Archive | kata saya RSS feed for this section

Turnamen Foto Perjalanan 46: Refleksi

5 Jul

Asyik banget ngetik ini sambil dinyanyiin Mirrors sama Mas Timberlake.

image

Nyiur melambai

Kita yang sekarang adalah refleksi kita di masa depan. Secara garis besar mungkin, karena detail bagaimana masa depan kita, tidak ada yg tau. Seperti refleksi nyiur pada air laut. Ad gelombang dan ombak yang sembunyikan detailnya”

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 45 oleh Tiga Di Bumi

Thanks Mb May untuk temanya yang seru.

*foto diambil di sekitaran Pulau Pahawang Lampung Selatan, Juni 2014. Nama pulau nya sendiri saya lupa.

Advertisements

Turnamen Foto Perjalanan 45: Siluet

26 Jun

Berkali-kali gak kesampean ikutan Turnamen Foto Perjalanan karena tiba tiba kelewat deadline, pas tema kemaren Siluet ini udah pengen banget ikutan.
Tapi lagi-lagi sama kaya sebelum-sebelumny, lupa mulu. Sampai tanggal 24 yang aku kirain deadline nya. Untung follow twitter Tuan Rumah Mas Lost Traveler trus dikasitau kalo masih tanggal 27 alias hari ini terakhir ikutannya.
Berhubung saya gak ngerti fotografi, boleh ya setor objek foto favorit saya: #suket

image

Rumput Mentari Terbit

Selalu ada harap baru pada setiap terbitnya mentari, bahkan harapan rumput kecil. Tak pernahkah kau coba tanyakan apa harapan rumput yang bergoyang?”

Foto ini diikut sertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan Ronde 45 oleh Yofangga

Koleksi foto suket lainnya disini.

Piala Dunia 2014

24 Jun

Saya mengenal perhelatan akbar World Cup atau Piala Dunia saat saya di usia berseragam merah putih. Piala Dunia 1998 adalah tontonan pertama saya. Saat itu saya tinggal di Sorong, Papua yang berada dalam zona waktu Indonesia Timur. Episode Piala Dunia saat Perancis sebagai tuan rumah, tampil sebagai juara.
Ibu dan bapak saya tidak melarang saya untuk bangun dini hari.
Malam sebelumnya Ibu bertanya
“Besok dibangunin nonton bola, gak?”
Dan dengan mantap saya selalu bilang:
“Iya”
Beruntung kami di Indonesia Timur sehingga pertandingan usai langsung bersambut adzan subuh. Sehingga saya tidak perlu melek terlalu lama.
Jangan dikira saya ngerti banget tentang olahraga ini. Saya sih cuma ikutan hore hore seru seru an aja. Karna di usia itu, bapak saya pengasuh di suatu asrama putra. So, saya nontonnya ikutan rame-rame n seru aja. Mungkin juga sekedar supaya gak kudet n bisa nyambung. Gak cuma nonton, saat usia itu pun saya suka baca ulasan pertandingan di media cetak meski terbatas (tahun segitu di pelosok Papua pula).

Tapi kemudian saya hampir selalu turut jadi saksi Piala Dunia. Meski kadang cuma nonton sendiri aja di kost an dan gak pernah ikutan nobar di mana pun. Rajin baca-baca media yang beritain soal perhelatan akbar ini. Dan pastinya selalu ngikutin pertandingan-pertandingannya sampai di Piala Dunia terakhir lalu.

Namun entah kenapa di Piala Dunia 2014 ini yang sudah berjalan beberapa pertandingan, saya tidak memiliki hasrat dan keinginan untuk nonton sebesar World Cup sebelum-sebelumnya. Hanya ada beberapa pertandingan saja yang saya tonton. Entah besok besok apakah saya bakal lebih semangat lagi buat ngikutinnya, atau makin males. Padahal kalo pun lagi nonton  pun, ya saya bisa ngerasa seru dan serius juga nontonnya loh.

Kira-kira bisa bantu saya nebak gak, kenapa sih koq saya gak se tertarik dulu dulu?

Kalau sudah waktunya

13 Jun

image

“Jangan terlalu dipikirkan sudah berapa lama kamu tidak melakukan perjalanan. itu tandanya kamu sedang diberi kesempatan utk menikmati masa-masa rileks ,kalau sudah waktunya, perjalanan akan menghampiri kamu….”

Demikian kata Mas Hilman di kolom komentar saat saya posting tentang betapa saya rindu melakukan sebuah perjalanan.

Mungkin memang raga sesekali perlu berhenti bergerak banyak, atau berjalan jauh. sesekali bersembunyi dari matahari.

Karna mungkin di salah satu sudut bumi sana, ad tempat yang menanti untuk dikunjungi, tapi tidak dulu untuk sekarang.

image

Jalan panjang menembus langit

*berbicara pada diri sendiri, jika nanti mesti rehat sejenak dari perjalanan menilik kuasa Tangan Tuhan di sisi lain bumi ini.

Aku cinta saat ini, entah esok

10 Jun

 

Teman Perjalanan

Teman Perjalanan

Saya suka perjalanan, setidaknya sampai saat ini.

Bagian penting dari jalan-jalan yang justru bisa kasih kesan dan pelajaran lebih dalam menurut saya, ada di proses perjalananya itu.

“kalo cuma pantai aja, di Jogja juga banyaak”

Demikian komentar seorang kawan saat saya memutuskan ke Pahawang, Lampung hanya untuk ketemu laut.

“ke Dieng naik motor? Niat amat sih”,

Salah satu komentar kawan lain saat saya bersepeda motor Jogja-Dieng PP dalam sehari.

Bagi saya, jalan-jalan bukan sekedar sampai di destinasi tujuan, berfoto narsis di landmark, share foto di social media, berbelanja oleh-oleh, kemudian pulang. Jalan-jalan saya memang standard dan ublek di situ-situ aja. Namun saya selalu berusaha menikmati setiap proses perjalanan dari setiap jalan-jalan saya.

Perjalanan memberi lebih banyak kesan dan pelajaran dibanding foto narsis yang dipamerkan di sosmed, atau narasi seru dan (mungkin) lebay di blog. Pelajaran yang sifatnya mungkin sangat personal, sehingga sulit untuk dijabarkan atau di share dalam bentuk gambar maupun tulisan. mungkin Tuhan memang tidak menciptakan Pintu Kemana Saja ala Doraemon di dunia, agar kita lebih banyak belajar dari sebuah perjalanan.

Saya mencintai perjalanan pulang pergi kantor saya saat harus bertatap muka langsung dengan matahari, saat mungkin harus berkawan kantuk dan lelah.

Saya mencintai perjalanan berkereta ekonomi dengan segala keunikan dan ramai nya yang ternyata saya rindukan ketika berkereta kelas lain.

Saya mencintai perjalanan sebagai penumpang bus malam dengan berbagai cerita kawan duduk saya, dengan berbagai atraksi unik supir bus yang seringkali memperbanyak dzikir saya.

Saya mencintai saat-saat harus duduk bengong atau mondar-mandir gak jelas di terminal, stasiun, hingga airport.

Saya mencintai perjalanan beramai-ramai dengan kawan sendiri. Saya juga mencintai perjalanan beramai-ramai dengan orang-orang yang baru kenal. Namun ada kalanya saya pun mencintai perjalanan sendiri, merenung dan bertindak sesukanya.

Saya mencintai perjalanan yang terjadwal dan terencana dengan jelas dan detail. Namun ada kalanya saya mencintai perjalanan tanpa rencana dan membiarkan kemana kaki melangkah untuk kemudian menemukan berbagai kejutan-kejutan.

Mungkin karena saya belum banyak melakukan perjalanan, hingga saat ini saya masih mencintai perjalanan. Entah esok hari, entah lusa nanti.

Jadi apakah kamu mau menambah daftar perjalanan saya?*

kapan kita kemana?

kapan kita kemana?

*baca: terima gratisan tiket kemana aja. kemudian ditimpuk sandal

What Are We?

8 Jun

image

(Si)apa kita di semesta yang luas ini?
Bahkan mungkin titik kecil pun masih terlalu besar untuk menggambarkan keberadaan kita.

*pahawang, 8 Juni 2014

Diculik

6 Jun
image

Si penculik

Lagi lagi weekend kali ini saya mengalami long weekend yang tertunda. Penyebabnya sama dengan kasus long weekend tertunda april lalu, jadi pas pada rame rame nya libur pekan lalu, saya ngantor donk di tanggal merah. Sebagai gantinya, saya ambil 6 Juni ini. Tau kan yaa sepanjang Juni ini gak ada tanggal merah sama sekali selain hari minggu (merah2in kalender sendiri).

Sepanjang pekan di akhir Mei lalu, bisa dibilang Jogja dan sekitarnya jd sangat amat ramai dan bikin stress kalo di jalan. Ketemu aneka kendaraan plat luar kota, tempat-tempat wisata ramai, plus selalu ketemu bus pariwisata di mana.mana.

Hmmmfffffttttt

Untung sih sebagai karyawan berdedikasi saya gak ikutan liburan jd gak ikutan sutris.
Nah, berhubung jumat ini saya sudah libur, kira kira backpack saya bakal nyulik saya kemana lagi yaa?

Apa bakal sama kaya minggu minggu lalu yang ngabisin weekend hanya denga  memandangi pergeseran jarum jam, atau kah bakal lebih seru dari episod Where’s Your Backpack Kidnapping You yang pertama?

image

Akan dibawa kemana kaki ini?

Saya juga gak tau dan pengen tau.

Kamu penasaran pengen tau juga gak?

*kemudian pd koor rame rame “NGGAAAAK” sambil lempar sepatu

Install (lagi) WP for Andro

4 Jun

image

Yeay! Pagi hari rabu yang sedikit kelabu karna mendung ini saya sedang happy. Akhirnya problem menyebalkan yang pernah saya curheit kan di Sini udah beresss…

Yap, sebelumnya kan saya pernah cerita ya kalau sekarang sedang gak ada Laptop/PC yang statusnya hak milik saya di posting agak jadul. Jadi saya sempet ngandelin WP for Android ini buat update posting terutama yang gak ribet.  Sampai kemudian pada suatu hari libur yang cerah, si WP for Android ini lelet n suka not responding. Karna nyebelin saya uninstall aja seperti yang saya ceritain hari senin. Kemudian saya malah bingung sendiri pas berpisah jauh dr PC, si WP for Android ini gak mau ke install alias statusnya cuma loading persiapan download aja terus di playstore.

Awalnya saya pikir mungkin karena koneksi di daerah saya buat provider merah emang rada rada kacrut. Jadi saya sih mikirnya nanti aja deh kalo dpt wifi gratisan. Sampai pagi tadi saya membuka mata….

Sepagian ini saya jadi ketawa ketawa aja mengingat betapa bodohnya saya. Kenapa yang begini baru kepikiran sekarang dan ternyata gampang banget. Kenapaaaa harus semingguan lebih saya galau galau gak ad PC, gak bisa install WP for Android, kalau ternyata penyelesaiannya gamping banget.

Sebelum-sebelumnya, kalau ada sedikit aja yang bermasalah dg ponsel maupun PC, saya selalu rajin bertanya supaya gak tersesat. Kalau sekiranya di dunia nyata tidak ketemu yang bisa ditanya, gak salah donk kalo saya tanya Google ajah. Nah dari hasil pencarian, saya tinggal pelajari n memilih kira-kira bisa dipraktekkan yang mana. Toh hasil akhirnya paling cuma 2 kemungkinan kan, tambah baik atau tambah ancur. Well, setidaknya sudah usaha.

Pagi tadi, saya iseng utak atik ponsel dan baru kepikiran, jangan jangan penyebab saya gagal download mulu itu bukan karena jaringan. Kenapa gak saya coba googling dulu aja. Akhirnya saya tanyain deh kalo playstore susah atau gagal download itu kenapa. Sambil ngetik di search engine, saya sambil mikir kenapa gak dari dulu saya nyarinya yak. Kan gak perlu galau galau gak jelas se lama itu.

Hasil beberapa pencarian teratas kurang lebih sama. Intinya sih bisa dibilang hampir persis dengan yang disebutin sama Tabloid Pulsa. Saya iseng coba praktekkin dr yang paling gampang, dari menu Apps ke Google Play Store. Kemudian

1. Clear Cache
2. Clear Data
3. Uninstall Updates

Udah gitu doank. Trus setelah selesai uninstall update itu, saya coba download n update beberapa aplikasi, dan BERHASIIIL…..!!!!

Ish gampang banget ternyata, dan bodohnya saya kenapa gak dari berhari hari yang lalu saya kepikirannya yak? Mungkin karena di otak saya sempet udah ke set kalo Sinyal Celalu Calah.

Kangen

2 Jun

wpid-img_20140410_181321.jpg

 

Rasanya koq saya kangen ya pengen posting hal-hal yang berbau ngebolang blusukan dan jalan-jalan. Ada beberapa topik yang udah saya bilang bolak balik di instagram bakal bikin posting tentang suatu tempat tapi sampe sekarang belum dibikin. Kenapa? ah alesan mah apa aja bisa dicari.

Tapi hal terbesar saat ini mungkin karena saya akhir-akhir ini sedang jarang melakukan perjalanan juga. Biasanya sih kalau ada day off dari nge buruh, ya saya mondar-mandir kemanaaa gitu jelas gak jelas. Pokoknya ke tempat baru atau tempat yang lain dari yang biasa saya lewatin sehari-hari. Gak yang harus jauh dan modal jugaak. Kadang sesekali saya cuma asal belok sana sini ngikutin kemana si Supri (sepeda motor saya) mau jalan dan kemudian terkagum-kagum sama hal baru yang sak ketemu nya saya dapat.

Nah, kali ini sudah hampir menginjak minggu ke tiga dimana saya ngehabisin libur cuma dengan memandangi jam yang sepertinya bergerak makin cepat jarumnya. Juga buka tutup korden, dan nyala-matiin lampu karena tiba-tiba hari sudah berganti. Ah, betapa sia-sianya hidup saya. Bahkan yang beberapa kawan yang ngajakin saya main main atau jalan jalan pun saya tolak.

Saya jadi berfikir, apa mungkin karena tidak melakukan perjalanan seperti biasanya, hasrat saya untuk nulis yang berbau-bau perjalanan jadi turut menurun juga. Saya punya daftar cerita perjalanan yang pengeen saya share sebagaimana saya bilang di SINI. Tapi toh akhirnya sampai sekarang yang ke post baru berapa biji aja. Lebih banyak malah curhat-curhat galau nan absurd yang saya kadang merasa bersalah banget buat yang udah ngerelain sekian satuan waktu dari 24 jam nya buat baca.

Saya jadi makin kangen buat posting perjalanan. Sama besarnya dengan saya makin kangen buat melakukan perjalanan lagi, kemanapun, dengan siapapun, ber alas kaki maupun tidak.

DSCN6654

Kamu, lagi kangen apa?

Nggembel itu Asik, Kadang-kadang

28 May
Katakan "Ransel!" Ransel dan Red Jacket

Katakan “Ransel!”
Ransel dan Red Jacket

Saya memang bukan traveler, meski saya suka menikmati perjalanan. Saya juga bukan backpacker, meski suka gendong ransel. Saya pun bukan explorer beponi yang suka bertanya pada peta, karna itu pasti Dora.

Tapi, sempat tinggal di beberapa kota berbeda (cek halaman siapa saya), membuat saya merasakan macam-macam perjalanan. Dalam hal cukup sering menggunakan transportasi umum, tentunya saya cukup familiar dengan beberapa tempat pemberhentian transportasi umum. Gak bisa jodoh dengan transportasi yang kita mau, kadang jadi salah satu resiko penumpang. Gak jodoh di sini maksud saya bisa jadi waktu yang gak sesuai dengan yang kita inginkan, atau ketersediaan armada, atau transit, dan lain lain. kalo udah ketemu resiko penumpang begitu, apalagi di kota yang antah berantah, alternatif terindah yang bisa dinikmati satu: Nggembel.

Sebenarnya sudah beberapa kali saya (terpaksa) nggembel, tapi tak perlu lah aib yang sedemikian dalamnya disebar luaskan. jadi saya share 3 masa ssat saya menjalani peran sebagi Gembel Kere tapi Kece.

Stasiun Banyuwangi Baru, yang cukup ditempuh berjalan kaki beberapa menit dari pelabuhan Ketapang, adalah salah satunya. Tiba dari penyebrangan Bali-Jawa jelang midnight, sementara kereta kami masih pukul 06.00 WIB (atau 05.00 WIB ya? lupa). Demi dapat menikmati fasilitas maksimal kereta Sri Tanjung seharga Rp. 35,000 untuk Banyuwangi-Yogyakarta, kami berusaha mencintai spot-spot tempat kami bermalam. Beruntung saat itu kami berombongan.

Yap, serombongan Mahasiswa ekonomi dari beberapa kampus di Yogyakarta sedang menikmati perjalanan ekonomis Jogja-Bali di awal tahun 2009. Tempat beristirahat saya saat itu, sebuah ruangan (cukup luas) yang ternyata sebagai ruang penyimpanan paket. Jelas nyata terlihat dari sepeda motor yang disampul kardus2 di sudut ruangan. Ada kursi empuk di pinggir-pinggir yang akhirnya saya bisa sandarkan kepala dan tertidur cukup pulas.

Hingga pagi tiba, kami melanjutkan perjalanan dalam kereta ekonomi dengan segala keunikan fasilitas dan tingkah laku penumpang yang cukup mengagumkan hingga pukul 22.00 kami tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.

Terminal Bungurasih atau dikenal juga dengan Terminal Purabaya di Surabaya, sempat jadi tempat yang cukup familiar bagi saya. Sebelumnya, mendengar namanya saja saya sudah cukup takut. Namun rupanya, Terminal Bungur saat itu (rentang Januari-Juli 2013) cukup gembel-friendly sejak Negara Api menyerang. Sebenarnya cukup sering saya malam-malam kelayapan di terminal ini karena memang dengan berangkat malam, bisa tiba di Jogja subuh.

Tapi pada suatu malam yang cerah, dengan sangat terpaksa saya kehabisan bus yang saya inginkan hingga pukul 2.30 pagi. zzzzzzzz. Jadilah saya sepanjang nungguin bus itu ngobrol-ngorol sana sini, merhatiin tingkah polah dan denyut kehidupan di terminal yang ternyata gak pernah tidur itu.

Ada beberapa anak muda di salah satu sudut yang gelar sleeping bag. Ada yang numpang tidur di ruangan menyusui. Ada yang masih ngantuk2 duduk di kursi tunggu (itu saya), yang kemudian ngobrol2 gak jelas sama sesama yang duduk di kursi. ada pula yang sibuk bergegas mengejar bus. Rupanya sebagian yang betah menginap di Teminal karena menunggu bus ke tujuan yang diinginkan, yang hanya beroperasi pagi besok.

So, saya masih cukup beruntung loh, gak harus menunggu hingga matahari terbit. Alhamdulillah

Airport Hasanuddin Makassar, airport yang jadi transit sesiapa aja yang ke dan dari Timur Negri ini. Saya, sebagi pecinta papua, tentu saja jadi salah satu angkutan yang perlu diturunkan di Airport ini untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Airport Domine Eduard Osok, Sorong Kota Bersama. Kalau sebelum-sebelumnya saya biasa pakai penerbangan pagi yang bisa tiba di Sorong siang hari WIT, Agustus 2013 lalu saya coba penerbangan malam (dari Jogja 20.40 WIB) yang bisa tiba di Sorong pagi hari. Konsekuensinya, saya mesti transit di Hasanudin hingga pagi tiba.

Kenapa? karena penerangan di Airport Sorong yang banyak dituju pecinta diving buat ke Raja Ampat itu, masih pakai tenaga surya. Alias penerangannya dari Matahari aja. So, semua penerbangan di sana hanya ada di saat matahari bersinar. Ini berarti sudah jelas saya musti semalaman di airport SENDIRIAN.

Akhirnya yang saya lakukan untuk membunuh waktu adalah, menjelajahi sebanyak mungkin sudut airport itu. Meski banyak outlet yang sudah tutup, saya sambangi beberapa yang buka, motret kapal phinisi, dengan pede nya minta di fotoin orang lewat di depan tulisan “selamat datan”, keluar masuk beberapa toilet, naik turun tangga, dan kemudian berakhir dengan kelelahan di salah satu coffeeshop (gak sebut merk, gak dibayar sih), sembari menanti waktu yang tepat untuk sahur, sambil baca buku yang saya bawa.

Well, saat itu kursi di ruang tunggu lebih banyak dipenuhi sesama penumpang yang tidur enak. jadi sulit bagi saya menemukan kursi berjajar 3-4 yang kosong juga. Sangat  jarang juga mata menemukan sesama penumpang yang bisa diajak ngobrol.

Kamu, kalau kelamaan nunggu di tempet-tempet transpostasi umum gitu, ngapain aja?

 

Gembel in Red Jacket

Gembel in Red Jacket: kalo ketemu, sapa aja

%d bloggers like this: