Tag Archives: jawa

Surakarta

31 May
image

Museum Pers dijadiin Background. +/- 1 Km dr Stasiun Solo Balapan

Pernah berada di kota asal presiden negri ini selama rentang 2001 hingga 2007, membuat saya tak lagi asing dengannya. Kota yang menyenangkan dengan penduduk yang ramah selalu berhasil bikin saya kangen. 6 tahun bukan masa yang sebentar, meski hingga sekarang masih sulit bagi saya menghafal jalanan di sana. Setiap kali saya kembali, seperti ada nostalgia di setiap sudut sudut yang sempat begitu akrab dengan saya pada tahun-tahun silam.

image

Dari musholla salah satu mall

image

Stadion Sriwedari, pas kesini barengan sama Persis Solo latihan

image

Masjid Agung Surakarta. Berdekatan dg Pasar Klewer dan Kraton

Hampir 8 tahun sudah lewat sejak saya tak lagi tinggal di sana. Tentu banyak sekali perubahan. Jumlah mall yang semakin banyak, jalanan yang makin ramai kendaraan, gedung gedung tinggi yang dibangun, serta aneka kegiatan-kegiatan unik. Sehingga datang kembali ke Solo, tak lagi menghadirkan nostalgia seindah dulu. Tak terlalu banyak sudut-sudut yang dapat menceritakan ulang kenangan manis masa lalu.

image

Kraton Kasunanan Surakarta,

Ah, ternyata seperti Yogyakarta, aku merindukan Solo yang dulu. Yah walaupun di kedua nya saya sama sama pendatang sih.

image

Pasar Klewer, sisi yang terbakar

image

Masuk Keraton

image

Siti Hinggil, masih kawasan Keraton

image

Museum Pers lagi

image

Capek jalan jalan, ada es cendol segerrr

*Akses menuju Solo sangat mudah. Dari Timur, dpt menggunakan kereta api atau bus yang tersedia 24 jam. Dari Barat juga dilalui banyak kereta api dan bus. Dari Utara juga demikian. Terdapat Airport Adi Sumarmo (SOC) atau jika tdk ada rute langsung bisa turun di JOG dan dilanjut Kereta Api (“45 menit) atau bus.
*Banyak tempat wisata di Solo. Wisata budaya, wisata alam, maupun wisata belanja
*saat malam minggu bisa berburu kuliner di Ngarsopuro, Minggu pagi bisa olahraga di Car Free Day sepanjang Jl Slamet Riyadi, atau jalan jalan di pasar pagi Stadion Manahan. Ada juga event tahunan seperti Solo Batik Carnival, Solo International Performing Art.
*ini postingan ngumpulin foto2 yg sudah dipublish di instagram sebelumnya. Sengaja yang ditampilkan tidak dalam bentuk utuh, supaya kamu lihat sendiri nanti yaaa 🙂

Advertisements

Cahaya Surga di Goa Jomblang

12 Feb

gak kerasa udah hampir weekend lagi aja. perasaan baru kemarin heboh heboh galau malam senin. Iya, sebagai kaum single, saya gak galau galau di malam minggu, saya cuma galau di malam senin. HIH banget kan.
image

Nah, weekend depan bisa jadi long weekend tuh. Ada tanggal merah nyempil di hari kamis. Sudah ngerencanain liburan belum? Hah? Belum? sama. ;( Lagian kenapa juga long weekend di tanggal yang tidak tepat. Tanggal hancur-hancurnya dompet seorang buruh dengan perencanaan keuangan yang buruk macam saya. skip aja deh, lama-lama jadi kebanyakan curhat.

Baiklah, di sini cuma mau kasih rekomendasi yang bisa kamu lakuin di lhari libur yang anti-mainstream aja.

Bulan lalu, saya diajakin blogger kece Mb Rinta Adita buat caving di Goa Jomblang. Goa Ngehits yang konon katanya fenomena alam seperti ini cuma ada 2 di dunia. Bersyukur sebagai warga Indonesia, kita punya satu, tepatnya di Gunung Kidul, Yogyakarta.

Goa Jomblang atau Luweng Jomblang adalah sebuah Goa vertikal yang memiliki Hutan Purba di dasar goa. Untuk masuk ke dalamnya, kita akan turun dengan seutas tali, nama kerennya SRT (single rope technique) . Gak perlu takut, karena meskipun terjunnya sampai 60 meter, semua peralatan sudah teruji keamanannya dan tersertifikasi internasional. Gak perlu ngerasa kesepian juga sih, karena turunnya tandem berdua-berdua. so sweet, kan. Sampai di bawah pun sudah ada pemandu yang bakal nemenin kita susur gua nya. Naik kembalinya pun kita bakalan digantung berdua dan ditarik dengan tenaga 10 manusia. Luar biasa jadi ngerasa bersalah karena berat badan saya kayanya cukup menyusahkan.

image

Perlengkapan

image

Setelah mendarat di hutan purba, kita bakalan treking dikit katanya sih 300 meter. tapi karena saat itu (dan saat ini) musim hujan, jalanan yang licin dan becek cukup bikin repot juga. Kemudian, masuklah kita ke dalam lorong gua menuju Luweng Grubug. Jalannya sendiri selo aja. Plus gak panas dan ada suara gemericik air yang menenangkan. sampai kemudian tibalah di Luweng Grubug.
image

image

Cahaya Surga nya mulai kelihatan

Kalo pada bilang ini cahaya surga, gak salah deh. Ray of Light nya kerren bangeet. belum lagi buat berfoto di lokasi ini, ngelewatin batu-batuan yang terbentuk ratusan hingga mungkin jutaan tahun. Juga ada sensasi gerimis dari tetesan batu-batu karst di ujung luweng bagian atas, searah dan seirama dengan cahaya surga nya. Sensasi yang tak terbayarkan banget.
image

image

I Feel Free

masih gak mau ke sini?

*Goa jomblang terletak di Desa Jetis, Kec. Semanu, Kab. Wonosari, DI Yogyakarta

* Untuk mencapai lokasi, menggunakan kendaraan pribadi sekitar 90 menit dari Kota Jogja

* Banyak EO yang menyediakan paket trip Goa Jomblang sekalian antar jemput dari lokasi kita masing-masing. Trip lalu kami pakai equator Indonesia, dengan harga 650rb/orang full day trip. maksudnya selain ke Jomblang, juga bisa mampir2 ke tempat lain dan dianterin balik lagi sampe malam (seharian dan all in).

* Waktu terbaik mengunjungi Goa Jomblang atau waktu tiba di Luweng Grubug adalah pukul 11.00-13.00 karena ROL lagi bagus-bagusnya.

*ada baiknya reservasi dulu, karena pengunjung dibatasi setiap harinya.

*lebih bagus sedia kamera waterproof dan dustproof, tapi sekalipun bawa kamera biasa (saya bawa NX1000), dijaga supaya tetap aman dari air dan lumpur ya. Bisa menggunakan case extra atau cara penjagaan lainnya. Sayang banget kan apalagi kalo sampe kebanting dari ketinggian 60 meter.

*baca juga postingan mba Rinta Adita Goa Jomblang, Journey to the center of the earth

Swallow Summit : Gunung Api Purba Nglanggeran

24 Dec
Thanks God I Travel 2014

Thanks God I Travel 2014

Dua yang populer begitu disebutkan kata Nglanggeran. Yap. di kawasan ini ada Gunung Api Purba dengan view dari ketinggian yang kece, dan embung nglanggeran yang bikin efek matahari seperti bercermin kalo lagi sunset. Lama sekali gak kesampaian buat nginjek Gunung Purba nya, minggu lalu akhirnya kesampaian juga.

SAMSUNG CSC

Musim hujan begini sebenarnya bukan ide bagus sih buat mainan outdoor. Buat antisipasi hujan dan mungkin kabut, hari minggu kemarin kami siapin sandal jepit. Lah koq ternyata malah akhirnya sandal jepit ini lah yang kami pakai terus-menerus dari naik sampai turun dan balik ke rumah. jadilah fun tracking Gunung Purba nya kemarin kami namakan “Swallow Summit”.

swallow summit. sandalnya sampe kotor

swallow summit. sandalnya sampe kotor

Main ke gunung ini, tidak bisa dibilang mendaki gunung sih. Estimasi waktu yang diperlukan buat naik rata-rata 1 jam saja. Itu kalo dari pengalaman saya kemarin sudah termasuk istirahat berkali-kali. Meski tidak seperti mendaki gunung, tetep ada tantangan seru nya yang sayangnya gak semua nya saya dokumentasikan.

istirahat di gazebo. foto by tavis

istirahat di gazebo. foto by tavis

Pertama naik, santai saja karena ada banyak penunjuk rute dan tiap beberapa langkah banyak tempat-tempat untuk istirahat. Medan yang harus dilewati juga bermacam macam. Ada yang jalanan nanjak biasa, ada yang bertangga-tangga, ada yang harus pegangan tali buat manjatin batu, dan yang seru banget kayanya cuma ada di sini. Dua batu raksasa yang hampir dempetan, dan kita harus ngelewatin tengah-tengahnya, nanjak pula. Alhamdulillah masi bisa lewat berarti saya masih cukup langsing, kan.

ancang-ancang mau nyempil di antara dua batu besar

ancang-ancang mau nyempil di antara dua batu besar. poto by. Vitri

Cape nya lumayan sih bagi saya yang pemalas olahraga dan jarang jalan ini. Tapi yang bikin cape nya gak kerasa itu, setiap langkah dan nyembul di ketinggian, selalu ada view cantik yang seger banget buat mata. Sampai akhirnya kami sampai juga di puncak nya. Yey!

finally here

finally here

tebing

tebing

Sayangnya belum lama kami leyeh-leyeh di atas, kabut semakin dekat dan akhirnya sekitar kami menjadi putih. Khawatir kalau nanti makin gelap sementara tidak ada dari kami yang bawa peralatan yang beres buat menghadapi kabut, segera lah kami turun (setelah foto-foto dulu tentunyaah).

Merah-Putih, seperti swallow ku

Merah-Putih, seperti swallow ku

SAMSUNG CSC

Berhubung kemarin rasanya cepet banget dan belum cukup banyak kulakan foto, mungkin kapan-kapan perlu ke sana lagi deh. Ada yang mau ngajakin?

halo kakakkk, ajak maen yuk. tertanda Saya Adik

halo kakakkk, ajak maen yuk. tertanda Saya Adik

* Gunung Api Purba Nglanggeran terletak di Desa Nglanggeran, Kec. Patuk, Kab Gunung Kidul, Prop DI Yogyakarta

* untuk mencapai lokasi, dari Kota Yogyakarta melalui Jl Wonosari ke timur, setelah Polsek Patuk, lurus saja lagi sampai menemui pertigaan (ada jembatan) dengan papan penunjuk jalan “Nglanggeran”. ikuti jalurnya dan ikuti setiap papan penunjuk ke Embung/Gunung Purba. jika bingung, tidak yakin, atau tersesat, silahkan bertanya

jika dengan kendaraan umum, menggunakan Bus Jogja-Wonosari, turun di Patuk, disambung ojek.

* retribusi masuk di siang hari, Rp 7,000/orang dan parkir sepeda motor Rp. 2,000. buka juga pada malam hari dengan penyesuaian tarif (saya gak tau detilnya)

*tidak disarankan menggunakan sandal jepit seperti kami, karena jalanan yang licin dan resiko kepleset juga tidak disarankan menggunakan stiletto.

*saat ke sana, kami menemukan banyak sampah yang ditinggalkan pengunjung yang akhirnya turut kami bawa ke bawah, jadi kalo kamu yang ke sana, jangan ikut2an nyampah ya.

#CHSA: Lebaran Su Dekat

20 Jul

Buat yang belum tau, #CHSA itu singkatan dari Cacatan Hari Senin Aqied, yang publish perdana senin minggu lalu. Isinya sih suka suka saya aja. Intinya say hai to monday seperti yang sudah sudah.

Senin ini senin terakhir ngantor di bulan Ramadhan. Alhamdulillah berarti libur kian dekat. Tapi sedih juga pake banget. Kenapa?
Karna kenapa Ramadhan cepat banget berlalu sementara saya belum ngapa-ngapain sepanjang bulan istimewa ini. *menangis, kmudian ngumpet di mesin waktu doraemon.

Lebaran kali ini berbeda dengan tahun lalu. Di tanggal segini tahun lalu, saya sedang ribut kelimpungan ubah rute dan jadwal pesawat karna rencana saya berubah total. Dari yang tadinya diniatkan berangkat dari Surabaya, harus diubah jadi berangkat dari Yogyakarta. Alhamdulillah penerbangan ke luar jawa cukup mudah meski harus nambah harga yang lumayan buat bayar listrik satu tahun.

image

Kangen Lautnya Papua

Tahun ini, saya gak ke Papua seperti tahun lalu. Tidak bisa menikmati lebaran meriah dan menyenangkan di sana. Bagaimana tidak menyenangkan, dengan mayoritas penduduk muslim adalah pendatang, lebaran jadi menarik dan mengenyangkan.
Silahkan sesekali main di Kota Sorong, Papua Barat saat lebaran. Setiap rumah menyajikan makanan khas daerah masing-masing. Bertamu di pendatang asal Palembang, akan disapa dengan pempek. Ke  orang Jawa ada ketupat dan opor. Ke orang Bugis ada buras dan coto makassar, bisa juga pisang ijo, pisang epek, atau lainnya. Ke orang Ambon bisa disuguhi papeda. Indah sekali, bukan? Wisata kuliner keliling Indonesia tersaji dalam paket lengkap bernama Lebaran Idul Fitri.

Tentu saya juga yang tidak selalu berharap dapat suguhan seperti itu terus. Jadi kalau kemudian saat berkunjung bisa dapat itu semua, rasanya sangat bahagia.

image

Bakar ikan. Ikan laut di sana fresh banget

Selain makanannya, kekerabatan saat lebaran terasa sekali. Di rumah orang tua saya, tamu tak berhenti bahkan bisa hingga seminggu. Berbeda dengan lebaran yang saya rasakan di jawa. Kebanyakan silaturrahim hanya ke tetangga terdekat dan yang masih memiliki ikatan keluarga saja. Jarang saya temukan kunjungan silaturrahim dari rekan kerja, rekan satu pengajian, rombongan murid ke guru-guru nya, atau bahkan sekedar kenalan saja.

Tidak jarang juga tamu-tamu cilik yang datang. Ada lucunya juga ketika mereka kemudian sibuk membahas hasil studi banding hidangan tiap rumah yang mereka kunjungi ramai-ramai. Ada juga anak-anak yang mungkin tidak kami kenal, datang berombongan mengelilingi kompleks perumahan. Sudah tentu mengumpulkan apa yang biasa disajikan tiap rumah. Terutama yang bisa mereka bawa pulang seperti softdrink kalengan, kotak, atau gelas. Atau snack-snack yang berbungkus. Pendapatannya tentu cukup banyak melihat dari kantong plastik yang mereka tenteng.

Ah ramai sekali…

Saat shalat eid adalah momen paling bahagia dan mengharukan bagi saya. Papua Barat, ujung timur negri ini, dapat mengumpulkan jamaah ribuan banyaknya di beberapa titik. Lapangan Batalyon TNI Yonif 752, tempat favorit saya untuk sholat Eid, kerap tak cukup menampung jamaah. Tak peduli saat lapangan becek atau panas terik, jamaah tetap khusyu’ dalam syahdunya Idul Fitri. Tak cukup di lapangan, ada yang tersebar hingga ke jalan, hingga yang di emper bangunan bangunan sekitar lapangan.

image

Lapangan Batalyon Yonif 752

Lebaran kali ini, mungkin akan sangat berbeda dengan yang saya tulis itu. Saya tdk berada di Papua 1 syawal besok. Saya akan kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. Shalat Eid berkawan hawa dingin di kaki gunung merbabu. Menikmati sajian makanan khas kampung, berkirim ucapan lebaran, dan mungkin menghadapi beberapa pertanyaan kepo.

image

Hello Merapi dan Merbabu

Omah Ndeso

28 Mar

Di deket kantor saya (yang rada pelosok ini), ada tempet makan yang sebenernya sudah lumayan sering saya datengin. Dari dulu kepikiran buat bikin posting tentang ini tapi gak punya stok poto yang rada menggoda jadi gak bikin bikin.

Emang sekarang ud punya?

Belom juga sih, cuma daripada kelamaan malah lupa.

Rumah makan ini namanya “Omah nDeso”, atau nama lainnya “Rumah Makan Mbak Diah”. Lokasinya di sekitaran pusat keramaiannya Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten. Lumayan jauuuh lah masuknya kalo dr jalan utama Solo-Jogja.

Meskipun blusuk, tempatnya lumayan kece badai. Apalagi menu nya macem2 plus harganya cucok banget sama kantong buruh macam saya.

image

Alternatif tempet makan yg bisa dipilih

Menu yang disediain ya masakan nusantara, menyempitnya lagi ke masakan jawa. Secara letaknya di antara Solo dan Jogja, beberapa makanan khas kedua daerah tersebut bisa ditemui dimari.

Ada beberapa jenis tempat makan disini. Yang pake meja kursi kayu layaknya di rumah makan. Yang mau pke meja kursi juga tp kena angin silir silir, bisa pilih kursi warna warni dipinggir kolam (gambar di atas). Ada juga yang lesehan rada besar dg meja meja. Ada juga yg dibikin gazebo kecil kecil. Mungkin bisa muat sampai 6 orang an

image

Yang unyu, ada juga tempet makan yg tinggi. Jd bisa buat mojok di ketinggian sambil ngeliatin yg pd mojok di bawah (apaan sih bahasa nya)

Langsung aja soal menu. Disini harga nya masuk akal banget koq. Saya aja pernah pas kelaperan pesen 2 menu sekaligus karna masih on budget. Itu sih versi saya ya. Jelasnya lihat disini:

image

image

Memang sih, gak semua menu disini recommended. Contohnya buat menu2 minuman yg ternyata kopi2annya itu dr kopi sachet biasa.
Selain itu kalo kemari saran saya gak usah lah mesen nasi gorengnya, juga menu2 yg aneh2. Mending yg jawa banget. Misal, Selat Solo, Asem2 kikil, Timlo, menu bakar2an, de el el. Dengan harga segitu dan suasana yang asyik, cukup lumayan koq.

image

Selat Solo, Nasi Uduk Bebek Goreng

Yang kurang menyenangkannya juga, pelayan disini gak semuanya ramah. Saya pernah malam2 kesana pas rame2nya jg sih pelayannya cemberut.
Saya “cemberut amat, mas. Mbok senyum”
Masnya “lha kesel e, mb” (capek, mba). Tapi akhirnya jd senyum.
Kadang juga kalo lagi rame, dianterinnya lamaaaaa bangeet. Kalo ud kelaperan jd suka gak sabar. Tapi kalo lagi sepi, atau ke bangunan yg di sebrangnya bisa cepet n gak nyebelin koq.

image

Oya satu lagi asyiknya disini. Kalau misal mau ngadain acara ato make tempetnya buat seharian (misal dari 09.00-15.00), selama di luar weekend, gak dikenain Charge looh. Jd ya selayaknya makan rame2 di situ aja. Gak ada biaya sewa nya.
Buat yang kebetulan lagi di sekitara Klaten utamanya Kecamatan Pedan, Ceper, Cawas, Trucuk, Karangdowo, dll, kalo lagi males masak di rumah, bisa lah ngungsi kemari.

image

Poto ini diambilnya di Omah nDeso juga

Bisa Bahasa Apa?

26 Feb

Saya bukan pakar bahasa. Tau banget lah baca blog saya ini bahasa indonesianya aja masih gak benernya lebih banyak dr yang bener. Bahasa lisan (gak bahas bahasa tubuh, bahasa kalbu, dan semacamnya ya) yang pernah saya kenal ada beberapa. Dan setelah saya renungi di malam yang sunyi dan bertanya pada bintang dan rumput yang diam (lebaaaayyy, kemudian di skip gajadi pada baca), ternyata saya gak menguasai satu pun bahasa yang ada di dunia ini, pemirsaaah.

1. Bahasa Indonesia
Tau program acara TV yang namanya “BINAR” alias Bahasa Indonesia Yang Benar? Gak tau? Kudeeet…..!!
Oke sip. Jd acara ini ngasitau gitu gimana bahasa kita nih bahasa yang diperjuangkan para pemuda di Sumpah Pemuda yang BENAR.
Apa hasilnya setelah gak sengaja nonton? Saya semakin menyadari betapa saya pun tidak berbahasa negri sendiri dengan benar
Sejak SD saya gak suka pelajaran Bahasa Indonesia. Berlanjut sampai seterusnya. Saya suka nya di buku pelajaran ada review novel ato cerpen2 lama aja. Lainnya gak suka. Kacau lah saya.
Di ponsel saya install aplikasi KBBI, setidaknya bisa menyadarkan saya bahasa negri sendiri.

2. Bahasa Inggris
Kenal bahasa ini sejak kecil kali ya. Di TV dan segala alat elektronik kan ada ON dan OFF. Nah dua kata itu doank yg saya tau. Hihihi.
Mulai dapet pelajaran bahasa inggris pas SD di Papua. Kelas 3 SD. Lumayan pas SMP ud tau dikit2.
Berhubung SMP nya di asrama yang salah satunya pake bahasa ini, mau gak mau belajar deh. Dilanjutin pas SMA kelas 2, saya merintis karir dg ditunjuk jadi salah satu Tim di Lembaga Bahasa. Otomatis saya kudu lebih sok cas cis cus dibanding yang lain.
Kerjaan saya sih dulu bikin pentas berbahasa asing, lomba2 pidato, baca berita, siaran, drama, opera, bikin majalah dinding, bikin artikel yang semuanya berbahasa asing. Keren banget kedengarannya. Itu kerjaan yang paling gampang sih. Secara kerjaan di Lembaga Bahasa yang lain lebih ribeeet n rutin harian/mingguan. Kalo lomba n pentas kan insidental.
Trus pas kuliah, masa2 skripsi saya juga sempet ikutan Kursus Ekstensi Bahasa Inggris di salah satu kampus. Lumayan banget bisa sampe 3 semester (gak sampe lulus, hiks). Pengajarnya juga oke2 beud. Selain itu mungkin karna langganan TJP jg kali ya jadi familiar sama bahasa ini. Sayangnya karna harga TJP mahiil untuk kantong saya waktu itu dan lebih sering cm dibaca beberapa halaman, akhirnya di stop.
Skarang berhubung ud sekian tahun gak dipraktekkin, skrg mulai ngah ngoh lagi deh sama nih bahasa. Mulai gak nyambung dan gak ngerti kalo pke bahasa londo ini. Hiks

3. Bahasa Arab
Kenal bahasa ini juga pas SD. Di asrama yang bapakku pengasuhnya, kalo malam gitu kadang ada materi bahasa arab yang dikasih buat mas mas di asrama. Saya kan keponya jadi suka sok sok an dengerin. Padahal mana saya ngerti.
Kelas 3 (atau 4 ya? Lupa). Sekolahan saya juga mulai ada pelajaran resmi nya. Tapi ya saya nya aja yg gak ngerti2. Untung salah satu mas mas di asrama ad yang lulusan LIP*A jekardah. Jd bisa konsult PR-PR gituh. Alhasil nilai saya bagus bagus donk. Hehe
SMP, seperti di bagian bahasa inggris, bahasa Arab ini juga mulai saya pakai buat percakapan sehari2. Walaupun kalo secara nahwu-sharaf (grammar lah ya kalo di inggris), hancur lebur berantakan. Yang penting mah asal bunyi nya arab gitu.
SMA mulai jaim donk, apalagi saya pegang Lembaga Bahasa. Jd bahasa sata harus kelihatan lebih bagus.
Mulai familiar dan cukup lancar juga coba coba baca majalah bahasa sana. Jaman itu belom bisa seenaknya cari terjemah pake smartphone. Yg bisa cuma di scan tulisannya aja langsung keluar artiny. Jaman segitu kalo gak ngerti kudu buka kamus. Dan cara buka kamusnya Bahasa Arab tuh gak sembarangan men. Kudu tau kata dasarnya. So kudu tau juga tuh kata yg kita cari apakah kata dasar, turunan, atau sudah berimbuhan. Ribet lah
Sekarang? Huft lebih parah lagi. Pernah teman saya pulang dari mesir ngoleh2in buku. Tentang pengelolaan keuangan sebenarnya. Masih bidang saya kan yah.
Setengah mati banget saya bacanya. Pengantar sama daftar isinya aja saya sampai berjam jam, masi dibantu translator. Huft

image

Ini nih bukunya. Ekonomi Rumah Tangga Muslim gitu lah kira2 judulnya

Sempet sih punya temen yg bisa diajak chat pke arab. Tapi lama lama saya nya yg males mikir dan gak paham paham. Parah saya nih

4. Bahasa Daerah
Aselik, dari semua bahasa bahasa di atas, ini yang paling sulit. Bahasa Jawa dengan berbagai tingkatannya bagi saya bahasa paling rumit di dunia. Apalagi tulisannya.
Meski saya cuma gak di pulau jawa selama 7 tahun, tetep bahasa jawa saya masih sulit sekali. Sekarang sih mending ya, bahasa jawa tengah saya masih bisa jawab dikit dikit. Paling nggak mulai paham sama yang disampaikan lawan bicara, meski saya gak selalu bisa jawab dengan bahasa yg sama.
Pernah di Jawa Timur dan saya mesti bersinggungan dengan bahasa Jawa Timur yang ternyata cukup banyak berbeda denga  JaTeng. Tapi masih lumayan lah ada yang familiar dan nyantol2 dikit. Yang susah kalo udah Madura. Huft ini saya gak ngerti sama sekali. Dek remaaaaaakkk…
Sunda juga termasuk bahasa yang cukup tidak terlalu asing bagi saya. Meski gak ngerti juga, tapi bukan bahasa yang aneh. Saya sempat berkawan banyak orang sunda. Sekarang pun salah satu teman dekat saya juga org sunda. Familiar sama bahasanya tapi maknanya ya gak ngerti juga. Eta teh sami wae atuh kagak ngarti.

5. Papua
Eet dah. Kenapa juga papua dibikin poin sendiri yak?. Hehe gapapa donk ya. Yg poin bahasa daerah itu biarlah untuk bahasa2 di pulau jawa.
Kecil di papua membuat saya sampai sekarang lanciiir berbahasa indonesia ala papua. Asik aja dan kerasa lebih ekapressif gitu. Juga lebih singkat karna banyak suku kata yang diirit.
Contoh : “Ko Pi Sana”–> “Kau Pergi (aja) ke sana”
Contoh : “sa su tra tau lai” –> “saya sudah tidak tahu lagi”

Sebagian bahasa daerah lain sih sudah saya dengar ya. Semacam Aceh, Batak, Minang, Melayu, Bengkulu, Palembang, Bangka, Sunda-Jawa, Bali, Banjarmasin, Bugis, Ambon, Nusra, de el el. Tapi masih sangat jarang dan gak ngerti jugaa. Hahahha

Jadi kesimpulannya, ternyata saya ini gak menguasai bahasa satu pun. Ada yang mau kasih kursus atau kasih semangat saya buat menekuni salah satu atau sebagian atau semua bahasa-bahasa di atas?

Malam Ini Saya Menangis, Flashback Jawa papua 1990-1994

29 Jan

Malam ini saya menangis.

Sampai sampai saya tidak tau mau nulis apa. Gak usah ngirain tangisan saya ini seperti tangisan jomblo di malam minggu. Atau tangisan karyawan di tanggal tua. Sama sekali Nggaak.!!

Malam ini saya menangis. Sudah lama saya tidak menyentuh laptop ini, sampai tadi sore. Satu folder menggelitik saya. Sejenak saya terdiam, teringat tumpukan surat-surat tulisan tangan kedua orang tua saya. Masa LDR Jawa-Papua sepanjang 1990-1994 menghasilkan mahakarya sejarah keluarga kami. Kisah kisah yang jelas tercatat rapi, torehan sejarah perjuangan dua orang paling saya cintai di alam raya ini.

Bapak memberikan kami bukti-bukti sejarah itu beberapa tahun lalu. Harapan beliau, kami bisa mendokumentasikan setiap yang tertulis dalam sekian kilogram kertas itu dengan lebih baik. apa daya, sulit sekali bagi saya melaksanakan tugas beliau. Tak bisa dipungkiri, pandangan saya pasti dan selalu kabur pada surat ke-2 atau ke-3. Air mata  menggenang, sesekali badan saya terguncang membuat saya tak mungkin bisa dengan santainya mengetik atau men-scan satu satu lembaran-lembaran itu. Cerita-cerita yang belum pernah sekalipun aku tau keluar dari mulut beliau berdua, baru aku ketahui faktanya.

Pesan-pesan dan harapan sejak aku lahir (saya lahir Februari 1990, surat pertama pada April 1990), terdokumentasi rapi. Setiap langkah dan perjuangan pahit, panjang, dan penuh liku mereka tanpa rekayasa akhirnya saya ketahui.

Bagaimana cinta dan perjalanan panjang Ibu mengasuk mendidik seorang anak nakal 3 tahun (kakak saya), dan seorang bayi kecil yang rewel dan merepotkan (saya) di rumah mertuanya disamping tugasnya sebagi guru.

Bagaimana cinta dan perjuangan Bapak di ujung negri antah berantah kota Sorong Irian Jaya yg tidak pernah tau apapun disana, jauh dari keluarga, jauh dari anak dan istri yang selalu bisa jadi penyejuknya. Bagaimana usaha Bapak untuk terus bertahan bahkan tak bisa menahan untuk membantu orang lain di saat beliau pun harus bertahan hidup sendiri disana dan menafkahi istri dan 2 anaknya di Jawa.

Bagaimana Ibu bercerita tumbuh kembang kami, bagaimana Ibu bercerita kenakalan kami, bagaimana cara ibu menguatkan Bapak yang selalu merindu. Bagaimana tulisan Ibu apapun isinya selalu bisa menjadi suplemen semangat Bapak.

Bagaimana Bapak menghibur, berbagi cerita, bagaimana Bapak mengutarakan perasaan sedihnya tak bisa berada disisi istri, ibu dari anak-anaknya yang selalu disebutnya “yang selalu menyatu denganku”. Bagaimana Bapak mensyukuri dan berdoa untuk ulang tahunnya yang ke-27 (Juli 1990)

Diantara pesan-pesan untukku*:

kita baru menghadapi permulaan dari perjuangan dan semoga Allah membimbing kita. (April 90)

kau jauh dariku secara lahir saja tapi hakikatnya kau berada satu denganku. Menyatu dalam jiwakudan bersama-sama selalu memohon bimbingan dan karunia dari pemberi, yaitu Allah swt. (April 90)

Ma-inn, aqid, kowe saiki iso opo. Ora pareng nakal, sing manut karo ibu. Ibu dibantu lan di hibur ben ora pati susah. ngaji lan sinau sing sregep. Adik’e diajari sing apik. Bapak lagi nindak ke kewajiban ono panggon sing adoh, nanging sejatine bapakmu malah luwih cedhak karo kowe kabeh dan ibumu ora tau ucul soko pikiranku, kowe kabeh (April 90)

“kesabaran dan ketahanan berjuang hanya akan diberikan kepada mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah swt” (Mei 90)

Mainn, Aqid, bantulah ibumu baik-baik agar masa depanmu dan keluargamu mendapatkan keberuntungan dan Allah pun ridho memberikan kebahagiaan kepada kita semua. (Dzulqo’dah 1410)

Ma-inn, Aqid, kamu harus taat pada Ibu. Bapak baru berjuang disini, doakan bapak berhasil dalam perjuangan ya nak… (Juni 90)

Dimana saja kita berada kita harus selalu berusaha menjadi orang islam yang baik. Bersikap pemurah, ramah, dan rendah hati. Dengan begini, Allah akan selalu memberi kemudahan, walaupun kelihatannya berat tapi ringan setelah dijalani. Dan Allah akan selalu mencukupkan kebutuhannya. Sedang rezeki datang tanpa diduga-duga. Mungkin berupa materi, mungkin pula berupa saudara, sikap dihargai sehingga jalan akan semakin lapang. Aku telah membuktikan itu. Janji Allah selalu benar. ma-inn ku sayang… Aqid ku sayang…

Doakan bapakmu yang akan sellau membahagiakanmu, menyelamatkanmu.. dengan izin Allah (Juni 90)

ma-inn, Aqid > kuharap kau menjadi penghibur ibumu dan menjadi tabungan masa depan orang tuamu. (Juni 90)

Ma-inn, aqid…. Apa sudah pinter ngaji, masak, mbaca, nyanyi, nggambar, dan apa lagi? Mestinya kau tidak nakal lagi, atau mungkin tambah kreatif sehingga njengkel ke. Itu mungkin cirri anak cerdas. Iya gak?? (Juli 90)

Tahun baru kita

Tahun kemenangan kita

Selamat tinggal kegagalan, kegalauan, kesalahan, kekalahan, keraguan, kekhawatran, kemaksatan, kemusyrikan……. (tahun Baru Hijriah 1411)

 

Malam ini saya menangis, sehingga tak mampu teruskan membaca episode selanjutnya dari sejarah ku sendiri. Sejarah kedua orang tuaku yang penuh liku, dibalut cinta dan perjuangan panjang.

*yang bikin mbrebes mili banget banget gak di share disini yaa……a

Ibu dan Lumia nya

18 Jan
image

Lumia Ibu, sedang transit di Sultan Hasanudin Airport Makassar

Saya dan orang tua memang sudah sejak SMP tidak tinggal bersama. Saya menjalani sekolah berasrama di Solo sejak lulus SD, sementara kedua orang tua saya di Sorong, Papua. Kontak memang sering, dari jaman kombinasi telpon dan surat pos, ponsel, hingga sekarang pesan instan dan jejaring sosial.
Awalnya, memang sudah cukup bagi kami berbincang dan bercerita secara audio saja (baca: telpon) atau sms. Seiring semakin banyak hal baru yang kami temui, dan sangat ingin kami ceritakan, kami mulai hal baru. Jadi biasa setelah cerita by phone, ad gambar2 atau foto yang kami saling kirim melalui email.
Contohnya saat saya ikutan volunteer ASEAN Para Games di Solo, Bapak pingin tau gimana gimana nya atlet atlet difable di event pasca SEA GAMES itu. Juga saat saya wisuda, bapak gak ikutan. Jadi dikirimnya via email. Pernah juga waktu Bapak dan Ibu ada acara tahun baru di Waisai Raja Ampat. Kami anak anak beliau penasaran maka di email lah foto2 beliau berdua disana.
Lama kelamaan, kami mulai merasa email tidak cukup praktis. Fyi, jangan bayangkan kualitas koneksi di pelosok sana dengan pulau jawa. Juga listriknya. Selain itu, koq jd ngerasa ud gak real time. Kerasa gak sih, ketika ud penasaran bangeet ato ud seru banget ceritanya, gambar visualnya masih meraba raba. Dan pas diterima sudah gak se exciting pas seru2nya. Gak cuma itu, banyak hal remeh temeh yg selalu pengen kami bagi, dan gak asyik banget kalo harus di email dan bapak downloadnya masih entaran banget. Pas selo, pas sinyal bagus, pas bukan jam kerja tp pas gak di rumah juga (sinyal di rumah juelek maksimal). Selain itu, kami pengen juga kan selalu berbagi tumbuh kembang baik diri kami sendiri masing2 atau segala hal di sekitar kami.
Maka, Qonita dan Qolbi muncul dengan ide menghadiahkan smartphone untuk Ibu. Awalnya karna kami belum uji coba sinyal di sana, bayangan mereka tar bisa skype an gitu. Atau minimal bisa kirim2an foto sesukanya di whatsapp. Dua itu harapan minimal kakak dan adik saya yg cerdas (saya gak ikutan punya ide pas itu, bodohnya).
Misi pun di mulai, setelah mencari tau sana sini dan berunding antar kami, disepakati Lumia dari brand (yang sempat) Besar. Ini untuk bujukan lebih mudah juga sih, karna Bapak gak pernah beli ponsel selain merk ini. Pada Juli 2013, Qonita sebagai sesama pengguna Windows Phone mulai membeli dan membekali ponsel tersebut dg aplikasi2 yang dibutuhkan.
Karena Qonita dan si kecil gak ikutan mudik lebaran, saya jadi petugas yang mengantarkan ponsel tersebut pada 3 Agustus 2013. Berhubung saya gak ngerti ngerti banget Windows Phone, jadilah disana Ibu tinggal belajar n make aja. Satu satu nya aplikasi paling aktif adl Whatsapp. Selain berkomunikasi dengan kami, Ibu juga bisa komunikasi dengan teman2nya sesama ibu ibu, teman2 kuliahnya, dosennya, dan siapa aja. Saya cuma bisa ngajari penggunaan search engine yg bisa dg scan dan ketik manual. Yang Ibu suka banget, karena Ibu bisa ngetik arab dan bisa translate di ponselnya. Bisa baca quran beserta terjemahnya, bisa cek kata2 sulit di Quran dan langsung ke search engine (meski dulu Sarjana di Matematika, sekarang Ibu kuliah lagi Bahasa Arab).
Akhir tahun kemarin, Ibu ke Jawa. Mulai berdiskusi dengan Qonita soal ponselnya. Pernah suatu hari saat saya utak atik ponselnya, saya tanya
“Bapak suka make juga gak sih?”
Ibu: “iya, kadang yg kirim2 foto itu bapak. Kadang juga bapak cari2 kalian tuh di situ (nunjuk tanda search engine).”
Saya: “What? Nyari Aqida Shohiha gitu?”
Ibu: “gak tau tuh bapak. Aqied gitu deh kayanya. Tar ketemu yg itu tu satunya facebook(twitter). Kadang ya Aqida Shohiha kayanya”.
Oh my, bagi Anda pembaca twitter saya, tentu tau kalo saya lebih banyak nyampah, alay dan gak mutu kalo ngetwit.
Saat itu saya rada kaget. Twitter saya memang gak pernah digembok. Jadi Ortu tau donk saya suka galau galu gak jelas, saya mention2an sama siapa aja, ato kalo saya lagi kode kode n no mention. !!!
Ternyata setelah percakapan itu, Qonita kembali dengan ide brilliannya
“Ibu follow aja twitnya Aqido. Tar aku taro di home biar tinggal baca”
Dziiiiiiinnngggg!!!
Belum sempat saya protes, Ibu sudah bersuara
“O iyo sudah”
dan nemplok lah shortcut ke timeline twitter saya dengan manis di home windowsphone yang kotak kotak itu. Sebelumnya facebook 4 anaknya ud berjejer manis.
Yasudah lah, saya pikir biarlah malah saya jadi gak harus panjang2 kan kalo crita di telp. Kan ud baca sendiri. Hehehehe. Telp nya bisa buat ngobrol2 yang lain yg private2 ajah.
Tapi lucu juga, meski saya tau kalo Ibu dan Bapak suka kepoin saya, Ibu semacam gak pengen ketahuan gitu kalo kepo.
Pada suatu hari:
Saya: “aku tau loh kalo Ibu kepo in aku. Ibu suka gak sengaja kepencet favorit kaaan”
Ibu: “hah iya ya? Masa sih? Kalo kaya gitu emang ketahuan ya kalo suka baca baca?”

Sebelum mudik kmaren, Ibu sempet juga tanya tanya instagram. Tapi oleh Qonita saat itu disampaikan kalo instagram gak penting2 amat dan di WindowsPhone masih versi Beta.
So, mulai saat itu, twit, posting facebook, bahkan posting di blog ini bisa jadi bahan bacaan Ibu dan Bapak saya. Soal blog saya masum radar bwliau berdua juga saya baru tau beberapa hari lalu.
Ibu via Whatsapp : “maksudnya apa sih kamu menang undian PKK Anak SMA? Kalo artikelnya aku sudah baca sih”
Nah looo. Bahkan posting absurd yang itu pun dibaca oleh beliau. Mungkin hanya akun Path aja yang sampai sekarang belum masuk radar.

Posting yang ini pun sepertinya bakal dibaca beliau. Haiii Ibuuu, Haiiiii Bapaaakkkk…… 😉

Surat Cinta dan Perjuangan

29 Oct

Repost twit galau

@aqied: Gonna hug my Mom, count down n now less than a month to make it real…
@aqied: 24 November. Semoga bisa cuti 25 November. Demi hari kedatangan Ibu….
@aqied: Dulu sejak SMP-SMA, walo jauh dr ibu n gak tiap taun bisa ketemj, g sampe nangis2 kangen. Sekarang ud ‘gede’ malah kerasaa bgt pgn dket ibu
@aqied: Sekarang Ibu sama Bapak berdua aja di rumah. Beliau berdua rajin kirim update info apa aja disana via Whatsapp. Thanks to Nokia …..!!!
@aqied: Bahkan lucunya bapak pernah kirim foto zaman bapak masih 20an di papua sana. Ampuh bikin kita inget gmn kerja n karya beliau di usia muda
@aqied: Ketika kami sudah gede juga, bapak ibu ke jawa dg membawa sekian kilogram kertas2. Ternyata surat2 beliau berdua waktu LDR Jawa-Papua 90-94
@aqied: Jadi bapak n ibu memang tidak banyak bercerita. Kami bisa baca sendiri di surat dg tulisan tangan beliau berdua selama 5 tahun itu
@aqied: Bisa ditebak, hampir selalu saya tdk bisa menyelesaikan membaca. Mata saya terlalu cepat berair, nafas saya tersengal & pandangan saya kabur
@aqied: Cerita yg lengkap. Komplit. Bahkan slalu ada update pertumbuhan saya (tahun 90 saya masih bayi), juga kakak saya.
@aqied: Di lembar terakhir surat, biasanya bapak mengajak saya ngobrol. Setengah halaman folio beliau khusus tulis surat buat saya.
@aqied: Bapak menuliskan surat untuk saya yg selalu dibacakan ibu pada saya yg bahkan belum tau apa itu kertas. Apa itu huruf.
@aqied: Selain saya, Bapak jg nulis buat kakak saya. Tidak jarang kakak sy bikin surat balasan. Entah puisi, cerita sehari2, ato skedar koreksian PR
@aqied: Terimakasih buat yg bersedia membaca twits saya. Jika mengganggu bsa abaikan atau unfol. Jika menyimak, mohon maaf sy tdk bisa teruskan
@aqied: Surat surat ibu bagi saya lebih “mbrambangi”. Setiap tumbuh kembang saya terdokumentasi apik dalam tulisan tangan beliau yg rapi
@aqied: Betapa merepotkannya saya di masa kecil. Betapa saya belajar banyk dr kehebatan Ibu mengurus saya yg aneh, susah diatur, & kdg “misterius”
@aqied: Kadang surat ibu sedikit berantakan, karna di tulis malam hari sambil menidurkan saya,  sepulang mengajar di salah satu SMA kota Solo
@aqied: Saat itu kalo gak salah hitung di tahun 90 usia Ibu dan Bapak saya belum 30 tahun. Bapak masih 27 tahun.
@aqied: Menjelang lulus kuliah 2011, saya sempat iseng tanya ke ortu “kalo aku balik ke papua gmn?”. Jawabannya “ngapain balik?”
@aqied: Saya pasang jurus yg biasanya dikeluarkan anak2. “Buat temen bapak sama ibu, “, beliau tertawa dan intinya gak stuju dg permintaan saya
@aqied: Jadilah sekarang Bapak Ibu berdua di rumah hijau Papua. Saya percaya Alloh menjaga keduanya. Setidaknya begitu yg selalu ad dalam doa saya
@aqied: Terimakasih buat yg bersedia membaca twits saya. Jika mengganggu bsa abaikan atau unfol. Jika menyimak, mohon maaf sy tdk bisa teruskan
@aqied: Mata saya sudah terlanjur “mbrambangi”. Pengen nge whatsapp ibu, tp di WIT sudah hampir jam 1 pagi

%d bloggers like this: