Tag Archives: papua

#CHSA: Lebaran Su Dekat

20 Jul

Buat yang belum tau, #CHSA itu singkatan dari Cacatan Hari Senin Aqied, yang publish perdana senin minggu lalu. Isinya sih suka suka saya aja. Intinya say hai to monday seperti yang sudah sudah.

Senin ini senin terakhir ngantor di bulan Ramadhan. Alhamdulillah berarti libur kian dekat. Tapi sedih juga pake banget. Kenapa?
Karna kenapa Ramadhan cepat banget berlalu sementara saya belum ngapa-ngapain sepanjang bulan istimewa ini. *menangis, kmudian ngumpet di mesin waktu doraemon.

Lebaran kali ini berbeda dengan tahun lalu. Di tanggal segini tahun lalu, saya sedang ribut kelimpungan ubah rute dan jadwal pesawat karna rencana saya berubah total. Dari yang tadinya diniatkan berangkat dari Surabaya, harus diubah jadi berangkat dari Yogyakarta. Alhamdulillah penerbangan ke luar jawa cukup mudah meski harus nambah harga yang lumayan buat bayar listrik satu tahun.

image

Kangen Lautnya Papua

Tahun ini, saya gak ke Papua seperti tahun lalu. Tidak bisa menikmati lebaran meriah dan menyenangkan di sana. Bagaimana tidak menyenangkan, dengan mayoritas penduduk muslim adalah pendatang, lebaran jadi menarik dan mengenyangkan.
Silahkan sesekali main di Kota Sorong, Papua Barat saat lebaran. Setiap rumah menyajikan makanan khas daerah masing-masing. Bertamu di pendatang asal Palembang, akan disapa dengan pempek. Ke  orang Jawa ada ketupat dan opor. Ke orang Bugis ada buras dan coto makassar, bisa juga pisang ijo, pisang epek, atau lainnya. Ke orang Ambon bisa disuguhi papeda. Indah sekali, bukan? Wisata kuliner keliling Indonesia tersaji dalam paket lengkap bernama Lebaran Idul Fitri.

Tentu saya juga yang tidak selalu berharap dapat suguhan seperti itu terus. Jadi kalau kemudian saat berkunjung bisa dapat itu semua, rasanya sangat bahagia.

image

Bakar ikan. Ikan laut di sana fresh banget

Selain makanannya, kekerabatan saat lebaran terasa sekali. Di rumah orang tua saya, tamu tak berhenti bahkan bisa hingga seminggu. Berbeda dengan lebaran yang saya rasakan di jawa. Kebanyakan silaturrahim hanya ke tetangga terdekat dan yang masih memiliki ikatan keluarga saja. Jarang saya temukan kunjungan silaturrahim dari rekan kerja, rekan satu pengajian, rombongan murid ke guru-guru nya, atau bahkan sekedar kenalan saja.

Tidak jarang juga tamu-tamu cilik yang datang. Ada lucunya juga ketika mereka kemudian sibuk membahas hasil studi banding hidangan tiap rumah yang mereka kunjungi ramai-ramai. Ada juga anak-anak yang mungkin tidak kami kenal, datang berombongan mengelilingi kompleks perumahan. Sudah tentu mengumpulkan apa yang biasa disajikan tiap rumah. Terutama yang bisa mereka bawa pulang seperti softdrink kalengan, kotak, atau gelas. Atau snack-snack yang berbungkus. Pendapatannya tentu cukup banyak melihat dari kantong plastik yang mereka tenteng.

Ah ramai sekali…

Saat shalat eid adalah momen paling bahagia dan mengharukan bagi saya. Papua Barat, ujung timur negri ini, dapat mengumpulkan jamaah ribuan banyaknya di beberapa titik. Lapangan Batalyon TNI Yonif 752, tempat favorit saya untuk sholat Eid, kerap tak cukup menampung jamaah. Tak peduli saat lapangan becek atau panas terik, jamaah tetap khusyu’ dalam syahdunya Idul Fitri. Tak cukup di lapangan, ada yang tersebar hingga ke jalan, hingga yang di emper bangunan bangunan sekitar lapangan.

image

Lapangan Batalyon Yonif 752

Lebaran kali ini, mungkin akan sangat berbeda dengan yang saya tulis itu. Saya tdk berada di Papua 1 syawal besok. Saya akan kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. Shalat Eid berkawan hawa dingin di kaki gunung merbabu. Menikmati sajian makanan khas kampung, berkirim ucapan lebaran, dan mungkin menghadapi beberapa pertanyaan kepo.

image

Hello Merapi dan Merbabu

Advertisements

Nggembel itu Asik, Kadang-kadang

28 May
Katakan "Ransel!" Ransel dan Red Jacket

Katakan “Ransel!”
Ransel dan Red Jacket

Saya memang bukan traveler, meski saya suka menikmati perjalanan. Saya juga bukan backpacker, meski suka gendong ransel. Saya pun bukan explorer beponi yang suka bertanya pada peta, karna itu pasti Dora.

Tapi, sempat tinggal di beberapa kota berbeda (cek halaman siapa saya), membuat saya merasakan macam-macam perjalanan. Dalam hal cukup sering menggunakan transportasi umum, tentunya saya cukup familiar dengan beberapa tempat pemberhentian transportasi umum. Gak bisa jodoh dengan transportasi yang kita mau, kadang jadi salah satu resiko penumpang. Gak jodoh di sini maksud saya bisa jadi waktu yang gak sesuai dengan yang kita inginkan, atau ketersediaan armada, atau transit, dan lain lain. kalo udah ketemu resiko penumpang begitu, apalagi di kota yang antah berantah, alternatif terindah yang bisa dinikmati satu: Nggembel.

Sebenarnya sudah beberapa kali saya (terpaksa) nggembel, tapi tak perlu lah aib yang sedemikian dalamnya disebar luaskan. jadi saya share 3 masa ssat saya menjalani peran sebagi Gembel Kere tapi Kece.

Stasiun Banyuwangi Baru, yang cukup ditempuh berjalan kaki beberapa menit dari pelabuhan Ketapang, adalah salah satunya. Tiba dari penyebrangan Bali-Jawa jelang midnight, sementara kereta kami masih pukul 06.00 WIB (atau 05.00 WIB ya? lupa). Demi dapat menikmati fasilitas maksimal kereta Sri Tanjung seharga Rp. 35,000 untuk Banyuwangi-Yogyakarta, kami berusaha mencintai spot-spot tempat kami bermalam. Beruntung saat itu kami berombongan.

Yap, serombongan Mahasiswa ekonomi dari beberapa kampus di Yogyakarta sedang menikmati perjalanan ekonomis Jogja-Bali di awal tahun 2009. Tempat beristirahat saya saat itu, sebuah ruangan (cukup luas) yang ternyata sebagai ruang penyimpanan paket. Jelas nyata terlihat dari sepeda motor yang disampul kardus2 di sudut ruangan. Ada kursi empuk di pinggir-pinggir yang akhirnya saya bisa sandarkan kepala dan tertidur cukup pulas.

Hingga pagi tiba, kami melanjutkan perjalanan dalam kereta ekonomi dengan segala keunikan fasilitas dan tingkah laku penumpang yang cukup mengagumkan hingga pukul 22.00 kami tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.

Terminal Bungurasih atau dikenal juga dengan Terminal Purabaya di Surabaya, sempat jadi tempat yang cukup familiar bagi saya. Sebelumnya, mendengar namanya saja saya sudah cukup takut. Namun rupanya, Terminal Bungur saat itu (rentang Januari-Juli 2013) cukup gembel-friendly sejak Negara Api menyerang. Sebenarnya cukup sering saya malam-malam kelayapan di terminal ini karena memang dengan berangkat malam, bisa tiba di Jogja subuh.

Tapi pada suatu malam yang cerah, dengan sangat terpaksa saya kehabisan bus yang saya inginkan hingga pukul 2.30 pagi. zzzzzzzz. Jadilah saya sepanjang nungguin bus itu ngobrol-ngorol sana sini, merhatiin tingkah polah dan denyut kehidupan di terminal yang ternyata gak pernah tidur itu.

Ada beberapa anak muda di salah satu sudut yang gelar sleeping bag. Ada yang numpang tidur di ruangan menyusui. Ada yang masih ngantuk2 duduk di kursi tunggu (itu saya), yang kemudian ngobrol2 gak jelas sama sesama yang duduk di kursi. ada pula yang sibuk bergegas mengejar bus. Rupanya sebagian yang betah menginap di Teminal karena menunggu bus ke tujuan yang diinginkan, yang hanya beroperasi pagi besok.

So, saya masih cukup beruntung loh, gak harus menunggu hingga matahari terbit. Alhamdulillah

Airport Hasanuddin Makassar, airport yang jadi transit sesiapa aja yang ke dan dari Timur Negri ini. Saya, sebagi pecinta papua, tentu saja jadi salah satu angkutan yang perlu diturunkan di Airport ini untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Airport Domine Eduard Osok, Sorong Kota Bersama. Kalau sebelum-sebelumnya saya biasa pakai penerbangan pagi yang bisa tiba di Sorong siang hari WIT, Agustus 2013 lalu saya coba penerbangan malam (dari Jogja 20.40 WIB) yang bisa tiba di Sorong pagi hari. Konsekuensinya, saya mesti transit di Hasanudin hingga pagi tiba.

Kenapa? karena penerangan di Airport Sorong yang banyak dituju pecinta diving buat ke Raja Ampat itu, masih pakai tenaga surya. Alias penerangannya dari Matahari aja. So, semua penerbangan di sana hanya ada di saat matahari bersinar. Ini berarti sudah jelas saya musti semalaman di airport SENDIRIAN.

Akhirnya yang saya lakukan untuk membunuh waktu adalah, menjelajahi sebanyak mungkin sudut airport itu. Meski banyak outlet yang sudah tutup, saya sambangi beberapa yang buka, motret kapal phinisi, dengan pede nya minta di fotoin orang lewat di depan tulisan “selamat datan”, keluar masuk beberapa toilet, naik turun tangga, dan kemudian berakhir dengan kelelahan di salah satu coffeeshop (gak sebut merk, gak dibayar sih), sembari menanti waktu yang tepat untuk sahur, sambil baca buku yang saya bawa.

Well, saat itu kursi di ruang tunggu lebih banyak dipenuhi sesama penumpang yang tidur enak. jadi sulit bagi saya menemukan kursi berjajar 3-4 yang kosong juga. Sangat  jarang juga mata menemukan sesama penumpang yang bisa diajak ngobrol.

Kamu, kalau kelamaan nunggu di tempet-tempet transpostasi umum gitu, ngapain aja?

 

Gembel in Red Jacket

Gembel in Red Jacket: kalo ketemu, sapa aja

Bisa Bahasa Apa?

26 Feb

Saya bukan pakar bahasa. Tau banget lah baca blog saya ini bahasa indonesianya aja masih gak benernya lebih banyak dr yang bener. Bahasa lisan (gak bahas bahasa tubuh, bahasa kalbu, dan semacamnya ya) yang pernah saya kenal ada beberapa. Dan setelah saya renungi di malam yang sunyi dan bertanya pada bintang dan rumput yang diam (lebaaaayyy, kemudian di skip gajadi pada baca), ternyata saya gak menguasai satu pun bahasa yang ada di dunia ini, pemirsaaah.

1. Bahasa Indonesia
Tau program acara TV yang namanya “BINAR” alias Bahasa Indonesia Yang Benar? Gak tau? Kudeeet…..!!
Oke sip. Jd acara ini ngasitau gitu gimana bahasa kita nih bahasa yang diperjuangkan para pemuda di Sumpah Pemuda yang BENAR.
Apa hasilnya setelah gak sengaja nonton? Saya semakin menyadari betapa saya pun tidak berbahasa negri sendiri dengan benar
Sejak SD saya gak suka pelajaran Bahasa Indonesia. Berlanjut sampai seterusnya. Saya suka nya di buku pelajaran ada review novel ato cerpen2 lama aja. Lainnya gak suka. Kacau lah saya.
Di ponsel saya install aplikasi KBBI, setidaknya bisa menyadarkan saya bahasa negri sendiri.

2. Bahasa Inggris
Kenal bahasa ini sejak kecil kali ya. Di TV dan segala alat elektronik kan ada ON dan OFF. Nah dua kata itu doank yg saya tau. Hihihi.
Mulai dapet pelajaran bahasa inggris pas SD di Papua. Kelas 3 SD. Lumayan pas SMP ud tau dikit2.
Berhubung SMP nya di asrama yang salah satunya pake bahasa ini, mau gak mau belajar deh. Dilanjutin pas SMA kelas 2, saya merintis karir dg ditunjuk jadi salah satu Tim di Lembaga Bahasa. Otomatis saya kudu lebih sok cas cis cus dibanding yang lain.
Kerjaan saya sih dulu bikin pentas berbahasa asing, lomba2 pidato, baca berita, siaran, drama, opera, bikin majalah dinding, bikin artikel yang semuanya berbahasa asing. Keren banget kedengarannya. Itu kerjaan yang paling gampang sih. Secara kerjaan di Lembaga Bahasa yang lain lebih ribeeet n rutin harian/mingguan. Kalo lomba n pentas kan insidental.
Trus pas kuliah, masa2 skripsi saya juga sempet ikutan Kursus Ekstensi Bahasa Inggris di salah satu kampus. Lumayan banget bisa sampe 3 semester (gak sampe lulus, hiks). Pengajarnya juga oke2 beud. Selain itu mungkin karna langganan TJP jg kali ya jadi familiar sama bahasa ini. Sayangnya karna harga TJP mahiil untuk kantong saya waktu itu dan lebih sering cm dibaca beberapa halaman, akhirnya di stop.
Skarang berhubung ud sekian tahun gak dipraktekkin, skrg mulai ngah ngoh lagi deh sama nih bahasa. Mulai gak nyambung dan gak ngerti kalo pke bahasa londo ini. Hiks

3. Bahasa Arab
Kenal bahasa ini juga pas SD. Di asrama yang bapakku pengasuhnya, kalo malam gitu kadang ada materi bahasa arab yang dikasih buat mas mas di asrama. Saya kan keponya jadi suka sok sok an dengerin. Padahal mana saya ngerti.
Kelas 3 (atau 4 ya? Lupa). Sekolahan saya juga mulai ada pelajaran resmi nya. Tapi ya saya nya aja yg gak ngerti2. Untung salah satu mas mas di asrama ad yang lulusan LIP*A jekardah. Jd bisa konsult PR-PR gituh. Alhasil nilai saya bagus bagus donk. Hehe
SMP, seperti di bagian bahasa inggris, bahasa Arab ini juga mulai saya pakai buat percakapan sehari2. Walaupun kalo secara nahwu-sharaf (grammar lah ya kalo di inggris), hancur lebur berantakan. Yang penting mah asal bunyi nya arab gitu.
SMA mulai jaim donk, apalagi saya pegang Lembaga Bahasa. Jd bahasa sata harus kelihatan lebih bagus.
Mulai familiar dan cukup lancar juga coba coba baca majalah bahasa sana. Jaman itu belom bisa seenaknya cari terjemah pake smartphone. Yg bisa cuma di scan tulisannya aja langsung keluar artiny. Jaman segitu kalo gak ngerti kudu buka kamus. Dan cara buka kamusnya Bahasa Arab tuh gak sembarangan men. Kudu tau kata dasarnya. So kudu tau juga tuh kata yg kita cari apakah kata dasar, turunan, atau sudah berimbuhan. Ribet lah
Sekarang? Huft lebih parah lagi. Pernah teman saya pulang dari mesir ngoleh2in buku. Tentang pengelolaan keuangan sebenarnya. Masih bidang saya kan yah.
Setengah mati banget saya bacanya. Pengantar sama daftar isinya aja saya sampai berjam jam, masi dibantu translator. Huft

image

Ini nih bukunya. Ekonomi Rumah Tangga Muslim gitu lah kira2 judulnya

Sempet sih punya temen yg bisa diajak chat pke arab. Tapi lama lama saya nya yg males mikir dan gak paham paham. Parah saya nih

4. Bahasa Daerah
Aselik, dari semua bahasa bahasa di atas, ini yang paling sulit. Bahasa Jawa dengan berbagai tingkatannya bagi saya bahasa paling rumit di dunia. Apalagi tulisannya.
Meski saya cuma gak di pulau jawa selama 7 tahun, tetep bahasa jawa saya masih sulit sekali. Sekarang sih mending ya, bahasa jawa tengah saya masih bisa jawab dikit dikit. Paling nggak mulai paham sama yang disampaikan lawan bicara, meski saya gak selalu bisa jawab dengan bahasa yg sama.
Pernah di Jawa Timur dan saya mesti bersinggungan dengan bahasa Jawa Timur yang ternyata cukup banyak berbeda denga  JaTeng. Tapi masih lumayan lah ada yang familiar dan nyantol2 dikit. Yang susah kalo udah Madura. Huft ini saya gak ngerti sama sekali. Dek remaaaaaakkk…
Sunda juga termasuk bahasa yang cukup tidak terlalu asing bagi saya. Meski gak ngerti juga, tapi bukan bahasa yang aneh. Saya sempat berkawan banyak orang sunda. Sekarang pun salah satu teman dekat saya juga org sunda. Familiar sama bahasanya tapi maknanya ya gak ngerti juga. Eta teh sami wae atuh kagak ngarti.

5. Papua
Eet dah. Kenapa juga papua dibikin poin sendiri yak?. Hehe gapapa donk ya. Yg poin bahasa daerah itu biarlah untuk bahasa2 di pulau jawa.
Kecil di papua membuat saya sampai sekarang lanciiir berbahasa indonesia ala papua. Asik aja dan kerasa lebih ekapressif gitu. Juga lebih singkat karna banyak suku kata yang diirit.
Contoh : “Ko Pi Sana”–> “Kau Pergi (aja) ke sana”
Contoh : “sa su tra tau lai” –> “saya sudah tidak tahu lagi”

Sebagian bahasa daerah lain sih sudah saya dengar ya. Semacam Aceh, Batak, Minang, Melayu, Bengkulu, Palembang, Bangka, Sunda-Jawa, Bali, Banjarmasin, Bugis, Ambon, Nusra, de el el. Tapi masih sangat jarang dan gak ngerti jugaa. Hahahha

Jadi kesimpulannya, ternyata saya ini gak menguasai bahasa satu pun. Ada yang mau kasih kursus atau kasih semangat saya buat menekuni salah satu atau sebagian atau semua bahasa-bahasa di atas?

Malam Ini Saya Menangis, Flashback Jawa papua 1990-1994

29 Jan

Malam ini saya menangis.

Sampai sampai saya tidak tau mau nulis apa. Gak usah ngirain tangisan saya ini seperti tangisan jomblo di malam minggu. Atau tangisan karyawan di tanggal tua. Sama sekali Nggaak.!!

Malam ini saya menangis. Sudah lama saya tidak menyentuh laptop ini, sampai tadi sore. Satu folder menggelitik saya. Sejenak saya terdiam, teringat tumpukan surat-surat tulisan tangan kedua orang tua saya. Masa LDR Jawa-Papua sepanjang 1990-1994 menghasilkan mahakarya sejarah keluarga kami. Kisah kisah yang jelas tercatat rapi, torehan sejarah perjuangan dua orang paling saya cintai di alam raya ini.

Bapak memberikan kami bukti-bukti sejarah itu beberapa tahun lalu. Harapan beliau, kami bisa mendokumentasikan setiap yang tertulis dalam sekian kilogram kertas itu dengan lebih baik. apa daya, sulit sekali bagi saya melaksanakan tugas beliau. Tak bisa dipungkiri, pandangan saya pasti dan selalu kabur pada surat ke-2 atau ke-3. Air mata  menggenang, sesekali badan saya terguncang membuat saya tak mungkin bisa dengan santainya mengetik atau men-scan satu satu lembaran-lembaran itu. Cerita-cerita yang belum pernah sekalipun aku tau keluar dari mulut beliau berdua, baru aku ketahui faktanya.

Pesan-pesan dan harapan sejak aku lahir (saya lahir Februari 1990, surat pertama pada April 1990), terdokumentasi rapi. Setiap langkah dan perjuangan pahit, panjang, dan penuh liku mereka tanpa rekayasa akhirnya saya ketahui.

Bagaimana cinta dan perjalanan panjang Ibu mengasuk mendidik seorang anak nakal 3 tahun (kakak saya), dan seorang bayi kecil yang rewel dan merepotkan (saya) di rumah mertuanya disamping tugasnya sebagi guru.

Bagaimana cinta dan perjuangan Bapak di ujung negri antah berantah kota Sorong Irian Jaya yg tidak pernah tau apapun disana, jauh dari keluarga, jauh dari anak dan istri yang selalu bisa jadi penyejuknya. Bagaimana usaha Bapak untuk terus bertahan bahkan tak bisa menahan untuk membantu orang lain di saat beliau pun harus bertahan hidup sendiri disana dan menafkahi istri dan 2 anaknya di Jawa.

Bagaimana Ibu bercerita tumbuh kembang kami, bagaimana Ibu bercerita kenakalan kami, bagaimana cara ibu menguatkan Bapak yang selalu merindu. Bagaimana tulisan Ibu apapun isinya selalu bisa menjadi suplemen semangat Bapak.

Bagaimana Bapak menghibur, berbagi cerita, bagaimana Bapak mengutarakan perasaan sedihnya tak bisa berada disisi istri, ibu dari anak-anaknya yang selalu disebutnya “yang selalu menyatu denganku”. Bagaimana Bapak mensyukuri dan berdoa untuk ulang tahunnya yang ke-27 (Juli 1990)

Diantara pesan-pesan untukku*:

kita baru menghadapi permulaan dari perjuangan dan semoga Allah membimbing kita. (April 90)

kau jauh dariku secara lahir saja tapi hakikatnya kau berada satu denganku. Menyatu dalam jiwakudan bersama-sama selalu memohon bimbingan dan karunia dari pemberi, yaitu Allah swt. (April 90)

Ma-inn, aqid, kowe saiki iso opo. Ora pareng nakal, sing manut karo ibu. Ibu dibantu lan di hibur ben ora pati susah. ngaji lan sinau sing sregep. Adik’e diajari sing apik. Bapak lagi nindak ke kewajiban ono panggon sing adoh, nanging sejatine bapakmu malah luwih cedhak karo kowe kabeh dan ibumu ora tau ucul soko pikiranku, kowe kabeh (April 90)

“kesabaran dan ketahanan berjuang hanya akan diberikan kepada mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah swt” (Mei 90)

Mainn, Aqid, bantulah ibumu baik-baik agar masa depanmu dan keluargamu mendapatkan keberuntungan dan Allah pun ridho memberikan kebahagiaan kepada kita semua. (Dzulqo’dah 1410)

Ma-inn, Aqid, kamu harus taat pada Ibu. Bapak baru berjuang disini, doakan bapak berhasil dalam perjuangan ya nak… (Juni 90)

Dimana saja kita berada kita harus selalu berusaha menjadi orang islam yang baik. Bersikap pemurah, ramah, dan rendah hati. Dengan begini, Allah akan selalu memberi kemudahan, walaupun kelihatannya berat tapi ringan setelah dijalani. Dan Allah akan selalu mencukupkan kebutuhannya. Sedang rezeki datang tanpa diduga-duga. Mungkin berupa materi, mungkin pula berupa saudara, sikap dihargai sehingga jalan akan semakin lapang. Aku telah membuktikan itu. Janji Allah selalu benar. ma-inn ku sayang… Aqid ku sayang…

Doakan bapakmu yang akan sellau membahagiakanmu, menyelamatkanmu.. dengan izin Allah (Juni 90)

ma-inn, Aqid > kuharap kau menjadi penghibur ibumu dan menjadi tabungan masa depan orang tuamu. (Juni 90)

Ma-inn, aqid…. Apa sudah pinter ngaji, masak, mbaca, nyanyi, nggambar, dan apa lagi? Mestinya kau tidak nakal lagi, atau mungkin tambah kreatif sehingga njengkel ke. Itu mungkin cirri anak cerdas. Iya gak?? (Juli 90)

Tahun baru kita

Tahun kemenangan kita

Selamat tinggal kegagalan, kegalauan, kesalahan, kekalahan, keraguan, kekhawatran, kemaksatan, kemusyrikan……. (tahun Baru Hijriah 1411)

 

Malam ini saya menangis, sehingga tak mampu teruskan membaca episode selanjutnya dari sejarah ku sendiri. Sejarah kedua orang tuaku yang penuh liku, dibalut cinta dan perjuangan panjang.

*yang bikin mbrebes mili banget banget gak di share disini yaa……a

Aqied Kecil Bersekolah *catatan Papua 1994-2001

23 Jan

Untunglah saya sempat tinggal di ujung timur negri. Tidak berhenti saya bersyukur pada skenario Yang Maha Kuasa tentang masa kecil saya.
Tahun 1994, saya menjejak Kota Sorong, Papua (saat itu Irian Jaya) untuk pertama kali. Kami sampai di pelabuhan dini hari.
Tahun 1995, saya Aqied kecil iseng didaftarkan Bapak di salah satu sekolah dasar Islam dekat tempat tinggal kami. Kala itu usia saya seharusnya belum saatnya masuk SD. Orang tua memandang niat dan keinginan saya yang begitu membaja (ceilah) untuk sekolah seperti Qolbiy. Mari kita bayangkan Sorong di tahun 1994.
Tidak ada TK terdekat di sekitar kami. Bahkan yang searah dengan sekolah tempat Bapak ngajar. Saya tinggal di Jl Basuki Rahmat KM 9,5 (sekarang sebelah Perumahan Pertamina pas) sedang Bapak mengajar di KM 13. Akhirnya saya diikutkan sekolah SD yang masih bisa ditempuh jalan kaki.
Menonton Laskar Pelangi mengingatkan saya pada sekolah Aqied kecil. Sekolah swasta dengan siswa/siswi low-end meski kondisi sekolah lebih baik dari SD Muhammadiyah Gantong.
Sekolah Aqied kecil ad 6 kelas, masing2 untuk satu tingkat. Jumlah guru ad 7, sudah termasuk satu kepala sekolah.
Lapangan sekolah sangat cukup untuk upacara bendera, bermain kasti, atau olahraga lain. Sebagian besar tanah berwarna coklat-oranye, sebagian ditumbuhi rumput, dan ad beberapa pohon kelapa di salah satu bagian. Jika musim hujan, ad baiknya berhati hati kecuali bagi penganut paham ‘berani kotor itu baik’
Ruang kelas kami beralas semen, sebagian mulai berlubang2. Setiap satu meja dilengkapi bangku panjang kapasitas 2 anak kecil. Kaca jendela model nako yang sudah tidak lengkap baik jumlah kaca maupun besi teralisnya. Memudahkan beberapa teman Aqied kecil kabur saat mobil puskesmas datang. Jarum suntik masih tajam dan menakutkan kala itu. Jendela yang bolong2 juga memudahkan tebu tebu dibelakang sekolah menerobos masuk kelas. Yang kemudian kami potong dan berebut potongan tebu untuk di sesap.
Toilet sekolah ada dua. Disebelahnya ada sumur untuk mengambil air. Jadi kalau sedang kebelet, mohon menimba dulu. Oya nimbanya gak pke katrol yaa, jadi ada ember yg diikat dengan tali panjang. So, timbanya tanpa bantuan ‘pesawat sederhana’ bernama katrol.
Ada sungai berair coklat di belakang sekolah. Jembatan kecil titian bambu menjadi penghubung untuk ke sebrang. Aqies kecil tidak begitu tau apa saja yg ada di sebrang. Yang Aqies kecil tau hanya Soa-soa (semacam kadal besar, sekitar 70cm-1meteran, tp gak pernah ngukur juga sik) sering terlihat di pepohonan sebrang sana. Kadang entah kenapa Soa-soa tersebut terlihat di kamar mandi/toilet. Mungkin nyasar.
Tapi itu masa lampau.
Seiring berjalan waktu, prestasi demi prestasi menghiasi sekolah ini. Peminat nya turut meningkat. Lama kelamaan sekolah ini bermetamorfosa. Cukup melesat jauh. Jumlah siswa yang terus meningkat, berbanding lurus dengan jumlah kelas yang akhirnya dibangun.
2001 Aqied kecil lulus, sekolah ini sudah menambah jumlah ruang kelas. Ad beberapa perubahan  semacam ruang guru, toilet, dan jumlah siswa. Tepat angkatan sekolah dibawah Aqied kecil, satu tingkatnya ada dua kelas, A dan B. H+1 menerima ijazah, saya diterbangkan Merpati (MNA) ke pulau Jawa.
Baru pada 2010 lalu saya sempat menengok silaturrahim, dan bingung (pertama mudik setelah 9 tahun di jawa). Hampir tidak menemukan nostalgia masa lalu si Aqied kecil.
Ruangan2 sederhana dulu telah menjadi gedung bertingkat. Lengkap dengan R Multimedia, Masjid sekolah dan ramainya lalu lalang siswa siswa di sekolah ini (saya tidak memperhatikan banyak). Menurut cerita Bapak, kini halaman sekolah itu sesekali ad tampilan Ka’bah, untuk latihan manasik haji.
Ah, betapa merindu masa masa kami mengenal hampir seluruh siswa satu sekolah. Betapa merindu masa masa kami bergantian merebus air dan membuat teh untuk bapak ibu guru. Betapa merindu tidur tiduran dan bermain sesukanya di atas rerumputan bersandar pohon kelapa. Betapa merindu saat saat menjerit heboh kala soa-soa mengintip kami dari luar kelas. Betapa merindu tidur dan camping di sekolah untuk pesantren kilat Ramadhan. Betapa merindu ketika harus terpleset genangan air pasca hujan di halaman sekolah yg becek. Betapa merindu Bapak dan Ibu guru yang bisa bisa nya masih bertahan dengan segala keanehan dan kenakalan kami. Betapa ah betapa……..

*Aqied kecil, seandainya neverland itu ada

Ibu dan Lumia nya

18 Jan
image

Lumia Ibu, sedang transit di Sultan Hasanudin Airport Makassar

Saya dan orang tua memang sudah sejak SMP tidak tinggal bersama. Saya menjalani sekolah berasrama di Solo sejak lulus SD, sementara kedua orang tua saya di Sorong, Papua. Kontak memang sering, dari jaman kombinasi telpon dan surat pos, ponsel, hingga sekarang pesan instan dan jejaring sosial.
Awalnya, memang sudah cukup bagi kami berbincang dan bercerita secara audio saja (baca: telpon) atau sms. Seiring semakin banyak hal baru yang kami temui, dan sangat ingin kami ceritakan, kami mulai hal baru. Jadi biasa setelah cerita by phone, ad gambar2 atau foto yang kami saling kirim melalui email.
Contohnya saat saya ikutan volunteer ASEAN Para Games di Solo, Bapak pingin tau gimana gimana nya atlet atlet difable di event pasca SEA GAMES itu. Juga saat saya wisuda, bapak gak ikutan. Jadi dikirimnya via email. Pernah juga waktu Bapak dan Ibu ada acara tahun baru di Waisai Raja Ampat. Kami anak anak beliau penasaran maka di email lah foto2 beliau berdua disana.
Lama kelamaan, kami mulai merasa email tidak cukup praktis. Fyi, jangan bayangkan kualitas koneksi di pelosok sana dengan pulau jawa. Juga listriknya. Selain itu, koq jd ngerasa ud gak real time. Kerasa gak sih, ketika ud penasaran bangeet ato ud seru banget ceritanya, gambar visualnya masih meraba raba. Dan pas diterima sudah gak se exciting pas seru2nya. Gak cuma itu, banyak hal remeh temeh yg selalu pengen kami bagi, dan gak asyik banget kalo harus di email dan bapak downloadnya masih entaran banget. Pas selo, pas sinyal bagus, pas bukan jam kerja tp pas gak di rumah juga (sinyal di rumah juelek maksimal). Selain itu, kami pengen juga kan selalu berbagi tumbuh kembang baik diri kami sendiri masing2 atau segala hal di sekitar kami.
Maka, Qonita dan Qolbi muncul dengan ide menghadiahkan smartphone untuk Ibu. Awalnya karna kami belum uji coba sinyal di sana, bayangan mereka tar bisa skype an gitu. Atau minimal bisa kirim2an foto sesukanya di whatsapp. Dua itu harapan minimal kakak dan adik saya yg cerdas (saya gak ikutan punya ide pas itu, bodohnya).
Misi pun di mulai, setelah mencari tau sana sini dan berunding antar kami, disepakati Lumia dari brand (yang sempat) Besar. Ini untuk bujukan lebih mudah juga sih, karna Bapak gak pernah beli ponsel selain merk ini. Pada Juli 2013, Qonita sebagai sesama pengguna Windows Phone mulai membeli dan membekali ponsel tersebut dg aplikasi2 yang dibutuhkan.
Karena Qonita dan si kecil gak ikutan mudik lebaran, saya jadi petugas yang mengantarkan ponsel tersebut pada 3 Agustus 2013. Berhubung saya gak ngerti ngerti banget Windows Phone, jadilah disana Ibu tinggal belajar n make aja. Satu satu nya aplikasi paling aktif adl Whatsapp. Selain berkomunikasi dengan kami, Ibu juga bisa komunikasi dengan teman2nya sesama ibu ibu, teman2 kuliahnya, dosennya, dan siapa aja. Saya cuma bisa ngajari penggunaan search engine yg bisa dg scan dan ketik manual. Yang Ibu suka banget, karena Ibu bisa ngetik arab dan bisa translate di ponselnya. Bisa baca quran beserta terjemahnya, bisa cek kata2 sulit di Quran dan langsung ke search engine (meski dulu Sarjana di Matematika, sekarang Ibu kuliah lagi Bahasa Arab).
Akhir tahun kemarin, Ibu ke Jawa. Mulai berdiskusi dengan Qonita soal ponselnya. Pernah suatu hari saat saya utak atik ponselnya, saya tanya
“Bapak suka make juga gak sih?”
Ibu: “iya, kadang yg kirim2 foto itu bapak. Kadang juga bapak cari2 kalian tuh di situ (nunjuk tanda search engine).”
Saya: “What? Nyari Aqida Shohiha gitu?”
Ibu: “gak tau tuh bapak. Aqied gitu deh kayanya. Tar ketemu yg itu tu satunya facebook(twitter). Kadang ya Aqida Shohiha kayanya”.
Oh my, bagi Anda pembaca twitter saya, tentu tau kalo saya lebih banyak nyampah, alay dan gak mutu kalo ngetwit.
Saat itu saya rada kaget. Twitter saya memang gak pernah digembok. Jadi Ortu tau donk saya suka galau galu gak jelas, saya mention2an sama siapa aja, ato kalo saya lagi kode kode n no mention. !!!
Ternyata setelah percakapan itu, Qonita kembali dengan ide brilliannya
“Ibu follow aja twitnya Aqido. Tar aku taro di home biar tinggal baca”
Dziiiiiiinnngggg!!!
Belum sempat saya protes, Ibu sudah bersuara
“O iyo sudah”
dan nemplok lah shortcut ke timeline twitter saya dengan manis di home windowsphone yang kotak kotak itu. Sebelumnya facebook 4 anaknya ud berjejer manis.
Yasudah lah, saya pikir biarlah malah saya jadi gak harus panjang2 kan kalo crita di telp. Kan ud baca sendiri. Hehehehe. Telp nya bisa buat ngobrol2 yang lain yg private2 ajah.
Tapi lucu juga, meski saya tau kalo Ibu dan Bapak suka kepoin saya, Ibu semacam gak pengen ketahuan gitu kalo kepo.
Pada suatu hari:
Saya: “aku tau loh kalo Ibu kepo in aku. Ibu suka gak sengaja kepencet favorit kaaan”
Ibu: “hah iya ya? Masa sih? Kalo kaya gitu emang ketahuan ya kalo suka baca baca?”

Sebelum mudik kmaren, Ibu sempet juga tanya tanya instagram. Tapi oleh Qonita saat itu disampaikan kalo instagram gak penting2 amat dan di WindowsPhone masih versi Beta.
So, mulai saat itu, twit, posting facebook, bahkan posting di blog ini bisa jadi bahan bacaan Ibu dan Bapak saya. Soal blog saya masum radar bwliau berdua juga saya baru tau beberapa hari lalu.
Ibu via Whatsapp : “maksudnya apa sih kamu menang undian PKK Anak SMA? Kalo artikelnya aku sudah baca sih”
Nah looo. Bahkan posting absurd yang itu pun dibaca oleh beliau. Mungkin hanya akun Path aja yang sampai sekarang belum masuk radar.

Posting yang ini pun sepertinya bakal dibaca beliau. Haiii Ibuuu, Haiiiii Bapaaakkkk…… 😉

Mencicipi Emperan Raja Ampat

12 Jan
bukti sudah sampai Kab Raja Ampat

bukti sudah sampai Kab Raja Ampat

Lebaran 2013 lalu saya berencana mudik. Rumah orang tua di Kota Sorong, Papua Barat membuat rncana mudik saya harus disiapkan jauh jauh hari. Apalagi kali ini mudik nya atas kemauan sendiri 9of course berarti budget sendiri).
Ada beberapa alternatif transportasi untuk menuju Sorong.  Melalui udara, bisa pilih maskapai Merpati Nusantara Airlines, Sriwijaya Air, Lion Air dan Expressair. Dari pulau jawa bisa pilih titik keberangkatan Jakarta, Jogja dan Surabaya.

Paket paling hemat sampai di Sorong, kalau waktu tidak menjadi kendala Anda, bisa menggunakan jasa PELNI. Harga kelas Ekonomi hanya Rp. 556.Xxx untuk tarif dewasa dari Surabaya, dan sekitar 700an dari Jakarta. Perjalanan normal 3 hari 2 malam saja. Ada juga kapal lain seperti Dobonsolo, Sinabung, dan lainnya saya gak ngerti lagi.

Hasil survey saya akhirnya memilih Sriwijaya Air (sebelumnya selalu MNA), Surabaya-Sorong dan Sorong Surabaya meski akhirnya harus saya reschedule dan ganti rute jadi Jogja-Sorong dan Sorong-Surabaya. Total tiket pertama untuk PP saya bulatkan jadi Rp. 3,200,000 (seharusnya bisa 2,9 tp telat booking, jd uda naik harganya)  setelah ganti route jadi via Jogja,  nambah Rp. 700,000. Itulah kenapa saya gak ganti rute yang perjalanan balik nya (kena nambah 900-1jt an kalo mau mendarat di Jogja) :(.

Saya berangkat sendiri 3 Agustus malam dari Jogja dan tiba di Domine Eduard Osook Airport Sorong pukul 7 Pagi. Transit di Surabaya +/- 30 menit dan di Makassar 3-4 jam, membuat saya mau gak mau sahur di Airport. Jam segitu tidak semua outlet makanan buka. Akhirnya saya memilih istirahat di Starbucks.

Setelah Ramadhan dan tamu-tamu Ied Fitri mulai mereda, saya dan kakak saya Qolbi bersama Bapak berangkat ke Waisai (Ibu Kota Kab Raja Ampat). Kapal menuju Raja Ampat dijadwalkan berangkat pukul 14.00. Jadi kalau Anda menggunakan Sriwijaya, tidak perlu menginap di Sorong bisa langsung berangkat ke R4 (Raja Ampat). Merpati jam tiba di Sorong sesuai jadwal pukul 13.00, saya pikir terlalu terburu2 meski seharusnya bisa terkejar. Asal gak lama nunggu bagasi, asal kendaraannya lancar, asal pesawatny gak delay, de el el.

Kapal ke Waisai ad beberapa macam. Yang kami pakai untuk berangkat ini modelnya kursi kursi seperti Bus. Ad kelas Ekonomi (tanpa AC, letaknya di lantai atas Kapal), VIP dan VVIP. Tiket VIP saat itu Rp. 130,000. Berikut penampakan kapalnya:

sambil nunggu antrian keluar kapal, mejeng dulu

sambil nunggu antrian keluar kapal, mejeng dulu

image

Ini jenis kapal yang cepat. Sekitar 3 jam perjalanan. Pukul 17.00 WIT kami tiba di Port of Waisai, pelabuhan Raja Ampat.

Kapal tampak luar. ini posisi sudah di Port of Waisai

Kapal tampak luar. ini posisi sudah di Port of Waisai

Dejemput dan jalan jalan sore pake Strada oleh Pak Tony. Kami diajak santai sore di Pantai WTC, disambung sholat maghrib di Masjid Raya Raja Ampat . (tentang masjid raya, WTC dan gedung Pari pernah saya posting di https://aqied.wordpress.com/2013/10/15/raja-ampat-tidak-melulu-laut/ )

malamnya, kami diantar ke tempat menginap. karena gelap banget (jalan umum baru dibuka dan masih terus dalam proyek pembuatan jalan) gak banyak lampu, jadi saya tidak tau kalau ternyata tempat menginap kami berhadapan langsung dengan laut.

Listrik disini masih belum cukup memadai.  Jadi banyak yang pasang genset juga. saran saya kalau ke raja ampat, pastikan powerbank, baterai ponsel dan kamera terisi full. Untuk sinyal, tidak perlu khawatir.  Operator merah cukup kenceng kalau sekedar untuk telpon, chatting dan upload foto sesekali.

terlalu gelap membuat malam terasa lebih cepat. usai ngeteh dan santap pisang goreng, kami makan malam. Saya dan Qolbi masuk kamar, sementara Bapak masih ngobrol-ngobrol denga Pak Tony.

keesokan pagi, setelah subuh kami baru melihat sendiri kalau lokasi menginap kami menghadap laut. main main air sedikit, sambil menikmati sunrise.  Kalau biasanya saya suka sunrise dari ketinggian, kali ini saya menikmati sunrise sambil berbasah basahan.

Searah jarum jam dr kiri atas: 1. sunrise depan penginapan, bapak dan qolbi, 2. laut depan penginapan, 3.tempat kita bobo, 4. sunrise saya

Searah jarum jam dr kiri atas: 1. sunrise depan penginapan, bapak dan qolbi, 2. laut depan penginapan, 3.tempat kita bobo, 4. sunrise saya

Puas main air pagi pagi, dan matahari mulai meninggi, kami sarapan dan mandi air tawar (harus banget dijelasin). Lagi-lagi kami berkendara Strada (strada Hitam). Tujuan kali ini lihat ikan ikan di Waiwo Dive Resort.

Waiwo Dive Resort (WDR) merupakan salah satu resort yang cukup bagus di Raja Ampat. Cottage-cottage (saat itu) tanpa AC, memadukan konsep hutan dan laut.  Sekitar Cottage banyak pepohonan (bisa dibilang hutan), meski tetap dengan pasir putihnya, tetapi pemandangan di depan Cottage adalah laut. Tempat makan dan BBQ terletak tepat di depan dan menghadap laut. Kebayang kan gimana asyiknya sruput teh sore-sore menikmati sunset sak mendeme diiringi debur ombak dan belaian angin lembut berpadu udara segar khas laut. Atau mungkin party BBQ hasil laut dengan semilir angin dan sapaan ombak. Kenikmatan setara one million dollar.

Searah jarum jam: 2 foto paling atas: Tempat makan Resort yg langsung menghadap laut, 3. pintu masuk, jd ngelewatin hutan dulu, 4. resepsionis, 5. menuju area dermaga, 6. paket alat snorkel 7. Waiwo Dive Center buat yg mau diving.  ad alat dan instruktur, 8. tampilan resort

Searah jarum jam: 2 foto paling atas: Tempat makan Resort yg langsung menghadap laut, 3. pintu masuk, jd ngelewatin hutan dulu, 4. resepsionis, 5. menuju area dermaga, 6. paket alat snorkel 7. Waiwo Dive Center buat yg mau diving. ad alat dan instruktur, 8. tampilan resort

Menurut saya, untuk ukuran Cottage dengan suguhan pemandangan seperti ini harga yang ditawarkan cukup murah. Pada saat itu untuk wisatawan domestik Rp. 450,000 permalam dan USD 50 atau 55 (lupa). Waiwo Dive Resort juga menyediakan fasilitas Snorkling (yang bisa dilakukan tepat di situ jugaakk) seharga 50,000 dan diving Rp. 500,000 per titik diving ( saya lupa sudah termasuk kapal atau belum). Sejauh yang kami temui, tamu tamu yang menginap disini saat itu turis mancanegara semua.

narsis sek disini, sambil tepe tepe sama ikan. lautnya bening banget, tanpa snorkel pun kelihatan dasarnya

narsis sek disini, sambil tepe tepe sama ikan. lautnya bening banget, tanpa snorkel pun kelihatan dasarnya

Dari dermaga di WDR, Anda bisa menebar remah roti untuk memancing ikan ikan mendekat. Kalau sudah mendekat terus ngapain? ya di ajak foto bareng donk…. Jadi kalau mau langsung nyebur snorkling disini juga bisa, tidak harus sewa kapal dan jauh jauh (kalo males lho yaa). Kalo masih males juga, air laut yang kebangeten jernihnya sudah bisa nunjukkin isi dalam laut tanpa kita perlu menyelam ato ngintip (snorkel). Foto di header saya pun diambilnya di salah satu sudut dermaga WDR (saat itu masih setengah jadi).

Jelang siang, kami ke Pantai Saleo. Sebelum itu kami disarankan Mbak Novi (yang mengantar dan menjadwalkan wisata kami) pakai sunblock SPF 110++ dulu. Thank You, Mbak Novi. Saya aja gak kepikiran :p.

Seri Saleo copy

Qolbi

Qolbi

Pantai ini (saat itu) sepi, seingat saya tidak dipungut biaya parkir dan retribusi masuk tempat wisata. Ada gazebo-gazebo untuk meletakkan bawaan kita, atau untuk yang malas nyebur. Disediakan juga cottage-cottage mini untuk beristirahat. Saya? dengan suka cita langsung nyebur. Disini juga menyediakan sewa alat snorkel. Puas main air, kami makan siang dengan bekal yang kami bawa di salah satu gazebo. penjual makanan di sana sulit dan tidak selalu cocok di lidah (mungkin karena keterbatasan bahan makanan juga yang lebih banyak harus impor dari Sorong). Jadi lebih aman bawa bekal sendiri (lagi lagi ini inisiatif Mbak Novi). bahkan saking langkanya yang jual kelapa (untuk masakan santan), di Pantai kelapa-kelapa yang berserakan diangkut semua di bak belakang Strada. untuk stok masak, katanya.

image

di bak belakang strada bareng kelapa

Setelah itu kami rencananya ingin bebersih diri dari pasir dan air laut, namun ternyata air tawarnya mesti nimba dulu dan sedang dipakai mencuci. jadilah kami hanya mengguyur berapa gayung air tawar, sekedar membilas air laut dan meluruhkan pasir pasir yang menempel saja. Lalu kami pulang dengan duduk di bak belakang Strada (untung pakai mobil ini). Jalanan di Waisai membutuhkan keahlian mengemudi tersendiri. Juga tidak direkomendasikan untuk city car. Sepanjang perjalanan, kami dimanjakan pemandangan laut dan langit yang sama cerahnya. tidak heran begitu menginjak pulau jawa kembali, warna kulit saya melegam sekian tingkat.

sepanjang yang bisa dijepret selama perjalanan

sepanjang yang bisa dijepret selama perjalanan

Siangnya, kami dibelikan tiket oleh Mbak Novi di Pelabuhan. Kapal yang kali ini sedikit lebih lama, tapi instead of kursi, kami disediakan tempat tidur betingkat. Tarifnya Rp. 100,000 per orang. Jika ingin lebih private, bisa sewa kamar (saya gak tau tambah tarif berapa) berisi 1 ranjang tingkat, dispenser air panas dan disediakan Pop Mie per orang nya. Mbak Novi kemudian memesan 1 kamar untuk kami setelah bertemu Pak Tony (hihihi).  Karena kapal masih berangkat pukul 14.00, kami mampir dulu untuk pamitan ke Pak Tony (inisiatif Mbak Novi). Bapak ngobrol-ngobrol, saya dan Qolbi foto-foto geje. Sebelumnya, karena terlihat dari jauh, kami mampir juga ke Gedung Pari, Gedung Balaikota nya Kabupaten Raja Ampat.

image

pemandangan dari dalam kamar

Perjalanan di kapal kali ini lebih lambat, 4 jam perjalanan. Yang unik dan menurut saya inspiring, setiap kapal yang lepas landas selalu diawali dengan Do’a yang cukup panjang dan bagus isinya (saat itu doa dalam agama nasrani). jarang sekali saya mendengar doa persiapan perjalanan yang seperti ini. Biasanya hanya informasi keberangkatan dan basa basi semacam “semoga selamat sampai tujuan”. Seingat saya yang kali ini semua bagian dalam perjalanan didoakan.  Semua faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi perjalanan disebutkan.

Sejau yang bisa dijepret di kapal. *foto tiket cm punya yg tiket berangkat

Sejau yang bisa dijepret di kapal. *foto tiket cm punya yg tiket berangkat

Awal awal dikapal, seru dan seneng. lama kelamaan bosan juga. jadi kami tidur dan baru bangun saat sampai Pelabuhan Rakyat Kota Sorong.

kapal, baru saja berangkat dr Kab Raja Ampat

kapal, baru saja berangkat dr Kab Raja Ampat

yang saya simpulkan adalah, kami berlibur di Raja Ampat bukan pada waktu yang tepat.  Libur lebaran menyebabkan banyak warga waisai  mudik sehingga sulit mencari warung, toko, pasar dan layanan apapun yang buka. Hal ini juga dikeluhkan wisatawan mancanegara, bahkan mereka mengira lebaran Idul fitri sampai hari Senin 😉 . Normalnya, untuk menikmati Raja Ampat, wisatawan perlu menyewa kapal. Pulau-pulau seperti Pianemo, Kri, Mansuar, atau yang paling Dahsyat indahnya (juga jauhnya) WAYAG, masterpiecenya Raja Ampat.

image

Patrick di Pianemo. *sumber foto: instagram @marischkaprue

Kami tidak stay lebih lama di Raja Ampat, juga karena alasan Motoris kapal sedang Mudik.  Jadi saya hanya bisa memandangi Speedboat yang nangkring depan penginapan dengan tatapan sendu (haisy).  Sedangkan tanpa Kapal (dan motoris nya tentunya), kami cuma bisa ublek di Waisai saja.

image

Ah, tak apalah. Saya diberi kesempatan mencicipi emperan Raja Ampat saja sudah merupaka nikmat yang luar biasa besarnya. Menurut yang saya baca di cerita-cerita traveling ke Raja Ampat, perlu sekitar Rp. 6,000,000 kalo gak diving. Itu masih exclude Tiket Pesawat PP dari lokasi asal.  Sementara saya/ selama di Raja Ampat tidak mengeluarkan biaya apapun.  tidak pantas lah buat saya merutuki yang tidak saya dapat. Saya hanya harus mensyukuri yang saya dapat dan itu sudah Jauuuuh dari ekspektasi saya.  Sebagian foto yang saya upload ini SANGAT gak bisa menggambarkan keindahan sesungguhnya yang saya dapat, apalagi Raja Ampat secara keseluruhan. You can ask Google for more fantastic pictures.

Mungkin suatu saat nanti atas ijin Nya saya bisa memantaskan diri menikmati surga dunia-Nya yang jatuh di ujung timur negri ini, sebelah Barat Papua.

Dan akhirnya, ini jadi posting terpanjang saya yang ingin saya tutup dengan kata-kata Kamga

BE CAREFUL, CAUSE INDONESIA IS DANGEROUSLY BEAUTIFUL!!!!

ekspresi lebay pertama kali nginjek tanahnya Raja Ampat

ekspresi lebay pertama kali nginjek tanahnya Raja Ampat

Aqied, berharap tahun ini bisa ke Derawan

*Terima kasih terbesar untuk Pak Tony (atau di Raja Ampat lebih dikenal dengan Pak Nas), Pak Slamet dan Ibu, Mbak Novi dan tim (Driver dan Cook), Bapak dan Qolbi. Semoga Alloh membalas kebaikannya.

*header, gravatar dan favicon  blog ini (saat tulisan ini dipublish) semua diambil saat di Raja Ampat

Travel to Raja Ampat for FREE

10 Nov
image

Saya memeluk pohon kelapa saat menanti sunset di Pantai Waisai Torang Cinta, Kab Raja Ampat agustus lalu

Simpati Lumia dan Tamasya Hati lagi ngadain program photo challenge dg hadiah paket perjalanan ke Raja Ampat. Caranya cukup punya akun instagram, follow akun2 ig dan twitter yg diminta, trus aplot foto sesuai tema, pake caption wajib:

#tamasyahaticm5 bareng @@NokiaIndonesia dan @@Simpati (Caption bebas sesuai TEMA HARIAN) #Lumia1020 #Simpatitraveling #polimolidotcom #travelIndonesia #travelRajaAmpat #ShareTheSun .

Challenge di mulai hari ini dg maksimum aplot 8 malam. Nah, buat yg pernah tanya saya gimana caranya ke Raja Ampat, bisa dicoba koq, guys….
Cukup modal niat aja. Info lebih lanjut bisa follow @tamasyahati ato @nokiaindonesia di twitter.
Kalo Syarat n Ketentuannya lihat di
SINI

So, gak usah mikirin itinerary n bongkar tabungan. Biar penyelenggara aja yg mikir. Kalo emang Anda dijodohkan tiba di Raja Ampat Tahun ini, pasti sampai.
Kalo belum beruntung, yaa namanya jg yg pengen gak cuma Anda….

*foto di atas foto pertama saya untuk challenge hari ini dg tema #SharetheSun

** sedikit cerita saya soal sisi lain raja ampat ada di Mampir Waisai, Ibu Kota Raja Ampat

Surat Cinta dan Perjuangan

29 Oct

Repost twit galau

@aqied: Gonna hug my Mom, count down n now less than a month to make it real…
@aqied: 24 November. Semoga bisa cuti 25 November. Demi hari kedatangan Ibu….
@aqied: Dulu sejak SMP-SMA, walo jauh dr ibu n gak tiap taun bisa ketemj, g sampe nangis2 kangen. Sekarang ud ‘gede’ malah kerasaa bgt pgn dket ibu
@aqied: Sekarang Ibu sama Bapak berdua aja di rumah. Beliau berdua rajin kirim update info apa aja disana via Whatsapp. Thanks to Nokia …..!!!
@aqied: Bahkan lucunya bapak pernah kirim foto zaman bapak masih 20an di papua sana. Ampuh bikin kita inget gmn kerja n karya beliau di usia muda
@aqied: Ketika kami sudah gede juga, bapak ibu ke jawa dg membawa sekian kilogram kertas2. Ternyata surat2 beliau berdua waktu LDR Jawa-Papua 90-94
@aqied: Jadi bapak n ibu memang tidak banyak bercerita. Kami bisa baca sendiri di surat dg tulisan tangan beliau berdua selama 5 tahun itu
@aqied: Bisa ditebak, hampir selalu saya tdk bisa menyelesaikan membaca. Mata saya terlalu cepat berair, nafas saya tersengal & pandangan saya kabur
@aqied: Cerita yg lengkap. Komplit. Bahkan slalu ada update pertumbuhan saya (tahun 90 saya masih bayi), juga kakak saya.
@aqied: Di lembar terakhir surat, biasanya bapak mengajak saya ngobrol. Setengah halaman folio beliau khusus tulis surat buat saya.
@aqied: Bapak menuliskan surat untuk saya yg selalu dibacakan ibu pada saya yg bahkan belum tau apa itu kertas. Apa itu huruf.
@aqied: Selain saya, Bapak jg nulis buat kakak saya. Tidak jarang kakak sy bikin surat balasan. Entah puisi, cerita sehari2, ato skedar koreksian PR
@aqied: Terimakasih buat yg bersedia membaca twits saya. Jika mengganggu bsa abaikan atau unfol. Jika menyimak, mohon maaf sy tdk bisa teruskan
@aqied: Surat surat ibu bagi saya lebih “mbrambangi”. Setiap tumbuh kembang saya terdokumentasi apik dalam tulisan tangan beliau yg rapi
@aqied: Betapa merepotkannya saya di masa kecil. Betapa saya belajar banyk dr kehebatan Ibu mengurus saya yg aneh, susah diatur, & kdg “misterius”
@aqied: Kadang surat ibu sedikit berantakan, karna di tulis malam hari sambil menidurkan saya,  sepulang mengajar di salah satu SMA kota Solo
@aqied: Saat itu kalo gak salah hitung di tahun 90 usia Ibu dan Bapak saya belum 30 tahun. Bapak masih 27 tahun.
@aqied: Menjelang lulus kuliah 2011, saya sempat iseng tanya ke ortu “kalo aku balik ke papua gmn?”. Jawabannya “ngapain balik?”
@aqied: Saya pasang jurus yg biasanya dikeluarkan anak2. “Buat temen bapak sama ibu, “, beliau tertawa dan intinya gak stuju dg permintaan saya
@aqied: Jadilah sekarang Bapak Ibu berdua di rumah hijau Papua. Saya percaya Alloh menjaga keduanya. Setidaknya begitu yg selalu ad dalam doa saya
@aqied: Terimakasih buat yg bersedia membaca twits saya. Jika mengganggu bsa abaikan atau unfol. Jika menyimak, mohon maaf sy tdk bisa teruskan
@aqied: Mata saya sudah terlanjur “mbrambangi”. Pengen nge whatsapp ibu, tp di WIT sudah hampir jam 1 pagi

Raja Ampat tidak Melulu Laut

15 Oct

image

Siapa tidak kenal Raja Ampat. Jika Franky Sahilatua sempat menyebut Papua sebagai Surga Kecil jatuh ke bumi, sungguh benar adanya. Bahkan saya koq yakin Franky membuat lagu itu sebelum mengenal Raja Ampat.
Raja Ampat adl Kabupaten kepulauan hasil pemekaran DATI II Sorong. Dengan usianya yang masih muda ini, banyak sekali pembangunan yang sedang berlangsung. Tim Kemen PU punya banyak PR untuk surga kecil kita ini.

image

Sudut foto dr teras kantor Kemen PU Raja Ampat, jelang 17 Agustus

Sebagaimana namanya, Raja Ampat menyebut dirinya sebagai Kabupaten Bahari. Setuju banget sih, siapa yang masih mau membantah indahnya kekayaan bahari Raja Ampat? Apalagi memang kabupaten ini terdiri dr gugusan pulau pulau.
Saya bersyukur diberi kesempatan Tuhan untuk tak henti berdecak kagum dan terbengong takjub menginjak kedua kaki saya di wilayah ini.
image

Tidak perlu membayangkan saya blusukan mencari keindahan yg ditawarkan disini, karna sesungguhnya saya menginjak tanah dan laut Raja Ampat kurang dari 24 jam. Waktu yang terlalu singkat. Anda bisa simpulkan sendiri bahwa pastinya saya baru sampai di EMPERAN belaka.
Ah, tapi tak apalah. Siapa yang meragukan emperan Surga?
Bicara pesona air dan bawah air raja ampat tidak pernah bisa habis. Seperti yang disampaikan Tuhan, takkan habis Kuasa dan Nikmat Nya jika kita sebagai manusia berusaha menghitung. Anda bisa dapatkan banyak sekali referensi menarik hanya dengan mengetik keyword “Raja Ampat” di segala search engine.
Karna itu, saya mau cerita sedikit saja. Skedar menambah informasi sisi lain dr Raja Ampat yang tidak harus ‘basah’.
image

Saya tiba di Waisai, ibu kota Raja Ampat pukul 5 sore WIT. Dijemput di Port of Waisai dan dengan berkendara Strada, kami diajak mampir santai sore di Pantai WTC, singkatan dr Waisai Torang Cinta.
WTC yang ini menurut saya cukup ramah untuk santai sore. Saat itu sekelompok anak muda sedang bermain bola di bawah landmark “Kabupaten Raja Ampat”. Di sisi lain ada yang sekedar mengobrol.

image

Saya dg latar belakang Pantai WTC

Saya dan Qolbi (kakak saya), apalagi kalo bukan terbengong bengong dan berusaha mendokumentasikan sejauh yg bisa diabadikan kamera ponsel kami.
image

Tarif? Oke saya tidak perlu cerita tarif. Karna disini Anda tidak perlu buka dompet atau rogoh kantong. Bahkan untuk parkir sekalipun. Tapi memang fasilitas pendukung sebagai tempat wisata bisa dibilang tidak ada.
image

image

Qolbi, strada merah, plat merah, jaket merah

image

image

Usaha cari sinyal buat check in 4sq, hahaha

Bagi saya ini benar2 tempat untuk santai sore. Benar2 santai. Perjlanan pulang dari sini, kami melewati pasar. Benar2 melewati karna kami memang tidak berniat berbelanja dan maghrib segera datang.
image

Sebenarnya sapaan pertama selepas meluncur dr Port of Waisai ada di kanan Anda. Yap Masjid Agung Waisai (atau mgkn Masjid Raya Raja Ampat, saya lupa namanya dan memang blm ad papan namanya). Cerita yg saya dengar sekilas dari kepala PU, area masjid ini akan digunakan untuk seleksi MTQ tingkat Propinsi Papua Barat. Memang masjid ini masih tahap pembangunan.

image

Selasar dr bangunan utama ke tempat wudhu

Alhamdulillah, saat maghrib datang kami sempat menikmati sujud di sini. Masjid ini memang masih dalam masa pembangunan. Kondisinya (Agustus2013) masih belum terlalu ready dan sedikit kurang rapi (ada bahan2 n alat2 bangunan karna masih proses,) , namun cukup nyaman bagi kami.

image

Tampak depan

image

Teras

image

Tempat wudhu perempuan

Siapa sangka di Tanah Papua, jatuhnya Surga Keçil, Rumah Tuhan ini yang menyapa kami.
Saya sempat melihat rancangan (gambar arsitek) Masjid ini dan kompleks nya (cukup luas). Sayang sekali karna kami sholat maghrib disini, hari sudah terlalu gelap dan penerangan yg ada tidak cukup untuk menggambarkan masjid luar biasa ini ke dalam kamera ponsel.

Di kota kita mengenal balaikota, di desa ada balai desa. Di Raja Ampat, Waisai tepatnya punya yang dinamakan Gedung Pari.
image

Bagi saya selain bentuknya yang unik, letaknya juga tepat. Terletak cukup tinggi dibanding kantor2 pemerintahan lain, kami bisa melihat jiwa ke-pari-an nya dr sepanjang jalan utama. Bangunan inti yg cukup lebar, dengan buntut panjang.
image

image

Selain itu, dari halaman gedung ini, kita bisa melihat Waisai dan sebagian Raja Ampat.

image

Cucok buat duduk galau, walo panas2 sekalipun

Saya membayangkan jika malam, mungkin lebih indah dr bukit bintang nya Jogja. ;p

image

Nyolong jepret Bapak dan Qolbi yg lagi melayang pandang Kota Waisai from top

Saya yakin sekali gambar gambar hanyalah segelintir kecil dr indahnya ciptaan Tuhan yang terlukis di sana. Apalagi dg tambahan objek gembel berjaket merah yg mungkin merusak mata Anda. Hehehe,,,
Anyway, tetap saya katakan yang terbaik dr raja Ampat tetaplah Lautnya.
Namun sesekali tidak harus basah tidak masalah, bukan?

%d bloggers like this: