Tag Archives: jogja

Waroeng Klangenan, Yogyakarta

20 Jun

image

Kayanya uda lama banget ya gak bikin posting soal makan-makan. Ya sebenarnya sih karna saya makin kesini makin jarang jajan atau nyobain icip-icip sana sini jugak. Kalaupun makan di luar ya yang standar-standar aja. Gak yg seru asik sehingga publishable di blog absurd ini.

Okayh, kali ini saya maen ke Waroeng Klangenan. Ada apa aja di sana? Lihat ini:

image

Aneka sate2an dan nasi kucing

Kalo saya bilang sih, sajian menu di warung ini mirip-mirip sajian angkringan. Ada nasi kucing dengan berbagai jenis pilihan lauk. Misal nasi oseng, nasi cumi, nasi belut, nasi bandeng, dll dengan varian harga yg menyesuaikan juga.
Juga ada berbagai gorengan semacam tempe, tahu, juga sate2an seperti sate usus, sate ati, sate telur puyuh, sate kere, dan macam macam lagi dengan harga yg berbeda-beda pula.

image

Penampakannya

Yang seru disini, saat kita sudah duduk di meja, akan diantarkan semacam tungku kecil, kipas, dan semangkok bumbu untuk kita bakar-bakar sendiri sate-sate an tadi.

image

BAKARRR!!!

Untuk minuman, tersedia aneka minuman khas angkringan seperti Teh, Jeruk, Jahe, Susu Jahe, Wedang Uwuh dan minuman-minuman tradisional lain. Juga ada minuman yang di mix ala Waroeng Klangenan.

image

Separo cangkir Wedang Klangenan

Untuk tempatnya sendiri, cukup asik dan bisa menampung banyak pengunjung. Ada area ber meja kursi yang dalam ruangan. Ada juga yang di luar. Ada juga area untuk makan atau nongkrong2 lesehan.
Di ruangan bagian dalam bahkan ada layar dan proyektor yang bisa seri banget kalo buat nobar (mungkiiin).
Kesimpulan saya sih, Waroeng Klangenan ini semacam versi elit dari angkringan. Dengan pilihan menu yang lebih banyak, dengan tempat yang lebih cozy, dan dengan harga yang lebih mahal pula. 😉

*Waroeng Klangenan terletak di Jl Patangpuluhan, Yogyakarta. Jika dr arah Timur, lampu merah Patangpuluhan, lurus saja ke Barat, letaknya di kanan jalan.
*jika dari Barat, dari UPY lurus saja ke timur, letaknya di kiri jalan sebelum lampu merah patangpuluhan.
* alamat: Jl. Patangpuluhan No. 28 Yogyakarta

Advertisements

“Kapan Ke Jogja?”

30 Mar

Iyap. Setelah sebelumnya pernah bahas dikit tentang Yogyatourium Dagadu, weekend kali ini tepatnya Sabtu kemarin saya main lagi. Iseng aja sih, karna entah kenapa Jogja kian hari kian panas, dan saya ketemu rombongan kampanye sampai 2 partai yang berbeda dalam sekali jalan. Jadi saya mlipir mampir ke Yogyatourium Dagadu ini, sambil nunggu rombongan kampanyenya selesai lewat. Kebetulan juga jarak dengan rumah kontrak saya di Jogja cuma sak udutan.

Kirain sih bakal udah lepas ya dari hal hal berbau pemilu. Ternyata saya malah disambut ini nih:

image

Rupanya dalam rangka edisi Pemilu, Dagadu juga ngeluarin desain yang nyerempet2 Pemilu. Contohnya ini:
image

Saya gak motret banyak2. Gak lucu aja gitu kalo setiap kaos yang dipajang saya potoin. Meski beberapa kali kunjungan kesana, saya tdk pernah dilarang buat motret. Ada aja sih objek menarik.

Mulai dari Kamar Pas yang seperti kulkas.
Rak pajangan Kaos yang bentuknya becak.
Rak buat display sandal yang bentuknya kereta.
Gantungan kaos2 dan baju yang bentuknya sepeda.
Belum lagi tulisan2 atau pajangan2 unik yang menarik.

image

Stok poto jadul

Untuk nostalgia desain, sepanjang lorong menuju parkir belakang, masih ada koq kumpulan desain kaos dagadu yang pernah dicetak sepanjang 1994-2014. Dan boleh banget buat motret.

Di gedung ini, terbagi beberapa bagian.
Lantai 1 ada Kassa, dan yang dipajang sekaligus dijual adalah merk-merk OMUS, Hiruk-Pikuk, dan Kaos Ensiklopedi.
Juga ada kedai kudapan buat oleh2 makanan.

Lantai 2, untuk merk Dagadu yang desain2nya jogja banget. Sama Dagadu yang buat Kids. Unyu2 banget.

image

Selain T-Shirt, ada juga pernak pernik lain. Semacam blocknote, sandal, topi, tas, sweater, jaket, dll.

So, Kapan Ke Jogja?

image

*Yogyatourium Dagadu terletak di Jl Gedongkuning Selatan. Bersebelahan langsung dg Kantor BPJS.
*Promo bulan ini untuk setiap pembelian 200rb, dpt potongan 20rb. Untuk 400rb dpt free T-shirt (lupa untuk merk yg apa).

Bakmi Jawa Bu Gito: Santap Malam a la Agung Sedayu

13 Mar
image

Omah Tanpo Lawang

image

579011_10200900314844281_210579549_n

Bakmi Jowo Bu Gito saat siang

 

Bagi yang follow akun Instagram, Foursquare, Twitter dan facebook saya dan sempat lihat ato mungkin ad yg hobi kepo ato stalking akun akun tersebut, saya yakin familiar dengan judul post ini. Yep, bisa dibilang saya cukup sering check in ato aplot foto sedang di Bakmi Jawa Bu Gito, Peleman, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta. Tidak heran karna menurut catatan Foursquare, saya masih menduduki posisi Mayor di lokasi ini.

Ada beberapa pendapat dalam tiap posting tema ini. Ada yang bertanya seberapa enak bakmi jawa ini sampai sebegitu sering saya kesana. Ada juga terheran heran kenapa saya seperti wajib absen kesana hampir tiap pekan, bahkan ada beberapa teman yang penasaran dengan foto yang pernah saya unggah  dan mengajak saya nge-bakmi. 😉

image

setelah sekian kunjungan saya, saya putuskan mendokumentasikan alasan-alasan dan latar belakang kenapa foursquare sampai merelakan gelar Mayor ke saya.

Pertama, tentu saja karena Lokasi. Saya tidak mengatakan lokasi Bakmi Bu Gito Strategis ya, , yang saya maksud faktor lokasi disini adalah jarak tempuh dari tempat tinggal saya saat ini. Dalam 5 menit berkendara sepeda motor, saya sudah bisa berpindah dr duduk di kursi rumah saya, menjadi duduk manis lesehan di amben bambu  dan bersandar di tiang-tiang kayu gelondong dalam warung Bakmi Bu Gito. Oh ya kalo ad yang tanya dimana lokasinya, bisa cek di google map. Atau kalau Anda dari daerah gedongkuning atau Kotagede, bisa masuk jalan kecil di sebelah “PILAR”, nanti belok kiri di pertigaan yang ada warung baksonya. Warung berkayu-kayu dengan cahaya sedikit temaram itulah tempat nge-bakmi nya.

8847_10200574938950087_1970265875_n

Foto pertama, kameranya jelek. maklum tenaga surya

 

Kedua, kesan pertama memang tidak bisa dibohongi. Sebenarnya kunjungan pertama saya bukan karena memang berniat mencoba atau dapat referensi dari siapapun. It was by accident. Ceritanya hari itu saya kelelahan sehabis berbelanja dengan adik kecil Abidati. tujuan kami adalah Bakso Wonogiri Sari Nikmat yg saat itu terletak di Jl Ki Penjawi. Apa daya kami memang ditakdirkan untuk singgah ke warung lain terdekat (Which is Bakmi Bu Gito) akibat kehabisan bakso. Dan saya bersyukur pada takdir indah Tuhan malam itu yang membawa kami ke tempat makan yang benar.

Saat itu malam minggu, dan hampir semua meja terisi. Kami dapat satu kursi yang cukup untuk berdua yang berhadapan langsung dengan dapur, kasir dan tempat pesan. Adik saya yang tergila-gila dengan serial Api Di Bukit Menoreh, langsung takjub. pertama tentu saja seragam waiter/waitress disini. Semua mengenakan pakaian a la Agung Sedaya yang sering muncul di Cover depan tiap seri ADBM. Yep, Baju garis2 vertikal, beserta blangkon.

Rentang waktu dari memesan hingga hidangan sampai di meja kami memang cukup lama (bisa sampai 45 mins), namun saat itu saya dan adik dalam decak kagum. Kami diiringi musik gamelan atau karawitan atau gending atau apalah (saya masih gak bisa bedain) LIVE lengkap dengan sindennya.

971819_10200913058122855_1760806582_n
pas lagi ada LIVE music malah gak ambil foto. baru moto alat2 pas lagi gak dimainin

 

Seketika keluarlah segala kata-kata asing dr buku ADBM yang sbelumnya hanya ada dalam imajinasi adik saya menjadi nyata. Ia mulai berkicau bahwa ia bisa merasakan apa yang diduduki Agung Sedayu, bahwa ia mulai bisa menikmati cahaya temaram di kedai-kedai, bahwa ia mulai merasa seperti telik sandi yang sedang mencari informasi dengan bergosip di warung makan, dan segala yang sudah saya lupa (Terakhir baca AdBM pas SD). Terang saja setelah itu dia merencanakan untuk menyeret kedua kakaknya yang lain, yang lebih freak terhadap Karya (Alm) SH Mintardja dengan tokoh sentral Agung Sedayu itu.

Api_di_Bukit_Menoreh_1
ambil di wikipedia

Ketiga, tentu saja akibat cerita atau posting atau foto2 saya  yang mungkin lebay dan provokatif, saya akhirnya harus mengawal mereka-mereka yang penasaran untuk turut menikmati santap di dalam mesin waktu ini.

sukses menyeret 2 sodara

sukses menyeret 2 sodara

Keempat dan cukup sering terjadi juga, karna saya sejak menjadi buruh eight to five ini sudah jarang dan malas sekali memasak, even hanya masak nasi. Dengan demikian, setiap tamu (hal ini baru terjadi pada Bapak, Nenek, Paman dan Tante saya, serta sedikit teman) yang berkunjung ke rumah dan melewati waktu makan, terutama makan malam, saya lebih memilih mengajak santap malam a la masa-masa Agung Sedayu ini.

nge teh poci sama bapak

nge teh poci sama bapak

 

Kelima Keenam Ketujuh bisa untuk dijabarkan lagi, tapi sepertinya Anda sudah mulai malas membaca dan diamini oleh saya yang sudah malas menulis juga. Jadi cukuplah ke-4 alasan tadi menjawab pertanyaan Anda. Bagi Anda yang memang tidak bertanya, mungkin bisa jadi referensi dan sekedar informasi saja.

Foto foto sebagian pernah saya unggah di sini. Tapi mungkin sudah banyak tenggelam di bawah postingan lain. Saya yakin Google bisa sangat membantu Anda jika membutuhkan informasi lebih.

Gubug Reyot (Katanya...)

Gubug Reyot (Katanya…)

 

Bareng temen temen, janjian Friday Nite disini

Bareng temen temen, janjian Friday Nite disini



* harga Bakmi Jawa Godog/Goreng (bisa pilih mi campur, atau mi kuning aja ato mi putih aja) @14,000. (Pas kunjungan 24 Jan 2014: Rp. 15,000)
*harga Bakmi Jawa Spesial Godog/Goreng seporsinya 19,000 (pas kunjungan 24/1/14: Rp. 20,000)
*menu makanan yang disediakan selain bakmi diantaranya:
Menu Malam: Nasi Goreng, Magelangan Goreng/Godog, Cap Cay Goreng/Godog, Rica Rica Ayam Kampung, Fuyunghai (saya gak hafal harganya)
Menu Siang: Lotek, Gado Gado, Tahu Kupat, sisanya lupa
Menu Minuman: Teh Panas/Es, Jeruk Panas/Es, Teh Poci, Wedang Uwih, Jahe gepuk gulabatu, Jahe Susu, sisanya lupa
*Jam Buka: 09.00 pagi sampai malam

image

image

Magelangan goreng

Antara Mataram dan Majapahit (busmania)

25 Feb

Sebenarnya ini menyambung posting saya bulan lalu tentang perjalanan saya jadi bus mania sepanjang jogja-lumajang.
Kali ini mau nerusin yang Jombang-Jogja. Saya di Jombang bukan di tengah kota. Malah sangaat pinggiran. Tepat bertetangga dengan Kecamatan Trowulan, Kab Mojokerto. Sudah tau kan ya kalau Trowulan di masa lampau adalah ibukota kerajaan besar berpatih Gadjah Mada: Kerajaan Majapahit.

Saya memilih bus sebagai transportasi utama saya untuk mencapai jogja. Berhubung letaknya yang menjadi jalur utama Surabaya-Jogja, ada 3 bus paling populer yg Alhamdulillahnya sudah merelakan saya jadi penumpangnya.
Here they are:

image

1. Bus Patas Eka 2. Bus Ekonomi-AC Tarif biasa milik Sumber Group. 3. Bus Ekonomi-AC tarif biasa Mira

Sampai sekarang, setiap jumat malam dan minggu malam saya selalu mengenang masa masa jadi busmania. Biasanya pada jumat malam pukul 22.00 WIB, saya nongkrong di sebrang eks Terminal Mojoagung. Letaknya persis di pinggir Jalan Utama Surabaya-Solo. Jalur yang selalu dilewati bus bus dari surabaya ke berbagai daerah di barat.

kenapa pukul 22.00?

Saya beberapa kali mencoba jam jam yg tepat untuk perjalanan dan kesimpulan yang paling tepat ya jam 10 malam itu. Karna bisa tiba di Jogja sekitar jelang subuh. Jam segitu sudah ad yg jemput. Gak kelewatan waktu sholat, dan bisa tidur enak di jalan (kalo bisa tidur).
Pertama kali mudik, saya sehabis maghrib alias jam 19.00 mulai nunggu bus. Tapi akibatnya saya tiba di Jogja terlalu tengah malam. Jd harus pke taxi buat ke rumah. Itu jg kalo bersyukur nemu taxi. Harganya sudah pasti beda dg taxi di jam normal.
Pernah juga stelah jam kantor tepat langsung berangkat. Sama saja nyampainya midnight. Gak nyaman pas di jogja nya. Istirahatnya jg jadi stengah2.
Selain jam tiba yg gak enak, teman seperjalanannya jg agak kurang nyaman. Tau kan surabaya dan sekitarnya banyaak sekali pabrik/lapangan kerja. Jadi pada jam jam segitu sudah sangat pasti bus penuh dengan penumpang yg lelah dengan berbagai ekspresi capai dan aroma.

Nungguin bus malam2 sama siapa?

Saking seringnya nongkrong di pinggir jalan malam malam, saya jadi merasa aman. Sangat aman. Karna segala tukang ojek, pak becak, pedagang asongan, pemilik kios2 rokok dan warung2 kopi sudah sangat hafal dengan saya. Tanpa saya ngomong apapun, kalo dr kejauhan mereka sudah mengenali salah satu dr 3 bus di atas (iya, saya kalo malam gak bisa bedain bus dr kejauhan), langsung kasih tau saya.
Trus kalo ada bus lain yg berhenti dan nawarin saya, mereka2 jg yang jawab ‘mbaknya mw ke jogja koq’, saya jd merasa terkenal. Hahahaha
Kalo ad cowok2 ato bapak2 yg ud keliatan rada gak bener, sama mereka dimarahin.
Kadang2 kalo lagi bosen bus nya gak lewat2, saya ngobrolin apa aja sama mereka biar gak bosen.
Ya bayangin aja donk malam2 jam segitu di pinggir jalan ramai pula.
*jadi kangen mereka semua

EKA, Bus Cepat

Kalo boleh memilih, saya paling suka bus ini. Kursi lega. Gak banyak brenti di banyak terminal. Seharusnya jg gak naikkan atau nurunkan penumpang sih di sembarang tempat. Tapi kalo kuota kursi masih kosong, EKA bisa aja di stop di pinggir jalan macam saya.
Meski tampak luar hampir mirip karena masih satu perusahaan, Eka dan Mira sama sekali berbeda. Ini salah satu contoh perbedaannya.

image

Kelasnya EKA memang jauh lebih baik dari MIRA. So pasti tarifnya juga. Sebelum kenaikan BBM Solar 2013 , tarif Mojoagung-Jogja untuk EKA adalah Rp. 64.000 (sama dg Surabaya-Jogja). sementara MIRA cukup 32.000 saja (tarif Mira selalu sama dengan Sumber Group).
Fasilitas di bus EKA selain AC, adl seat 2-2, Wi-Fi (lebih sering gak ada nya), dan voucher makan+minum di RM Duta Ngawi. Selain itu, ketika kita baru duduk di bus, langsung diantarkan satu air mineral gelas. Juga, EKA gak naikkan penumpang lagi kalau kursi sudah penuh. Jadi ojsigen kita2 sebagai penumpang, insya Alloh terjaga karna gak berebut sama penumpang yg berdiri2.
Karna tarifnya yang lumayan, dan susah banget dapetnya di weekend apalagi long weekend, saya jarang pake EKA buat ke Jogja nya. Tpi kalo dari Jogja nya, saya usahain selalu pake EKA. Karna saya berangkat di Minggu malam yang otomatis baru nyampe senin subuh, yang harus dilanjut kerja. Jadi paling nggak saya harus istirahat cukul walopun di perjalanan. Sempat beberapa kalu pake Non EKA buat balik ke jombang, dan hasilnya sepanjang senin saya ngantuk luar biasa plus pegel2. (Gaya banget yak).

MIRA, Saudara Tapi Beda

Masih satu saudara sama EKA, tampilan luar Mira emang mirip banget sama EKA. Tapi namanya beda kelas ya, MIRA ini jenisnya Ekonomi AC selayaknya bus bus Surabaya-an. Baik Mira maupun SK group, sama sama majang tulisan di depan: “AC Tarif Biasa”. Jadi walaupun dengan fasilitas AC, tarif penumpang tetap tarif bus ekonomi biasa.
Kalau naik Mira di jumat sore atau malam ke arah barat, jangan banyak berharap dapat kursi. Jangan juga berharap bisa ngerasain semriwingnya AC. Karna itu adalah saat saat puncak penuh penuhnya bus. Untungnya sih karna AC, jadi tidak boleh merokok di dalam. Jadi walo mungkin pegel2 dikit dan berebut oksigen, gak ada tambahan efek berasap asap.
Mira memang gak seperti EKA yang menetapkan jumlah maksimal penumpang = jumlah kursi. Jadi kalo siap dg segala resiko, nikmatin ajah.
Fasilitas lain di bus ini, delivery berbagai makanan dan minuman (baca: pedagang asongan). Pernah naik pas Romadhon, jam2 buka puasa gitu banyak yg jual buah2an seger. Mira seinget saya sih gak pke istirahat atau makan di manaa gitu. Jd kalo perjalanan jauh siapin aja kebutuhan perutnya yaaa.
Terakhir naik untuk Mojoagung-Jogja Rp. 38,000 (Juli 2013).

Sumber Group atau Eks Sumber Kencono

Bus ini legendaris banget. Kenapa? Dulu dengan nama lawas nya Sumber Kencono, termasuk bus yang sering masuk pemberitaan karena sepak terjangnya. Penasaran? Coba aja googling pake keyword ‘Sumber Kencono’. Di halaman muka banyak deh berita2 yg lumayan cukup bikin banyak orang takut naik bus ini.
Tidak jarang Sumber Kencono (SK) akhirnya diplesetkan dengan mengganti K dengan B. Mungkin itu mengapa Sumber Group sebagai perusahaan armada ini mengganti nama bus nya menjadi Sumber Selamat dan Sugeng Rahayu (SR).
Kalo saya sih lebih suka seat nya SK ini. Sayangny saya gak nemu gambar nya di search engine halaman awal2. Pengalaman pertama saya dengan bus ini cukup menyenangkan. Tarif dan fasilitas bisa dibilang sama dengan Mira. Cuma sensasinya memang sedikit berbeda. Apalagi kalau berkesempatan dapat kursi tepat di belakang pengemudi yang bisa dengan jelas melihat layar raksasa di depan. Seru bangeeeeet (kalo gak mau dibilang menguji adrenalin dan menambah kadar keimanan). Tapi ya saya mengalami ‘keseruan’ yang seperti itu gak sering2 banget sih. Saya taunya kalo pakai armada ini, jarak tempuh jadi lebih cepat walopun berhenti di banyak terminal.
Yang menyenangkan dari armada ini menurut saya penumpang2nya. Hampir selalu tiap saya naik, pastinya gak dapat kursi ya. Tapi begitu bayar ongkos le Kondektue dan ngomong tujuannya
“Jogja”,
Tinggal nunggu aja beberapa menit, selalu ada orang baik hati yang berdiri dan kasih kursi ke saya.
Seburuk2nya pengalaman gak dapat kursi, pasti ada yg ngasih tau penumpang mana bakal turun di mana. So, saya bisa gantiin.
Kadang insom saya jg kambuh kalo lagi di bus ini. Jadi sesekali ngobrol sama kernet/kondektur. Sesekali ngobrol sama orang sebelah yang profesinya macam2. Atau kalo lagi iseng, saya pindah pindah kursi. Hihi. Terutama kalau semakin malam kursi2 semakin kosong. Jd bisa duduk di seat yg untuk 3 orang buat sendiri n tidur enak. ;p

Macam macam cerita yang saya dapat di perjalanan. Mulai cerita hantu dr obrolan pak supir, cerita geje mahasiswa, bapak2 yg cerita anaknya smp nangis2, ibu2 yg curhat anaknya, yg ngorok, yg maksa jajanin saya oleh2, de el el.

Kangen sih setelah semua cerita lucu perjalanan yang seperti itu.

Sekarang perjalanan saya cukup dengan sepeda motor selama satu jam. Ceritanya tidak sebanyak perjalanan dengan bus memang. Tp tenaga dan energi jauh lebih irit.

Eniwei, selamat tanggal 25 yaaaaa 😉

Foto foto ambil di SINI dan SITU (terima kasih)

Tarif Bus Sumber Group (biasanya sama dengan Mira), Ekonomi AC

image

Dari fanpage Sumber Group

Seharian Ngapain Aja?

31 Jan

Long weekend, seperti saya sebutkan di bio, selalu saya rindukan. Dan gimana sih rasanya kalo rindu itu terbalas? Seneng donk ya dan saya sudah punya plan buat touring bareng Schofield dengan titik stop 3 kota dalam 2 hari (sip kedengerannya keren yaa). Kota-kota yang cuma lewat doank alias gak masuk titik stop tidak dihitung yaa. Hari terakhir buat istirahat total.
Mengingat kondisi cuaca dan rute serta jam terbang yg cukup padat (sok keren lagi), saya sudah berusaha menyiapkan fisik yg prima bagi pengendaranya dan tunggangannya.
Sayang seribu sayang, saya malah gak bisa share perjalanan yang mungkin bisa jadi asyik bisa jadi mbosenin itu di blog ini. Karna ketika bangun dini hari Kamis (pukul 2.30 WIB), suhu tubuh saya cukup tinggi. Saya mati-matian berusaha menyangkal kalo saya sedang tidak sehat dengan tetap menjalankan aktivitas kantor. Tapi fisik saya menolak. Saya terkapar (kerennya memudar jadi cemen).
Kamis sore, stelah segala tetek bengek kantor usai, setelah makan banyak dan merasa sehat, saya balik ke jogja bareng Supri ( 55 menit). Membatalkan segala rencana indah yang sudah disusun. Fisik saya menuntut istirahat total.

image

Kenaliiin ini Suprii teman jalan saya

Pagi tadi, saya bangun kepagian dan bingung mau ngapain. Akhirnya memutuskan untuk jogging dan mencari kesempatan hirup oksigen segar dengan rakus. Niatnya sih sekalian kasih hak buat perut aku (ngomong cari sarapan aja ribet).
Lagi lagi sayang seribu sayang, sudah 1,51 km ditempuh baru sadar kalo gak ad rupiah yang ikut saya bawa. Kebiasaan buruk yang gak hilang hilang, suka ketinggalan duit. Hikz. Pulang dengan masih lapar dan kaki lecet gara gara saya malah pake sepatunya Qolbiy. Masak nasi dan bongkar2 kulkas buat cari alternatif lauk. Nunggu nasi mateng sambil baca baca.

image

Nyampe sini baru sadar gak bawa duit. Langsung rombak rute

Part sedihnya sudah lewat. Untunglah saya memiliki teman teman yang luar biasa baiknya. Saya yang lagi bengong sendiri di rumah, ditinggal adik saya liburan ke Kalimantan dan Kakak saya liburan ke Solo, gak kesepian karna mereka main ke rumah. Sembuh donk ya saya nya.
Siangnya, karna di rumah sudah saya habisin semua makanannya, kami makan siang di Sop Ayam Pak Min dan malah ketemu kakak tingkat saya jaman kuliah yg skarang aktif banget di Pesantren Menulis.
Selanjutnya iseng mampir ke Yogyatourium Dagadu Djogja yg emang deket dari rumah. Entah saya selalu seneng aja kalo kesini. Walo dari sekian kunjungan, baru 2x beli beneran produk Dagadu disana ;p.
Ternyata karna usianya kini 20 tahun (tuaan saya dikit), sepanjang jalan menuju parkir belakang gedung gitu dipamerin donk desain2 kaos Dagadu sejak 1994 sampai 2014. Jd semacam nostalgia gitu kan yah. Sekalian juga buat referensi biar tau kalo ad yg pke Dagadu gambar apaa gitu jd tau beli nya taun berapa (eh gak penting ya?). 😉
image

image

Bagian dalamnya Yogyatourium.

image

Ini nih sebagian yg dipamerin dari desain2 Dagadu sejak 1994-2014. Abaikan objek berbaju merah

Jadi sekarang saya sudah selesei ngeteh2 cantik sepoci sendiri sambil cap cip cup milih buku apa yg mau diajak nemenin malam ini.
Itu ceritaku, bagaimana hari liburmu?

*maafkan kualitas gambar yg jelek ya. Uploadnya susah

Bus Mania episode Jogja-Lumajang

4 Jan

Tahun lalu, saya sempat bertugas di area jawa timur. Awalnya di Surabaya (masa training) dengan sangat singkat, lanjut Lumajang (terletak antara Probolinggo dan Jember), selanjutnya paling lama di Mojoagung, Jombang (perbatasan Jombang-Mojokerto). Dengan rasa memiliki Jogja sebagai hometown (padahal bukan), saya ketika bertemu long weekend memilih Jogja sebagai destinasi ‘mudik’.
Sempat bingung dengan moda transportasi apa yang sebaiknya saya pilih untuk mudik. Mengingat jam mudik saya menyesuaikan selesainya tutup kantor (yang bisa fleksibel dan elastis banget). Sehingga dengan Kereta Api yang jelas terjadwal, sepertinya bukan jodoh saya.

*Posting kali ini saya khususkan untuk nostalgia Jogja-Lumajang dulu*

Saya hanya menghabiskan waktu singkat di Lumajang, 3 Oktober 2012 hingga pertengahan Desember 2012. Lucky me, di waktu sesingkat itu saya bisa dapat 2 kawan mudik jadi bisa sama-sama hunting tiket bus yang paling aman dan gak oper oper.  Kala itu sasaran kami Rosalia Indah. Beberapa kali mudik dengan PO ini, saya sampai yakin untuk daftar member meski akhirnya tak kesampaian. Saat itu tarif Rp. 115.000 di non weekend (saya sering berangkat kamis malam) untuk jarak Jember-Jogja dan Rp. 125.000 untuk weekend. Lumayan, tdk perlu pusing oper2, tinggal duduk manis berselimut dan berbantal. Makan tengah malam disediakan di Rumah Makan Padang Sederhana (saya lupa daerah mana).
Sayangnya tiket PO ini sulit sekali didapat di long weekend. Sudah 2 kali saya tidak dapat tiket Jogja-Lumajang, sehingga saya harus sedikit mencoba alternatif lain.
Pengalaman pertama saya jd penumpang Bus AC ekonomi Mila Sejahtera dengan tarif Rp. 65.000 untuk Jogja-Lumajang. Lumayan pengiritan. Tp saya kurang menikmati perjalanan karna sejak pukul 18.30 dari Jogja hingga sampai tujuan 05.00 saya sukses tidur. Yang saya tahu, setiap terjaga penumpang disebelah saya sudah berganti.
Cara lain saya coba dengan pengalaman pertama ber EKA, bus AC ber wifi, komposisi duduk 2-2 dengan ketentuan 1 seat per 1 penumpang. Jadi jika kursi penuh, tidak lagi mengangkut penumpang. Saat itu untuk Jogja – Surabaya dikenakan tarif Rp. 68,000 bonus Air mineral gelas plus paket makan di RM Duta Ngawi. Tiba di Terminal Bungur pukul 00.30, saya melanjutkan dengan lagi lagi Bus Mila tapi kali ini yang Patas. Estimasi perjalanan normal menurut pengalaman saya 4 jam. Jd saya sudah siap2 istirahat manis di bus yang cukup nyaman ini. Tarif pastinya saya tidak ingat, mungkin sekitar 40ribu sekian. Rupanya bus tiba di tujuan saya terlalu cepat. Pukul 03.00 saya sudah celingukan dg wajah bengong baru bangun tidur di depan Terminal Wonorejo Lumajang, dengan asap hitam bus yang melaju kencang menampar saya.
Setelah kedua pengalaman itu, saya jadi bertekad untuk gak kehabisan tiket lagi. Terlalu merepotkan dan ummmmm mungkin menimbulkan kekhawatiran pada orang2 terdekat saya. Membayangkan saya jadi anak ilang dari terminal ke terminal di jam jam tidak normal.

Pekan kedua Desember, saya mendapat tawaran untuk pindah tugas di Mojoagung, Jombang. Saya hanya kenal nama itu di google map. Namun jiwa muda saya (ceileh) saat itu ingin mencoba hal baru, sehingga tawaran tersebut saya ambil. Berbekal instruksi dari calon bos di Mojoagung (Jalan Raya Solo-Surabaya, jika dari barat letaknya tepat sebelum masuk Trowulan, Mojokerto), saya memesan tiket Rosalia Indah jurusan Jember-Jogja. Satu satu nya kendaraan yang saya tau tidak harus oper oper. Beberapa travel yang saya hubungi hanya bersedia mengantar hingga Surabaya. Sementara masih diperlukan perjalanan 1,5 jam ke barat  dari Surabaya untuk sampai tujuan. Tarif Rp. 90.000 untuk Jember-Jombang sempat bikin saya pengen kabur sekalian ke jogja. *hihihi, habis nanggung amat.*. Saya mewanti wanti Pak Supir, Kernet dan Kondektur untuk membangunkan dan menunjukkan saya sebuah tempat bernama Terminal Mojoagung. Ternyata sejak di Brangkal Mojokerto saya sudah dibangunkan dan pada 00.30 saya tiba dengan selamat di depan mess perusahaan, tentunya dengan bantuan Pak Becak bertarif Rp. 10,000 (belakangan saya baru tau tarif normalnya Rp. 5,000). Saya terlalu lelah dan tidak siap nongkrong di terminal pinggir jalan raya Surabaya-Solo untuk menunggu jemputan.
Menjadi warga Mojoagung selama Desember-July, episode baru dimulai, cerita cerita perjalanan pun berganti. Namun jenis kendaraannya tetap sama, saya Bus Mania apapun kelasnya 😉

*Tarif Bus EKA terakhir saya menjadi penumpang Surabaya-Jogja Rp. 82.000