Tag Archives: senin

senin sudah lewat

20 May

Beberapa waktu lalu, saya sempat cukup rajin untuk publish satu posting khusus hari senin. Demikian pula rencananya hari kemarin.

Sayang seribu sayang.

Weekend kemarin, akibat kesal dengan aplikasi WP android saya yang lelet dan sering no respon, saya uninstall aja. Saya pikir waktu itu, apalah gunanya saya punya di Hp tapi gak bisa ngapa2in. Lagi pula kalau pengen tinggal install lagi. toh filenya gak gede n gampang nemj di Play Store.

Demikian pemikiran yang akhirnya terpaksa saya sesali sekarang. Kenyataannya, WP android yang saya coba download sejak minggu malam, tidak berhasil hingga posting ini saya ketik.

Saya punya beberapa PR postingan. Salah satunya ya Liebster Award timpukan dari Mas Rifki (http://jampang.wordpress.com) yang gak tau expirednya udah sampe ngalahin sayur asem basi yg gak bisa dibedain lagi jenis asemnya. Rencananya sih bakal tetep dikerjain PR nya. Kalo pun gak bisa sempurna ngerjainnya, paling nggak sebagian lah yaa. boleh kaaan??? hehehehe. Ada yang pengen kena timpuk dari saya? atau mau nambah / ngusuili pertanyaan buat saya? mumpung belum dibuat nih postingannya.

soal dijawab gak di jawab, dikerjain gak dikerjain, ya terserah saya juga doonk. hihi.

Kembali ke topik hari senin. seperti biasa saya cabut dr barat menuju timur guna aktivitas senin pagi seperti biasa. Memburuh. Karena mungkin pertama kali dengan ajaibnya saya gak keluar rumah sama sekali sejak Jumat sore hingga senin pagi, saya jadi semacam lebay gitu menghirup udara pagi di luar rumah. Sampai sampai lupa dengan kacamata, sarung tangan, dan masker muka buat pelindung bersepeda motor. Entah kenapa senin pagi kemarin saya merasa happy sepanjang perjalanan.

Saya cukup kesiangan sih berangkatnya. Awalnya sempet berniat berangkat usai subuh, sehingga bisa mengabadikan momen momen sunrise. Apa daya jam stengah 7 pagi saya baru berangkat. Takjubnya, Merapi yang gagah sedari pagi sudah menyapa. Langit bersih dengan mentari yang mulai menghangat memperjelas teman perjalanan saya, Merapi nan gagah dan Merbabu yang bersembunyi mengintip dari balik bahu Merapi.

Pagi di senin kemarin, jalan yang saya lalui tak terlampau ramai. Cukup nyaman untuk dilalui meski lobang-lobang sebagai asesoris masih menghiasi. Ditambah tingkah tingkah ajaib pengendara dan pengguna jalan raya yang khas senin pagi. Mungkin juga tingkah saya bisa jd dirasa ajaib oleh pengendara lain.

Well, ternyata senin pagi saya bisa tetap ceria dan bahagia, walau tanpa harus jalan jalan di luar rumah sepanjang weekend.

*posting dan ketik dari mobile browser. lagi gak punya laptop selama seminggu. app WP for andro belom berhasil download juga. Pokoke posting!

Advertisements

Senin Ini Bukan Senin Biasa

13 Jan
image

Es teh seger nih kayanya. *gak nyambung biarin

Senin ini tidak seperti biasanya. Karna Kakak saya sudah tinggal bersama suami, dan Adik saya berlibut ke Bogor sejak Sabtu, saya di rumah sendiri aja. Minggu sore saya melakukan ritual weekend semacam mencuci, memasak (karna lagi penghematan jajan), menyetrika dan mempersiapkan yg perlu saya bawa ke mess selama seminggu. Herannya setelah semua aktivitas itu, bukannya ngantuk malah insomnia saya kambuh. Untunglah sekitar pukul 2 saya bisa tidur dengan tenang. Sempat bangun untuk Subuhan, tapi terkapar lagi dan KESIANGAN.
Sekedar informasi, saya butuh waktu perjalanan 1 jam. Dengan kondisi limit waktu yg tersisa hanya 30 menit, mandi, bersiap (baca: dandan), packing, manasin motor dan cek kondisi rumah harus sudah DONE. Rupanya saya sedang tidak beruntung. Jam tangan saya sudah berbunyi menandakan pukul 7.00 saat saya baru menyiapkan sepeda motor.
Sepanjang perjalanan saya tak henti melirik jam tangan saya dan menghitung estimasi jam tiba saya. Untunglah setelah keluar dari Provinsi DIY, jalanan lebih bersahabat. Tepat pukul 07.55 saya sampai dan ternyata rata-rata kecepatan saya masih hitungan normal (54.41 Km/hr versi My Track dalam 52 menit).
Tentu ini bukan senin yang biasa. Saya biasanya lebih suka berangkat lebih awal. Banyak destinasi sarapan yang bisa saya cicip dengan santai sepanjang perjalanan. Saya juga bisa dipuaskan dengan pemandangan matahari terbit karena perjlann saya menghadap ke Timur jika berangkat selepas subuh.
Senin ini alih alih mampir sarapan, apalagi menikmati sunrise. Tiba tepat waktu tanpa insiden berbahaya di jalanan saja saya sudah syukur. Apalagi tau sendiri lah kondisi jalan Solo-Jogja yang bergelombang dan berlubangnya keterlaluan.
So, pagi ini saya hanya bisa melirik Gudeg Yu Djum, Dunkin Donuts, warung Soto, dan tempat2 lain yang pernah jadi tempat saya singgah sarapan. Saya hanya bisa menatap langit didepan saya yang tak lagi menampilkan bola emas batu terbit. Ditambah penyakit pagi saya yang kambuh, tak henti bersin sepanjang perjalanan.
Senin ini memang bukan senin biasa buruh semacam saya.

Hello, Monday……!

7 Jan
image

Sumber foto dari akun instagram pribadi saya

Rasanya terlambat sekali posting ini mengingat judulnya tentang senin dan ini sudah bukan senin lagi. Bisa saja saya tunda tayangnya hingga senin pekan esok. Tp ide dan tak bisa ditunda. Kadang ia menguap dan mencair tanpa kita duga.

Sebagai buruh, senin sempat menjadi hari yang cukup sensitif bagi saya. Apalagi sebelumnya saya sempat mengalami masa masa mengawali senin dengan mata mengantuk dan punggung pegal akibat menghabiskan malam di bus ( jaman jadi Bus Mania ). Belum lagi kalau sedang dlam kondisi tidak normal, semisal kurang tidur, atau macet, atau sedang peak season sampai sulit dapat bus hingga larut. Huft rasanya ingin me-merah-kan semua hari senin.

Namun semua itu ternyata membuat saya sekarang jadi lebih bersyukur. Sejak tidak perlu lagi menghabiskan malam dalam bus dan berganti dengan satu jam bersama matahari. Meskipun kecintaan saya terhadap senin belum sebesar cinta pada hari libur, hasrat memerahkan kalender sudah tak sebesar dulu. Bahkan saya mulai membuat terapi terapi dan berusaha membahagiakan diri di hari senin.
Dalam How Can I Hate Monday saya menyemangati diri saya dengan hal hal positif yang mestinya bisa saya dapat di hari senin.
Ternyata sebelum posting tulisan tersebut, saya sudah dua kali menyambut pagi senin dengan gambar positif. Pertama sebagaimana yg saya pasang di awal posting ini. Yap, teh panas dengan celupan lemongrass menenangkan minggu malam saya untuk bersiap menyambut senin. Sebelumnya saya pernah upload sekitar september:

image

Berusaha ceria menyapa Hello Monday

Dan untuk senin ini, karna saya baru pulang dari deMata 3D Trick-Eye Museum, saya upload juga Monday as Money Day (secara saya kerjanya jg di lembaga keuangan)

image

Caption di Instagram : Monday means Money Day?

Mungkin ada yang berpendapat cara saya belajar mencintai senin sedikit aneh. Atau mungkin posting saya baik foto maupun tulisan sama sekali gak penting. Bagi saya, dengan menyebarkan energi positif pada alam (dalam hal ini lewat sosial media), alam akan turut mengamini usaha positif kita dan memberi kemudahan untuk kita pula.

*Aqied
Buruh yang belajar mencintai Senin

How Can I Hate Monday?

2 Dec

I hate monday, populer sekali ungkapan itu. Apalagi di kalangan buruh seperti saya yang bekerja setidak2nya 40 jam per week dimulai dari hari senin.
Thanks God It’s Friday, ungkapan juga yang bahkan menjadi judul lagu Katy Perry terasa sekali di lingkungan kerja saya (pastinya saya juga termasuk). Bertemu hari jumat berarti masa rehat Sabtu Minggu smakin dekat. Kadang sudah ada rancangan rancangan yang bisa jd sweet escape kita dr tetek bengek kerjaan yang bikin kepala berdenyut.
Saya termasuk paham ke dua dua nya. Betapa sering saya berbahagia jika jumat datang, dan sangat sering saya berkeluh kesah ketika Monday semakin dekat.
Tapi jumat kemarin berbeda. Akhir bulan sekligus ad pergantian struktur kepengurusan di perusahaan saya, ditambah jelang akhir tahun, membuat jumat saya sedikit lebih berwarna dibanding jumat jumat biasanya. Untunglah Sabtu dn Minggu segera datang. Berbagi cerita inspirasi dan pengalaman serta segala hal bersama teman2 Blogger dan teman2 Disabilitas, mengusir kelelahan dan kepenatan saya sebulan ke belakang.
Senin ini saya lalu berfikir, jika Sabtu dan Minggu sudah memberikan begitu banyak keceriaan, mengapa harus merutuki Senin yang belum lagi datang (tidak jarang saya sudah tidak suka dengar hari Senin disebut2 saat weekend).
Bukankah seharusnya kita memiliki cukup energi untuk mencintai Senin dan hari2 yang mengikutinya. Bukankah tanpa senin selasa rabu kamis kita tak akan jumpa dengan Jumat Sabtu Minggu?. Bukankah dengan ada nya Senin, kita bisa merasakan berharganya Sabtu Minggu kita?.
Apalagi di hari senin, selalu ada cerita baru dr sesama rekan kerja. Dan, oleh oleh baru dari yang habis wisata atau pulang kampung.

image

.
.
.
.
.
*buruh yang belajar mencintai Senin

%d bloggers like this: