Tag Archives: perjalanan

Hello weekends

6 Dec

image

Weekend kali ini akhirnya kesampaian juga jalan bareng temen temen JJC alias Jam Jahat Crew. Rombongan touring yang bulan Oktober lalu jalan bareng juga ke Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Asyiknya jalan bareng JJC itu selain rame, juga pada pinter banget ngakalin budget. Silakan tengok posting saya tentang Trip Dieng 2D1N yang habisnya kurang dari 100rb.

Nah episode kali ini sebenarnya uda direncanain lama. Niatnya buat trip pertengahan atau akhir november. Namun karena berbagai macam sebab jadi mundur-mundur terus sampai baru berangkat sabtu pagi tadi (6 Desember 2014). Lagi-lagi touring kali ini kami ber-11. Ganjil lagi. Hiks. Karena yang satu (seharusnya 12), gak jd bisa ikutan. Sedih sebenarny a dia gak ikutan.

Touring begini memang kalo ganjil gak enak. Selain jadi ada satu yg mau gak mau tanpa partner, sayang juga sama bensin yg cuma buat ngangkut satu orang. Tapi mau gimana lagi ya. Dengan ber 11 kami tetap berangkat.

Tema kali ini “Fun Camp Klayar”, jadi tujuan utamanya ya pantai Klayar yang letaknya di Kab. Pacitan, Jawa Timur. Karena Niatnya buat nge camp, jadilah jauh jauh hari sebelumnya ud ribut inventarisir kebutuhan nginep. Ya kami kami ini kan jarang ketemu. Paling ketemu tiap hari di group whatsapp doank. Plus gak banyak yg pengalaman camping. Jd rada ribut dan rempong.

Alhamdulillah sampai sejauh saat ini saya ngetik postingan di tepi tebing sisi pantai, pada salah satu tempat tinggi, lokasi kami mendirikan tenda, perjalanan lancar dan fun nya dapet banget. Baru kali ini lho saya ngetik postingan dengan sebahagia ini. Berkawan suara debur ombak dan aroma laut yang saya suka. Tanpa terhalang gangguan sinyal.

Apa kabar weekend kamu?

image

JJC: Terima kasih Tuhan hidupku asyik

Advertisements

Sudah Bersyukur?

23 Jul

“Kerja di bank enak gak, mbak?”

Pertanyaan seorang ibu dalam kereta Fajar Utama Yogya yang membawa saya ke Jakarta.
, awal bulan lalu.

image

Fajar Utama di Stasiun Tugu Yogyakarta

Jawaban saya :

Dibawa enak, Bu :)”

Mungkin jika pertanyaan itu diajukan pada saya dua atau satu setengah tahun lalu, jawabannya akan berbeda. Saya sempat mengalami masa-masa tidak betah dan tidak benar sebagai karyawan.

Menghabiskan malam dengan meratapi umur saya yang sepertinya habis di meja kantor. Mengasihani diri saya yang terpenjara jam kerja. Menangisi jam istirahat saya yang terbatas. Mengeluhkan rekan kerja yang tak menyenangkan. Meratapi gaji yang habis lebih cepat, dan lain sebagainya.

Ah betapa tidak bersyukurnya saya.

Seiring berjalannya waktu, pekerjaan saya masih sama. Gaji juga belum naik. Rekan kerja meski berganti bisa dibilang hampir sama. Tugas tugas juga sama. Tapi ada hal lain yang kemudian membuka mata saya, dan mengurangi sedikit demi sedikit keluhan, ratapan dan tangisan seperti yang saya sebut di atas.

Mungkin hingga kini saya masih belum bisa memastikan apakah saya mulai mencintai pekerjaan saya atau tidak. Tapi ada hal hal yang membuka mata saya sampai kemudian menampar saya dengan keras soal betapa tak bersyukurnya saya.

Sempat menjalani masa masa terpaksa nggembel di terminal, stasiun, hingga airport, rupanya perlahan memberi banyak pelajaran bagi saya. Dari yang awalnya terpaksa menggunakan bus ekonomi jarak jauh yang penuh sesak karena sulit mendapat bus Cepat Eksekutif/Bisnis di saat weekend hingga kini selalu merindukan ke penuh sesak an itu.

Awalnya hanya karena berusaha membunuh kebosanan dengan memulai percakapan pada siapa saja yang terdekat. Lama kelamaan saya merasa justru mereka mereka lah guru saya. Guru saya dalam kelas belajar bersyukur.

Tak perlu dijelaskan siapa saja yang bisa saya temui di terminal pada malam hari bahkan yang sampai menginap. Siapa kawan ngobrol saya di bus ekonomi penuh sesak jalur Surabaya ke barat. Siapa yang menemani saya saat harus berdiri lama di pinggir jalan provinsi menanti bus. Berbincang dengan mereka, meski singkat seringkali memaksa saya untuk merenung di sepanjang perjalanan. Kadang rasanya ingin menangis.

Ya sehari kalo lancar lumayan, mbak. Bisa dapat 20rb. Rame-rame nya 50 ribu lah bisa bawa pulang. Asal ditelateni terus, mbak” (bapak warung kopi pinggir jalan)

“Ya gak mesti, mbak. Sehari gak narik juga pernah. Ya terus cari-cari cara lain. Kerja kaya saya harus ada sambilannya, mbak. Nanti dapatnya seberapa-berapa, dibawa pulang, kasih Ibuknya (istrinya)”
(Pak Becak, sesekali ikut kuli panggul)

Profesi-profesi yang sering dianggap tidak menjanjikan. Penghasilan yang tidak dapat selalu dipastikan, dengan keluarga yang selalu membutuhkan kepastian, makan apa hari ini.

Mereka-mereka lebih layak disebut guru dan inspirator. Motivator terbaik bagi saya dibanding mereka yang berlabel motivator dalam balutan jas necis di televisi.

Karena dengan belajar dari cerita-cerita kehidupan mereka lah, saya selalu punya jawaban:

“Yang jauh lebih susah dari saya aja masih bisa bersyukur, “

Apakah masih pantas buat saya untuk selalu mengeluh?

*nyatanya masih suka ngeluh jugak sih ;(

Kalau sudah waktunya

13 Jun

image

“Jangan terlalu dipikirkan sudah berapa lama kamu tidak melakukan perjalanan. itu tandanya kamu sedang diberi kesempatan utk menikmati masa-masa rileks ,kalau sudah waktunya, perjalanan akan menghampiri kamu….”

Demikian kata Mas Hilman di kolom komentar saat saya posting tentang betapa saya rindu melakukan sebuah perjalanan.

Mungkin memang raga sesekali perlu berhenti bergerak banyak, atau berjalan jauh. sesekali bersembunyi dari matahari.

Karna mungkin di salah satu sudut bumi sana, ad tempat yang menanti untuk dikunjungi, tapi tidak dulu untuk sekarang.

image

Jalan panjang menembus langit

*berbicara pada diri sendiri, jika nanti mesti rehat sejenak dari perjalanan menilik kuasa Tangan Tuhan di sisi lain bumi ini.

Aku cinta saat ini, entah esok

10 Jun

 

Teman Perjalanan

Teman Perjalanan

Saya suka perjalanan, setidaknya sampai saat ini.

Bagian penting dari jalan-jalan yang justru bisa kasih kesan dan pelajaran lebih dalam menurut saya, ada di proses perjalananya itu.

“kalo cuma pantai aja, di Jogja juga banyaak”

Demikian komentar seorang kawan saat saya memutuskan ke Pahawang, Lampung hanya untuk ketemu laut.

“ke Dieng naik motor? Niat amat sih”,

Salah satu komentar kawan lain saat saya bersepeda motor Jogja-Dieng PP dalam sehari.

Bagi saya, jalan-jalan bukan sekedar sampai di destinasi tujuan, berfoto narsis di landmark, share foto di social media, berbelanja oleh-oleh, kemudian pulang. Jalan-jalan saya memang standard dan ublek di situ-situ aja. Namun saya selalu berusaha menikmati setiap proses perjalanan dari setiap jalan-jalan saya.

Perjalanan memberi lebih banyak kesan dan pelajaran dibanding foto narsis yang dipamerkan di sosmed, atau narasi seru dan (mungkin) lebay di blog. Pelajaran yang sifatnya mungkin sangat personal, sehingga sulit untuk dijabarkan atau di share dalam bentuk gambar maupun tulisan. mungkin Tuhan memang tidak menciptakan Pintu Kemana Saja ala Doraemon di dunia, agar kita lebih banyak belajar dari sebuah perjalanan.

Saya mencintai perjalanan pulang pergi kantor saya saat harus bertatap muka langsung dengan matahari, saat mungkin harus berkawan kantuk dan lelah.

Saya mencintai perjalanan berkereta ekonomi dengan segala keunikan dan ramai nya yang ternyata saya rindukan ketika berkereta kelas lain.

Saya mencintai perjalanan sebagai penumpang bus malam dengan berbagai cerita kawan duduk saya, dengan berbagai atraksi unik supir bus yang seringkali memperbanyak dzikir saya.

Saya mencintai saat-saat harus duduk bengong atau mondar-mandir gak jelas di terminal, stasiun, hingga airport.

Saya mencintai perjalanan beramai-ramai dengan kawan sendiri. Saya juga mencintai perjalanan beramai-ramai dengan orang-orang yang baru kenal. Namun ada kalanya saya pun mencintai perjalanan sendiri, merenung dan bertindak sesukanya.

Saya mencintai perjalanan yang terjadwal dan terencana dengan jelas dan detail. Namun ada kalanya saya mencintai perjalanan tanpa rencana dan membiarkan kemana kaki melangkah untuk kemudian menemukan berbagai kejutan-kejutan.

Mungkin karena saya belum banyak melakukan perjalanan, hingga saat ini saya masih mencintai perjalanan. Entah esok hari, entah lusa nanti.

Jadi apakah kamu mau menambah daftar perjalanan saya?*

kapan kita kemana?

kapan kita kemana?

*baca: terima gratisan tiket kemana aja. kemudian ditimpuk sandal

Kangen

2 Jun

wpid-img_20140410_181321.jpg

 

Rasanya koq saya kangen ya pengen posting hal-hal yang berbau ngebolang blusukan dan jalan-jalan. Ada beberapa topik yang udah saya bilang bolak balik di instagram bakal bikin posting tentang suatu tempat tapi sampe sekarang belum dibikin. Kenapa? ah alesan mah apa aja bisa dicari.

Tapi hal terbesar saat ini mungkin karena saya akhir-akhir ini sedang jarang melakukan perjalanan juga. Biasanya sih kalau ada day off dari nge buruh, ya saya mondar-mandir kemanaaa gitu jelas gak jelas. Pokoknya ke tempat baru atau tempat yang lain dari yang biasa saya lewatin sehari-hari. Gak yang harus jauh dan modal jugaak. Kadang sesekali saya cuma asal belok sana sini ngikutin kemana si Supri (sepeda motor saya) mau jalan dan kemudian terkagum-kagum sama hal baru yang sak ketemu nya saya dapat.

Nah, kali ini sudah hampir menginjak minggu ke tiga dimana saya ngehabisin libur cuma dengan memandangi jam yang sepertinya bergerak makin cepat jarumnya. Juga buka tutup korden, dan nyala-matiin lampu karena tiba-tiba hari sudah berganti. Ah, betapa sia-sianya hidup saya. Bahkan yang beberapa kawan yang ngajakin saya main main atau jalan jalan pun saya tolak.

Saya jadi berfikir, apa mungkin karena tidak melakukan perjalanan seperti biasanya, hasrat saya untuk nulis yang berbau-bau perjalanan jadi turut menurun juga. Saya punya daftar cerita perjalanan yang pengeen saya share sebagaimana saya bilang di SINI. Tapi toh akhirnya sampai sekarang yang ke post baru berapa biji aja. Lebih banyak malah curhat-curhat galau nan absurd yang saya kadang merasa bersalah banget buat yang udah ngerelain sekian satuan waktu dari 24 jam nya buat baca.

Saya jadi makin kangen buat posting perjalanan. Sama besarnya dengan saya makin kangen buat melakukan perjalanan lagi, kemanapun, dengan siapapun, ber alas kaki maupun tidak.

DSCN6654

Kamu, lagi kangen apa?

Nggembel itu Asik, Kadang-kadang

28 May
Katakan "Ransel!" Ransel dan Red Jacket

Katakan “Ransel!”
Ransel dan Red Jacket

Saya memang bukan traveler, meski saya suka menikmati perjalanan. Saya juga bukan backpacker, meski suka gendong ransel. Saya pun bukan explorer beponi yang suka bertanya pada peta, karna itu pasti Dora.

Tapi, sempat tinggal di beberapa kota berbeda (cek halaman siapa saya), membuat saya merasakan macam-macam perjalanan. Dalam hal cukup sering menggunakan transportasi umum, tentunya saya cukup familiar dengan beberapa tempat pemberhentian transportasi umum. Gak bisa jodoh dengan transportasi yang kita mau, kadang jadi salah satu resiko penumpang. Gak jodoh di sini maksud saya bisa jadi waktu yang gak sesuai dengan yang kita inginkan, atau ketersediaan armada, atau transit, dan lain lain. kalo udah ketemu resiko penumpang begitu, apalagi di kota yang antah berantah, alternatif terindah yang bisa dinikmati satu: Nggembel.

Sebenarnya sudah beberapa kali saya (terpaksa) nggembel, tapi tak perlu lah aib yang sedemikian dalamnya disebar luaskan. jadi saya share 3 masa ssat saya menjalani peran sebagi Gembel Kere tapi Kece.

Stasiun Banyuwangi Baru, yang cukup ditempuh berjalan kaki beberapa menit dari pelabuhan Ketapang, adalah salah satunya. Tiba dari penyebrangan Bali-Jawa jelang midnight, sementara kereta kami masih pukul 06.00 WIB (atau 05.00 WIB ya? lupa). Demi dapat menikmati fasilitas maksimal kereta Sri Tanjung seharga Rp. 35,000 untuk Banyuwangi-Yogyakarta, kami berusaha mencintai spot-spot tempat kami bermalam. Beruntung saat itu kami berombongan.

Yap, serombongan Mahasiswa ekonomi dari beberapa kampus di Yogyakarta sedang menikmati perjalanan ekonomis Jogja-Bali di awal tahun 2009. Tempat beristirahat saya saat itu, sebuah ruangan (cukup luas) yang ternyata sebagai ruang penyimpanan paket. Jelas nyata terlihat dari sepeda motor yang disampul kardus2 di sudut ruangan. Ada kursi empuk di pinggir-pinggir yang akhirnya saya bisa sandarkan kepala dan tertidur cukup pulas.

Hingga pagi tiba, kami melanjutkan perjalanan dalam kereta ekonomi dengan segala keunikan fasilitas dan tingkah laku penumpang yang cukup mengagumkan hingga pukul 22.00 kami tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.

Terminal Bungurasih atau dikenal juga dengan Terminal Purabaya di Surabaya, sempat jadi tempat yang cukup familiar bagi saya. Sebelumnya, mendengar namanya saja saya sudah cukup takut. Namun rupanya, Terminal Bungur saat itu (rentang Januari-Juli 2013) cukup gembel-friendly sejak Negara Api menyerang. Sebenarnya cukup sering saya malam-malam kelayapan di terminal ini karena memang dengan berangkat malam, bisa tiba di Jogja subuh.

Tapi pada suatu malam yang cerah, dengan sangat terpaksa saya kehabisan bus yang saya inginkan hingga pukul 2.30 pagi. zzzzzzzz. Jadilah saya sepanjang nungguin bus itu ngobrol-ngorol sana sini, merhatiin tingkah polah dan denyut kehidupan di terminal yang ternyata gak pernah tidur itu.

Ada beberapa anak muda di salah satu sudut yang gelar sleeping bag. Ada yang numpang tidur di ruangan menyusui. Ada yang masih ngantuk2 duduk di kursi tunggu (itu saya), yang kemudian ngobrol2 gak jelas sama sesama yang duduk di kursi. ada pula yang sibuk bergegas mengejar bus. Rupanya sebagian yang betah menginap di Teminal karena menunggu bus ke tujuan yang diinginkan, yang hanya beroperasi pagi besok.

So, saya masih cukup beruntung loh, gak harus menunggu hingga matahari terbit. Alhamdulillah

Airport Hasanuddin Makassar, airport yang jadi transit sesiapa aja yang ke dan dari Timur Negri ini. Saya, sebagi pecinta papua, tentu saja jadi salah satu angkutan yang perlu diturunkan di Airport ini untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Airport Domine Eduard Osok, Sorong Kota Bersama. Kalau sebelum-sebelumnya saya biasa pakai penerbangan pagi yang bisa tiba di Sorong siang hari WIT, Agustus 2013 lalu saya coba penerbangan malam (dari Jogja 20.40 WIB) yang bisa tiba di Sorong pagi hari. Konsekuensinya, saya mesti transit di Hasanudin hingga pagi tiba.

Kenapa? karena penerangan di Airport Sorong yang banyak dituju pecinta diving buat ke Raja Ampat itu, masih pakai tenaga surya. Alias penerangannya dari Matahari aja. So, semua penerbangan di sana hanya ada di saat matahari bersinar. Ini berarti sudah jelas saya musti semalaman di airport SENDIRIAN.

Akhirnya yang saya lakukan untuk membunuh waktu adalah, menjelajahi sebanyak mungkin sudut airport itu. Meski banyak outlet yang sudah tutup, saya sambangi beberapa yang buka, motret kapal phinisi, dengan pede nya minta di fotoin orang lewat di depan tulisan “selamat datan”, keluar masuk beberapa toilet, naik turun tangga, dan kemudian berakhir dengan kelelahan di salah satu coffeeshop (gak sebut merk, gak dibayar sih), sembari menanti waktu yang tepat untuk sahur, sambil baca buku yang saya bawa.

Well, saat itu kursi di ruang tunggu lebih banyak dipenuhi sesama penumpang yang tidur enak. jadi sulit bagi saya menemukan kursi berjajar 3-4 yang kosong juga. Sangat  jarang juga mata menemukan sesama penumpang yang bisa diajak ngobrol.

Kamu, kalau kelamaan nunggu di tempet-tempet transpostasi umum gitu, ngapain aja?

 

Gembel in Red Jacket

Gembel in Red Jacket: kalo ketemu, sapa aja

Senja Merah Muda

30 Apr
image

Senja Merah Muda di Jl Raya Solo Jogja

Pernahkah kau berjumpa dengan senja merah muda, kawan?

Perjalanan ke barat kemarin sore begitu menyenangkan. Untuk pertama kalinya, langit merah muda yang mengantarku.

Dalam takjub, ku sempatkan menghentikan sepeda motor. Menepi, berusaha menyimpan memori senja merah muda itu dalam gambar.

Ah, menyebalkan sekali. Lagi-lagi kuasa Tuhan tak mampu direkam sempurna dalam alat buatan manusia.

Bagaimana senjamu kemarin?

Merah muda juga kah?

Matahari kita sama, bukan?

Antara Mataram dan Majapahit (busmania)

25 Feb

Sebenarnya ini menyambung posting saya bulan lalu tentang perjalanan saya jadi bus mania sepanjang jogja-lumajang.
Kali ini mau nerusin yang Jombang-Jogja. Saya di Jombang bukan di tengah kota. Malah sangaat pinggiran. Tepat bertetangga dengan Kecamatan Trowulan, Kab Mojokerto. Sudah tau kan ya kalau Trowulan di masa lampau adalah ibukota kerajaan besar berpatih Gadjah Mada: Kerajaan Majapahit.

Saya memilih bus sebagai transportasi utama saya untuk mencapai jogja. Berhubung letaknya yang menjadi jalur utama Surabaya-Jogja, ada 3 bus paling populer yg Alhamdulillahnya sudah merelakan saya jadi penumpangnya.
Here they are:

image

1. Bus Patas Eka 2. Bus Ekonomi-AC Tarif biasa milik Sumber Group. 3. Bus Ekonomi-AC tarif biasa Mira

Sampai sekarang, setiap jumat malam dan minggu malam saya selalu mengenang masa masa jadi busmania. Biasanya pada jumat malam pukul 22.00 WIB, saya nongkrong di sebrang eks Terminal Mojoagung. Letaknya persis di pinggir Jalan Utama Surabaya-Solo. Jalur yang selalu dilewati bus bus dari surabaya ke berbagai daerah di barat.

kenapa pukul 22.00?

Saya beberapa kali mencoba jam jam yg tepat untuk perjalanan dan kesimpulan yang paling tepat ya jam 10 malam itu. Karna bisa tiba di Jogja sekitar jelang subuh. Jam segitu sudah ad yg jemput. Gak kelewatan waktu sholat, dan bisa tidur enak di jalan (kalo bisa tidur).
Pertama kali mudik, saya sehabis maghrib alias jam 19.00 mulai nunggu bus. Tapi akibatnya saya tiba di Jogja terlalu tengah malam. Jd harus pke taxi buat ke rumah. Itu jg kalo bersyukur nemu taxi. Harganya sudah pasti beda dg taxi di jam normal.
Pernah juga stelah jam kantor tepat langsung berangkat. Sama saja nyampainya midnight. Gak nyaman pas di jogja nya. Istirahatnya jg jadi stengah2.
Selain jam tiba yg gak enak, teman seperjalanannya jg agak kurang nyaman. Tau kan surabaya dan sekitarnya banyaak sekali pabrik/lapangan kerja. Jadi pada jam jam segitu sudah sangat pasti bus penuh dengan penumpang yg lelah dengan berbagai ekspresi capai dan aroma.

Nungguin bus malam2 sama siapa?

Saking seringnya nongkrong di pinggir jalan malam malam, saya jadi merasa aman. Sangat aman. Karna segala tukang ojek, pak becak, pedagang asongan, pemilik kios2 rokok dan warung2 kopi sudah sangat hafal dengan saya. Tanpa saya ngomong apapun, kalo dr kejauhan mereka sudah mengenali salah satu dr 3 bus di atas (iya, saya kalo malam gak bisa bedain bus dr kejauhan), langsung kasih tau saya.
Trus kalo ada bus lain yg berhenti dan nawarin saya, mereka2 jg yang jawab ‘mbaknya mw ke jogja koq’, saya jd merasa terkenal. Hahahaha
Kalo ad cowok2 ato bapak2 yg ud keliatan rada gak bener, sama mereka dimarahin.
Kadang2 kalo lagi bosen bus nya gak lewat2, saya ngobrolin apa aja sama mereka biar gak bosen.
Ya bayangin aja donk malam2 jam segitu di pinggir jalan ramai pula.
*jadi kangen mereka semua

EKA, Bus Cepat

Kalo boleh memilih, saya paling suka bus ini. Kursi lega. Gak banyak brenti di banyak terminal. Seharusnya jg gak naikkan atau nurunkan penumpang sih di sembarang tempat. Tapi kalo kuota kursi masih kosong, EKA bisa aja di stop di pinggir jalan macam saya.
Meski tampak luar hampir mirip karena masih satu perusahaan, Eka dan Mira sama sekali berbeda. Ini salah satu contoh perbedaannya.

image

Kelasnya EKA memang jauh lebih baik dari MIRA. So pasti tarifnya juga. Sebelum kenaikan BBM Solar 2013 , tarif Mojoagung-Jogja untuk EKA adalah Rp. 64.000 (sama dg Surabaya-Jogja). sementara MIRA cukup 32.000 saja (tarif Mira selalu sama dengan Sumber Group).
Fasilitas di bus EKA selain AC, adl seat 2-2, Wi-Fi (lebih sering gak ada nya), dan voucher makan+minum di RM Duta Ngawi. Selain itu, ketika kita baru duduk di bus, langsung diantarkan satu air mineral gelas. Juga, EKA gak naikkan penumpang lagi kalau kursi sudah penuh. Jadi ojsigen kita2 sebagai penumpang, insya Alloh terjaga karna gak berebut sama penumpang yg berdiri2.
Karna tarifnya yang lumayan, dan susah banget dapetnya di weekend apalagi long weekend, saya jarang pake EKA buat ke Jogja nya. Tpi kalo dari Jogja nya, saya usahain selalu pake EKA. Karna saya berangkat di Minggu malam yang otomatis baru nyampe senin subuh, yang harus dilanjut kerja. Jadi paling nggak saya harus istirahat cukul walopun di perjalanan. Sempat beberapa kalu pake Non EKA buat balik ke jombang, dan hasilnya sepanjang senin saya ngantuk luar biasa plus pegel2. (Gaya banget yak).

MIRA, Saudara Tapi Beda

Masih satu saudara sama EKA, tampilan luar Mira emang mirip banget sama EKA. Tapi namanya beda kelas ya, MIRA ini jenisnya Ekonomi AC selayaknya bus bus Surabaya-an. Baik Mira maupun SK group, sama sama majang tulisan di depan: “AC Tarif Biasa”. Jadi walaupun dengan fasilitas AC, tarif penumpang tetap tarif bus ekonomi biasa.
Kalau naik Mira di jumat sore atau malam ke arah barat, jangan banyak berharap dapat kursi. Jangan juga berharap bisa ngerasain semriwingnya AC. Karna itu adalah saat saat puncak penuh penuhnya bus. Untungnya sih karna AC, jadi tidak boleh merokok di dalam. Jadi walo mungkin pegel2 dikit dan berebut oksigen, gak ada tambahan efek berasap asap.
Mira memang gak seperti EKA yang menetapkan jumlah maksimal penumpang = jumlah kursi. Jadi kalo siap dg segala resiko, nikmatin ajah.
Fasilitas lain di bus ini, delivery berbagai makanan dan minuman (baca: pedagang asongan). Pernah naik pas Romadhon, jam2 buka puasa gitu banyak yg jual buah2an seger. Mira seinget saya sih gak pke istirahat atau makan di manaa gitu. Jd kalo perjalanan jauh siapin aja kebutuhan perutnya yaaa.
Terakhir naik untuk Mojoagung-Jogja Rp. 38,000 (Juli 2013).

Sumber Group atau Eks Sumber Kencono

Bus ini legendaris banget. Kenapa? Dulu dengan nama lawas nya Sumber Kencono, termasuk bus yang sering masuk pemberitaan karena sepak terjangnya. Penasaran? Coba aja googling pake keyword ‘Sumber Kencono’. Di halaman muka banyak deh berita2 yg lumayan cukup bikin banyak orang takut naik bus ini.
Tidak jarang Sumber Kencono (SK) akhirnya diplesetkan dengan mengganti K dengan B. Mungkin itu mengapa Sumber Group sebagai perusahaan armada ini mengganti nama bus nya menjadi Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu (SR).
Kalo saya sih lebih suka seat nya SK ini. Sayangny saya gak nemu gambar nya di search engine halaman awal2. Pengalaman pertama saya dengan bus ini cukup menyenangkan. Tarif dan fasilitas bisa dibilang sama dengan Mira. Cuma sensasinya memang sedikit berbeda. Apalagi kalau berkesempatan dapat kursi tepat di belakang pengemudi yang bisa dengan jelas melihat layar raksasa di depan. Seru bangeeeeet (kalo gak mau dibilang menguji adrenalin dan menambah kadar keimanan). Tapi ya saya mengalami ‘keseruan’ yang seperti itu gak sering2 banget sih. Saya taunya kalo pakai armada ini, jarak tempuh jadi lebih cepat walopun berhenti di banyak terminal.
Yang menyenangkan dari armada ini menurut saya penumpang2nya. Hampir selalu tiap saya naik, pastinya gak dapat kursi ya. Tapi begitu bayar ongkos le Kondektue dan ngomong tujuannya
“Jogja”,
Tinggal nunggu aja beberapa menit, selalu ada orang baik hati yang berdiri dan kasih kursi ke saya.
Seburuk2nya pengalaman gak dapat kursi, pasti ada yg ngasih tau penumpang mana bakal turun di mana. So, saya bisa gantiin.
Kadang insom saya jg kambuh kalo lagi di bus ini. Jadi sesekali ngobrol sama kernet/kondektur. Sesekali ngobrol sama orang sebelah yang profesinya macam2. Atau kalo lagi iseng, saya pindah pindah kursi. Hihi. Terutama kalau semakin malam kursi2 semakin kosong. Jd bisa duduk di seat yg untuk 3 orang buat sendiri n tidur enak. ;p

Macam macam cerita yang saya dapat di perjalanan. Mulai cerita hantu dr obrolan pak supir, cerita geje mahasiswa, bapak2 yg cerita anaknya smp nangis2, ibu2 yg curhat anaknya, yg ngorok, yg maksa jajanin saya oleh2, de el el.

Kangen sih setelah semua cerita lucu perjalanan yang seperti itu.

Sekarang perjalanan saya cukup dengan sepeda motor selama satu jam. Ceritanya tidak sebanyak perjalanan dengan bus memang. Tp tenaga dan energi jauh lebih irit.

Eniwei, selamat tanggal 25 yaaaaa 😉

Foto foto ambil di SINI dan SITU (terima kasih)

Tarif Bus Sumber Group (biasanya sama dengan Mira), Ekonomi AC

image

Dari fanpage Sumber Group

“Sama Siapa?”

19 Feb

Well, pertanyaan itu mungkin sebenarnya standar dan belom masuk ke ranah kepo tingkat tinggi. Kadang sekedar basa basi aja di awal obrolan.
Tapi..
Tapi..
Tapi..
Kadang gak se sederhana itu pemirsaaah….
Dalam beberapa hal, kadang saya memang lebih suka sendiri. Rame rame memang asyik. Saya juga suka. Tapiii ya itu tadi. Ada hal hal yang memang kita tuh pengen sendiri.
Cuma nih kenapa ya walopun saya suka suka aja, kalo dikasih pertanyaan itu pas lagi sendiri, kesannya jadi gak enak.
Misal nih saya itu kalo jumat sore kadang suka gak langsung pulang ke rumah. Bisa ngopi2 cantik, bisa nongkrong dimanaa gitu sambil bawa buku. Bisa juga keliling emol ato bookstore kalo emang lagi ad yg dicari. Sesekali (tapi jarang), sengaja nyasar2 kemanaa gitu buat dpt view view bagus.
Tau gak doa saya sebelum mampir2 kaya gitu? Simple:
Semoga aku gak ketemu org yg kenal aku”
Beberapa kali sih ngerasa ad yg rusak aja gitu ketika lagi asyik2nya menikmati jelang weekend, tiba2 disapa org trus nanyain pertanyaan di judul. Pertanyaan yg ujung2ny cm bisa saya jawab dg nyengir
“Sendiri”
Respon? Rata rata sama:
“Beneran sendiri?” –> sambil matanya celingukan nyaritau siapa tau saya ngumpetin
“Ha? Sendiri?” –> tatapan prihatin semacam saya ini tdk punya teman
“Lho koq sendiri?”


“Berani sendiri?”
“Appaaaah….???!!!” Zoom in zoom out <– ini sih adegan sinetron lebay.

Sumprit deh, sesimple itu tanggapannya sudah merusah jumat sore saya yg indah.

Jumat sore doank? Enggak lagi.

Sering saya ke tempat tempat yg saya suka atau yg saya lagi pengen asyik sendiri, ya saya berangkat. Kalo pengen selfie ya foto2 sendiri. Ada kan ya menu self timer di kamera pocket pun. Mau ke gunung2, blusukan pasar, jalan2 geje ato ngemol, nonton, nongkrong kalo lagi pengen sendiri ya jalan aja.
Itu semua case nya saya memang ke tempat2 yg potensi ketemu org yg saya kenal sedikit ya.

Pertanyaan itu kadang sudah saya bayangkan kalo saya harus ke tempat2 yg pasti ketemu org2 yg saya kenal. Misal bertamu (bisa tengok baby,  tengok og sakit, rumah baru, ato jenis2 bertamu lainnya) yg saya berangkat sendiri. Kadang kan susah ya nyamain jadwal sama temen. Jd selagi saya bisa ya saya jalan aja.

Atau menghadiri pertemuan. Saya sejak kuliah rajin banget daftar training, workshop, seminar, sarasehan, dan segala forum umum entah nyambung gak nyambung sama studi saya. Terutama yg gratis (modus cari makan gretong), jaman mahasiswa tuh kan banyak bangt yah. Awalny ngerasa aman, tp ternyata tetep aja tuh pertanyaan di judul keluar juga. Baik yg ketemu kenalan gak sengaja maupun yg baru kenalan saat itu.

Paling kalo lagi iseng saya jawab:
“Berdua sama Schofield
Gak tau dia kalo Schofield itu motor kau.

Kenapa sih ya, semacam aneh gitu kalo ada orang yg bepergian sendiri. Emangny ada yang salah?
Atau memang bener ya saya yg aneh kalo sesekali suka jalan sendiri?
Apa emang macam saya ini pantesnya didampingi ksatria berkuda jingkrak gitu kalo kemana mana? *ditinju pke helm schumy

Padahal kalo di airport pd sendirian perjalanan jauh sah sah ajeeh.
*keselek high heels pramugari

*gara2 foto2 saya  yg pke selftimer sering saya upload di sosmed, teman2 pd gak percaya kalo saya jalan sendiri. Dikiranya saya selama ini sering jalan sama seseorang yg belum pengen saya ungkap identitasnya dan selama ini berperan jd fotografer saya. Hihihi
Fyi guys, saya gak punya seseorang itu dan belum nemu ksatria berkuda jingkrak. Anyone?

image

Karya selftimer

image

Karya selftimer

image

Inipun pke selftimer

image

Selftimerny agak niat tp hasilny g terlalu bagus

Aku dan Schofield

15 Jan

Pernah denger saya nyebut Schofield? Yup dia partner saya yang oleh beberapa teman diolok-olok sbagai pacar saya. Schofield yang sejak pertemuan pertama kami selalu mendampingi saya, gak pernah rewel hujan badai kabut panas atau lautan pasir yang kami lalui. Schofield gak protes dan tetap baik baik saja meski beberapa kali saya buat dia terluka.
Satu yang penting, Schofield ini dari Jepang meski dia hitam.
Ini salah satu rekam jejak saya dengan Schofield:

image

Dieng: Medio 2012

Saya berkenalan dengan Schofiels pd 2009, pertama kali pabrikan Honda mengeluarkan Absolut Revo (New Revo) dg kapasitas 110cc ini. Sebenarnya saat itu tipe ini bukan idaman saya. Sama sekali malah. Tapi melirik faktor U dan U dan D (ujung2nya duit), saya bawa pulang lah si Hitam kece yang akhirnya diberi nama Schofield.
Nama Schofield sendiri rada penting gak penting sih. Tau film seri nya FOX yg tokohnya lulusan MIT tp ngerampok bank demi nyelametin kakakny? Yes Prison Break dengan tokoh Michael Schofield yang bikin saya gila.
Bersama Schofield saya mengalami perjalanan panjang (ceileh). Di kilometer awal2 Schofield, pernah dengan tanpa persiapan saya bawa treking jalur boyolali-selo-kedung kayang- ketep-kopeng- ujug ujung njedul salatiga. Saat itu saya belum punya pengalaman motoran di jalur gunung. Tidak sampai seminggu, saya bawa lagi dari jogja ke Gunung Kidul maghrib-maghrib dan baru turun ke Jogja (sya masih ngekost di Jl Kaliurang KM 5 saat itu), jelang gerbang kost tutup. Seminggu kemudian saya ajak lagi nyusurin pantai gunung kidul, dan karena pelit banget buat parkir dan bayar uang masuk, saya pilih lewat pinggir pantai yg berpasir, jd bisa tiba di beberapa pantai tanpa melalui gerbang. Pulangnya dengan apes masih kehujanan pula.
Schofield memang tidak pernah pergi jauh. Rekor terjauh saya bersama Schofield hanya Jogja-Dieng lewat Kepil Sapuran dan pulangnya lewat Temanggung-Magelang-Jogja. Itupun perjalanan yang gak berat. Kendala hanya di kabut aja. Tapi karna pernah terjebak kabut plus hujan bareng juga di Irung Petruk nya Selo Boyolali, tidak terlalu masalah untuk Schofield.

image

Kejebak Kabut sore sore di Irung Petruk menuju Selo, Boyolali (pos daki merapi-merbabu)

Saya mencintai Schofield, saat itu (menurut kakak dan beberapa teman) berlebihan. Pernah kunci saya hilang di UMY Ring road, saya maksa pinjem motor temen untuk ngambil kunci cadangan di Jl Kaliurang pada jam 14.00 Ramadhan karna gak tega njebol rumah kunci. Saya pernah uring2 sama temen saya yang setelah jalan bareng Schofield, plat motornya jd hilang. Saya rajin nemenin Schofield creambath (baca: cuci salju) dan check up (baca: service rutin). Saya juga gak keberatan sesekali traktir pertamax. Saya mulai belajar2 otomotif sederhana meski hanya yg berhubungan dengan dia, dan sekarang gak ad yg nyantol. Bahkan saya sempet berfikir menghadiahi dia lampu kabut.
Tapi diantara itu semua, kadang saya juga melakukan kekejaman padanya. Susur pantai di jalanan berpasir dan rentan cipratan air laut tidak sehat untuk Schofield. Sering juga saya paksa dia bolak balik Solo Jogja meski kadang gak penting2 amat. Atau kalo lagi males, saya biarkan dia menginap di stasiun dan saya selingkuh sama Pramex. Belum lagi kalo kerendem banjir, tetap saya paksa dia untuk jalan. Bahkan tahun pertama dengannya, beberapa kali dia lecet bahkan sempat beradu badan dengan roda 4 sampai pecah 3 bagian depannya. Saya sendiri di semua insiden itu sehat wal afiat. Masih sangat sehat untuk memeriksakan luka dan patah tulang Schofield ke dokternya. Mas mas bengkel kadang heran “siapa yg make mbak motornya sampe gini?” Dan langsung bengong saat dijawab “saya”.
Yang saya suka dari Schofield, dibandingkan rekan rekan seusianya, Schofield cukup sehat. Saya senyum2 aja kalo tukang parkir nyalain motor saya dan gak percaya kalo Schofield lahir 2009. Gak percaya juga kalo itu sepeda motor saya beneran (u know lah ad anggapan tertentu soal perempuan dan kendaraan). Apalagi kalo sedang diperlukan dipinjam teman untuk waktu yg cukup tuk berkenalan. Rata2 responnya positif dan ikutan suka dengan Schofield. Setidaknya meskipun tampilan luar nya gak selalu kinclong, suara mesin dan tarikannya kasih kesan pertama yg positif.
Tapi itu dulu, sejak setahun lalu saya hijrah ke Jawa Timur, mau gak mau saya berpisah dengan Schofield. Dia dibawah pengasuhan orang lain, dan kami menjalani LDR. Tidak setiap akhir pekan saya bisa jumpa dengannya. Sampai pada Juli lalu saya dipindahtugas kembali ke Klaten dan Jogja. Saya bahagia kala itu, saya pikir we officially ended up the long distance relationship. Saya sempat menjalani hari kembali bersama Schofield, meski dengan rute yang itu itu saja.
Dilema hadir ketika saya harus menerima konsekuensi kepindah tugasan saya. Setelah 9 bulan bekerja di institusi saya saat ini, saya mendapat promosi dan dipindahkan ke area yang lebih delat dengan KTP saya. Amanah baru ini saya mendapat fasilitas Supri, sesama sepeda motor pabrikan Honda dengan volum silinder lebih besar dari Schofield. Saya dihadapkan kebingungan, sampai akhirnya saya memilih memulangkan Schofield di Jogja saja dan hanya digunakan jika saya butuh atau jika ada yang membutuhkan. Sementara saya konsen dengan Supri.
Sedih? Bangeeet. Saya sedang di masa mengenal kembali Schofield yang (menurut saya) cukup berbeda dengan setahun lalu saya tinggal dan terpaksa berpisah lagi. Saya bisa saja bersama keduanya, tapi koq kesannya gak efektif banget.
Nyatanya meskipun kini saya menjalani hari hari bersama Supri, saya tidak bisa melakukan hal hal yang sama dengan yang pernah saya lakukan pada Schofield. Supri hanya menjalani hari yang begitu begitu saja. Makan makanan yang itu itu saja. Juga creambath dan service yang tidak pernah saya temani (diurus kantor, lebih terurus sih). Menurut teman teman dan kakak adik saya, saya pun terlihat koq mencintai Supri. Namun mungkin tidak bisa dengan cinta yang sama seperti terhadap Schofield.
Terlalu banyak cerita indah dan perjalanan2 menyenangkan bersama Schofield. Mungkin sewaktu waktu saya harus buat posting khusus tentang rekam jejak Schofield.

*aqied, motorider who knows nothing about automotive

%d bloggers like this: