Archive | motret RSS feed for this section

Turnamen Foto Perjalanan 46: Refleksi

5 Jul

Asyik banget ngetik ini sambil dinyanyiin Mirrors sama Mas Timberlake.

image

Nyiur melambai

Kita yang sekarang adalah refleksi kita di masa depan. Secara garis besar mungkin, karena detail bagaimana masa depan kita, tidak ada yg tau. Seperti refleksi nyiur pada air laut. Ad gelombang dan ombak yang sembunyikan detailnya”

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 45 oleh Tiga Di Bumi

Thanks Mb May untuk temanya yang seru.

*foto diambil di sekitaran Pulau Pahawang Lampung Selatan, Juni 2014. Nama pulau nya sendiri saya lupa.

Advertisements

Turnamen Foto Perjalanan 45: Siluet

26 Jun

Berkali-kali gak kesampean ikutan Turnamen Foto Perjalanan karena tiba tiba kelewat deadline, pas tema kemaren Siluet ini udah pengen banget ikutan.
Tapi lagi-lagi sama kaya sebelum-sebelumny, lupa mulu. Sampai tanggal 24 yang aku kirain deadline nya. Untung follow twitter Tuan Rumah Mas Lost Traveler trus dikasitau kalo masih tanggal 27 alias hari ini terakhir ikutannya.
Berhubung saya gak ngerti fotografi, boleh ya setor objek foto favorit saya: #suket

image

Rumput Mentari Terbit

Selalu ada harap baru pada setiap terbitnya mentari, bahkan harapan rumput kecil. Tak pernahkah kau coba tanyakan apa harapan rumput yang bergoyang?”

Foto ini diikut sertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 45 oleh Yofangga

Koleksi foto suket lainnya disini.

What Are We?

8 Jun

image

(Si)apa kita di semesta yang luas ini?
Bahkan mungkin titik kecil pun masih terlalu besar untuk menggambarkan keberadaan kita.

*pahawang, 8 Juni 2014

Senja Cara Gue

16 May
image

10 menit sepeda motor dr kantor untuk dpt momen ini

Negri kita, dengan lintasan garis khatulistiwa, sudah pasti bermandi matahari sepanjang tahun. Tak peduli Januari, Juli, Desember. Tak peduli di sisi Indonesia sebelah mana.
Selain pancaran sinarnya yang kadang hangat membelai, atau mungkin panas menggigit, matahari tetap dinanti dan dicari. Suka tak suka.

image

Sunrise di tepi Jl Raya Solo Jogja

Sunrise dan Sunset. Duo golden moment yang menunjukkan bagaimana cara Sang Surya memamerkan keindahannya. Tak sedikit pemburu mentari terbit yang rela mendaki ketinggian. Menembus perjalanan melelahkan, demi melihat sapuan emas pertanda dimulai hari.
Tak sedikit pula yang mengejar matahari sebelum terbenam hingga ke tempat-tempat tersembunyi. Membayar mahal untuk menemani pamitnya Matahari. Meluangkan sekian satuan waktu demi kanvas aneka warna bernama senja.

image

Senja di Embung Nglanggeran, Gn Kidul, Yogyakarta

Saya mencintai matahari. Berusaha mencintai pemberi energi dunia ini seutuhnya. Selalu merindu hadirnya kembali ketika tirai malam turun. Menanti hangatnya ketika tiba di awal hari. Menengadah dan menerima dengan suka rela panas dan teriknya di tengah hari. Mencinta caranya berpamitan kala senja. Merasa kehilangan kala tiba tugasnya menyinari belahan bumi lain.

image

Senja di Pantai Sukamade, TN Meru Betiri, Banyuwangi, Ja Tim

Syukur terbesar pada Tuhan, atas kesempatannya pada saya untuk selalu dekat dengan matahari. Berada di Indonesia, membuat saya selalu bisa merasakan hadirnya. Tak perlu waktu khusus atau perjalanan panjang khusus untuk dapat menikmati kuasa Nya.

image

10 menit berjalan kaki untuk dapat foto ini

Saya diberi jadwal perjalanan yang indah. Rumah tempat pulang di sisi Barat. Kantor untuk bekerja di sisi Timur.
Sudah pasti, pagi menjelang memberi saya waktu menikmati hangatnya mentari yang kadang terlalu cepat menyengat. Sedang saat pulang, warna warni senja yang akan mengantarkan saya.

image

Salah satu yg didapat saat perjalanan pulang

Saya juga tidak harus terjebak dalam hingar bingar perkotaan. Atau terpenjara diantara gedung gedung tinggi yang menghalangi sinar surya. Sehingga saya bisa selalu menikmati duo golden moment cukup dekat, cukup sering.

image

Sekitar 600 meter dr Jl Raya Solo Jogja, Kec Klaten Selatan

Favorit saya, tentu saja kejutan-kejutan warna senja yang bisa selalu saya dapat saat berkendara pulang. Senja yang saya lihat, tak pernah sama. Saya tak perlu mengkhususkan waktu, budget, dan tenaga untuk dapat mengagumi betapa elegannya Matahari beranjak.

image

300 meter dr Jl Raya Solo Jogja. Rute rutin saya

Ya, ada kalanya senja tak harus dinikmati dalam diam. Ada kalanya senja tak butuh diistimewakan dalam waktu khusus untuk dapat terlihat indah. Ada kalanya kita tak perlu pergi jauh untuk dapat melihat matahari yang sama akan pergi.

image

Memotret senja dari depan kamar tidur

Meski ada kalanya kita juga harus melakukan itu. Mengunjungi tempat-tempat dimana matahari berpamitan dengan cara yang tak biasa. Menyiapkan waktu khusus untuk menikmati setiap inci keindahan yang disajikan kanvas bernama senja. Mengabadikan momen istimewa meski yakin esok akan berjumpa lagi.

Ya, Sesekali.

Karna negri ini, punya sejuta senja untuk kita.

Masih ingin membenci matahari?

image

Just Enjoy The Sun (foto saat BN2013)

*teks dan foto oleh Aqied
*posting lain tentang senja
Senja Merah Muda
Satu Jam Bersama Senja
Senja di Africa van Java
Rumput Senja

Engkau Matahari

30 Apr

image

Aku bunga ilalang, yang tersurut di padang gersang.

Menunggumu datang

Aku bertanya pada hujan, bisakah kau antarkan rinduku padanya?

Pada dia yang senantiasa bersinar terang disana.

Engkau matahari.

Yang kunanti setiap pagi, dan selalu kurindukan kala senja.

Selamat siang, Cinta.

*Kata-kata oleh Shandy Maxalmina Aletheia (@shandy_aletheia on instagram)

*foto oleh aqied

Publish sebelumnya di Facebook

image

Senja Merah Muda

30 Apr
image

Senja Merah Muda di Jl Raya Solo Jogja

Pernahkah kau berjumpa dengan senja merah muda, kawan?

Perjalanan ke barat kemarin sore begitu menyenangkan. Untuk pertama kalinya, langit merah muda yang mengantarku.

Dalam takjub, ku sempatkan menghentikan sepeda motor. Menepi, berusaha menyimpan memori senja merah muda itu dalam gambar.

Ah, menyebalkan sekali. Lagi-lagi kuasa Tuhan tak mampu direkam sempurna dalam alat buatan manusia.

Bagaimana senjamu kemarin?

Merah muda juga kah?

Matahari kita sama, bukan?

Motret Suket

25 Apr
image

Foto pertama yg dikasih judul "The Suket, Axonopus compressus"

Akhir akhir ini saya sedang senang dengan rumput. Rumput atau dalam bahasa jawa disebut Suket, objek yang sangat amat mudah ditemui di sekitar saya.
Ide awalnya gak sengaja saya mau moto sawah malah kehalang rumput.
Rumput itu kemudian saya upload di instagram dan karena saya paling gak bisa bikin caption yang bagus2, saat itu saya kasi caption “The Suket, Axonopus compressus”. Nama latinnya sih baru tau dari salah satu teman yg komen di facebook.

image

Ganti wallpaper ponsel jd Suket Senja

Setelah itu saya malah jadi kesenengan sama rumput. Apalagi kadang2 rumput tuh nggemesin karna pas ud dapat fokusnya, malah ketiup angin dan goyang. Sering juga saking langsing dan tipisnya, susah banget ketangkap di kamera standar lensa standar saya.

image

Suket Menari

Jadi, ya dibawa seru aja. Beberapa kawan di instagram juga mungkin yang turut motret suket, dan hasilnya bagus bagussss bikin saya rada rada ngiri dan pengen nyoba moto suket lagi dan lagi.

image

Suket Sepi Sendiri

Eh ternyata, like father like daughter, Bapak saya juga upload foto suket loooh di akun instagramnyaaa. (Promoin akun bapak boleh donk yaa di mari. Yuk difollow, kakak kakaak).

image

Like father like daughter

Bahkan sekarang, wallpaper di ponsel saya pun ganti siluet suket senja. Wallpaper saya paling awet biasanya laut.
Ini sumber fotonya:

image

Siluet Suket Senja

#sikilfie

19 Apr

Beberapa foto saya sempat diprotes karena ada objek mengganggu di salah satu bagian.

#sikilfie Ijen, April 2014

#sikilfie Ijen, April 2014

Yap. Entah sandal, sepatu, atau ujung kaki di bagian bawah foto bagi sebagian orang mungkin mengganggu.

#sikilfie jogging, Februari 2014

#sikilfie jogging, Februari 2014

Dyaz menyebut saya dengan “Gadis Ujung Kaki” (apa pula itu). Om Aan menambah hestek #Sandalexhibitionist saat saya upload foto ini di akun instagram saya.

#sikilfie Ijen, April 2014

#sikilfie Ijen, April 2014

Mas Rifki bilang fotonya bagus tp sandal nya mengganggu di posting saya tentang Kawah Ijen. Mb Yayah bilang konsep foto saya mirip dengan salah satu akun traveling di instagram. Dan beberapa pendapat2 lain yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu karna saya tau pasti Anda-Anda males bacanya.

#sikilfie Saleo, Raja AMpat. Agustus 2013

#sikilfie Saleo, Raja AMpat. Agustus 2013

Saya tidak ingat sejak kapan suka moto sepatu/ sandal/ kaki saya sendiri. Saya juga tidak ingat inspirasinya dari mana.

#sikilfie Africa van java

#sikilfie Africa van java

Ada sih alesan ngeles saya kalo tambahan objek kaki/sandal/sepatu itu buat ganti watermark yang kadang saya males bikin. Alesan ngawur yang rada rada gak make sense. Lha wong kadang masih ada watermark juga koq diantara foto-foto sikilfie saya.

#sikilfie numpang bak belakang Strada

#sikilfie numpang bak belakang Strada

Alasan utamanya mungkin sih ya selain ganti watermark, saya juga gak selalu bisa minta difotoin orang lain. Gak semua tempet juga ada spot buat menegakkan tripod dan stel selftimer. Kalo udah gitu, apa donk yang bisa buat kenang-kenangan bukti eksistensi saya pernah berada disana?

#sikilfie Waiwo, Raja Ampat. AGustus 2013

#sikilfie Waiwo, Raja Ampat. AGustus 2013

Kalau sekedar foto lokasinya sih semua orang termasuk saya punya akses ke mesin pencari. Foto2 yang saya jepret jelasss gak ada apa apanya. Jadi selain saya juga memang motret lokasinya, saya selipin bukti keberadaan saya dalam beberapa jepret.

#sikilfie Teluk Ijo

#sikilfie Teluk Ijo

Sebenarnya di instagram dalam program Weekend Hashtag Project jaman dahulu kala (saya lupa tepatnya, tp pokonya lama banget), pernah ad program hestek #fromwhereistand yang memang moto kaki. Saat itu saya nemu akun yang konsisten selalu moto kaki (saat berdiri). Sayangnya sekarang saya sudah lupa dan gak tau bisa cari dimana akun itu.

#shoesfie doank tanpa kaki. 2010

#shoesfie doank tanpa kaki. 2010

Saya pikir sih, #sikilfie ini lebih baik daripada selfie. Karena kalau selfie, objek pemandangan yang bagus ud ketutupan sama muka sendiri. Dengan #sikilfie, lokasi yang mau ditampilkan tetap bisa mendominasi foto, tapi eksistensi saya tetap ada buktinya.

#sikilfie bareng kelapa muda

#sikilfie bareng kelapa muda

Oke, mungkin ini gak penting banget. Saya berterima kasih sekali sudah bersedia waktunya terbuang membaca posting gak penting ini. Semoga hari hari Anda menyenangkan dan selalu bisa menemukan orang lain yang bisa memfoto Anda, sehingga tidak perlu foto #sikilfie. Hehe

 

*sikil : bahasa jawa ngoko dari Kaki.

*ada juga yang nyebutnya ‘Shoesfie’ atau Shoes Selfie

Teh, Minuman Para Dewa

17 Mar
image

Es teh pinggir sawah

Pernah dengar legenda ditemukannya Teh?
Jadi ceritanya, teh adalah minuman yg ditemukan by accident oleh para dewa. Di suatu hari, dewa dewa Cina sedang duduk duduk. Entah karena angin atau apa, ada daun teh yanv terbang dan nyemplung di salah satu minuman mereka (air putih sih berarti ya. Dan mungkin anget), yang kemudian diminum.
Teh jadi tradisi di China sampai kemudian dibawa ke Inggris dan turut jadi tradisi mereka disana. Apa sebab? Tentara2 ingrris terilhami tradisi teh yang ada di Hongkong.
Sekian sekilas legenda dan sejarah teh. Sekarang balik lagi fokusnya ke saya yaaa (yaiya donk ini kan blog sayaaa).

Mungkin sebagian sudah baca posting saya tentang Foto Kopi. Di situ memang kesannya saya suka banget kopi sih (padahal emang iya). Sebenarnya saya lebih dulu jatuh cinta dengan minuman dewa ini. Saya bisa ngabisin sepoci sendirian kalo lagi seneng.

image

Cangkirnya skrg entah kemana

Bagi saya, teh lebih bisa kasih efek menenangkan. Rasanya tuh semuanya bisa jadi adem gitu kalo dipikir karo ngeteh.

image

Teh di jendela

Sejak kuliah, skripsi, ambil extension course, sampe kerja, saya seneng menikmati teh sore sore. Kadang juga malam sebelum tidut dan saya merasa bisa tidur dengan tenang.

image

Teh dari korea. Oleh2

Teh favorit saya tetep teh tubruk yang diseduh dalam poci tanah liat. Ada rasa yang berbeda dibanding teh celup atau sesama teh tubruk tapi diseduh di teko. Apalagi kalau pemanisnya menggunakan gula batu.

image

Meski demikian, saya gak anti koq sama teh celup. Apalagi kalau bepergian, saya ngantongin teh celup beberapa jenis buat bekal.

image

Teh celup dan sugar stick

Poci ini sudah menemani saya mungkin sekitar 3-4 tahun ya saya lupa. Kado ulang tahun dari kaka dan adik saya.

image

image

Ngeteh di Bakmi Bu Gito. (Dibaca jg postingnya donk, kakaak)

Satu minumn favorit saya yang saya gak hobi motonya. AIR PUTIH. Masih bingung juga sih mau dipoto kaya apa ya. Ujung2nya sih malah balik ke tempet airnya (gelas, cangkir, botol, dll). Jadi belom kepikiran aja buat moto2.

Oya berhubung udah hari senin, saya upload foto teh edisi senin deh

image

*ssst btw gajian tinggal seminggu lagi (sambil sruput teh)

*soal bakmi bu gito, bisa baca postinh jadul saya di SINI

Padi dan Sawah dalam Kamera

8 Mar

Ide posting kali ini muncul akibat ngerusuh komen sama Mas Aul di postingannya kang Ujang “Halo Kakek”, pagi kemarin sebelum saya berangkat ngantor.

Topik yang kami bahas di kolom komentar lebih ke tentang sawahnya. Saya bukan mau nerusin bahasan pagi tadi. Tapi karena sepanjang perjalanan setelahnya, saya jadi kepikiran, sekalian aja buat posting.

Saat kecil, saya tidak akrab dengan sawah (bisa baca di kategori ‘Aqied Kecil’). Saya gak ngerti padi panennya berapa kali setahun. Saya gak ngerti fase-fase si padi dari masih benih sampai lebat menguning dan siap panen.

Sampai akhirnya, sawah menjadi pemandangan sehari-hari saya. Mojoagung, bagian paling timur dari kabupaten Jombang tempat saya sempat menetap sekitar 9 bulan cukup membentanfkan banyak sawah untuk saya akrabi.

3 bulan pertama banyak kerjaan lapangan, membuat saya berkesempatan menjumpa begitu banyak sawah. Sering berada di jok belakang sepeda motor, dan mudah bosan, memberi saya kesempatan mengabadikan sawah-sawah itu.
Saking seringnya saya upload foto sawah di akun instagram , sampai sampai saya dikira punya sawah sendiri (aamiin).

image

Kuda dan kuda besi

image

Sebelahnya belum di panen tp udah kuning

image

Kasian padi padi nya ambruk

image

Habis Panen. Sawah (atas), Jagung (bawah)

image

Seger

image

image

Foto Sawah pertama saya di Mojoagung. Gak sengaja pas ibu ini lewat. *skrinsut dr ig

Pindah ke Jawa Tengah, saya kembali bertemu sawah. Tapi karena lebih sering bawa sepeda motor sendiri dan memang gak mengkhususkan buat motret sawah, foto saya gak sebanyak pas di Mojoagung

image

Merapi Merbabu. Pas SD pernah nggambar kaya gini gaak? Hehe

image

Sawah di ujung gang

Sebagian sudah sering saya upload di instagram. Tp palingan sih tenggelam di antara foto2 absurd teh kopi dan foto2 selfie gak mutu lainnya.
Selain itu juga gambar2 nya seadanya aja. Karna dijepret dari jok belakang sepeda motor yang melaju dengan kecepatan cukup.

Saat ini pun saya masih sesekali ditemani sawah dalam perjalanan saya menjemput matahari.

*semua foto koleksi pribadi