhadapan langsung dengan laut.

Listrik disini masih belum cukup memadai.  Jadi banyak yang pasang genset juga. saran saya kalau ke raja ampat, pastikan powerbank, baterai ponsel dan kamera terisi full. Untuk sinyal, tidak perlu khawatir.  Operator merah cukup kenceng kalau sekedar untuk telpon, chatting dan upload foto sesekali.

terlalu gelap membuat malam terasa lebih cepat. usai ngeteh dan santap pisang goreng, kami makan malam. Saya dan Qolbi masuk kamar, sementara Bapak masih ngobrol-ngobrol denga Pak Tony.

keesokan pagi, setelah subuh kami baru melihat sendiri kalau lokasi menginap kami menghadap laut. main main air sedikit, sambil menikmati sunrise.  Kalau biasanya saya suka sunrise dari ketinggian, kali ini saya menikmati sunrise sambil berbasah basahan.

Searah jarum jam dr kiri atas: 1. sunrise depan penginapan, bapak dan qolbi, 2. laut depan penginapan, 3.tempat kita bobo, 4. sunrise saya

Searah jarum jam dr kiri atas: 1. sunrise depan penginapan, bapak dan qolbi, 2. laut depan penginapan, 3.tempat kita bobo, 4. sunrise saya

Puas main air pagi pagi, dan matahari mulai meninggi, kami sarapan dan mandi air tawar (harus banget dijelasin). Lagi-lagi kami berkendara Strada (strada Hitam). Tujuan kali ini lihat ikan ikan di Waiwo Dive Resort.

Waiwo Dive Resort (WDR) merupakan salah satu resort yang cukup bagus di Raja Ampat. Cottage-cottage (saat itu) tanpa AC, memadukan konsep hutan dan laut.  Sekitar Cottage banyak pepohonan (bisa dibilang hutan), meski tetap dengan pasir putihnya, tetapi pemandangan di depan Cottage adalah laut. Tempat makan dan BBQ terletak tepat di depan dan menghadap laut. Kebayang kan gimana asyiknya sruput teh sore-sore menikmati sunset sak mendeme diiringi debur ombak dan belaian angin lembut berpadu udara segar khas laut. Atau mungkin party BBQ hasil laut dengan semilir angin dan sapaan ombak. Kenikmatan setara one million dollar.

Searah jarum jam: 2 foto paling atas: Tempat makan Resort yg langsung menghadap laut, 3. pintu masuk, jd ngelewatin hutan dulu, 4. resepsionis, 5. menuju area dermaga, 6. paket alat snorkel 7. Waiwo Dive Center buat yg mau diving.  ad alat dan instruktur, 8. tampilan resort

Searah jarum jam: 2 foto paling atas: Tempat makan Resort yg langsung menghadap laut, 3. pintu masuk, jd ngelewatin hutan dulu, 4. resepsionis, 5. menuju area dermaga, 6. paket alat snorkel 7. Waiwo Dive Center buat yg mau diving. ad alat dan instruktur, 8. tampilan resort

Menurut saya, untuk ukuran Cottage dengan suguhan pemandangan seperti ini harga yang ditawarkan cukup murah. Pada saat itu untuk wisatawan domestik Rp. 450,000 permalam dan USD 50 atau 55 (lupa). Waiwo Dive Resort juga menyediakan fasilitas Snorkling (yang bisa dilakukan tepat di situ jugaakk) seharga 50,000 dan diving Rp. 500,000 per titik diving ( saya lupa sudah termasuk kapal atau belum). Sejauh yang kami temui, tamu tamu yang menginap disini saat itu turis mancanegara semua.

narsis sek disini, sambil tepe tepe sama ikan. lautnya bening banget, tanpa snorkel pun kelihatan dasarnya

narsis sek disini, sambil tepe tepe sama ikan. lautnya bening banget, tanpa snorkel pun kelihatan dasarnya

Dari dermaga di WDR, Anda bisa menebar remah roti untuk memancing ikan ikan mendekat. Kalau sudah mendekat terus ngapain? ya di ajak foto bareng donk…. Jadi kalau mau langsung nyebur snorkling disini juga bisa, tidak harus sewa kapal dan jauh jauh (kalo males lho yaa). Kalo masih males juga, air laut yang kebangeten jernihnya sudah bisa nunjukkin isi dalam laut tanpa kita perlu menyelam ato ngintip (snorkel). Foto di header saya pun diambilnya di salah satu sudut dermaga WDR (saat itu masih setengah jadi).

Jelang siang, kami ke Pantai Saleo. Sebelum itu kami disarankan Mbak Novi (yang mengantar dan menjadwalkan wisata kami) pakai sunblock SPF 110++ dulu. Thank You, Mbak Novi. Saya aja gak kepikiran :p.

Seri Saleo copy

Qolbi

Qolbi

Pantai ini (saat itu) sepi, seingat saya tidak dipungut biaya parkir dan retribusi masuk tempat wisata. Ada gazebo-gazebo untuk meletakkan bawaan kita, atau untuk yang malas nyebur. Disediakan juga cottage-cottage mini untuk beristirahat. Saya? dengan suka cita langsung nyebur. Disini juga menyediakan sewa alat snorkel. Puas main air, kami makan siang dengan bekal yang kami bawa di salah satu gazebo. penjual makanan di sana sulit dan tidak selalu cocok di lidah (mungkin karena keterbatasan bahan makanan juga yang lebih banyak harus impor dari Sorong). Jadi lebih aman bawa bekal sendiri (lagi lagi ini inisiatif Mbak Novi). bahkan saking langkanya yang jual kelapa (untuk masakan santan), di Pantai kelapa-kelapa yang berserakan diangkut semua di bak belakang Strada. untuk stok masak, katanya.

image

di bak belakang strada bareng kelapa

Setelah itu kami rencananya ingin bebersih diri dari pasir dan air laut, namun ternyata air tawarnya mesti nimba dulu dan sedang dipakai mencuci. jadilah kami hanya mengguyur berapa gayung air tawar, sekedar membilas air laut dan meluruhkan pasir pasir yang menempel saja. Lalu kami pulang dengan duduk di bak belakang Strada (untung pakai mobil ini). Jalanan di Waisai membutuhkan keahlian mengemudi tersendiri. Juga tidak direkomendasikan untuk city car. Sepanjang perjalanan, kami dimanjakan pemandangan laut dan langit yang sama cerahnya. tidak heran begitu menginjak pulau jawa kembali, warna kulit saya melegam sekian tingkat.

sepanjang yang bisa dijepret selama perjalanan

sepanjang yang bisa dijepret selama perjalanan

Siangnya, kami dibelikan tiket oleh Mbak Novi di Pelabuhan. Kapal yang kali ini sedikit lebih lama, tapi instead of kursi, kami disediakan tempat tidur betingkat. Tarifnya Rp. 100,000 per orang. Jika ingin lebih private, bisa sewa kamar (saya gak tau tambah tarif berapa) berisi 1 ranjang tingkat, dispenser air panas dan disediakan Pop Mie per orang nya. Mbak Novi kemudian memesan 1 kamar untuk kami setelah bertemu Pak Tony (hihihi).  Karena kapal masih berangkat pukul 14.00, kami mampir dulu untuk pamitan ke Pak Tony (inisiatif Mbak Novi). Bapak ngobrol-ngobrol, saya dan Qolbi foto-foto geje. Sebelumnya, karena terlihat dari jauh, kami mampir juga ke Gedung Pari, Gedung Balaikota nya Kabupaten Raja Ampat.

image

pemandangan dari dalam kamar

Perjalanan di kapal kali ini lebih lambat, 4 jam perjalanan. Yang unik dan menurut saya inspiring, setiap kapal yang lepas landas selalu diawali dengan Do’a yang cukup panjang dan bagus isinya (saat itu doa dalam agama nasrani). jarang sekali saya mendengar doa persiapan perjalanan yang seperti ini. Biasanya hanya informasi keberangkatan dan basa basi semacam “semoga selamat sampai tujuan”. Seingat saya yang kali ini semua bagian dalam perjalanan didoakan.  Semua faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi perjalanan disebutkan.

Sejau yang bisa dijepret di kapal. *foto tiket cm punya yg tiket berangkat

Sejau yang bisa dijepret di kapal. *foto tiket cm punya yg tiket berangkat

Awal awal dikapal, seru dan seneng. lama kelamaan bosan juga. jadi kami tidur dan baru bangun saat sampai Pelabuhan Rakyat Kota Sorong.

kapal, baru saja berangkat dr Kab Raja Ampat

kapal, baru saja berangkat dr Kab Raja Ampat

yang saya simpulkan adalah, kami berlibur di Raja Ampat bukan pada waktu yang tepat.  Libur lebaran menyebabkan banyak warga waisai  mudik sehingga sulit mencari warung, toko, pasar dan layanan apapun yang buka. Hal ini juga dikeluhkan wisatawan mancanegara, bahkan mereka mengira lebaran Idul fitri sampai hari Senin 😉 . Normalnya, untuk menikmati Raja Ampat, wisatawan perlu menyewa kapal. Pulau-pulau seperti Pianemo, Kri, Mansuar, atau yang paling Dahsyat indahnya (juga jauhnya) WAYAG, masterpiecenya Raja Ampat.

image

Patrick di Pianemo. *sumber foto: instagram @marischkaprue

Kami tidak stay lebih lama di Raja Ampat, juga karena alasan Motoris kapal sedang Mudik.  Jadi saya hanya bisa memandangi Speedboat yang nangkring depan penginapan dengan tatapan sendu (haisy).  Sedangkan tanpa Kapal (dan motoris nya tentunya), kami cuma bisa ublek di Waisai saja.

image

Ah, tak apalah. Saya diberi kesempatan mencicipi emperan Raja Ampat saja sudah merupaka nikmat yang luar biasa besarnya. Menurut yang saya baca di cerita-cerita traveling ke Raja Ampat, perlu sekitar Rp. 6,000,000 kalo gak diving. Itu masih exclude Tiket Pesawat PP dari lokasi asal.  Sementara saya/ selama di Raja Ampat tidak mengeluarkan biaya apapun.  tidak pantas lah buat saya merutuki yang tidak saya dapat. Saya hanya harus mensyukuri yang saya dapat dan itu sudah Jauuuuh dari ekspektasi saya.  Sebagian foto yang saya upload ini SANGAT gak bisa menggambarkan keindahan sesungguhnya yang saya dapat, apalagi Raja Ampat secara keseluruhan. You can ask Google for more fantastic pictures.

Mungkin suatu saat nanti atas ijin Nya saya bisa memantaskan diri menikmati surga dunia-Nya yang jatuh di ujung timur negri ini, sebelah Barat Papua.

Dan akhirnya, ini jadi posting terpanjang saya yang ingin saya tutup dengan kata-kata Kamga

BE CAREFUL, CAUSE INDONESIA IS DANGEROUSLY BEAUTIFUL!!!!

ekspresi lebay pertama kali nginjek tanahnya Raja Ampat

ekspresi lebay pertama kali nginjek tanahnya Raja Ampat

Aqied, berharap tahun ini bisa ke Derawan

*Terima kasih terbesar untuk Pak Tony (atau di Raja Ampat lebih dikenal dengan Pak Nas), Pak Slamet dan Ibu, Mbak Novi dan tim (Driver dan Cook), Bapak dan Qolbi. Semoga Alloh membalas kebaikannya.

*header, gravatar dan favicon  blog ini (saat tulisan ini dipublish) semua diambil saat di Raja Ampat

Akhirnya Mudik Jgaaa

18 Aug

Akhirnya mudik juga…..

image

Entah kenapa saya merasa seperti tidak dlm kondisi sadar saat membeli tiket jurusan Surabaya-Sorong di maskapai Sriwijaya Air.
Bagaimana saya tidak merasa mimpi, sebelumnya saya tidak menyiapkan anggaran khusus mudik. Apalagi saya memburuh belum sampai setahun. Bayangan harga tiket yg pernah mencapai kepala 4 (sudah pasti total angka ad 7 digit), membuat saya g brani2 amat buat iseng pengumuman kemana2 bakalan mudik.
Jd setiap senggang sepanjang akhir juni-juli saya rajin cek harga tiket dr maskapai2 yg mencapai Sorong.
Oya sebelumnya saya jd brani cari2 gara2 kakak saya bilang dia dpt harga JOG-SOQ kurang dr 2 jt. Saya saat itu yg posisi di Jombang berkesimpulan bahwa pasti dr Surbaya lebih murah.
Taraaaaa…. sempat sudah memutuskan buat book maskapai lain. Saat itu yg saya cek Merpati, Ekspressair, dan Lion Air. Harga rata2 mirip. Sriwijaya sendiri beberapa saya cek flight gak muncul hasilnya. Untung saat itu saya blm jd memutuskan karena ATM terdekt gak muncul menu untuk pembayaran maskapai pertama yg akan saya book.
Ternyata ad harga dan jam terbang Sriwijaya yang lebih pas di berbagai sisi. Kurang dr 3jt untuk Round-trip. Alhamdulillah, selisih lumayan jauh dg kalo keberangkatan lewat Jogja.
Tentu saja sebelum benar2 dpat tiket, sya belum berani bilang ortu kalo mo mudik.
.
Manusia berencna namun rencana Nya lebih baik. Pertengahan Juli saya dipindah tugaskn oleh perusahaan ke Klaten Jawa Tengah. Ini berarti penerbagan lewat Surabaya jd gak efisien. Skitar tgl 20an Juli saya pagi pagi iseng telp Call center Sriwijaya untuk cari info kalo rute n pindah tanggal (saya salah memperkirakan tanggal libur perusahaan). Dan ternyata saya hanya dikenakan bea admin 20.000 + penyesuaian harga tiket ke flight baru aja. Yey. Akhirnya berangkat dr JOG deh.
Saya ambil penerbangan jam 20.15 dr JOG. Transit surabaya baru UPG n nggembel sampai pagi baru terbang lagi ke Sorong.

image

Nggembel di Hasanudin

Menurut Bapak saya, memang pesawat klo mau landing di Airport Sorong, mesti nunggu pagi.

image

Landing .!!!

Ternyata benar, penerangan di Airport Domine Edward Osok menggunakan tenaga surya. So, kalo malam gelap gulita. Hehe
Rasanya bahagia sekali bisa sampai rumah ortu yg jaraknya ribuan mil. Masih merasa gak njejak bumi pas sampai disana n melihat nyata rumah beliau berdua. Hahaha norak banget.

image

Saya dan Qolbi di depan rumah Ortu

Ya, orang tua saya memang menetap di Kota Sorong, meskipun secara darah Jawa asli.
Ini ramadhan ke dua saya di Sorong setelah saya ke jawa 2001. Yang pertama adalah 2010.
Cek https://aqied.wordpress.com/2009/09/
Dalam 3 tahun itu ternyata banyak yg berubah.
Selain cuaca yg sedang kurang baik, hujan terus menerus hingga saya gak keluar2 rumah, jg pembangunan segala macam bangunan yg makin banyak. Jujur banyak list yg gak kesampean pas sudah disana.
Saya gak ke Pantai Lido ato tembok berlin. Gak ke Tanjung Kasuari, gak sempet silaturrahim ke teman2 jaman SD, gak nengok sekolah lama, gak makan seafood di rumah makan favorit, coto langganan pas gak jualan, etc…
Tak apalah. Yang kudapat jauh lebih dr itu semua. Atas kuasa siapa saat hari kedatangan saya hujan tidak turun dan langit begitu cerah. Atas kuasa siapa langit begitu cerah saat saya menjemput Qolbi H-1 lebaran.

image

Sesaat sebelum landing di DEO airport

image

Hari menjemput Qolbi

Atas kuasa siapa saat perjalanan kami dr Sorong ke Raja Ampat, hingga saat hari kami bermain di Raja Ampat dan perjalanan kembali lagi ke Sorong, langit begitu cerah. Padahal di luar hari hari tersebut, langit seakan tak pernah habis menyimpan air untuk ditumpahkan.

image

Perjalanan Sorong-Raja Ampat

image

Perjalanan Raja Ampat-Sorong

Atas kuasa siapa begitu banyak kemudahan dr orang orang di sekeliling kami.

image

Waiwo Dive Resort

Allohu Akbar, Tiada pujian selain untuk Mu.
Bukan berarti tidak ad kesulitan atau problem yg didapt. Tp apalah artinya jika kenikmatan dari Nya yg ku dapat jauuuuuh melampaui yang kubayangkan.
La-in syakartum la azidannakum
Maka jadikan kami hamba Mu yang selalu bersyukur ya Rabb….

*saat terpenjara demam di hari libur

Air, Ombak, Langit, Angin terbaik

18 Apr

image

papua selalu membangkitka rindu bagi saya. sekian lama tak mwnengok sejak saya pergi 2001, pada ramadhan 2010 saya berkesempatan berkunjung lagi di Sorong.
satu transportasi favorit saya adl transportasi laut dg tarif seperti angkot. Yap dengan Rp. 2,500 kita bisa nyebrang ke Pulau Dom. saya gak yakin semua atlas menampilkan pulau tersebut di peta mereka.
kapal/boat ini dikenal dengan nama JONSON. entah ejaan yg benar bagaimana. boat ini menempuh skitar 30 menit sampai tujuan. untuk sekali jalan layaknya angkot ya ngetem dulu sampe penuh. bedanya dengan angkot, boat ini gak nurunin atau nampung penumpang di tengah jalan. hehe, soalnya belum pernah tau sih ad yg nyetop angkot ditengah laut.

image

saya sempat ambil gambar di dalam Jonson. juga sempat keluar sebentar berfoto di ujung boat. sensasinya mantap. buat yang jarang2 ketemu pantai, 2500 rupiah terlalu murah.
Rata2 Jonson dimotori 2 motor biasanya merk Yamaha. jadi ya kaya membelah laut gitu kalo lihatnya ke belakang. sayang Jonson saat itu penuh shg saya tdk bisa leluasa mondar mandir.

Ombak, Air Laut, Angin, Langit, semua yang terindah yang bisa didapat……

ah, apa sih di Papua yang gak bikin kangen……

Foto: Laut di antara Sorong dan Dom
Tahun: 2010

%d bloggers like this: