Tag Archives: jalan jalan

Pulau Kelagian, Mau Lagi dan Lagi

9 Jul
pertama nyampe. bawaannya masih rempong

pertama nyampe. bawaannya masih rempong

Entah apa asal mula nama Pulau Kelagian yang terletak di Lampung Selatan ini. Tapi bagi saya, sempat mencicip satu malam di Pulau cantik ini, bikin saya KEtagihan pingin kesana LAGI dAN lagi (perhatikan huruf yang capslock).

Pulau Kelagian, saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan saya mengagumi pulau ini. Kelagian menjadi tempat saya tinggal (meski hanya semalam) untuk menemukan bahwa Indonesia Barat pun punya laut yang indah.

Pulau Kelagian. masih takut gosong?

Pulau Kelagian. masih takut gosong?

Pasir putih dan lembut seperti bedak, membuat saya tak ingin sering-sering menggunakan alas kaki di pulau ini. Ditambah air lautnya yang begitu jernih, membuat saya tak perlu ragu ragu bermain air.

SAMSUNG CSC

Di siang hari, terutama jika hari libur, ada permainan-permainan pantai seperti banana boat, atau kapal kapal an (gak tau namanya). Atau mungkin akan lebih menarik untuk berkeliling ke pulau-pulau lain di sekitar seperti Pahawang, Pahawang Kecil, Maitem, Tegal, Tanjung Putus, de el el dengan menyewa snorkel gear. Silahkan cari tau sendiri kenapa perlu snorkeling di Pahawang.

pahawang kecil

pahawang kecil

boong kalo bilang gak pengen nyemplung

boong kalo bilang gak pengen nyemplung

Keasyikan snorkeling jangan sampai membuat terlambat pulang, karena Pantai di Pulau ini menghadap ke barat. Tentu menjadi pesona sendiri, karena berarti Matahari akan langsung berpamitan pada kita dengan caranya yang selalu indah.

cuma bisa motoin ;(

cuma bisa motoin ;(

Ketika malam , desir angin dan suara ombak akan menjadi lagu nina bobo yang mengantar tidur kita. Tak lupa langit dengan taburan bintangnya. Tak perlu buru-buru tidur, mungkin bisa bersantai sejenak di dermaga kecil, memancing, atau menanti bintang jatuh (leebaay).

percaya deh, aslinya jauuuh lebih keren

percaya deh, aslinya jauuuh lebih keren

Untuk menginap di Pulau Kelagian ini, tak perlu khawatir. Ada penginapan kecil dengan fasilitas kasur dan kamar mandi (saya lupa harganya). Atau jika ingin mendirikan tenda, juga tak masalah (mungkin ada biayanya juga tp tidak mahal). Listrik bisa dianggap cukup meski hanya hidup di malam hari. Tak perlu takut kelaparan, karena warung makan dengan aneka makanan, kopi, mie instan tersedia. Tak perlu takut untuk urusan MCK karena cukup tersedia toilet, kamar mandi, dan air tawar untuk menjawab panggilan alam.

duduk galau pagi-pagi. masih muka bantal

duduk galau pagi-pagi. masih muka bantal

Dan ketika pagi datang, tentu sudah cukup siap untuk menyambut mentari dengan suka cita.

Pagi di Kelagian

Pagi di Kelagian

 

*Pulau Kelagian terletak di Kab Pesawaran, Lampung Selatan. Sekitar 20 menit menggunakan perahu motor dari Pelabuhan Ketapang

*Untuk mencapai Pulau Kelagian, dari Jakarta menggunakan Bus ke Pelabuhan Merak ( Rp, 25,000), Ferry hingga Bakaheuni (Rp 13,000). Dari Pelabuhan bisa menggunakan mobil carter ke Pelabuhan Ketapang dan minta diarahkan ke kapal-kapal yang menuju Pahawang. Sewa kapal untuk minta diantarkan ke Pulau Kelagian.

*harga normal per Juni 2014, harga sewa kapal untuk seharian (keliling spot snorkel dan pulau-pulau sekitar) Rp. 500,000 dengan kapasitas 15 orang. Fasilitas: Life jacket. Snorkel Gear bisa disewa juga sekalian seharga Rp. 90,000/set hingga 2 hari. (harga mungkin ada yang berbeda atau berubah).

Advertisements

Where’s Your Backpack Kidnapping You? #2

16 Jun
image

Red Jacket is my signature style

image

image

image

image

image

Indonesia makin ke timur makin cantik”,

Familiar kah dengan ungkapan itu?
Saya sangat familiar sekali sampai-sampai tidak tau dari mana awalnya pendapat itu. Sebagai mantan warga negara Indonesia Timur yang sesekali masih melakukan perjalanan ke timur, saya sangat percaya dan setuju.

Tapi jangan lupa, di barat negri ini pun masih tersimpan keindahan.

*foto2 di atas sudah dipublish sebelumnya di akun instagram @aqied.
*Lokasi: Pulau Kelagian, Pulau Pahawang Kecil, dan area sekitarnya. Lampung Selatan

Aku cinta saat ini, entah esok

10 Jun

 

Teman Perjalanan

Teman Perjalanan

Saya suka perjalanan, setidaknya sampai saat ini.

Bagian penting dari jalan-jalan yang justru bisa kasih kesan dan pelajaran lebih dalam menurut saya, ada di proses perjalananya itu.

“kalo cuma pantai aja, di Jogja juga banyaak”

Demikian komentar seorang kawan saat saya memutuskan ke Pahawang, Lampung hanya untuk ketemu laut.

“ke Dieng naik motor? Niat amat sih”,

Salah satu komentar kawan lain saat saya bersepeda motor Jogja-Dieng PP dalam sehari.

Bagi saya, jalan-jalan bukan sekedar sampai di destinasi tujuan, berfoto narsis di landmark, share foto di social media, berbelanja oleh-oleh, kemudian pulang. Jalan-jalan saya memang standard dan ublek di situ-situ aja. Namun saya selalu berusaha menikmati setiap proses perjalanan dari setiap jalan-jalan saya.

Perjalanan memberi lebih banyak kesan dan pelajaran dibanding foto narsis yang dipamerkan di sosmed, atau narasi seru dan (mungkin) lebay di blog. Pelajaran yang sifatnya mungkin sangat personal, sehingga sulit untuk dijabarkan atau di share dalam bentuk gambar maupun tulisan. mungkin Tuhan memang tidak menciptakan Pintu Kemana Saja ala Doraemon di dunia, agar kita lebih banyak belajar dari sebuah perjalanan.

Saya mencintai perjalanan pulang pergi kantor saya saat harus bertatap muka langsung dengan matahari, saat mungkin harus berkawan kantuk dan lelah.

Saya mencintai perjalanan berkereta ekonomi dengan segala keunikan dan ramai nya yang ternyata saya rindukan ketika berkereta kelas lain.

Saya mencintai perjalanan sebagai penumpang bus malam dengan berbagai cerita kawan duduk saya, dengan berbagai atraksi unik supir bus yang seringkali memperbanyak dzikir saya.

Saya mencintai saat-saat harus duduk bengong atau mondar-mandir gak jelas di terminal, stasiun, hingga airport.

Saya mencintai perjalanan beramai-ramai dengan kawan sendiri. Saya juga mencintai perjalanan beramai-ramai dengan orang-orang yang baru kenal. Namun ada kalanya saya pun mencintai perjalanan sendiri, merenung dan bertindak sesukanya.

Saya mencintai perjalanan yang terjadwal dan terencana dengan jelas dan detail. Namun ada kalanya saya mencintai perjalanan tanpa rencana dan membiarkan kemana kaki melangkah untuk kemudian menemukan berbagai kejutan-kejutan.

Mungkin karena saya belum banyak melakukan perjalanan, hingga saat ini saya masih mencintai perjalanan. Entah esok hari, entah lusa nanti.

Jadi apakah kamu mau menambah daftar perjalanan saya?*

kapan kita kemana?

kapan kita kemana?

*baca: terima gratisan tiket kemana aja. kemudian ditimpuk sandal

What Are We?

8 Jun

image

(Si)apa kita di semesta yang luas ini?
Bahkan mungkin titik kecil pun masih terlalu besar untuk menggambarkan keberadaan kita.

*pahawang, 8 Juni 2014

Red Island a.k.a Pulau Merah, Banyuwangi

5 Jun

Ada yg sudah pernah ke sini?

image

Foto Panoramaaa

Red Island atau disebut juga Pulau Merah , salah satu pantai cantik di Banyuwangi yang cukup aksesable.

image

Moto dari dalam jeep. Jd gak gitu jelas

Apalagi jika dibandingkan perjuangan besar menemukan pantai-pantai yang bikin saya ternganga-nganga di TN Meru Betiri , yang sampe nemu Phi Phi Island KW, tapi harus ditebus dengan kejedot-jedot berjam-jam dalam jeep.

image

Rombongan trip

Letaknya di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran , Kabupaten Banyuwangi , Jawa Timur dengan akses jalan yang cukup mudah menggunakan kendaraan jenis apapun.

image

Air jernih, pasir putih

Pantai ini disebut Pulau Merah atau Red Island, karna ada segunduk kecil di salah satu sisi pantai yang memiliki tanah berwarna merah. Saat ini, pulau kecil tersebut ditumbuhi vegetasi hijau sehingga tidak tampak lagi merahnya.

image

They believe they can fly

Tenang saja, tidak perlu kecewa karena pantai ini punya garis hingga 3 km dengan hamparan bersih pasir putih. Air lautnya pun, untuk ukuran pantai yang cukup ramai, sangat amat jernih pake banget. Kabarnya, saat sedang surut, pengunjung bisa menuju pulau kecil merah yang sudah hijau itu, dengan berjalan kaki.
Basah dikit gapapa laah, berani basah itu baik.

image

Walo geseng tetep mejeng

Jadi, kamu mau ajak siapa ke Red Island?

Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur

24 May

Saya menghabiskan masa kecil di Sorong, sebelah barat Papua. Surga kecil yang diturunkan Tuhan ke bumi, demikian menurut Franky Sahilatua. Sorong itu dimana? Tengoklah peta pulau Papua yang berbentuk seperti burung. Bagian pucuk kepala, itulah dia. Sisi terbarat Papua. Disekelilingnya terdapat pulau-pulau kecil yang indah. Bahkan lagu Franky yang menyebutkan Papua sebagai surga kecil dibumi itu, sebelum Raja Ampat setenar ini.

 

Tanjung Kasuari Sorong, Papua (yang sempet saya bilang jelek dan kotor), 2010

Tanjung Kasuari Sorong, Papua (yang sempet saya bilang jelek dan kotor), 2010

Tana Papua tanah yang kaya.

Surga kecil jatuh ke bumi

Pantai yang pernah saya kenal sejak kecil adalah pantai-pantai khas Papua. Tenang, biru, pasir putih, lambaian kelapa, disertai angin dan aroma samudra yang berpadu lembut. Saya terbiasa dengan definisi pantai yang seperti itu. Bahkan pantai yang saya anggap jelek dan kotor sekalipun. Sampai pada suatu masa saya mulai menetap di pulau Jawa. Di sisi yang tidak dekat dengan pantai, dan cukup lama tidak ke pantai.

Saleo, Raja Ampat.

Saleo, Raja Ampat.

Jumpa pertama saya dengan pantai di Jawa membuat saya terkejut. Ya, mungkin saya mengunjungi tempat yang salah. Baru saat itu saya tau ada pantai yang pasirnya tidak puti, airnya tidak biru, aroma amisnya menusuk. Alih-alih bias menenangkan diri berkawan debur ombak dan belaian angin dari samudra. Saya terpaksa membiasakan diri di tengah keramaian manusia. Pantai perta ayang saya kunjungi penuh pengunjung, pencari nafkah, dan segala lapak sana sini.

Kecewa? Pasti

Setelah itu, saya tetap rajin menyambangi beberapa pantai. Tentu tak lagi dengan ekspektasi berlebihan. Berharap masih dapat menemukan pantai yang memenuhi definisi pantai semasa kecil saya dulu. Pada pertengahan tahun 2013, saya berkesempatan menjejak dan mengintip sebagian kecil dari emperan Kabupaten Raja Ampat di sela-sela perjalanan mudik saya. Mudik kali itu membuat saya semakin merasa tidak bias menemukan perbandingan alam laut Papua di pulau yang saya diami, Jawa.

tangan saya udah kaya pakai sarung tangan :(

tangan saya udah kaya pakai sarung tangan 😦

April 2014, itu kali pertama saya menjumpa pantai lagi sepulang dari Papua. Anggapan saya seketika runtuh ketika bertemu pantai indah, mungkin inilah surga kecil yang Tuhan titipkan di tanah Jawa, pantai-pantai di TN Meru Betiri.

Foto Panorama Teluk Ijo

Foto Panorama Teluk Ijo

Biru dan hijau tosca laut bagai sapuan kanvas terindah dari Tuhan, menyapa kami di Green Bay alias Teluk Ijo. Salah satu pantai di TN Meru Betiri yang dapat kami capai dengan berperahu dari Pantai Rajegwesi. Putih pasir dan lembutnya menyamankan kaki siapa saja yang menginjak, beralas kaki ataupun tidak. Hamparannya yang berkilau di bawah matahari, menghasilkan paduan apik dengan warna laut. Debur ombak yang melewati karang-karang di kanan dan kiri Teluk Ijo, tidak mudah di dapat di pantai lain. Penampakannya serupa air terjun mini. Selama berperahu, kami diiringi ukiran tangan Tuhan pada tebing-tebing disisi laut.

#sikilfie

#sikilfie

“Phi Phi Island KW” Kata teman seperahu saya.

pasirnyaaaa

pasirnyaaaa

Berperahu selalu mengasyikkan. Tak hanya indra penglihatan saja yang dimanjakan. Suara debur ombak yang mengiringi, lebih indah dari alunan music apapu. Angin dan aroma laut yang kental, memanjakan indra lainnya pula. Betapa tak sopannya saya yang sempat tak percaya bahwa masih ada, pantai indah titisan surga kecil Tuhan di pulau Jawa ini.

it's okay to be geseng in Green Bay

it’s okay to be geseng in Green Bay

Satuan waktu apapun berapapun, tak akan pernah cukup untuk mengagumi kuasa Tuhan. Kau tau, alam selalu punya kejutan untuk kita, dengan cara yang tak pernah sama.

Pantai Rajagwesi, foto panorama

Pantai Rajagwesi, foto panorama

Sayang, kami harus segera bergegas. Ada lukisan alam dahsyat yang sudah menanti kami di sisi lain TN Meru Betiri. Kanvas aneka warna senja telah siap dibentangkan kala kami tiba di Pantai Sukamade. Tepat dibentangkan saat kami usai melepas tukik-tukik kecil menuju hidup baru mereka.

bentangan kanvas warna senja pantai Sukamade

bentangan kanvas warna senja pantai Sukamade

Pantai Sukamade, untuk mencapainya kami harus siap terombang ambing di dalam Jeep yang melaju di medan off road, bahkan menyebrangi sungai. Dengan aneka tumbuhan besar di kanan dan kiri, sesekali beberapa banteng menampakkan diri. Perjalanan yang cukup seru serupa yang biasa saya lihat pada iklan-iklan rokok.

wpid-bkizah0ccae37dk.jpg

foto dari akun twitter @sudutindonesia

Sore hari di pantai ini, pengunjung dapat mengantar langkah-langkah kecil tukik menuju laut. Jika malam tiba, dapat pula menyaksikan mama-mama penyu bertelur.

go run run

go run run

“selamat menempuh hidup baru” bisik saya pada tukik kecil. Tukik yang kemudian saya biarkan langkah-langkah kecilnya meninggalkan jejak mungil pula, menjauhi kami, menjemput hidup baru dengan menghampiri laut dan lukisan senja.

selamat jalan, tukiik

selamat jalan, tukiik

 

Sunset usai melepas tukik

Sunset usai melepas tukik

Pantai Sukamade dan Teluk Ijo hanya dua dari beberapa pantai-pantai indah tersembunyi dalam area TN Meru Betiri. Masih ada Pantai Nanggelan, Bande Alit dan mungkin nama-nama lain atau tak bernama yang belum sempat saya kunjungi tuk kagumi. Kalau begini, bagaimana mungkin saya tak makin cinta dengan Indonesia?

"travel through the worl and see how He began creation " Al Ankabut 20

“travel through the worl and see how He began creation ” Al Ankabut 20

*teks dan foto oleh Aqied

IMG_6233

*isi posting ini sudah pernah dipublikasi dalam kicau bersambung akun microblog saya twitter @aqied, Rabu 21 Mei 2014, dengan sedikit penyesuaian.

*informasi mengenai pantai Bande Alit dan Pantai Nanggelan saya dapat dari akun follower twitter @justlocalview

 

The Park Solo Supermall : nge-mall sesi 2

25 Apr

Mengamati (bahasanya gaya ya?) statistik blog saya, rupanya ada posting yang cukup rame meski gak ada komen sama sekali. Posting ini rame karena ternyata sering nongol di Page 1 search engine kalo pake keyword nama tempat ini. Yup, The Park Solo Supermall  yang pernah saya kunjungi akhir tahun lalu menjaring banyak views.
Dari ngobrol-ngobrol asal dengan beberapa teman di Solo (saya sempat hidup 6 tahun di kota ini), rupanya banyak juga yang belum berkunjung. Mungkin sebagian dari yang nyasar ke posting saya itu, mereka mereka yang berniat ke The Park tapi pengen punya gambaran dulu ada apa sih disana.
Dan akhirnya saya merasa sedikit bersalah, karena gambaran yang saya sampaikan di posting tersebut mungkin sudah tidak mewakili keadaannya sekarang. So, selagi saya diberi kesempatan lagi buat nge-mall kesana, saya tulis sebagian yang sudah berubah dari tulisan terdahulu ya.

image

Sapaan pertama di lobi depan

Lahan parkir sepeda motor, masih sama dengan yang dulu. Dimana kita harus muterin gedung itu sampai ke pojok belakang. Hanya saja kali ini tidak perlu jalan kaki jauh sampai ke pintu depan sebagaimana yang saya sempat keluhkan di posting pertama. Ada shortcut yang bisa nyambungin kita langsung ke lobi belakang gedung. Disini kita bisa ketemu kereta-keretaan buat keliling gedung. (Gak moto, hiks).

Yang asyik dan baru saya tau, disini ada semacam tempet ngopi yang (kelihatannya) cozy banget. Kursi dan meja yang ditata apik, dengan berbagai coffeeshop mengelilingi, diantaranya Excelso, OldtimeCoffee, Jco, dan banyak lainnya yang saya koq lupa banget yaa. Ada CoffeeBean juga tp saya gak inget sekompleks sama yg lain atau sendiri. Penampakannya dari lt 2 seperti ini:

image

Tempet ngopi asik

Jadi bisa nongkrong bareng, meskipun kopinya nanti beda beda. Apalagi buat saya yang suka srobot kopi sana sini pengen cicip. Hehe.

image

Kopiiiiiii

Selayaknya mall, di Lt 1 ada Metro yang masih jd satu-satunya di Solo. Juga berbagai produk lain tapi masih terasa cukup sepi (saya kesana malam jumat).
Di Lt 2 ada Family Karaoke milik penyanyi dangdut, Inul Vizta. Letaknya tepat di atas tempet ngopi tadi. Sebelahnya tepat ada Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk. Di dalamnya, sama lagi semacam mall. Juga ada foodpark yang masih coming soon plus arena bermain semacam timezone.

Lagi lagi di Lt 3, selain ada Foodcourt, rencananya akan ada XXI juga yang keterangannya masih belum berubah sejak November 2013, opening soon yang semakin gak jelas soon nya itu kapan.
Yang masih belum berubah, area buat foto foto sesukanya. (Baca tentang area foto-foto ini di posting pertama saya). Enaknya di mall ini, petugas2nya wolez aja gitu kita ngeluarin kamera atau foto-foto dimana aja.

image

Dimakan.

Tapi memang beberapa gambar sudah berubah jika dibanding kunjungan pertama saya. Berijyt diantaranya

*peringatan: bakal banyak foto saya. Boleh siapin kantong muntah dulu

image

Ini versi sudah di edit pake Picsart Hp

image

Ini foto gagal karna ada bayangannya

image

Kalo ini foto di Lt 2

Ada juga yang masih eksis alias gak berubah dari kunjungan pertama saya. Alias gambar itu masih nongol nongol aja. Contohnya ini:

image

Kalo yang saya baru lihat juga, dan sempet buat mejeng:

image

Versi berwarna dari yang di atas

image

Maafkan saya kalo kebanyakan mejeng yah. Mumpung ada yang bersedia suka rela motoin. Apalagi di kunjungan saya dulu ya g pertama, saya datang sendiri dan kalo mau foto kudu selftimer ato pake jurus Tong-Bro (Tolong potoin donk, Bro). Kasian amat kan yaaa.
Sekali lagi, saya memang bukan anak mall. Saya lebih suka main yang panas-panasan daripada keliling mall yang adem. Saya lebih suka motret suket daripada poto selfie di toilet mall.

image

Selfie kaya gini lebih asyik kaan. Foto dr koh @ferryrusli

Tapi sekali-kali main yang gak bikin kulit saya berubah warna, gak salah kaan?

image

Fakta aneh: saya pakai jilbab yang sama dengan yang saya pakai sebelumnya di posting kunjungan pertama.

Kalau mau bandingin atau tambahan info, bisa ke posting pertama saya. Yg sudah ada disana, tidak saya ulangi lagi. Misal tampak depan, alamat, foto miniatur, de el el

1000 Bintang di Kawah Ijen

15 Apr

image

Pagi masih terlalu dini ketika kami meninggalkan penginapan yang hangat. Udara masih terlalu menusuk meski jaket, syal dan sarung tangan rapat dikenakan. Pukul dua pagi ketika mobil kami menjauhi penginapan. Belum tuntas 2 jam tidur kami semalam. Belum pulih raga kami dari sisa sisa perjalanan dan bermain di Baluran hari sebelumnya.
Tiba di area parkir kawasan wisata Gunung Ijen, Tour Leader kami mengingatkan bagi yang tidak yakin sampai terutama alasan kesehatan, untuk memikirkan kembali masak masak. Sampai kemudian kami sepakat untuk naik.
Kawah Ijen, dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 1,5 hingga 3 jam (tergantung kecepatan jalan) dari area parkir. Lintasannya sekitar 3 KM dengan elevasi cukup landai dan bersahabat untuk siapa saja. Namun memang menanjak terus.

image

Tuh jalanan ternyata ngeri. Pas malam gak kelihatan

Mengapa harus mendaki di tengah malam gelap gulita?
Kawah Ijen memiliki sesuatu yang hanya ada 2 di dunia ini. Yaitu blue fire alias api biru. Api spesial ini hanya muncul di pagi buta. Mungkin sekitar pukul 3 hingga jelang subuh.
Untuk aman mendaki, disarankan menggunakan sepatu/sandal yang tepat karena tanah yang sesekali berpasir atau mungkin bisa licin jika musim penghujan. Jangan sampai salah alas kaki yang bisa menyebabkan langkah semakin berat atau lecet lecet begitu turun. Karena malam hari, siapkan juga head lamp atau senter untuk penerangan.
Sebelumnya, saya lumayan mencari info tentang Kawah Ijen ini. Termasuk salah satu destinasi yang membuat saya menyesaaaaal sekali jika tak berkunjung, jauh jauh hari saya banyak cari info. Mendapat info kalau jarak mendaki hanya 3 Kilometer dan elevasi yang landai membuat saya berfikir ‘aah keciiil’ secara saya dulu (tapi udah dulu bangeeet) juga hobi tracking, trus juga kalo jogging paling nggak saya 2,8 KM.
Tapi tapi tapi, rupanya kesombongan saya itu dihancurkan telak oleh si gagah Ijen. Setengah perjalanan pertama saya lalui dengan sangat susah payah. Semangat 45 di awal jalan, buat saya yang libur jogging sejak 2 minggu sebelumnya, bikin nafas saya kacau. Ditambah saya pengen nyamain langkah n kecepatan 2 rekan saya yang lain (yang katanya kedinginan kalo jalannya pelan pelan). Apalagi saya agak bermasalah (baca: musuhan) sama udara dingin. Jadilah saya di paling belakang dan gak bisa sejajar dengan rekan2 yang lain, padahal di awal perjalanan saya barisan paling depan bertiga.
Beruntung ad Tour Leader (TL) yang mau maunya nungguin saya dan bukannya ninggalin dan suruh saya turun aja. Tiap berapa langkah dan nafas saya ud gak beres, saya minta berhenti. Ujung ujungnya ransel saya yang isinya kamera dan air minum, ikut dibawain pula. Sambil jalan pelan pelan dan rombongan di depan kami sudah jauuh sekali tidak terlihat.
Yang indah dan membahagiakan saya di kala kondisi sekarat seperti saat itu adalah, taburan bintang yang maha dahsyat. Mungkin lebih dari 1000 bintang mengiringi langkah cemen saya. Sesekali ada bintang jatuh yang gak sempat saya lihat (TL nya lihat terus bintang jatuh). Jarak antara kami dan bintang pun rasanya lebih dekat.
Ambil gambar?
Saya tidak terfikir saat itu. Selain lensa kamera saya cuma pas pas an, saya saat itu lebih memikirkan bagaimana saya bisa sampai. Seberapa tenaga saya yang masih bisa buat saya naik dan kemudian turun. Itu saja yang ada di otak saya kala itu. Tidak heran, dari beberapa destinasi selama trip, foto di Kawah Ijen paling sedikit.
Takjub juga ketika sesekali kami berpapasan dengan bapak bapak yang memikul belerang dengan berat lebih dari 50 kilogram, enteng saja naik turun di jam segitu. Stabil saja langkah-langkahnya membawa beban seberat itu. Hidup memang keras, kawan.
Berjalan pelan pelan dan sangat sering sekali saya minta berhenti, bisa juga sampai di rest area yang menurut TL nya, sudah setengah perjalanan (+/- 2246 mdpl). Menurut saya sih baru setengah perjalanan dan mungkin saya bakal sempoyongan setengah mati lagi buat ngejalanin sisanya.
Di rest area ini ada warung yang menyediakan Pop Mie, air mineral, kopi, de el el. Sayangnya saat itu belum buka. Jadi saya cuma istirahat dan tidur2an sambil lihat bintang sembari mengatur nafas. Ternyata kami bisa menyusul sebagian rombongan yang sebelumnya sudah lebih dahulu dari kami.
Setelah dirasa membaik, kami melanjutkan perjalanan lagi. Dan ajaibnya, langkah dan nafas saya sudah enteng. Setengah perjalanan yang tersisa versi TL, saya lalui tanpa berhenti istirahat dan voilaaa saya sampai di puncak dengan total waktu tempuh 2 jam. Saya masih sempat melihat blue fire tanpa bisa memotret (kagak ad lensa).
Tinggallah sampai di atas saya yang mencari cari kemana kah TL yang masih membawa backpack saya. Rupanya saya tiba lebih dulu. Hehehehe

Selayaknya di gunung, angin kencang sekali menyapa kami. Plus hawa dingin yang menusuk. Jika di perjalanan tadi kami gerah karena berkeringat, sampai di puncak kembali kedinginan dan lebih hebat lagi dinginnya. Saya pakai jaket plus jas hujan sekalian.

Dan ini nih, kawah dan danau asam hijau tosca menyapa kami seiring sunrise.

image

Saat itu di atas sudah cukup ramai. Rombongan (sepertinya) mahasiswa, rombongan rombongan wisata, maupun wisatawan wisatawan dan pendaki lain baik lokal maupun internasional. Menurut salah satu TL, sebagian warga cukup familiar dengan bahasa Prancis (yang susahnya minta ampun) karena banyak turisman dari negara tersebut. Namun yang saya lihat tidak hanya turisman eropa, namun asia jg cukup banyak saat itu.

Terbayar sudah semua susah payah ngos ngos an langkah kaki saya yang sombong. Runtuh sudah semua sok sok an saya. Ijen menghantam saya telak. Menyadarkan saya untuk lebih banyak bergerak. Kapan terakhir kali saya rutin sit up setiap bangun tidur? Kenapa saya harus beralasan untuk tidak jogging sampai 2 minggu? Kapan saya terakhir berjalan kaki jauh? Kenapa saya harus selalu bermanja dengan kendaraan sedang saya punya dua kaki yang utuh dan sehat?
Mengagumi kekuasaan Tuhan dalam lukisan bernama Kawah Ijen tidak akan pernah usai. Namun perjalanan akan berlanjut. Saya turun melalui jalur dimana saya naik tadi dan baru menyadari betapa mengerikannya jalur tadi. Malam berhasil menyembunyikannya dan mengamankan saya dari rasa takut.

image

Jalan pas turun

Angin sesekali masih bertiup, nun jauh di bawah sana tak dapat sempurna kami lihat. Serasa berada di negri di atas awan, saya turun perlahan. Dengan nafas dan langkah yang lebih stabil dan teratur. Saya tiba di bawah tanpa istirahat. Sepiring nasi goreng sudah menanti.

Ijen dan Baluran adalah dua destinasi yang sangat saya ingin kunjungi. Sempat menetap di 3 kota jawa timur selama 9 bulan, kedua tempat ini belum saya datangi. Sampai pada Juli 2013, saya dipindah tugaskan ke Yogyakarta, penyesalan saya menjadi jadi karena meninggalkan jawa timur tanpa sowan ke dua tempat tersebut. Kini penyesalan saya telah terbayar. Namun bersama 1000 bintang yang mengiringi langkah ngos ngos an saya, ada 1000 sesal atas kemalasan dan kesombongan saya yang berakibat kepayahan saat mendaki.

image

Bisa nyampe jugaa

Salam lestari

*sisi lain Ijen di blog Mb Prue
*saya sedang kesulitan upload foto karena sedang training kantor di hotel. Selain itu memang sedikit sekali saya ambil gambar. Penasaran bisa cek foto2 Ijen di search engine
image

Mari wisata di negri sendiri

Cause This is (not) Africa

8 Apr

Hujan, pelangi, matahari

Lautan, gunung, tebing

Rumput savanna di bukit bukit,

Bunga-bunga warna warni

Semua ada di sini untuk kita jaga dan sayangi

Semua menanti, semua yang ada,

Untuk kita pelajari,*)

 

 

saya dan Backpack Abu-abu (gak keliatan)

Potongan lagu yang dibawakan dalam Musikal Laskar Pelangi itu, bersenandung riang di benak saya begitu menginjakkan kaki di Savana Bekol. Terbesit keinginan tuk turut bernyanyi, meneriakkan skeras-kerasnya dengan riang, se riang anak-anak SD Muhammadiyah Gantong saat berlarian di savana. Rumput-rumput bergoyang, menyapa dan melambai seakan mengajak saya mendekat dan berlarian di hamparannya. Tak peduli sengatan matahari yang terik. Tak peduli perjalanan panjang yang seharusnya memuat letih.

coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Savana Bekol, terletak di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo atau sebelah utara Banyuwangi. Untuk mencapai TN Baluran, dari Terminal Besuki Kab. Situbodo kea rah timur sekitar 2 jam perjalanan, hingga menemui tulisan ‘TN Baluran’. Jika sampai di “Selamat datang di Banyuwangi”, berarti sudah terlewat.

Dari pintu gerbang atau loket pembelian tiket (Rp. 10,000), pengunjung bisa menempuh perjalanan lagi dengan dimanjakan suasana hutan. Jika jeli, bisa terlihat hewan-hewan liar dengan cukup dekat, misalnya:  merak, monyet, rusa, de el el. Sayang sekali mata saya sulit langsung mendeteksi ciptaan Tuhan yang cantik itu. Yang saya lihat hanya hijau dedaunan (namanya juga hutan).

SAMSUNG CSC

Tiba di savanna Bekol, silakan berandai andai sedang di Afrika. Di musim ini, rumput-rumputnya sedang hijau dan cukup menyejukkan mata melihatnya terhampar begitu luas. Tak peduli matahari yang sebegitu teriknya dan pegal-pegal perjalanan Jogja-Surabaya-Baluran yang saya tempuh nonstop, saya langsung menghambur ke little Africa ini.

Sebelumnya, saya pernah melihat TN Baluran ini dibahas dalam acara “Tiga Enam Puluh” Metro TV sudah cukup lama. Saya berdecak kagum dengan tampilan saat itu (sepertinya musim kemarau), ketika rumput-rumput kering, dan sesekali terdapat pepohonan dengan latar belakang gunung.  Benar-benar seperti di film-film dengan setting Africa. Ditambah sesekali ada satwa berlalu lalang seakan tak peduli. Namun meski ternyata saya disambut hamparan hijau, tak ada decak kagum yang berhenti keluar dari mulut saya.

Rumput, Pohon, Gunung, dan masnya moto tp action

Rumput, Pohon, Gunung, dan masnya moto tp action

Tidak hanya hamparan rumput dan sesekali pepohonan, beberapa hewan menarik sudah menyapa. Sedikit agak jauh dari tempat saya berdiri, gerombolan rusa sedang minum air. Mungkin belum jodohnya, sehingga ketika saya mendekat mereka bubar jalan dan menjauh. Alhasil, belum ada satupun yang berhasil menjadi model di kamera saya.

Untuk dapat melihat lebih luas, tedapat semacam gardu pandang. Untuk mencapainya, cukup naik tangga dan taraaaa. Luasnya savanna sudah kita lihat. Ditambah latar gunung yang semakin menarik.

View dari Gardu Pandang. pegel kagak tuh muterin savana segitu luasnya

View dari Gardu Pandang. pegel kagak tuh muterin savana segitu luasnya

Tidak jarang, kami berjumpa gerombolan monyet-monyet. Sibuk sendiri seakan tak peduli. Atau mungkin seolah-olah sibuk untuk menarik perhatian kami. Juga terdapat kepala-kepala hewan yang di dekat area parkir.

SAMSUNG CSC

membelah hutan bakau

membelah hutan bakau

Tidak jauh dari savanna Bekol, terdapat pantai Bama. Sore itu, pantai ini cukup ramai. Kami dihibur dengan monyet-monyet yang beratraksi sendiri. Sempat timbul rasa takut, mengingat saya pernah  memiliki pengalaman buruk dengan monyet-monyet sejenis di Tawangmangu maupun kaliurang. Namun rupanya monyet-monyet lepas di sini cukup ramah, bahkan menghibur.

Sedikit ke sisi kanan, tumbuhan bakau menyapa. Dibuat semacam jembatan melewati bakau-bakau tersebut hingga akhirnya berujung. Dari sini bisa melihat pantai perpaduan laut dan langit jelang sore yang tenang, indah dan pas buat narsis.

laut dan langit, pantai bama

laut dan langit, pantai bama

Matahari mulai menunjukkan kode akan berpamitan. Kembali ke mobil dan bersiap-siap pulang. Belum lama menjauh dari pantai, kami dikejutkan dengan barisan monyet yang memenuhi jalur yang dilewati mobil. Tak hanya itu senja menunjukkan pesonanya yang mungkin akan kami sesali seumur hidup jika tak sempat menikmatinya.

satwa penikmat senja

satwa penikmat senja

Takjub, bengong, dan ternganga melihat yang dipamerkan  surya saat hendak tenggelam. Seandainya seluruh pelukis handal di dunia berusaha menggambarnya, saya yakin takkan mampu lebih indah.

Semburat jingga, berpadu awan yang mulai menggelap, langit yang masih membiru, bersembunyi dibalik bukit bukit. Siluet pohon-pohon, sapuan tipis awan, jejeran bukit berbaris, menjadi foreground untuk sebuah gradasi warna senja. Bahkan untuk berpamitan pun, matahari tetap menunjukkan kuasanya. Mungkin kata indah pun tak mampu mewakili senja saat itu.

Senja di Savana

Senja di Savana

Ada kesal yang tak henti saya rasakan hingga sekarang. Betapa kuasa Tuhan tidak dapat saya rekam dalam lensa kamera saya. Bagi saya, senja itu adalah hadiah terindah Tuhan untuk saya. Untuk kami. Hadiah yang tak bisa saya abadikan sempurna dalam alat-alat buatan manusia. Beberapa rekan perjalanan saya (yang kebanyakan traveler) bahkan menyebut senja itu sebagai ‘best sunset I’ve ever seen’.

Bahkan satwa pun tak ingin melewatkan momen itu.

SAMSUNG CSC

Malam resmi menurunkan tirainya. Satwa penikmat senja mulai memberi jalan untuk kendaraan kami. Serasa hilang segala penat, keringat dan lelah dari raga kami. Pulang dengan tersenyum. Bersiap bangun dini hari, demi menjadi saksi blue fire di Kawah Ijen.

 

Savana….

Padang rumput hijau

Dengan semak terpencar diantara rerumputan

Karena keadaan tanahnya dan kebakaran yang terjadi,

Muncul padang rumput hijau terbentang luasnya

Sedikit pepohonan,

Itulah savanna….. *)

masih savana

masih savana

*) Potongan lagu “Sahabat Alam”, salah satu lagu dalam Musikal Laskar Pelangi dinyanyikan oleh pemeran Bu Muslimah dan siswa-siswi SD Muhammadiyah Gantong

Where’s Your Backpack Kidnapping You?

7 Apr

Seperti di posting saya sebelumnya, weekend lalu saya menjalani long weekend yang tertunda. Berarti saya punya waktu libur mulai Jumat, Sabtu dan Minggu. Untuk libur kali ini, memang sudah saya rencanakan jauh2 hari. Dan kemanakah saya?
Yep, selepas jam kantor pukul 5 sore lebih hampir setengah enam, saya cabut dr kantor. Mengingat masih banyak banget yang belum saya siapin untuk sebuah trip yang cukup padat. Sampai pada pukul 9 malam, saya sudah duduk manis di kursi no 2 belakang Supir bus Eka menuju Surabaya. Sialnya si bus malah ngetem lamaaa banget sampe saya ketar ketir dan ujung2nya jadi peserta trip yang dikenal dengan “Aqied yang datang terlambat dari jogja”.
Whatever,,,, itu hanya permulaan aja. Paling nggak, meski memulai dengan awal yang buruk, saya bisa menghasilkan foto-foto berikut:

image

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Itu sebagian gimana Backpack abu abu sukses banget nyulik saya.
Readers pengennya saya cerita yang mana duluan nih?

*cerita tentang penyu/tukik bisa intip blog Mba Prue yg ud posting duluan