Archive | August, 2014

#CHSA: Senin Tapi Libur

4 Aug

Selamat pagi, Senin.

Di hari-hari senin biasa, saya biasanya sudah meluncur ke timur bersama Supri si 125 cc buat njalanin tugas sebagai buruh. Kadang sengaja jalan habis subuh tepat sekalian menikmati sunrise, meski tidak ada yang bisa diharapkan dari hasil foto orang ngantuk dan belum On nyawanya. Kadang kalo males n ngantuk, berangkatnya di jam jam masuk sekolah.

image

Kadang juga saya sengaja membahagiakan diri di malam sebelumnya, sehingga bisa bertemu senin dengan ceria, bahagia, dan semangat baru (halah).

Bagaimana dengan senin ini?

Senin ini saya masih libur, kawan. Jadi jatah libur saya masih sampai tanggal 8 alias Jumat. Buat sebagian pekerja dan pelajar, mungkin senin ini senin pertama efektif. Baik efektif di bulan Agustus maupun efektif setelah liburan. Senin ini juga mungkin segala keruwetan Jogja berakhir. Tempat wisata, jalanan, tempat-tempat pemberhentian transport, mungkin sudah tak seruwet seminggu kemarin. Seperti yang saya lihat kemarin, betapa ramainya airport dan sukses memacetkan satu-satunya jalan utama ke Airport JOG.
Semoga setelah ini, Jogjakarta kembali Berhati Nyaman.

Bertemu senin yang masih libur, tentunya membahagiakan bagi saya. Setelah seminggu kemarin disandera kasur dan selimut, 4 hari yang tersisa dari libur ini lumayan banget. Masih ada kesempatan buat kasih kaki dan sandal menginjak tempat tempat lain. Masalahnya, koq ya gak nemu temen yang masih libur juga buat nemenin sandal saya. Kasian juga kan dia kalo ujung-ujungnya saya korbanin buat #sikilfie karna gak ada yg bisa motoin yg punya. ;p.

image

3 Agustus 2014

Atau apakah lebih baik saya cukup stay bengong aja di rumah (lagi), merenung di pinggir jendela berkawan kopi hitam yang lagi lagi tanpa kamu?

image

Bagaimana Senin kamu?

Advertisements

Hai Agustus

2 Aug

Hai, Gus.
Boleh aku menyapamu begitu? Karna aku baru saja selesai membaca kisah seorang dengan Keistimewaan Kanker bernama Augustus dengan panggilan populer Gus.

Hai, Gus.
Harimu baru berjalan kurang dari 48 jam. Tapi aku seperti belum merasakan sedikitpun dari harimu. Aku sedikit sulit menyadari bahwa Juli telah berlalu dan skarang aku bersamamu.

Hai, Gus.
Sukakah kau dengan panggilan itu? Sejujurnya aku tak suka. Tapi mungkin jariku lebih suka karena tidak perlu mengetik banyak karakter jika harus memanggilmu dengan nama lengkap.

Hai, Gus.
Sedari tadi kau tak menjawab sapaku. Mungkin kau marah karena aku masih kerap lupa denganmu dan mengira sedang bersama masa laluku, Juli. Meski angka delapan penunjuk bulan selalu ada melingkar di pergelangan tanganku.

Hai, Gus.
Tentu saja aku lupa jika Juli telah berlalu. Sepanjang akhir Juli aku hanya menghabiskan waktu dengan membuka dan menutup jendela. Hanya terbaring bersembunyi menggigil di balik selimut. Hingga perubahan hari hanya ku rasa sebatas lampu yang menyala, mati, kemudian menyala lagi.

Hai, Gus.
Aku ingin menyapa pagi mu dengan suka cita. Sudah kubuktikan pada hari pertamamu, aku tak lagi bersembunyi bagai keju dalam sandwich dengan kasur dan selimut sebagai roti. Aku menembus 50 KM menuju timur pada siang harinya dan kembali saat sore. Menembus jalan utama antar dua kota yang kerap macet di musim liburan ini.

Hai, Gus.
Tak perlu bersedih karena banyak sekali kisah yang kudapat selagi membunuh kebosanan di balik selimut saat suhu badanku meninggi. Sepertinya sepanjang bersamamu nanti, kisah itu tak habis ku ceritakan. Jenis yang berbeda-beda memang.

Hai, Gus.
Taukah kau sepanjang 2 hari terakhir bersama Juli, sudah kutuntaskan Divergent Trilogy, Jacatra Secret, Bliss Bakery Trilogy, Negeri di Ujung Tanduk, dan yang terakhir bersamamu semalam The Fault in Our Stars. Membaca ulang beberapa halaman Manuscript Found in Accra, dan sedikit kisah Mahabharata. Sesekali aku ingin selingan kisah pendek Agatha Christie dan Sir Arthur Conan Doyle.
Kisah kisah yang saling berlompatan dan berbeda-beda genre sehingga aku tetap merasa nyaman tanpa keluar rumah, tentu karna aku tak bisa juga mengingat kesehatanku.

Hai, Gus.
Aku mulai berfikir, mungkin dengan sisa hari liburku, aku bisa mengajakmu berjalan jalan, menceritakan kisah-kisah  yang usai ku baca, meski aku tak tau akan kemana dan bersama siqpa selainmu.
Lagipula masih ada 5 hari sebelum aku harus kembali pada rutinitas jam kerja, absen, jadwal-jadwal dan target-target. Kau seharusnya bersyukur bukan? Tak banyak yang memiliki hari libur seperti aku. Sehingga aku berjanji, akan baik padamu.

Ku harap kau akan baik padaku, dan menjadikanku lebih baik selama bersamamu, Gus.

image

*igauan dan ocehan ngawur saat ternyata bangun pagi tadi kembali merasa tidak sesehat hari sebelumnya.

%d bloggers like this: