Tag Archives: ibu

Malam Ini Saya Menangis, Flashback Jawa papua 1990-1994

29 Jan

Malam ini saya menangis.

Sampai sampai saya tidak tau mau nulis apa. Gak usah ngirain tangisan saya ini seperti tangisan jomblo di malam minggu. Atau tangisan karyawan di tanggal tua. Sama sekali Nggaak.!!

Malam ini saya menangis. Sudah lama saya tidak menyentuh laptop ini, sampai tadi sore. Satu folder menggelitik saya. Sejenak saya terdiam, teringat tumpukan surat-surat tulisan tangan kedua orang tua saya. Masa LDR Jawa-Papua sepanjang 1990-1994 menghasilkan mahakarya sejarah keluarga kami. Kisah kisah yang jelas tercatat rapi, torehan sejarah perjuangan dua orang paling saya cintai di alam raya ini.

Bapak memberikan kami bukti-bukti sejarah itu beberapa tahun lalu. Harapan beliau, kami bisa mendokumentasikan setiap yang tertulis dalam sekian kilogram kertas itu dengan lebih baik. apa daya, sulit sekali bagi saya melaksanakan tugas beliau. Tak bisa dipungkiri, pandangan saya pasti dan selalu kabur pada surat ke-2 atau ke-3. Air mata  menggenang, sesekali badan saya terguncang membuat saya tak mungkin bisa dengan santainya mengetik atau men-scan satu satu lembaran-lembaran itu. Cerita-cerita yang belum pernah sekalipun aku tau keluar dari mulut beliau berdua, baru aku ketahui faktanya.

Pesan-pesan dan harapan sejak aku lahir (saya lahir Februari 1990, surat pertama pada April 1990), terdokumentasi rapi. Setiap langkah dan perjuangan pahit, panjang, dan penuh liku mereka tanpa rekayasa akhirnya saya ketahui.

Bagaimana cinta dan perjalanan panjang Ibu mengasuk mendidik seorang anak nakal 3 tahun (kakak saya), dan seorang bayi kecil yang rewel dan merepotkan (saya) di rumah mertuanya disamping tugasnya sebagi guru.

Bagaimana cinta dan perjuangan Bapak di ujung negri antah berantah kota Sorong Irian Jaya yg tidak pernah tau apapun disana, jauh dari keluarga, jauh dari anak dan istri yang selalu bisa jadi penyejuknya. Bagaimana usaha Bapak untuk terus bertahan bahkan tak bisa menahan untuk membantu orang lain di saat beliau pun harus bertahan hidup sendiri disana dan menafkahi istri dan 2 anaknya di Jawa.

Bagaimana Ibu bercerita tumbuh kembang kami, bagaimana Ibu bercerita kenakalan kami, bagaimana cara ibu menguatkan Bapak yang selalu merindu. Bagaimana tulisan Ibu apapun isinya selalu bisa menjadi suplemen semangat Bapak.

Bagaimana Bapak menghibur, berbagi cerita, bagaimana Bapak mengutarakan perasaan sedihnya tak bisa berada disisi istri, ibu dari anak-anaknya yang selalu disebutnya “yang selalu menyatu denganku”. Bagaimana Bapak mensyukuri dan berdoa untuk ulang tahunnya yang ke-27 (Juli 1990)

Diantara pesan-pesan untukku*:

kita baru menghadapi permulaan dari perjuangan dan semoga Allah membimbing kita. (April 90)

kau jauh dariku secara lahir saja tapi hakikatnya kau berada satu denganku. Menyatu dalam jiwakudan bersama-sama selalu memohon bimbingan dan karunia dari pemberi, yaitu Allah swt. (April 90)

Ma-inn, aqid, kowe saiki iso opo. Ora pareng nakal, sing manut karo ibu. Ibu dibantu lan di hibur ben ora pati susah. ngaji lan sinau sing sregep. Adik’e diajari sing apik. Bapak lagi nindak ke kewajiban ono panggon sing adoh, nanging sejatine bapakmu malah luwih cedhak karo kowe kabeh dan ibumu ora tau ucul soko pikiranku, kowe kabeh (April 90)

“kesabaran dan ketahanan berjuang hanya akan diberikan kepada mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah swt” (Mei 90)

Mainn, Aqid, bantulah ibumu baik-baik agar masa depanmu dan keluargamu mendapatkan keberuntungan dan Allah pun ridho memberikan kebahagiaan kepada kita semua. (Dzulqo’dah 1410)

Ma-inn, Aqid, kamu harus taat pada Ibu. Bapak baru berjuang disini, doakan bapak berhasil dalam perjuangan ya nak… (Juni 90)

Dimana saja kita berada kita harus selalu berusaha menjadi orang islam yang baik. Bersikap pemurah, ramah, dan rendah hati. Dengan begini, Allah akan selalu memberi kemudahan, walaupun kelihatannya berat tapi ringan setelah dijalani. Dan Allah akan selalu mencukupkan kebutuhannya. Sedang rezeki datang tanpa diduga-duga. Mungkin berupa materi, mungkin pula berupa saudara, sikap dihargai sehingga jalan akan semakin lapang. Aku telah membuktikan itu. Janji Allah selalu benar. ma-inn ku sayang… Aqid ku sayang…

Doakan bapakmu yang akan sellau membahagiakanmu, menyelamatkanmu.. dengan izin Allah (Juni 90)

ma-inn, Aqid > kuharap kau menjadi penghibur ibumu dan menjadi tabungan masa depan orang tuamu. (Juni 90)

Ma-inn, aqid…. Apa sudah pinter ngaji, masak, mbaca, nyanyi, nggambar, dan apa lagi? Mestinya kau tidak nakal lagi, atau mungkin tambah kreatif sehingga njengkel ke. Itu mungkin cirri anak cerdas. Iya gak?? (Juli 90)

Tahun baru kita

Tahun kemenangan kita

Selamat tinggal kegagalan, kegalauan, kesalahan, kekalahan, keraguan, kekhawatran, kemaksatan, kemusyrikan……. (tahun Baru Hijriah 1411)

 

Malam ini saya menangis, sehingga tak mampu teruskan membaca episode selanjutnya dari sejarah ku sendiri. Sejarah kedua orang tuaku yang penuh liku, dibalut cinta dan perjuangan panjang.

*yang bikin mbrebes mili banget banget gak di share disini yaa……a

Advertisements

Ibu dan Lumia nya

18 Jan
image

Lumia Ibu, sedang transit di Sultan Hasanudin Airport Makassar

Saya dan orang tua memang sudah sejak SMP tidak tinggal bersama. Saya menjalani sekolah berasrama di Solo sejak lulus SD, sementara kedua orang tua saya di Sorong, Papua. Kontak memang sering, dari jaman kombinasi telpon dan surat pos, ponsel, hingga sekarang pesan instan dan jejaring sosial.
Awalnya, memang sudah cukup bagi kami berbincang dan bercerita secara audio saja (baca: telpon) atau sms. Seiring semakin banyak hal baru yang kami temui, dan sangat ingin kami ceritakan, kami mulai hal baru. Jadi biasa setelah cerita by phone, ad gambar2 atau foto yang kami saling kirim melalui email.
Contohnya saat saya ikutan volunteer ASEAN Para Games di Solo, Bapak pingin tau gimana gimana nya atlet atlet difable di event pasca SEA GAMES itu. Juga saat saya wisuda, bapak gak ikutan. Jadi dikirimnya via email. Pernah juga waktu Bapak dan Ibu ada acara tahun baru di Waisai Raja Ampat. Kami anak anak beliau penasaran maka di email lah foto2 beliau berdua disana.
Lama kelamaan, kami mulai merasa email tidak cukup praktis. Fyi, jangan bayangkan kualitas koneksi di pelosok sana dengan pulau jawa. Juga listriknya. Selain itu, koq jd ngerasa ud gak real time. Kerasa gak sih, ketika ud penasaran bangeet ato ud seru banget ceritanya, gambar visualnya masih meraba raba. Dan pas diterima sudah gak se exciting pas seru2nya. Gak cuma itu, banyak hal remeh temeh yg selalu pengen kami bagi, dan gak asyik banget kalo harus di email dan bapak downloadnya masih entaran banget. Pas selo, pas sinyal bagus, pas bukan jam kerja tp pas gak di rumah juga (sinyal di rumah juelek maksimal). Selain itu, kami pengen juga kan selalu berbagi tumbuh kembang baik diri kami sendiri masing2 atau segala hal di sekitar kami.
Maka, Qonita dan Qolbi muncul dengan ide menghadiahkan smartphone untuk Ibu. Awalnya karna kami belum uji coba sinyal di sana, bayangan mereka tar bisa skype an gitu. Atau minimal bisa kirim2an foto sesukanya di whatsapp. Dua itu harapan minimal kakak dan adik saya yg cerdas (saya gak ikutan punya ide pas itu, bodohnya).
Misi pun di mulai, setelah mencari tau sana sini dan berunding antar kami, disepakati Lumia dari brand (yang sempat) Besar. Ini untuk bujukan lebih mudah juga sih, karna Bapak gak pernah beli ponsel selain merk ini. Pada Juli 2013, Qonita sebagai sesama pengguna Windows Phone mulai membeli dan membekali ponsel tersebut dg aplikasi2 yang dibutuhkan.
Karena Qonita dan si kecil gak ikutan mudik lebaran, saya jadi petugas yang mengantarkan ponsel tersebut pada 3 Agustus 2013. Berhubung saya gak ngerti ngerti banget Windows Phone, jadilah disana Ibu tinggal belajar n make aja. Satu satu nya aplikasi paling aktif adl Whatsapp. Selain berkomunikasi dengan kami, Ibu juga bisa komunikasi dengan teman2nya sesama ibu ibu, teman2 kuliahnya, dosennya, dan siapa aja. Saya cuma bisa ngajari penggunaan search engine yg bisa dg scan dan ketik manual. Yang Ibu suka banget, karena Ibu bisa ngetik arab dan bisa translate di ponselnya. Bisa baca quran beserta terjemahnya, bisa cek kata2 sulit di Quran dan langsung ke search engine (meski dulu Sarjana di Matematika, sekarang Ibu kuliah lagi Bahasa Arab).
Akhir tahun kemarin, Ibu ke Jawa. Mulai berdiskusi dengan Qonita soal ponselnya. Pernah suatu hari saat saya utak atik ponselnya, saya tanya
“Bapak suka make juga gak sih?”
Ibu: “iya, kadang yg kirim2 foto itu bapak. Kadang juga bapak cari2 kalian tuh di situ (nunjuk tanda search engine).”
Saya: “What? Nyari Aqida Shohiha gitu?”
Ibu: “gak tau tuh bapak. Aqied gitu deh kayanya. Tar ketemu yg itu tu satunya facebook(twitter). Kadang ya Aqida Shohiha kayanya”.
Oh my, bagi Anda pembaca twitter saya, tentu tau kalo saya lebih banyak nyampah, alay dan gak mutu kalo ngetwit.
Saat itu saya rada kaget. Twitter saya memang gak pernah digembok. Jadi Ortu tau donk saya suka galau galu gak jelas, saya mention2an sama siapa aja, ato kalo saya lagi kode kode n no mention. !!!
Ternyata setelah percakapan itu, Qonita kembali dengan ide brilliannya
“Ibu follow aja twitnya Aqido. Tar aku taro di home biar tinggal baca”
Dziiiiiiinnngggg!!!
Belum sempat saya protes, Ibu sudah bersuara
“O iyo sudah”
dan nemplok lah shortcut ke timeline twitter saya dengan manis di home windowsphone yang kotak kotak itu. Sebelumnya facebook 4 anaknya ud berjejer manis.
Yasudah lah, saya pikir biarlah malah saya jadi gak harus panjang2 kan kalo crita di telp. Kan ud baca sendiri. Hehehehe. Telp nya bisa buat ngobrol2 yang lain yg private2 ajah.
Tapi lucu juga, meski saya tau kalo Ibu dan Bapak suka kepoin saya, Ibu semacam gak pengen ketahuan gitu kalo kepo.
Pada suatu hari:
Saya: “aku tau loh kalo Ibu kepo in aku. Ibu suka gak sengaja kepencet favorit kaaan”
Ibu: “hah iya ya? Masa sih? Kalo kaya gitu emang ketahuan ya kalo suka baca baca?”

Sebelum mudik kmaren, Ibu sempet juga tanya tanya instagram. Tapi oleh Qonita saat itu disampaikan kalo instagram gak penting2 amat dan di WindowsPhone masih versi Beta.
So, mulai saat itu, twit, posting facebook, bahkan posting di blog ini bisa jadi bahan bacaan Ibu dan Bapak saya. Soal blog saya masum radar bwliau berdua juga saya baru tau beberapa hari lalu.
Ibu via Whatsapp : “maksudnya apa sih kamu menang undian PKK Anak SMA? Kalo artikelnya aku sudah baca sih”
Nah looo. Bahkan posting absurd yang itu pun dibaca oleh beliau. Mungkin hanya akun Path aja yang sampai sekarang belum masuk radar.

Posting yang ini pun sepertinya bakal dibaca beliau. Haiii Ibuuu, Haiiiii Bapaaakkkk…… 😉

Surat Cinta dan Perjuangan

29 Oct

Repost twit galau

@aqied: Gonna hug my Mom, count down n now less than a month to make it real…
@aqied: 24 November. Semoga bisa cuti 25 November. Demi hari kedatangan Ibu….
@aqied: Dulu sejak SMP-SMA, walo jauh dr ibu n gak tiap taun bisa ketemj, g sampe nangis2 kangen. Sekarang ud ‘gede’ malah kerasaa bgt pgn dket ibu
@aqied: Sekarang Ibu sama Bapak berdua aja di rumah. Beliau berdua rajin kirim update info apa aja disana via Whatsapp. Thanks to Nokia …..!!!
@aqied: Bahkan lucunya bapak pernah kirim foto zaman bapak masih 20an di papua sana. Ampuh bikin kita inget gmn kerja n karya beliau di usia muda
@aqied: Ketika kami sudah gede juga, bapak ibu ke jawa dg membawa sekian kilogram kertas2. Ternyata surat2 beliau berdua waktu LDR Jawa-Papua 90-94
@aqied: Jadi bapak n ibu memang tidak banyak bercerita. Kami bisa baca sendiri di surat dg tulisan tangan beliau berdua selama 5 tahun itu
@aqied: Bisa ditebak, hampir selalu saya tdk bisa menyelesaikan membaca. Mata saya terlalu cepat berair, nafas saya tersengal & pandangan saya kabur
@aqied: Cerita yg lengkap. Komplit. Bahkan slalu ada update pertumbuhan saya (tahun 90 saya masih bayi), juga kakak saya.
@aqied: Di lembar terakhir surat, biasanya bapak mengajak saya ngobrol. Setengah halaman folio beliau khusus tulis surat buat saya.
@aqied: Bapak menuliskan surat untuk saya yg selalu dibacakan ibu pada saya yg bahkan belum tau apa itu kertas. Apa itu huruf.
@aqied: Selain saya, Bapak jg nulis buat kakak saya. Tidak jarang kakak sy bikin surat balasan. Entah puisi, cerita sehari2, ato skedar koreksian PR
@aqied: Terimakasih buat yg bersedia membaca twits saya. Jika mengganggu bsa abaikan atau unfol. Jika menyimak, mohon maaf sy tdk bisa teruskan
@aqied: Surat surat ibu bagi saya lebih “mbrambangi”. Setiap tumbuh kembang saya terdokumentasi apik dalam tulisan tangan beliau yg rapi
@aqied: Betapa merepotkannya saya di masa kecil. Betapa saya belajar banyk dr kehebatan Ibu mengurus saya yg aneh, susah diatur, & kdg “misterius”
@aqied: Kadang surat ibu sedikit berantakan, karna di tulis malam hari sambil menidurkan saya,  sepulang mengajar di salah satu SMA kota Solo
@aqied: Saat itu kalo gak salah hitung di tahun 90 usia Ibu dan Bapak saya belum 30 tahun. Bapak masih 27 tahun.
@aqied: Menjelang lulus kuliah 2011, saya sempat iseng tanya ke ortu “kalo aku balik ke papua gmn?”. Jawabannya “ngapain balik?”
@aqied: Saya pasang jurus yg biasanya dikeluarkan anak2. “Buat temen bapak sama ibu, “, beliau tertawa dan intinya gak stuju dg permintaan saya
@aqied: Jadilah sekarang Bapak Ibu berdua di rumah hijau Papua. Saya percaya Alloh menjaga keduanya. Setidaknya begitu yg selalu ad dalam doa saya
@aqied: Terimakasih buat yg bersedia membaca twits saya. Jika mengganggu bsa abaikan atau unfol. Jika menyimak, mohon maaf sy tdk bisa teruskan
@aqied: Mata saya sudah terlanjur “mbrambangi”. Pengen nge whatsapp ibu, tp di WIT sudah hampir jam 1 pagi

%d bloggers like this: