Archive | Aqied Kecil RSS feed for this section

Bapak…….

21 Apr

image

Pagi ini saya sedikit terkejut baca tab mention di akun twitter saya.

Melting……..

Yang disebut beliau bukan tentang jarak yang memisahkan kami ribuan kilometer. Beliau hanya ingin berbagi kebaikan.

Mungkin ini memoar Jawa-Papua babak 2, setelah beliau suksea menaklukkan jarak pada memoar babak 1, 1990-1994

image

*saya pernah post juga kumpulan twit tentang perjuangan Ibu dan Bapak mengalahkan jarak

* sebelum Bapak, Ibu sudah lebih dulu punya akun sosmed bersama Lumia nya

Malam Ini Saya Menangis, Flashback Jawa papua 1990-1994

29 Jan

Malam ini saya menangis.

Sampai sampai saya tidak tau mau nulis apa. Gak usah ngirain tangisan saya ini seperti tangisan jomblo di malam minggu. Atau tangisan karyawan di tanggal tua. Sama sekali Nggaak.!!

Malam ini saya menangis. Sudah lama saya tidak menyentuh laptop ini, sampai tadi sore. Satu folder menggelitik saya. Sejenak saya terdiam, teringat tumpukan surat-surat tulisan tangan kedua orang tua saya. Masa LDR Jawa-Papua sepanjang 1990-1994 menghasilkan mahakarya sejarah keluarga kami. Kisah kisah yang jelas tercatat rapi, torehan sejarah perjuangan dua orang paling saya cintai di alam raya ini.

Bapak memberikan kami bukti-bukti sejarah itu beberapa tahun lalu. Harapan beliau, kami bisa mendokumentasikan setiap yang tertulis dalam sekian kilogram kertas itu dengan lebih baik. apa daya, sulit sekali bagi saya melaksanakan tugas beliau. Tak bisa dipungkiri, pandangan saya pasti dan selalu kabur pada surat ke-2 atau ke-3. Air mata  menggenang, sesekali badan saya terguncang membuat saya tak mungkin bisa dengan santainya mengetik atau men-scan satu satu lembaran-lembaran itu. Cerita-cerita yang belum pernah sekalipun aku tau keluar dari mulut beliau berdua, baru aku ketahui faktanya.

Pesan-pesan dan harapan sejak aku lahir (saya lahir Februari 1990, surat pertama pada April 1990), terdokumentasi rapi. Setiap langkah dan perjuangan pahit, panjang, dan penuh liku mereka tanpa rekayasa akhirnya saya ketahui.

Bagaimana cinta dan perjalanan panjang Ibu mengasuk mendidik seorang anak nakal 3 tahun (kakak saya), dan seorang bayi kecil yang rewel dan merepotkan (saya) di rumah mertuanya disamping tugasnya sebagi guru.

Bagaimana cinta dan perjuangan Bapak di ujung negri antah berantah kota Sorong Irian Jaya yg tidak pernah tau apapun disana, jauh dari keluarga, jauh dari anak dan istri yang selalu bisa jadi penyejuknya. Bagaimana usaha Bapak untuk terus bertahan bahkan tak bisa menahan untuk membantu orang lain di saat beliau pun harus bertahan hidup sendiri disana dan menafkahi istri dan 2 anaknya di Jawa.

Bagaimana Ibu bercerita tumbuh kembang kami, bagaimana Ibu bercerita kenakalan kami, bagaimana cara ibu menguatkan Bapak yang selalu merindu. Bagaimana tulisan Ibu apapun isinya selalu bisa menjadi suplemen semangat Bapak.

Bagaimana Bapak menghibur, berbagi cerita, bagaimana Bapak mengutarakan perasaan sedihnya tak bisa berada disisi istri, ibu dari anak-anaknya yang selalu disebutnya “yang selalu menyatu denganku”. Bagaimana Bapak mensyukuri dan berdoa untuk ulang tahunnya yang ke-27 (Juli 1990)

Diantara pesan-pesan untukku*:

kita baru menghadapi permulaan dari perjuangan dan semoga Allah membimbing kita. (April 90)

kau jauh dariku secara lahir saja tapi hakikatnya kau berada satu denganku. Menyatu dalam jiwakudan bersama-sama selalu memohon bimbingan dan karunia dari pemberi, yaitu Allah swt. (April 90)

Ma-inn, aqid, kowe saiki iso opo. Ora pareng nakal, sing manut karo ibu. Ibu dibantu lan di hibur ben ora pati susah. ngaji lan sinau sing sregep. Adik’e diajari sing apik. Bapak lagi nindak ke kewajiban ono panggon sing adoh, nanging sejatine bapakmu malah luwih cedhak karo kowe kabeh dan ibumu ora tau ucul soko pikiranku, kowe kabeh (April 90)

“kesabaran dan ketahanan berjuang hanya akan diberikan kepada mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah swt” (Mei 90)

Mainn, Aqid, bantulah ibumu baik-baik agar masa depanmu dan keluargamu mendapatkan keberuntungan dan Allah pun ridho memberikan kebahagiaan kepada kita semua. (Dzulqo’dah 1410)

Ma-inn, Aqid, kamu harus taat pada Ibu. Bapak baru berjuang disini, doakan bapak berhasil dalam perjuangan ya nak… (Juni 90)

Dimana saja kita berada kita harus selalu berusaha menjadi orang islam yang baik. Bersikap pemurah, ramah, dan rendah hati. Dengan begini, Allah akan selalu memberi kemudahan, walaupun kelihatannya berat tapi ringan setelah dijalani. Dan Allah akan selalu mencukupkan kebutuhannya. Sedang rezeki datang tanpa diduga-duga. Mungkin berupa materi, mungkin pula berupa saudara, sikap dihargai sehingga jalan akan semakin lapang. Aku telah membuktikan itu. Janji Allah selalu benar. ma-inn ku sayang… Aqid ku sayang…

Doakan bapakmu yang akan sellau membahagiakanmu, menyelamatkanmu.. dengan izin Allah (Juni 90)

ma-inn, Aqid > kuharap kau menjadi penghibur ibumu dan menjadi tabungan masa depan orang tuamu. (Juni 90)

Ma-inn, aqid…. Apa sudah pinter ngaji, masak, mbaca, nyanyi, nggambar, dan apa lagi? Mestinya kau tidak nakal lagi, atau mungkin tambah kreatif sehingga njengkel ke. Itu mungkin cirri anak cerdas. Iya gak?? (Juli 90)

Tahun baru kita

Tahun kemenangan kita

Selamat tinggal kegagalan, kegalauan, kesalahan, kekalahan, keraguan, kekhawatran, kemaksatan, kemusyrikan……. (tahun Baru Hijriah 1411)

 

Malam ini saya menangis, sehingga tak mampu teruskan membaca episode selanjutnya dari sejarah ku sendiri. Sejarah kedua orang tuaku yang penuh liku, dibalut cinta dan perjuangan panjang.

*yang bikin mbrebes mili banget banget gak di share disini yaa……a

Aqied Kecil Bersekolah *catatan Papua 1994-2001

23 Jan

Untunglah saya sempat tinggal di ujung timur negri. Tidak berhenti saya bersyukur pada skenario Yang Maha Kuasa tentang masa kecil saya.
Tahun 1994, saya menjejak Kota Sorong, Papua (saat itu Irian Jaya) untuk pertama kali. Kami sampai di pelabuhan dini hari.
Tahun 1995, saya Aqied kecil iseng didaftarkan Bapak di salah satu sekolah dasar Islam dekat tempat tinggal kami. Kala itu usia saya seharusnya belum saatnya masuk SD. Orang tua memandang niat dan keinginan saya yang begitu membaja (ceilah) untuk sekolah seperti Qolbiy. Mari kita bayangkan Sorong di tahun 1994.
Tidak ada TK terdekat di sekitar kami. Bahkan yang searah dengan sekolah tempat Bapak ngajar. Saya tinggal di Jl Basuki Rahmat KM 9,5 (sekarang sebelah Perumahan Pertamina pas) sedang Bapak mengajar di KM 13. Akhirnya saya diikutkan sekolah SD yang masih bisa ditempuh jalan kaki.
Menonton Laskar Pelangi mengingatkan saya pada sekolah Aqied kecil. Sekolah swasta dengan siswa/siswi low-end meski kondisi sekolah lebih baik dari SD Muhammadiyah Gantong.
Sekolah Aqied kecil ad 6 kelas, masing2 untuk satu tingkat. Jumlah guru ad 7, sudah termasuk satu kepala sekolah.
Lapangan sekolah sangat cukup untuk upacara bendera, bermain kasti, atau olahraga lain. Sebagian besar tanah berwarna coklat-oranye, sebagian ditumbuhi rumput, dan ad beberapa pohon kelapa di salah satu bagian. Jika musim hujan, ad baiknya berhati hati kecuali bagi penganut paham ‘berani kotor itu baik’
Ruang kelas kami beralas semen, sebagian mulai berlubang2. Setiap satu meja dilengkapi bangku panjang kapasitas 2 anak kecil. Kaca jendela model nako yang sudah tidak lengkap baik jumlah kaca maupun besi teralisnya. Memudahkan beberapa teman Aqied kecil kabur saat mobil puskesmas datang. Jarum suntik masih tajam dan menakutkan kala itu. Jendela yang bolong2 juga memudahkan tebu tebu dibelakang sekolah menerobos masuk kelas. Yang kemudian kami potong dan berebut potongan tebu untuk di sesap.
Toilet sekolah ada dua. Disebelahnya ada sumur untuk mengambil air. Jadi kalau sedang kebelet, mohon menimba dulu. Oya nimbanya gak pke katrol yaa, jadi ada ember yg diikat dengan tali panjang. So, timbanya tanpa bantuan ‘pesawat sederhana’ bernama katrol.
Ada sungai berair coklat di belakang sekolah. Jembatan kecil titian bambu menjadi penghubung untuk ke sebrang. Aqies kecil tidak begitu tau apa saja yg ada di sebrang. Yang Aqies kecil tau hanya Soa-soa (semacam kadal besar, sekitar 70cm-1meteran, tp gak pernah ngukur juga sik) sering terlihat di pepohonan sebrang sana. Kadang entah kenapa Soa-soa tersebut terlihat di kamar mandi/toilet. Mungkin nyasar.
Tapi itu masa lampau.
Seiring berjalan waktu, prestasi demi prestasi menghiasi sekolah ini. Peminat nya turut meningkat. Lama kelamaan sekolah ini bermetamorfosa. Cukup melesat jauh. Jumlah siswa yang terus meningkat, berbanding lurus dengan jumlah kelas yang akhirnya dibangun.
2001 Aqied kecil lulus, sekolah ini sudah menambah jumlah ruang kelas. Ad beberapa perubahan  semacam ruang guru, toilet, dan jumlah siswa. Tepat angkatan sekolah dibawah Aqied kecil, satu tingkatnya ada dua kelas, A dan B. H+1 menerima ijazah, saya diterbangkan Merpati (MNA) ke pulau Jawa.
Baru pada 2010 lalu saya sempat menengok silaturrahim, dan bingung (pertama mudik setelah 9 tahun di jawa). Hampir tidak menemukan nostalgia masa lalu si Aqied kecil.
Ruangan2 sederhana dulu telah menjadi gedung bertingkat. Lengkap dengan R Multimedia, Masjid sekolah dan ramainya lalu lalang siswa siswa di sekolah ini (saya tidak memperhatikan banyak). Menurut cerita Bapak, kini halaman sekolah itu sesekali ad tampilan Ka’bah, untuk latihan manasik haji.
Ah, betapa merindu masa masa kami mengenal hampir seluruh siswa satu sekolah. Betapa merindu masa masa kami bergantian merebus air dan membuat teh untuk bapak ibu guru. Betapa merindu tidur tiduran dan bermain sesukanya di atas rerumputan bersandar pohon kelapa. Betapa merindu saat saat menjerit heboh kala soa-soa mengintip kami dari luar kelas. Betapa merindu tidur dan camping di sekolah untuk pesantren kilat Ramadhan. Betapa merindu ketika harus terpleset genangan air pasca hujan di halaman sekolah yg becek. Betapa merindu Bapak dan Ibu guru yang bisa bisa nya masih bertahan dengan segala keanehan dan kenakalan kami. Betapa ah betapa……..

*Aqied kecil, seandainya neverland itu ada

Saya pun Dulunya Bolang (Bocah Ilang)

2 Jan

Saya lahir di Klaten, 23 tahun 11 bulan yang lalu. Jika Anda melewati Jl Raya Jogja Solo, di daerah Delanggu Anda bisa lihat RS PKU Delanggu. Yap itu saksi hadirnya saya di dunia. Menghabiskan 1 Tahun di Klaten, dan 3 Tahun di Boyolali.
1994, 4 tahun usia saya. Kami sekeluarga pindah domisili ke Sorong, daerah Kepala Burung di Pulau (saat itu) Irian Jaya. Ujung timur negri ini. Menghabiskan masa kanak kanak saya yang indah, di tanah yang terkenal dengan wabah malaria nya itu.

Disana pulauku yang kupuja slalu
Tanah papua, pulau indah
Hutan dan lautmu yang kupuja slalu
Cendrawasih burung emas.

Seperti anak anak pada umumnya, di masa itu saya senang bermain. Sayangnya saya tidak punya banyak tetangga. Tidak juga tinggal di kompleks perumahan atau di perkampungan yang bisa bermain beramai ramai. Saya tinggal di pinggir Jl Basuki Rahmat KM 9,5 (saat ini tepat di sebelah perumahan Pertamina Sorong). Sayangnya keadaan saat ini sama sekali berbeda dengan masa kecil saya dahulu sehingga pd kepulangan saya 2013 lalu tdk ada yg bisa saya abadikan sbg kenangan.
Meski tak berkawan, saya tetap gemar bermain. Sesekali dengan kakak saya Qolbiy, seringkali pula saya bermain sendiri. Alam sekitar saya terlalu menyenangkan untuk di explore.

Tanah papua tanah yang kaya
Surga kecil jatuh ke bumi

Pernah saya memanjat dan menikmati pete. Diajari salah seorang kakak (anak asuh bapak), Aqied kecil senang sekali menemukan makanan baru, apalagi dimakan langsung di pohonnya. Kesenangan itu saya bawa pulang dan dengan bangga kupamerkan pada ibuku. Jika Anda seorang ibu, pasti bereaksi sama. Ya, beliau memintaku untuk menyikat gigi. Namun tetap diterima nya pete oleh2ku itu. Aqied kecil tdk mengerti apa yg salah, tapi tetap patuh menyikat gigi (kmungkinan tahun 1995-1996)

Anak SD generasi saya pasti pernah membaca buku Bahasa Indonesia tentang anak gembala meniup seruling dari atas punggung sapi. Itu pula cita cita saya. Sampai suatu hari, saya bertemu kesempatan itu. Sapi2 yang sebagian kaki nya terendam lumpur, saya naiki dan saya mulai berkhayal menjadi Budi. Tokoh gembala yg meniup seruling dan belajar di atas punggung sapi. Pengalaman ini harus Aqied kecil ceritakan dengan sangat bangga pada Ibu. Dengan aroma sapi dan lumpur yang kental di sore hari, aqied kecil pulang dan bercerita dengan bangga. Tapi Aqied heran, kenapa Ibu mempersilahkan mandi bahkan menyediakan baju ganti yang biasanya dipilih sendiri. (Kelas 2 SD, 96-97).

Saya tidak ingat tahun berapa, kami pindah tempat tinggal ke daerah dekat Jl Pendidikan Kota Sorong. Tidak tepat demikian karena dr Jl Pendidikan, masih ad sekitar 1 -2 KM masuk (hampir menuju Malanu, skarang dikenal dg Jl Arteri). Kami memiliki kolam yang cukup besar. Bapak menyediakan kole kole (perahu kecil dr batang pohon yang di keruk bagian dalamnya sehingga menjadi perahu). Setiap siang sepulang sekolah, saya hampir selalu bermain kole kole. Mengitari kolam besar berair coklat (banyak ikannya), dibawah terik matahari tanpa sunscreen tanpa topi. Pernah sekali penyeimbang kole kole tersebut patah. Sehingga tdk aman untuk dinaiki. Namun saya tetap ingin, sehingga saat Ibu dan Bapak pergi, saya nekad naik kole kole. Dan pada kayuhan dayung ke 3, kole kole terbalik. Anehnya, saya gak langsung pulang tp menikmati dulu berenang2 di kolam itu. Kemudian pulang, mencoba mencuci baju sendiri, dan mengepel jejak kotor saya di rumah. Belakangan saya baru tau baju saya dicuci ulang Ibu, tanpa saya disalahkan karna nekad ber kole kole.

Tanah Papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku dibesarkan

Aku Papua-Franky Sahilatua
.

Saat ini jika melihat tayangan Bocah Petualang di TV, saya selalu teringat masa kecil. Sempat saat nyinyir, saya membatin ‘ini kan aktivitas sehari2 anak kecil, kenapa jd istimewa gini?’ Mengingat yang didongengkan dalam Bolang hampir mirip dengan keseharian saya dulu.
Namun saya kemudian sadar, di era dengan gadget, TV, PS, dan berbagai permainan modern masa kini, Bolang mengajak anak anak untuk bermain dengan alam  berpetualang layaknya Dora dan Diego, dan lebih banyak bersosialisasi. Jika demikian, mungkin masa kecil ku pun Bolang, namun bukan petualang karna lebih sering bermain tidak ramai ramai. Jadi, Bocah ilang 😉

*jika ad kesempatan, saya berharap bisa mendokumentasikan lebih banyak lagi masa kecil saya di Tanah Papua. Semoga dimudahkan.

%d bloggers like this: