Tag Archives: jatim

Red Island a.k.a Pulau Merah, Banyuwangi

5 Jun

Ada yg sudah pernah ke sini?

image

Foto Panoramaaa

Red Island atau disebut juga Pulau Merah , salah satu pantai cantik di Banyuwangi yang cukup aksesable.

image

Moto dari dalam jeep. Jd gak gitu jelas

Apalagi jika dibandingkan perjuangan besar menemukan pantai-pantai yang bikin saya ternganga-nganga di TN Meru Betiri , yang sampe nemu Phi Phi Island KW, tapi harus ditebus dengan kejedot-jedot berjam-jam dalam jeep.

image

Rombongan trip

Letaknya di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran , Kabupaten Banyuwangi , Jawa Timur dengan akses jalan yang cukup mudah menggunakan kendaraan jenis apapun.

image

Air jernih, pasir putih

Pantai ini disebut Pulau Merah atau Red Island, karna ada segunduk kecil di salah satu sisi pantai yang memiliki tanah berwarna merah. Saat ini, pulau kecil tersebut ditumbuhi vegetasi hijau sehingga tidak tampak lagi merahnya.

image

They believe they can fly

Tenang saja, tidak perlu kecewa karena pantai ini punya garis hingga 3 km dengan hamparan bersih pasir putih. Air lautnya pun, untuk ukuran pantai yang cukup ramai, sangat amat jernih pake banget. Kabarnya, saat sedang surut, pengunjung bisa menuju pulau kecil merah yang sudah hijau itu, dengan berjalan kaki.
Basah dikit gapapa laah, berani basah itu baik.

image

Walo geseng tetep mejeng

Jadi, kamu mau ajak siapa ke Red Island?

Advertisements

Nggembel itu Asik, Kadang-kadang

28 May
Katakan "Ransel!" Ransel dan Red Jacket

Katakan “Ransel!”
Ransel dan Red Jacket

Saya memang bukan traveler, meski saya suka menikmati perjalanan. Saya juga bukan backpacker, meski suka gendong ransel. Saya pun bukan explorer beponi yang suka bertanya pada peta, karna itu pasti Dora.

Tapi, sempat tinggal di beberapa kota berbeda (cek halaman siapa saya), membuat saya merasakan macam-macam perjalanan. Dalam hal cukup sering menggunakan transportasi umum, tentunya saya cukup familiar dengan beberapa tempat pemberhentian transportasi umum. Gak bisa jodoh dengan transportasi yang kita mau, kadang jadi salah satu resiko penumpang. Gak jodoh di sini maksud saya bisa jadi waktu yang gak sesuai dengan yang kita inginkan, atau ketersediaan armada, atau transit, dan lain lain. kalo udah ketemu resiko penumpang begitu, apalagi di kota yang antah berantah, alternatif terindah yang bisa dinikmati satu: Nggembel.

Sebenarnya sudah beberapa kali saya (terpaksa) nggembel, tapi tak perlu lah aib yang sedemikian dalamnya disebar luaskan. jadi saya share 3 masa ssat saya menjalani peran sebagi Gembel Kere tapi Kece.

Stasiun Banyuwangi Baru, yang cukup ditempuh berjalan kaki beberapa menit dari pelabuhan Ketapang, adalah salah satunya. Tiba dari penyebrangan Bali-Jawa jelang midnight, sementara kereta kami masih pukul 06.00 WIB (atau 05.00 WIB ya? lupa). Demi dapat menikmati fasilitas maksimal kereta Sri Tanjung seharga Rp. 35,000 untuk Banyuwangi-Yogyakarta, kami berusaha mencintai spot-spot tempat kami bermalam. Beruntung saat itu kami berombongan.

Yap, serombongan Mahasiswa ekonomi dari beberapa kampus di Yogyakarta sedang menikmati perjalanan ekonomis Jogja-Bali di awal tahun 2009. Tempat beristirahat saya saat itu, sebuah ruangan (cukup luas) yang ternyata sebagai ruang penyimpanan paket. Jelas nyata terlihat dari sepeda motor yang disampul kardus2 di sudut ruangan. Ada kursi empuk di pinggir-pinggir yang akhirnya saya bisa sandarkan kepala dan tertidur cukup pulas.

Hingga pagi tiba, kami melanjutkan perjalanan dalam kereta ekonomi dengan segala keunikan fasilitas dan tingkah laku penumpang yang cukup mengagumkan hingga pukul 22.00 kami tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.

Terminal Bungurasih atau dikenal juga dengan Terminal Purabaya di Surabaya, sempat jadi tempat yang cukup familiar bagi saya. Sebelumnya, mendengar namanya saja saya sudah cukup takut. Namun rupanya, Terminal Bungur saat itu (rentang Januari-Juli 2013) cukup gembel-friendly sejak Negara Api menyerang. Sebenarnya cukup sering saya malam-malam kelayapan di terminal ini karena memang dengan berangkat malam, bisa tiba di Jogja subuh.

Tapi pada suatu malam yang cerah, dengan sangat terpaksa saya kehabisan bus yang saya inginkan hingga pukul 2.30 pagi. zzzzzzzz. Jadilah saya sepanjang nungguin bus itu ngobrol-ngorol sana sini, merhatiin tingkah polah dan denyut kehidupan di terminal yang ternyata gak pernah tidur itu.

Ada beberapa anak muda di salah satu sudut yang gelar sleeping bag. Ada yang numpang tidur di ruangan menyusui. Ada yang masih ngantuk2 duduk di kursi tunggu (itu saya), yang kemudian ngobrol2 gak jelas sama sesama yang duduk di kursi. ada pula yang sibuk bergegas mengejar bus. Rupanya sebagian yang betah menginap di Teminal karena menunggu bus ke tujuan yang diinginkan, yang hanya beroperasi pagi besok.

So, saya masih cukup beruntung loh, gak harus menunggu hingga matahari terbit. Alhamdulillah

Airport Hasanuddin Makassar, airport yang jadi transit sesiapa aja yang ke dan dari Timur Negri ini. Saya, sebagi pecinta papua, tentu saja jadi salah satu angkutan yang perlu diturunkan di Airport ini untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Airport Domine Eduard Osok, Sorong Kota Bersama. Kalau sebelum-sebelumnya saya biasa pakai penerbangan pagi yang bisa tiba di Sorong siang hari WIT, Agustus 2013 lalu saya coba penerbangan malam (dari Jogja 20.40 WIB) yang bisa tiba di Sorong pagi hari. Konsekuensinya, saya mesti transit di Hasanudin hingga pagi tiba.

Kenapa? karena penerangan di Airport Sorong yang banyak dituju pecinta diving buat ke Raja Ampat itu, masih pakai tenaga surya. Alias penerangannya dari Matahari aja. So, semua penerbangan di sana hanya ada di saat matahari bersinar. Ini berarti sudah jelas saya musti semalaman di airport SENDIRIAN.

Akhirnya yang saya lakukan untuk membunuh waktu adalah, menjelajahi sebanyak mungkin sudut airport itu. Meski banyak outlet yang sudah tutup, saya sambangi beberapa yang buka, motret kapal phinisi, dengan pede nya minta di fotoin orang lewat di depan tulisan “selamat datan”, keluar masuk beberapa toilet, naik turun tangga, dan kemudian berakhir dengan kelelahan di salah satu coffeeshop (gak sebut merk, gak dibayar sih), sembari menanti waktu yang tepat untuk sahur, sambil baca buku yang saya bawa.

Well, saat itu kursi di ruang tunggu lebih banyak dipenuhi sesama penumpang yang tidur enak. jadi sulit bagi saya menemukan kursi berjajar 3-4 yang kosong juga. Sangat  jarang juga mata menemukan sesama penumpang yang bisa diajak ngobrol.

Kamu, kalau kelamaan nunggu di tempet-tempet transpostasi umum gitu, ngapain aja?

 

Gembel in Red Jacket

Gembel in Red Jacket: kalo ketemu, sapa aja

Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur

24 May

Saya menghabiskan masa kecil di Sorong, sebelah barat Papua. Surga kecil yang diturunkan Tuhan ke bumi, demikian menurut Franky Sahilatua. Sorong itu dimana? Tengoklah peta pulau Papua yang berbentuk seperti burung. Bagian pucuk kepala, itulah dia. Sisi terbarat Papua. Disekelilingnya terdapat pulau-pulau kecil yang indah. Bahkan lagu Franky yang menyebutkan Papua sebagai surga kecil dibumi itu, sebelum Raja Ampat setenar ini.

 

Tanjung Kasuari Sorong, Papua (yang sempet saya bilang jelek dan kotor), 2010

Tanjung Kasuari Sorong, Papua (yang sempet saya bilang jelek dan kotor), 2010

Tana Papua tanah yang kaya.

Surga kecil jatuh ke bumi

Pantai yang pernah saya kenal sejak kecil adalah pantai-pantai khas Papua. Tenang, biru, pasir putih, lambaian kelapa, disertai angin dan aroma samudra yang berpadu lembut. Saya terbiasa dengan definisi pantai yang seperti itu. Bahkan pantai yang saya anggap jelek dan kotor sekalipun. Sampai pada suatu masa saya mulai menetap di pulau Jawa. Di sisi yang tidak dekat dengan pantai, dan cukup lama tidak ke pantai.

Saleo, Raja Ampat.

Saleo, Raja Ampat.

Jumpa pertama saya dengan pantai di Jawa membuat saya terkejut. Ya, mungkin saya mengunjungi tempat yang salah. Baru saat itu saya tau ada pantai yang pasirnya tidak puti, airnya tidak biru, aroma amisnya menusuk. Alih-alih bias menenangkan diri berkawan debur ombak dan belaian angin dari samudra. Saya terpaksa membiasakan diri di tengah keramaian manusia. Pantai perta ayang saya kunjungi penuh pengunjung, pencari nafkah, dan segala lapak sana sini.

Kecewa? Pasti

Setelah itu, saya tetap rajin menyambangi beberapa pantai. Tentu tak lagi dengan ekspektasi berlebihan. Berharap masih dapat menemukan pantai yang memenuhi definisi pantai semasa kecil saya dulu. Pada pertengahan tahun 2013, saya berkesempatan menjejak dan mengintip sebagian kecil dari emperan Kabupaten Raja Ampat di sela-sela perjalanan mudik saya. Mudik kali itu membuat saya semakin merasa tidak bias menemukan perbandingan alam laut Papua di pulau yang saya diami, Jawa.

tangan saya udah kaya pakai sarung tangan :(

tangan saya udah kaya pakai sarung tangan 😦

April 2014, itu kali pertama saya menjumpa pantai lagi sepulang dari Papua. Anggapan saya seketika runtuh ketika bertemu pantai indah, mungkin inilah surga kecil yang Tuhan titipkan di tanah Jawa, pantai-pantai di TN Meru Betiri.

Foto Panorama Teluk Ijo

Foto Panorama Teluk Ijo

Biru dan hijau tosca laut bagai sapuan kanvas terindah dari Tuhan, menyapa kami di Green Bay alias Teluk Ijo. Salah satu pantai di TN Meru Betiri yang dapat kami capai dengan berperahu dari Pantai Rajegwesi. Putih pasir dan lembutnya menyamankan kaki siapa saja yang menginjak, beralas kaki ataupun tidak. Hamparannya yang berkilau di bawah matahari, menghasilkan paduan apik dengan warna laut. Debur ombak yang melewati karang-karang di kanan dan kiri Teluk Ijo, tidak mudah di dapat di pantai lain. Penampakannya serupa air terjun mini. Selama berperahu, kami diiringi ukiran tangan Tuhan pada tebing-tebing disisi laut.

#sikilfie

#sikilfie

“Phi Phi Island KW” Kata teman seperahu saya.

pasirnyaaaa

pasirnyaaaa

Berperahu selalu mengasyikkan. Tak hanya indra penglihatan saja yang dimanjakan. Suara debur ombak yang mengiringi, lebih indah dari alunan music apapu. Angin dan aroma laut yang kental, memanjakan indra lainnya pula. Betapa tak sopannya saya yang sempat tak percaya bahwa masih ada, pantai indah titisan surga kecil Tuhan di pulau Jawa ini.

it's okay to be geseng in Green Bay

it’s okay to be geseng in Green Bay

Satuan waktu apapun berapapun, tak akan pernah cukup untuk mengagumi kuasa Tuhan. Kau tau, alam selalu punya kejutan untuk kita, dengan cara yang tak pernah sama.

Pantai Rajagwesi, foto panorama

Pantai Rajagwesi, foto panorama

Sayang, kami harus segera bergegas. Ada lukisan alam dahsyat yang sudah menanti kami di sisi lain TN Meru Betiri. Kanvas aneka warna senja telah siap dibentangkan kala kami tiba di Pantai Sukamade. Tepat dibentangkan saat kami usai melepas tukik-tukik kecil menuju hidup baru mereka.

bentangan kanvas warna senja pantai Sukamade

bentangan kanvas warna senja pantai Sukamade

Pantai Sukamade, untuk mencapainya kami harus siap terombang ambing di dalam Jeep yang melaju di medan off road, bahkan menyebrangi sungai. Dengan aneka tumbuhan besar di kanan dan kiri, sesekali beberapa banteng menampakkan diri. Perjalanan yang cukup seru serupa yang biasa saya lihat pada iklan-iklan rokok.

wpid-bkizah0ccae37dk.jpg

foto dari akun twitter @sudutindonesia

Sore hari di pantai ini, pengunjung dapat mengantar langkah-langkah kecil tukik menuju laut. Jika malam tiba, dapat pula menyaksikan mama-mama penyu bertelur.

go run run

go run run

“selamat menempuh hidup baru” bisik saya pada tukik kecil. Tukik yang kemudian saya biarkan langkah-langkah kecilnya meninggalkan jejak mungil pula, menjauhi kami, menjemput hidup baru dengan menghampiri laut dan lukisan senja.

selamat jalan, tukiik

selamat jalan, tukiik

 

Sunset usai melepas tukik

Sunset usai melepas tukik

Pantai Sukamade dan Teluk Ijo hanya dua dari beberapa pantai-pantai indah tersembunyi dalam area TN Meru Betiri. Masih ada Pantai Nanggelan, Bande Alit dan mungkin nama-nama lain atau tak bernama yang belum sempat saya kunjungi tuk kagumi. Kalau begini, bagaimana mungkin saya tak makin cinta dengan Indonesia?

"travel through the worl and see how He began creation " Al Ankabut 20

“travel through the worl and see how He began creation ” Al Ankabut 20

*teks dan foto oleh Aqied

IMG_6233

*isi posting ini sudah pernah dipublikasi dalam kicau bersambung akun microblog saya twitter @aqied, Rabu 21 Mei 2014, dengan sedikit penyesuaian.

*informasi mengenai pantai Bande Alit dan Pantai Nanggelan saya dapat dari akun follower twitter @justlocalview

 

1000 Bintang di Kawah Ijen

15 Apr

image

Pagi masih terlalu dini ketika kami meninggalkan penginapan yang hangat. Udara masih terlalu menusuk meski jaket, syal dan sarung tangan rapat dikenakan. Pukul dua pagi ketika mobil kami menjauhi penginapan. Belum tuntas 2 jam tidur kami semalam. Belum pulih raga kami dari sisa sisa perjalanan dan bermain di Baluran hari sebelumnya.
Tiba di area parkir kawasan wisata Gunung Ijen, Tour Leader kami mengingatkan bagi yang tidak yakin sampai terutama alasan kesehatan, untuk memikirkan kembali masak masak. Sampai kemudian kami sepakat untuk naik.
Kawah Ijen, dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 1,5 hingga 3 jam (tergantung kecepatan jalan) dari area parkir. Lintasannya sekitar 3 KM dengan elevasi cukup landai dan bersahabat untuk siapa saja. Namun memang menanjak terus.

image

Tuh jalanan ternyata ngeri. Pas malam gak kelihatan

Mengapa harus mendaki di tengah malam gelap gulita?
Kawah Ijen memiliki sesuatu yang hanya ada 2 di dunia ini. Yaitu blue fire alias api biru. Api spesial ini hanya muncul di pagi buta. Mungkin sekitar pukul 3 hingga jelang subuh.
Untuk aman mendaki, disarankan menggunakan sepatu/sandal yang tepat karena tanah yang sesekali berpasir atau mungkin bisa licin jika musim penghujan. Jangan sampai salah alas kaki yang bisa menyebabkan langkah semakin berat atau lecet lecet begitu turun. Karena malam hari, siapkan juga head lamp atau senter untuk penerangan.
Sebelumnya, saya lumayan mencari info tentang Kawah Ijen ini. Termasuk salah satu destinasi yang membuat saya menyesaaaaal sekali jika tak berkunjung, jauh jauh hari saya banyak cari info. Mendapat info kalau jarak mendaki hanya 3 Kilometer dan elevasi yang landai membuat saya berfikir ‘aah keciiil’ secara saya dulu (tapi udah dulu bangeeet) juga hobi tracking, trus juga kalo jogging paling nggak saya 2,8 KM.
Tapi tapi tapi, rupanya kesombongan saya itu dihancurkan telak oleh si gagah Ijen. Setengah perjalanan pertama saya lalui dengan sangat susah payah. Semangat 45 di awal jalan, buat saya yang libur jogging sejak 2 minggu sebelumnya, bikin nafas saya kacau. Ditambah saya pengen nyamain langkah n kecepatan 2 rekan saya yang lain (yang katanya kedinginan kalo jalannya pelan pelan). Apalagi saya agak bermasalah (baca: musuhan) sama udara dingin. Jadilah saya di paling belakang dan gak bisa sejajar dengan rekan2 yang lain, padahal di awal perjalanan saya barisan paling depan bertiga.
Beruntung ad Tour Leader (TL) yang mau maunya nungguin saya dan bukannya ninggalin dan suruh saya turun aja. Tiap berapa langkah dan nafas saya ud gak beres, saya minta berhenti. Ujung ujungnya ransel saya yang isinya kamera dan air minum, ikut dibawain pula. Sambil jalan pelan pelan dan rombongan di depan kami sudah jauuh sekali tidak terlihat.
Yang indah dan membahagiakan saya di kala kondisi sekarat seperti saat itu adalah, taburan bintang yang maha dahsyat. Mungkin lebih dari 1000 bintang mengiringi langkah cemen saya. Sesekali ada bintang jatuh yang gak sempat saya lihat (TL nya lihat terus bintang jatuh). Jarak antara kami dan bintang pun rasanya lebih dekat.
Ambil gambar?
Saya tidak terfikir saat itu. Selain lensa kamera saya cuma pas pas an, saya saat itu lebih memikirkan bagaimana saya bisa sampai. Seberapa tenaga saya yang masih bisa buat saya naik dan kemudian turun. Itu saja yang ada di otak saya kala itu. Tidak heran, dari beberapa destinasi selama trip, foto di Kawah Ijen paling sedikit.
Takjub juga ketika sesekali kami berpapasan dengan bapak bapak yang memikul belerang dengan berat lebih dari 50 kilogram, enteng saja naik turun di jam segitu. Stabil saja langkah-langkahnya membawa beban seberat itu. Hidup memang keras, kawan.
Berjalan pelan pelan dan sangat sering sekali saya minta berhenti, bisa juga sampai di rest area yang menurut TL nya, sudah setengah perjalanan (+/- 2246 mdpl). Menurut saya sih baru setengah perjalanan dan mungkin saya bakal sempoyongan setengah mati lagi buat ngejalanin sisanya.
Di rest area ini ada warung yang menyediakan Pop Mie, air mineral, kopi, de el el. Sayangnya saat itu belum buka. Jadi saya cuma istirahat dan tidur2an sambil lihat bintang sembari mengatur nafas. Ternyata kami bisa menyusul sebagian rombongan yang sebelumnya sudah lebih dahulu dari kami.
Setelah dirasa membaik, kami melanjutkan perjalanan lagi. Dan ajaibnya, langkah dan nafas saya sudah enteng. Setengah perjalanan yang tersisa versi TL, saya lalui tanpa berhenti istirahat dan voilaaa saya sampai di puncak dengan total waktu tempuh 2 jam. Saya masih sempat melihat blue fire tanpa bisa memotret (kagak ad lensa).
Tinggallah sampai di atas saya yang mencari cari kemana kah TL yang masih membawa backpack saya. Rupanya saya tiba lebih dulu. Hehehehe

Selayaknya di gunung, angin kencang sekali menyapa kami. Plus hawa dingin yang menusuk. Jika di perjalanan tadi kami gerah karena berkeringat, sampai di puncak kembali kedinginan dan lebih hebat lagi dinginnya. Saya pakai jaket plus jas hujan sekalian.

Dan ini nih, kawah dan danau asam hijau tosca menyapa kami seiring sunrise.

image

Saat itu di atas sudah cukup ramai. Rombongan (sepertinya) mahasiswa, rombongan rombongan wisata, maupun wisatawan wisatawan dan pendaki lain baik lokal maupun internasional. Menurut salah satu TL, sebagian warga cukup familiar dengan bahasa Prancis (yang susahnya minta ampun) karena banyak turisman dari negara tersebut. Namun yang saya lihat tidak hanya turisman eropa, namun asia jg cukup banyak saat itu.

Terbayar sudah semua susah payah ngos ngos an langkah kaki saya yang sombong. Runtuh sudah semua sok sok an saya. Ijen menghantam saya telak. Menyadarkan saya untuk lebih banyak bergerak. Kapan terakhir kali saya rutin sit up setiap bangun tidur? Kenapa saya harus beralasan untuk tidak jogging sampai 2 minggu? Kapan saya terakhir berjalan kaki jauh? Kenapa saya harus selalu bermanja dengan kendaraan sedang saya punya dua kaki yang utuh dan sehat?
Mengagumi kekuasaan Tuhan dalam lukisan bernama Kawah Ijen tidak akan pernah usai. Namun perjalanan akan berlanjut. Saya turun melalui jalur dimana saya naik tadi dan baru menyadari betapa mengerikannya jalur tadi. Malam berhasil menyembunyikannya dan mengamankan saya dari rasa takut.

image

Jalan pas turun

Angin sesekali masih bertiup, nun jauh di bawah sana tak dapat sempurna kami lihat. Serasa berada di negri di atas awan, saya turun perlahan. Dengan nafas dan langkah yang lebih stabil dan teratur. Saya tiba di bawah tanpa istirahat. Sepiring nasi goreng sudah menanti.

Ijen dan Baluran adalah dua destinasi yang sangat saya ingin kunjungi. Sempat menetap di 3 kota jawa timur selama 9 bulan, kedua tempat ini belum saya datangi. Sampai pada Juli 2013, saya dipindah tugaskan ke Yogyakarta, penyesalan saya menjadi jadi karena meninggalkan jawa timur tanpa sowan ke dua tempat tersebut. Kini penyesalan saya telah terbayar. Namun bersama 1000 bintang yang mengiringi langkah ngos ngos an saya, ada 1000 sesal atas kemalasan dan kesombongan saya yang berakibat kepayahan saat mendaki.

image

Bisa nyampe jugaa

Salam lestari

*sisi lain Ijen di blog Mb Prue
*saya sedang kesulitan upload foto karena sedang training kantor di hotel. Selain itu memang sedikit sekali saya ambil gambar. Penasaran bisa cek foto2 Ijen di search engine
image

Mari wisata di negri sendiri

Cause This is (not) Africa

8 Apr

Hujan, pelangi, matahari

Lautan, gunung, tebing

Rumput savanna di bukit bukit,

Bunga-bunga warna warni

Semua ada di sini untuk kita jaga dan sayangi

Semua menanti, semua yang ada,

Untuk kita pelajari,*)

 

 

saya dan Backpack Abu-abu (gak keliatan)

Potongan lagu yang dibawakan dalam Musikal Laskar Pelangi itu, bersenandung riang di benak saya begitu menginjakkan kaki di Savana Bekol. Terbesit keinginan tuk turut bernyanyi, meneriakkan skeras-kerasnya dengan riang, se riang anak-anak SD Muhammadiyah Gantong saat berlarian di savana. Rumput-rumput bergoyang, menyapa dan melambai seakan mengajak saya mendekat dan berlarian di hamparannya. Tak peduli sengatan matahari yang terik. Tak peduli perjalanan panjang yang seharusnya memuat letih.

coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Savana Bekol, terletak di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo atau sebelah utara Banyuwangi. Untuk mencapai TN Baluran, dari Terminal Besuki Kab. Situbodo kea rah timur sekitar 2 jam perjalanan, hingga menemui tulisan ‘TN Baluran’. Jika sampai di “Selamat datang di Banyuwangi”, berarti sudah terlewat.

Dari pintu gerbang atau loket pembelian tiket (Rp. 10,000), pengunjung bisa menempuh perjalanan lagi dengan dimanjakan suasana hutan. Jika jeli, bisa terlihat hewan-hewan liar dengan cukup dekat, misalnya:  merak, monyet, rusa, de el el. Sayang sekali mata saya sulit langsung mendeteksi ciptaan Tuhan yang cantik itu. Yang saya lihat hanya hijau dedaunan (namanya juga hutan).

SAMSUNG CSC

Tiba di savanna Bekol, silakan berandai andai sedang di Afrika. Di musim ini, rumput-rumputnya sedang hijau dan cukup menyejukkan mata melihatnya terhampar begitu luas. Tak peduli matahari yang sebegitu teriknya dan pegal-pegal perjalanan Jogja-Surabaya-Baluran yang saya tempuh nonstop, saya langsung menghambur ke little Africa ini.

Sebelumnya, saya pernah melihat TN Baluran ini dibahas dalam acara “Tiga Enam Puluh” Metro TV sudah cukup lama. Saya berdecak kagum dengan tampilan saat itu (sepertinya musim kemarau), ketika rumput-rumput kering, dan sesekali terdapat pepohonan dengan latar belakang gunung.  Benar-benar seperti di film-film dengan setting Africa. Ditambah sesekali ada satwa berlalu lalang seakan tak peduli. Namun meski ternyata saya disambut hamparan hijau, tak ada decak kagum yang berhenti keluar dari mulut saya.

Rumput, Pohon, Gunung, dan masnya moto tp action

Rumput, Pohon, Gunung, dan masnya moto tp action

Tidak hanya hamparan rumput dan sesekali pepohonan, beberapa hewan menarik sudah menyapa. Sedikit agak jauh dari tempat saya berdiri, gerombolan rusa sedang minum air. Mungkin belum jodohnya, sehingga ketika saya mendekat mereka bubar jalan dan menjauh. Alhasil, belum ada satupun yang berhasil menjadi model di kamera saya.

Untuk dapat melihat lebih luas, tedapat semacam gardu pandang. Untuk mencapainya, cukup naik tangga dan taraaaa. Luasnya savanna sudah kita lihat. Ditambah latar gunung yang semakin menarik.

View dari Gardu Pandang. pegel kagak tuh muterin savana segitu luasnya

View dari Gardu Pandang. pegel kagak tuh muterin savana segitu luasnya

Tidak jarang, kami berjumpa gerombolan monyet-monyet. Sibuk sendiri seakan tak peduli. Atau mungkin seolah-olah sibuk untuk menarik perhatian kami. Juga terdapat kepala-kepala hewan yang di dekat area parkir.

SAMSUNG CSC

membelah hutan bakau

membelah hutan bakau

Tidak jauh dari savanna Bekol, terdapat pantai Bama. Sore itu, pantai ini cukup ramai. Kami dihibur dengan monyet-monyet yang beratraksi sendiri. Sempat timbul rasa takut, mengingat saya pernah  memiliki pengalaman buruk dengan monyet-monyet sejenis di Tawangmangu maupun kaliurang. Namun rupanya monyet-monyet lepas di sini cukup ramah, bahkan menghibur.

Sedikit ke sisi kanan, tumbuhan bakau menyapa. Dibuat semacam jembatan melewati bakau-bakau tersebut hingga akhirnya berujung. Dari sini bisa melihat pantai perpaduan laut dan langit jelang sore yang tenang, indah dan pas buat narsis.

laut dan langit, pantai bama

laut dan langit, pantai bama

Matahari mulai menunjukkan kode akan berpamitan. Kembali ke mobil dan bersiap-siap pulang. Belum lama menjauh dari pantai, kami dikejutkan dengan barisan monyet yang memenuhi jalur yang dilewati mobil. Tak hanya itu senja menunjukkan pesonanya yang mungkin akan kami sesali seumur hidup jika tak sempat menikmatinya.

satwa penikmat senja

satwa penikmat senja

Takjub, bengong, dan ternganga melihat yang dipamerkan  surya saat hendak tenggelam. Seandainya seluruh pelukis handal di dunia berusaha menggambarnya, saya yakin takkan mampu lebih indah.

Semburat jingga, berpadu awan yang mulai menggelap, langit yang masih membiru, bersembunyi dibalik bukit bukit. Siluet pohon-pohon, sapuan tipis awan, jejeran bukit berbaris, menjadi foreground untuk sebuah gradasi warna senja. Bahkan untuk berpamitan pun, matahari tetap menunjukkan kuasanya. Mungkin kata indah pun tak mampu mewakili senja saat itu.

Senja di Savana

Senja di Savana

Ada kesal yang tak henti saya rasakan hingga sekarang. Betapa kuasa Tuhan tidak dapat saya rekam dalam lensa kamera saya. Bagi saya, senja itu adalah hadiah terindah Tuhan untuk saya. Untuk kami. Hadiah yang tak bisa saya abadikan sempurna dalam alat-alat buatan manusia. Beberapa rekan perjalanan saya (yang kebanyakan traveler) bahkan menyebut senja itu sebagai ‘best sunset I’ve ever seen’.

Bahkan satwa pun tak ingin melewatkan momen itu.

SAMSUNG CSC

Malam resmi menurunkan tirainya. Satwa penikmat senja mulai memberi jalan untuk kendaraan kami. Serasa hilang segala penat, keringat dan lelah dari raga kami. Pulang dengan tersenyum. Bersiap bangun dini hari, demi menjadi saksi blue fire di Kawah Ijen.

 

Savana….

Padang rumput hijau

Dengan semak terpencar diantara rerumputan

Karena keadaan tanahnya dan kebakaran yang terjadi,

Muncul padang rumput hijau terbentang luasnya

Sedikit pepohonan,

Itulah savanna….. *)

masih savana

masih savana

*) Potongan lagu “Sahabat Alam”, salah satu lagu dalam Musikal Laskar Pelangi dinyanyikan oleh pemeran Bu Muslimah dan siswa-siswi SD Muhammadiyah Gantong

Where’s Your Backpack Kidnapping You?

7 Apr

Seperti di posting saya sebelumnya, weekend lalu saya menjalani long weekend yang tertunda. Berarti saya punya waktu libur mulai Jumat, Sabtu dan Minggu. Untuk libur kali ini, memang sudah saya rencanakan jauh2 hari. Dan kemanakah saya?
Yep, selepas jam kantor pukul 5 sore lebih hampir setengah enam, saya cabut dr kantor. Mengingat masih banyak banget yang belum saya siapin untuk sebuah trip yang cukup padat. Sampai pada pukul 9 malam, saya sudah duduk manis di kursi no 2 belakang Supir bus Eka menuju Surabaya. Sialnya si bus malah ngetem lamaaa banget sampe saya ketar ketir dan ujung2nya jadi peserta trip yang dikenal dengan “Aqied yang datang terlambat dari jogja”.
Whatever,,,, itu hanya permulaan aja. Paling nggak, meski memulai dengan awal yang buruk, saya bisa menghasilkan foto-foto berikut:

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Itu sebagian gimana Backpack abu abu sukses banget nyulik saya.
Readers pengennya saya cerita yang mana duluan nih?

*cerita tentang penyu/tukik bisa intip blog Mba Prue yg ud posting duluan

Bus Mania episode Jogja-Lumajang

4 Jan

Tahun lalu, saya sempat bertugas di area jawa timur. Awalnya di Surabaya (masa training) dengan sangat singkat, lanjut Lumajang (terletak antara Probolinggo dan Jember), selanjutnya paling lama di Mojoagung, Jombang (perbatasan Jombang-Mojokerto). Dengan rasa memiliki Jogja sebagai hometown (padahal bukan), saya ketika bertemu long weekend memilih Jogja sebagai destinasi ‘mudik’.
Sempat bingung dengan moda transportasi apa yang sebaiknya saya pilih untuk mudik. Mengingat jam mudik saya menyesuaikan selesainya tutup kantor (yang bisa fleksibel dan elastis banget). Sehingga dengan Kereta Api yang jelas terjadwal, sepertinya bukan jodoh saya.

*Posting kali ini saya khususkan untuk nostalgia Jogja-Lumajang dulu*

Saya hanya menghabiskan waktu singkat di Lumajang, 3 Oktober 2012 hingga pertengahan Desember 2012. Lucky me, di waktu sesingkat itu saya bisa dapat 2 kawan mudik jadi bisa sama-sama hunting tiket bus yang paling aman dan gak oper oper.  Kala itu sasaran kami Rosalia Indah. Beberapa kali mudik dengan PO ini, saya sampai yakin untuk daftar member meski akhirnya tak kesampaian. Saat itu tarif Rp. 115.000 di non weekend (saya sering berangkat kamis malam) untuk jarak Jember-Jogja dan Rp. 125.000 untuk weekend. Lumayan, tdk perlu pusing oper2, tinggal duduk manis berselimut dan berbantal. Makan tengah malam disediakan di Rumah Makan Padang Sederhana (saya lupa daerah mana).
Sayangnya tiket PO ini sulit sekali didapat di long weekend. Sudah 2 kali saya tidak dapat tiket Jogja-Lumajang, sehingga saya harus sedikit mencoba alternatif lain.
Pengalaman pertama saya jd penumpang Bus AC ekonomi Mila Sejahtera dengan tarif Rp. 65.000 untuk Jogja-Lumajang. Lumayan pengiritan. Tp saya kurang menikmati perjalanan karna sejak pukul 18.30 dari Jogja hingga sampai tujuan 05.00 saya sukses tidur. Yang saya tahu, setiap terjaga penumpang disebelah saya sudah berganti.
Cara lain saya coba dengan pengalaman pertama ber EKA, bus AC ber wifi, komposisi duduk 2-2 dengan ketentuan 1 seat per 1 penumpang. Jadi jika kursi penuh, tidak lagi mengangkut penumpang. Saat itu untuk Jogja – Surabaya dikenakan tarif Rp. 68,000 bonus Air mineral gelas plus paket makan di RM Duta Ngawi. Tiba di Terminal Bungur pukul 00.30, saya melanjutkan dengan lagi lagi Bus Mila tapi kali ini yang Patas. Estimasi perjalanan normal menurut pengalaman saya 4 jam. Jd saya sudah siap2 istirahat manis di bus yang cukup nyaman ini. Tarif pastinya saya tidak ingat, mungkin sekitar 40ribu sekian. Rupanya bus tiba di tujuan saya terlalu cepat. Pukul 03.00 saya sudah celingukan dg wajah bengong baru bangun tidur di depan Terminal Wonorejo Lumajang, dengan asap hitam bus yang melaju kencang menampar saya.
Setelah kedua pengalaman itu, saya jadi bertekad untuk gak kehabisan tiket lagi. Terlalu merepotkan dan ummmmm mungkin menimbulkan kekhawatiran pada orang2 terdekat saya. Membayangkan saya jadi anak ilang dari terminal ke terminal di jam jam tidak normal.

Pekan kedua Desember, saya mendapat tawaran untuk pindah tugas di Mojoagung, Jombang. Saya hanya kenal nama itu di google map. Namun jiwa muda saya (ceileh) saat itu ingin mencoba hal baru, sehingga tawaran tersebut saya ambil. Berbekal instruksi dari calon bos di Mojoagung (Jalan Raya Solo-Surabaya, jika dari barat letaknya tepat sebelum masuk Trowulan, Mojokerto), saya memesan tiket Rosalia Indah jurusan Jember-Jogja. Satu satu nya kendaraan yang saya tau tidak harus oper oper. Beberapa travel yang saya hubungi hanya bersedia mengantar hingga Surabaya. Sementara masih diperlukan perjalanan 1,5 jam ke barat  dari Surabaya untuk sampai tujuan. Tarif Rp. 90.000 untuk Jember-Jombang sempat bikin saya pengen kabur sekalian ke jogja. *hihihi, habis nanggung amat.*. Saya mewanti wanti Pak Supir, Kernet dan Kondektur untuk membangunkan dan menunjukkan saya sebuah tempat bernama Terminal Mojoagung. Ternyata sejak di Brangkal Mojokerto saya sudah dibangunkan dan pada 00.30 saya tiba dengan selamat di depan mess perusahaan, tentunya dengan bantuan Pak Becak bertarif Rp. 10,000 (belakangan saya baru tau tarif normalnya Rp. 5,000). Saya terlalu lelah dan tidak siap nongkrong di terminal pinggir jalan raya Surabaya-Solo untuk menunggu jemputan.
Menjadi warga Mojoagung selama Desember-July, episode baru dimulai, cerita cerita perjalanan pun berganti. Namun jenis kendaraannya tetap sama, saya Bus Mania apapun kelasnya 😉

*Tarif Bus EKA terakhir saya menjadi penumpang Surabaya-Jogja Rp. 82.000