Tag Archives: kerja

#CHSA: Weekend Cepat Berlalu

15 Sep

image

Seringkali kita menyusun berbagai rencana-rencana indah bahkan sampai membayangkan saat sedang menjalankan rencana-rencana menyenangkan itu. Apalagi bagi buruh macam saya saat mendekati akhir pekan. Tidak jarang, begitu fokusnya kita pada rencana yang kita susun, sampai meletakkan beberapa acara atau kegiatan lain pada prioritas terendah.

Namun ternyata ada hal lain yang mungkin sepele, namun secara total membatalkan seluruh rencana yang kita bangun. Tak menutup kemungkinan juga akhirnya keputusan pembatalan dipilih pada injury time. Sudah pasti kegiatan dan acara lain yang terlanjur kita tidak jadikan prioritas pun tak terkejar.

Lalu apa?

Akhir pekan kemarin ini, hal teraebut terjadi pada saya. Bukan pertama kalinya memang. Kadang jika akhirnya terpaksa tidak dapat membuat janji atau acara mengisi akhir pekan, saya bisa go show aja melakukan hal yang saya suka guna #MembunuhAkhirPekan.

Banyak yang biasanya bisa saya lakukan dan saya anggap me time. Dengam demikian saya bebas kemana aja berapa lama n ngapain aja. Saya memiliki kontrol penuh atas yang saya lakukan.Kadang berolahraga pagi, kadang sengaja get lost n berharap nemu tenpat kece. Kadang sengaja mengunjungi tempat-tempat yang ingin saya kunjungi, dan lain sebagainya. Dengan melakukan banyak aktivitas menyenangkan, bertemu hal-hal baru, saya merasa ada banyak waktu yang bermanfaat di akhir pekan.

Ternyata benar sekali anggapan saya, ketika akhir pekan hanya dihabiskan dengan mematikan lampu saat pagi tiba, menyalakan lampu saat malam tiba. Menutup korden dan jendela saat petang dan membukanya kembali kala mentari menyapa, saya merasa Senin begitu cepat datang. Saya belum merasa melewati akhir pekan namun harus sudah berhadapan lagi dengan awal.pekan bernama Monday.

Ya,  weekend cepat berlalu ketika kita tidak melakukan apapun untuk #MembunuhAkhirPekan.

*foto teh milik Sofy

The Day…

11 Sep

“The day the soldiers stop bringing you their problems is the day you stopped leading them. They have either lost confidence that you can help them or concluded that you do not care. Either case is a failure of leadership. ”

Colin Powell

Pernah gak ngerasa gagal?

Seperti teratai, untuk membuat tanaman teratai menjadi naik, yang kita perlukan adalah menambah air yang menjadi tempat tinggal teratai tersebut. Dengan demikian, maka tidak hanya satu bagian dari teratai yang naik. Tetapi seluruh bagian dari teratai itu akan naik bersama sama.

Bagi saya, bekerja dalam tim seperti bagian bagian pada teratai. Satu sama lain bersatu dan bersama meski memiliki fungsi dan keunggulan masing-masing.

Sukses adalah ketika kami berhasil naik bersama-sama. Alangkah indahnya ketika nanti kami yang dulu bekerja dalam satu tim, dipisahkan, lalu bertemu kembali dengan cerita-cerita baru dengan tim baru kami masing-masing, dengan posisi yang menjadi setara.

Mungkin memang belum saatnya. Mungkin memang kami perlu belajar bersama kembali, berusaha bersama sama menambah jumlah air yang tempat tinggal kami, sehingga kami dapat naik bersama sama. Mungkin kami terlena dengan air yang selama ini selalu tenang sehingga tidak berusaha menambah jumlahnya. Tak sadar bahwa kami masih berada di posisi yang dangkal.

*life begins at the end of your comfort zone*

*renungan jelang penghujung pekan.

Sudah Bersyukur?

23 Jul

“Kerja di bank enak gak, mbak?”

Pertanyaan seorang ibu dalam kereta Fajar Utama Yogya yang membawa saya ke Jakarta.
, awal bulan lalu.

image

Fajar Utama di Stasiun Tugu Yogyakarta

Jawaban saya :

Dibawa enak, Bu :)”

Mungkin jika pertanyaan itu diajukan pada saya dua atau satu setengah tahun lalu, jawabannya akan berbeda. Saya sempat mengalami masa-masa tidak betah dan tidak benar sebagai karyawan.

Menghabiskan malam dengan meratapi umur saya yang sepertinya habis di meja kantor. Mengasihani diri saya yang terpenjara jam kerja. Menangisi jam istirahat saya yang terbatas. Mengeluhkan rekan kerja yang tak menyenangkan. Meratapi gaji yang habis lebih cepat, dan lain sebagainya.

Ah betapa tidak bersyukurnya saya.

Seiring berjalannya waktu, pekerjaan saya masih sama. Gaji juga belum naik. Rekan kerja meski berganti bisa dibilang hampir sama. Tugas tugas juga sama. Tapi ada hal lain yang kemudian membuka mata saya, dan mengurangi sedikit demi sedikit keluhan, ratapan dan tangisan seperti yang saya sebut di atas.

Mungkin hingga kini saya masih belum bisa memastikan apakah saya mulai mencintai pekerjaan saya atau tidak. Tapi ada hal hal yang membuka mata saya sampai kemudian menampar saya dengan keras soal betapa tak bersyukurnya saya.

Sempat menjalani masa masa terpaksa nggembel di terminal, stasiun, hingga airport, rupanya perlahan memberi banyak pelajaran bagi saya. Dari yang awalnya terpaksa menggunakan bus ekonomi jarak jauh yang penuh sesak karena sulit mendapat bus Cepat Eksekutif/Bisnis di saat weekend hingga kini selalu merindukan ke penuh sesak an itu.

Awalnya hanya karena berusaha membunuh kebosanan dengan memulai percakapan pada siapa saja yang terdekat. Lama kelamaan saya merasa justru mereka mereka lah guru saya. Guru saya dalam kelas belajar bersyukur.

Tak perlu dijelaskan siapa saja yang bisa saya temui di terminal pada malam hari bahkan yang sampai menginap. Siapa kawan ngobrol saya di bus ekonomi penuh sesak jalur Surabaya ke barat. Siapa yang menemani saya saat harus berdiri lama di pinggir jalan provinsi menanti bus. Berbincang dengan mereka, meski singkat seringkali memaksa saya untuk merenung di sepanjang perjalanan. Kadang rasanya ingin menangis.

Ya sehari kalo lancar lumayan, mbak. Bisa dapat 20rb. Rame-rame nya 50 ribu lah bisa bawa pulang. Asal ditelateni terus, mbak” (bapak warung kopi pinggir jalan)

“Ya gak mesti, mbak. Sehari gak narik juga pernah. Ya terus cari-cari cara lain. Kerja kaya saya harus ada sambilannya, mbak. Nanti dapatnya seberapa-berapa, dibawa pulang, kasih Ibuknya (istrinya)”
(Pak Becak, sesekali ikut kuli panggul)

Profesi-profesi yang sering dianggap tidak menjanjikan. Penghasilan yang tidak dapat selalu dipastikan, dengan keluarga yang selalu membutuhkan kepastian, makan apa hari ini.

Mereka-mereka lebih layak disebut guru dan inspirator. Motivator terbaik bagi saya dibanding mereka yang berlabel motivator dalam balutan jas necis di televisi.

Karena dengan belajar dari cerita-cerita kehidupan mereka lah, saya selalu punya jawaban:

“Yang jauh lebih susah dari saya aja masih bisa bersyukur, “

Apakah masih pantas buat saya untuk selalu mengeluh?

*nyatanya masih suka ngeluh jugak sih ;(

Selamat Hari Senin

3 Mar

Hari senin ini rasanya gado gado. Pagi tadi saya bangun dan mandi pagi dengan malas malasan. Sarapan minum susu aja trus langsung cabut ngantor di kota sebelah. Perjalanan ke timur yang berarti harus menghadap matahari selama kurang lebih satu jam.
Saya sih selalu berusaha menikmati semua yang saya lalui ya. Dibawa asyik ato dicari bagian asyik nya di sebelah mana. Gitu aja.
Nyatanya meski masih males2an dan berkhayal seandainya senin ini hari libur nasional, saya menikmati aja perjalanan sejam bersama supri. Apalagi kalo di awal awal dapat pemandangan kaya gini:

image

Merapi dr Fly Over Janti. Selalu suka lihat ini pagi pagi. Gambar dr tripadvisor.com

Kadang saking merasa seru dan lucu, saya menganggap perjalanan saya itu seperti mainan di timezone. Jadi bukan sepeda motor saya yang bannya berputar, tapi jalanannya yg berjalan mundur. Hihi (pemikiran yg aneh). Saking lempeng nya perjalanan saya dan jalanan yg mulus didukung jml kendaraan yg gak terlalu rame (yg macet biasanya dr arah sebaliknya).
Memasuki prambanan ke arah timur dan masuk ke propinsi Jawa Tengah, mulai deh jalanannya semakin seru. Berlobang2 dengan berbagai varian, ukuran, jenis, diameter, dan letak.

image

Berbagai lobang2. Foto udah lamaa. Skrg ud nambah buanyak lagi

Awalnya saya sebel banget dan bawaannya pengen nyumpah2 gitu tiap kena lobang2 itu. Apalagi kalo posisi kita di belakang mobil, bikin gak tau kalo ad lobang menganga di depan kita. Wal akhir keperosok deh disitu. Yg kaya gini selain bikin pantat sakit, juga sukses bikin mur2 dan sekrup di sepeda motor kita pretel satu satu.

Yang aneh, paling nggak kan seminggu sekali saya ngelewatin jalanan ini (kalo weekdays saya pilih nginep di mes, jd bolak balik jogja weekend aja). Jumlah dan ukuran lobang lobang itu semakin bertambah dan beragam. Mungkin lobang lobang itu berkembang biak kali ya.

Tapi sekarang saya malah jadi senyam senyum sendiri kalo ngelewatin jalanan yang begitu. Entah kenapa di kepala saya ada pemikiran kalo saya itu lagi nhe game yang harus menyusun strategi gimana caranya tetap mempertahankan kecepatan, tapi harus menghindari lobang lobang itu.
Karna ngerasanya lagi seperti nge game, saya kalo terpaksanya keperosok di lobang2 itu, bawaannya malah pengen ketawa sambil ngehitungin nyawa saya masih berapa sebelum game over.

Justru dengan menikmati perjalanan seperti ini, waktu tempuh saya gak terasa lama. Dan ternyata sama aja dengan kalo saya ngebut sambil nyumpah2in pengendara lain, jalanan yg gak beres, lampu merah yg lama, ato mobil bagus yg suka nyipratin genangan air ke saya. Bedanya kalo dibawa seru dan lucu gini, sampe di tujuan gak kerasa capek nya (Alaah sok asik lu qied…).

Yah semua hal di atas terjadi karna khayalan saya kalo hari ini jadi hari libur nasional gak terwujud. So, happy weekdays tanpa tanggal merah sampai akhir bulan 😉

image

Api Ketemu Api dan Ditiup Angin

13 Feb

Agak geli sendiri sih baca judul di atas. Berasa duet Zuko dan Azula yang didukung Aang dalam serial Avatar. Tapi sesungguhnya tidak lah itu yang ingin saya bicarakan, kawan. Karna Azula dan Zuko meski pernah duet melawan Aang, itu hanya masa lalu Zuko yang kemudian berbalik mendukung kedamaian dunia (loh koq malah dibahas?).

Oke oke. Kembali ke saya yang sedang membuat caCatan hari ini. Sebenarnya saya sedang sedikit berapi-api sampai sore tadi. Penyebabnya? Silakan tebak sendiri kalo di hari hari dan jam jam semacam tadi kira kira sebabnya apa. Yang pasti bukan karna diserang negara api (dibahas lagi).

Api saya hari ini bukanlah api milik Azula yang setelah saya pikir2 berarti api yg sehat untuj memasak karena berwarna biru. Bukan juga api Zuko yang berwarna merah. Atau api paman Iroh yang bisa melezatkan setiap teh yang dihidangkannya.

Api saya hari ini tak berasa dan tak berwarna bak syarat sehat air yang selalu dibawa bawa Katara. Api saya dipicu api ‘sebelah’ yang mulai bekerja sama dengan angin berusaha menyerempet saya dan mengajak terbakar bersama.

Mulanya hati kecil saya sudah memilih untuk tdk ikut serta. Untuk menghadapi api, ada baiknya menjadi peredam. Mengalah, dan biarkan api itu membara sendiri hingga terpuaskan dan reda karna bahan bakarnya habis. Ada baiknya tidak meniupkan angin pada api yang sedang berkobar sehingga panasnya tak merembet ke segala penjuru. Ada baiknya pula api tak serta merta disiram es ataupun air dingin seketika. Biarlah jilatan apinya melemah. Biarlah kekuatan panasnya usai. Biarlah keganasannya terpuaskan hingga kemudian mati, menghangat lalu kembali dingin.

Apa daya jiwa labil dan kendali api di batin dan kepala ku mengalahkan bisikan hati. Ketika api itu mengarah padaku, seketika itu pula suara hatiku tak lagi terdengar. Api kecil mulai tersulut, menjilat2 lemah sampai kemudian api kami bertemu dan kobarkan nyala yang lebih dahsyat. Ditambah tiup angin disekitarku menambah keinginan narsis api buatanku. Awalnya memanas sampai kemudian berpotensi merusak.

Sampai kemudian aku sadar, tak seharusnya api ku tadi tersulut. Ketika sudah terlanjur, begitu sulit untuk mengembalikan semua yang telah terbakar menjadi sebaik semula.

Api amarahku, kapan kamu mau nurutin bisikannya hati?

image

Nih minum es dulu biar adem

Menghitung Hari Gajian

22 Jan

Hitungan jelang tanggal gajian semacam otomatis nempel di kepala buruh macam saya. Sempat mengalami beda beda kantor dan rekan kerja, tanggal gajian tetap jadi hari keramat. Heran juga hitungan mundur jelang gajian semacam tersetting otomatis di kepala kepala kami. Dan bangun tidur paling indah adalah bangun tidur di pagi tanggal 25 (atau sebelumnya jika 25 tanggal merah).
Tanpa perlu memperhatikan, sudah kelihatan koq masing masing sudah punya rencana pengeluaran yang wajib terlaksana setelah gajian. Mulai dari mendata kebutuhan2 pribadi yang sudah menipis, mendata kesenangan dan hura2 yang diinginkan, mendata tas sepatu dan gadget yang kemarin ditaksir. Apalagi hal hal itu biasanya sudah diampet mungkin sejak tanggal 15 ;).
Jadi buruh itu asyik, kalo tanggal 25. Begitu kata teman saya. Seperti kata iklan salah satu provider:

Masalahnya gaji cuma tahan sampe tanggal 15,

kesindir gak sama iklan itu?

Ada asyiknya juga sih gajian tanggal 25. Setidaknya gak harus nunggu ganti bulan buat nggendutin rekening. Setidaknya pusat perbelanjaan belum sepenuh tanggal muda. The problem is pas tanggal muda ud kerasa tanggal tua. ;(
Bagi buruh dengan tata kelola keuangan buruk macam saya, saya juga punya rangkaian to do list yang harus saya lakukan begitu tgl 25 pukul 00.00 gaji saya masuk. Saya harus segera menyingkirkan nominal tertentu untuk saving.
Belajar dari pengalaman yang sudah sudah, saya memang sempet sih selalu berhasil menyisihkan gaji hingga gajian berikutnya. Tapi ternyata hanya bertahan beberapa bulan (saya kerja di institusi ini baru 15 bulan-an), dan ujung ujung nya malah berapapun yang ada, habis atau hanya tersisa saldo jaga jaga saja.
Apalagi saat itu saya sering merasa perlu bolak balik jatim-jogja di weekend yang setelah dihitung2 cukup boros juga. Ditambah lagi selama disana saya banyak kepingin jalan jalan nya. Alhasil begitu balik ke Jogja, saya bingung sendiri koq keuangan saya kacau.
Akhirnya saya memilih kalo dulu saya mendahulukan kebutuhan baru disesuaikan nominal yang saya punya, sejak kembali ke Jogja, pendekatan itu saya balik. Sekian persen pemasukan saya harus dikeluarkan dulu untuk saving, dan dengan sisa yang tersedia itu saya atur strategi bagaimana supaya memenuhi semua kebutuhan saya.
Saya memulai disiplin ini di Juli, namun ambyar karna saya malah mudik ke Sorong n short-trip sampe emper Raja Ampat. Disana gak ada yang murah kalo mau kuliner, juga hunting oleh oleh.

Alhamdulillah begitu September saya mulai bisa bertahan hidup yang lebih menyenangkan dengan nominal yang lebih rendah dr bulan bulan kemarin. Lagian kebutuhan saya apa sih? Masih buat diri sendiri aja. Belom bayar cicilan rumah, belom bayar SPP anak, kalo gak makan juga kagak ad yg sms ‘dah makan belum?’ , intinya ya cuma buat dipake sendiri.
Nyatanya saya masih bisa jalan jalan ala bolang, sesekali makan enak, ngopi ngopi cantik, paket internet ponsel jalan terus, sesekali hura hura, belanja buku atau outfit. Sempet coba nurunin nominalnya ternyata saya gagal karena pengeluaran2 tak terduga. Tapi setidaknya saya tetap bertahan dengan bekal yang saya siapkan sejak awal. Gak tergoda buat utak atik yang lain. Pengalaman sih kalo ud pegang duit (fisik maupun elek), berapapun bisa aja ngabisinnya.

Jadi apa rencanamu setelah gajian? Rencana saya gak gagal lagi untuk saving. oh iya sama beli kopi kesayangan ;).

*jangan tanya saving nya untuk apa yang pasti untuk macem macem n banyak. Saya kan banyak maunya

Senin Ini Bukan Senin Biasa

13 Jan
image

Es teh seger nih kayanya. *gak nyambung biarin

Senin ini tidak seperti biasanya. Karna Kakak saya sudah tinggal bersama suami, dan Adik saya berlibut ke Bogor sejak Sabtu, saya di rumah sendiri aja. Minggu sore saya melakukan ritual weekend semacam mencuci, memasak (karna lagi penghematan jajan), menyetrika dan mempersiapkan yg perlu saya bawa ke mess selama seminggu. Herannya setelah semua aktivitas itu, bukannya ngantuk malah insomnia saya kambuh. Untunglah sekitar pukul 2 saya bisa tidur dengan tenang. Sempat bangun untuk Subuhan, tapi terkapar lagi dan KESIANGAN.
Sekedar informasi, saya butuh waktu perjalanan 1 jam. Dengan kondisi limit waktu yg tersisa hanya 30 menit, mandi, bersiap (baca: dandan), packing, manasin motor dan cek kondisi rumah harus sudah DONE. Rupanya saya sedang tidak beruntung. Jam tangan saya sudah berbunyi menandakan pukul 7.00 saat saya baru menyiapkan sepeda motor.
Sepanjang perjalanan saya tak henti melirik jam tangan saya dan menghitung estimasi jam tiba saya. Untunglah setelah keluar dari Provinsi DIY, jalanan lebih bersahabat. Tepat pukul 07.55 saya sampai dan ternyata rata-rata kecepatan saya masih hitungan normal (54.41 Km/hr versi My Track dalam 52 menit).
Tentu ini bukan senin yang biasa. Saya biasanya lebih suka berangkat lebih awal. Banyak destinasi sarapan yang bisa saya cicip dengan santai sepanjang perjalanan. Saya juga bisa dipuaskan dengan pemandangan matahari terbit karena perjlann saya menghadap ke Timur jika berangkat selepas subuh.
Senin ini alih alih mampir sarapan, apalagi menikmati sunrise. Tiba tepat waktu tanpa insiden berbahaya di jalanan saja saya sudah syukur. Apalagi tau sendiri lah kondisi jalan Solo-Jogja yang bergelombang dan berlubangnya keterlaluan.
So, pagi ini saya hanya bisa melirik Gudeg Yu Djum, Dunkin Donuts, warung Soto, dan tempat2 lain yang pernah jadi tempat saya singgah sarapan. Saya hanya bisa menatap langit didepan saya yang tak lagi menampilkan bola emas batu terbit. Ditambah penyakit pagi saya yang kambuh, tak henti bersin sepanjang perjalanan.
Senin ini memang bukan senin biasa buruh semacam saya.

Beauty Class, Perlukah?

10 Jan

Kamis kemarin saya mengikuti Beauty Class yang diselenggarakan perusahaan saya. Begitu mendapat invitationnya, saya langsung merasa malas. Silahkan Anda bayangkan seorang Aqied yg lebih sering nggembel, bakal berhadapan dengan palet warna warni segede laptop 14′. Sementara yang menjadi kanvas adalah wajahnya sendiri. Saya tak kuasa membayangkan diri saya sendiri.
Sejak dulu saya tidak terbiasa dengan make up. Hal ini bertahan sampai saya lulus kuliah. Sebagai pengendara sepeda motor, jangankan rajin ber sunscreen. Disiplin ber slayer dan sarung tangan saja saya gagal. Tidak jarang saya lupa dimana menyimpan kedua benda pelindung tersebut padahal baru saya beli seminggu sebelumnya. Sesekali memang saya iseng atau berusaha bertaubat dengan beli sunscreen atau lotion dengan SPF (meski kadarnya rendah, paling pol 30++). Tapi paling paling saya rajin make pas masih baru saja. Seminggu kemudian sudah entah entah an. Itulah kenapa pergelangan tangan saya punya warna tersendiri :p.
Apalagi make up warna warni. Saya gak ngerti nama nama produk make up warna warni yg harus ditotol totol ke wajah perempuan. Saya baru tau jenis jenisnya dr katalog produk kosmetik punya teman saya. lumayan lah walo gak beli, bisa jd pengetahuan.
Jangan tanya salon2 SkinCare. Dari dulu kalo ditanya teman teman saya perawatan kulit dimana, kawaban andalan saya gak pernah berubah “Pake air wudhu aja” (pasang image solehah, hehehehe). Untunglah meskipun saya rutin bermandi matahari dan berkawan debu, masalah kulit muka saya tdk banyak (selain warna yaa).
Seiring berjalan waktu dan pergaulan yg mulai berganti dan meluas, saya sdikit2 terpengaruh untuk jd lebih feminim. Kalo kata mbak mbak tutor Beauty class yg wajib dimiliki perempuan paling tidak adalah pelembab, foundation, bedak dan lipstick.
Bedak yg saya punya diusia 20-an ternyata di TV diiklankan untuk segmen Teens. Lalu saya mulai punya hydrogloss. Itupun jarang banget jg dipakenya. Jadinya awet dan sekarang malah hilang ;(.

Sekarang, saya memang mulai punya beberapa benda yang sebelumnya saya anggap aneh itu. Tapi ternyata tetap saja, cm dipakai kalo inget, kalo lagi pengen, atau kalo terpaksa. Dan itu juarang bangeeeet. Rasanya koq sayang banget menghabiskan waktu bermenit2 di depan cermin buat aplikasi segala macam itu. Coba kita lihat urutan standar untuk make up profesional (untuk kerja):
1. Bersihkan wajah dg pembersih. Segarkan dengan penyegar
2. Gunakan pelembab di 5 titik wajah. Ratakan (ini aja ada cara khususnya. Gak boleh asal oles sana sini).
3. Oleskan foundation secara merata.
4. Aplikasikan bedak tabur (tdak diusap, tidak ad gerakan rotasi)
5. Lanjutkan dg compact powder (kagak sekalian baking powder?)
6. Aplikasikan eye shadow base pd kelopak mata. Lanjutkan dg eye shadow sesuai warna yg diinginkan. Lanjutkan dg eye liner cair. Jepit bulu mata dan gunakan maskara untuk kesan lentik dan tebal
7. Sapukan blush on pd pipi (konon cara aplikasiny pke teori angka 9)
8. Beri warna bibir dg long lasting lipstick, tambahkan lipgloss untuk kesan segar.
Itu baru buat muka doank. Masih ad tutorial hijab yang pake peniti n jarum pentul se abrek abrek. Waktu sebanyak itu cukup untuk menghabiskan sekian lembar buku ditemani segelas besar kopi panas.

Tapi dipikir piki ternyata memang ad saat saat tertentu ketika perempuan sebaiknya tidak bertampang kembang desa (istilah mbak tutor untuk kondisi tanpa polesan). Apalagi di profesi-profesi tertentu yang kadar make-up dianggap sebagai standar profesional orang tersebut. Kenapa beauty class itu perlu bahkan laris di prusahaan2? karna ternyata tidak semua yang kesehariannya full make-up, berdandan dengan cara yang benar.
Saya mengalami sih, kadang saya melihat orang yg ber make-up tebal dan (mungkin) mahal, tp bukannya terlihat cantik malah serem. Ada yg riasan mata nya terlalu tebal, ad yg eye liner nya gak pas, ad yang blush on nya menimbulkan kesan Tabok instead of blushing, ada yg kelihatannya bedaknya bagus, tetapi saat berkeringat ternyata blonteng2 alias warna bedak/wajahnya jd gak rata, dan lain lain. Mungkin juga ad yg terlihat tidak pas antara tema make up yg dipakai dengan situasi dimana orang tersebut berada.
Ada untungnya juga saya (terpaksa) ikutan kelas ini. Setidaknya ad tips dan jadi tau gimana caranya terhindar dr kesalahan2 dalam berdandan yg berefek hal hal yg saya sebutin di atas.
Nah, kalau ad yang bertanya apakah setelah mengikuti kelas make up apakah saya insyaf dr kemalasan saya? Hmmm terlalu cepat untuk memberi jawaban. Yang pasti pendapat saya jadi sedikit bergeser. Yang tadinya menganggap warna warni di wajah itu gak penting banget, jadi sdikit bergeser bahwa make up itu mungkin memang perlu, dengan syarat digunakan dengan tepat di waktu dan situasi yang tepat pula.
Maaf posting kali ini tanpa bukti otentik kalo saya sudah berhasil praktek make-up profesional saat kelas (karna lupa gak foto juga. Langsung dihapus). Dianggap hoax juga gapapa lah. ;P

*Aqied, Karna Air Wudhu adalah sebaik baik tata rias