Archive | July, 2014

#CHSA: Lebaraaaan

28 Jul

wpid-picsart_1406464826565.jpg

Telat gak sih buat #CHSA alias Cacatan Hari Senin Aqied? Anggap aja belum yaa. Kan masih hari senin.

Well, kali ini mau cerita soal tentang hari senin yang istimewa banget. Gimana enggak, senin ini tepat 1 Syawal 1435 H. Hari besar umat muslim. Hari kemenangan buat yang ngerasa berhasil menangin Ramadhannya kemarin.

Seperti yang saya bilang di #CHSA episode sebelumnya, kali ini saya gak lebaran di rumah ortu Papua Barat sana. Tapi di kaki gunung merbabu alias desa kecil di pinggir jalan raya Solo-Semarang, rumah nenek saya dari pihak bapak. Jaraknya kalau dari tempat tinggal saya di Jogja kurang lebih 65 KM lah lewat jalur sepi alias kampung-kampung yang kiri kanan ku lihat sawah. Kalau lewat jalur rame-nya berarti bisa lewat Jalan Raya Jogja-Solo, sambung jalur Jalan Raya Solo-Semarang.

Minggu sore, saya dan adik saya berangkat bareng Schofield (si Revo 110 cc). Sengaja sore gitu biar pas nyampe pas jam buka puasa. Hihi. Ternyata jalanannya sepi bangeeet. Apalagi begitu masuk jalan besar Solo-Semarang (keluar dari jalur alternatif), berasa jalanan punya sendiri. Padahal jalur sebaliknya, yang dari Semarang menuju Solo, ramai n lumayan padat. Wal akhir, sampai rumah nenek yang dingiiin banget itu, masih rada lama nunggu maghribnya.

Senin pagi, bangun ogah-ogahan n mandi dengan air dan angin yang super dingin. Terus minum panas biar agak anget dikit gitu. Lanjut jalan kaki ke lapangan desa yang deket aja sih. Cuma jalanannya rada naik turun gitu. Sampai di sana, ternyata kita rombongan terakhir. Jd langsung gelar sajadah, pake mukena, n takbir. Ah, saya selalu suka shalat di alam terbuka.

Usai shalat, saya baru merhatiin kalo ternyata lapangan buat kami shalat ied itu menghadap langsung ke Gunung Merbabu yang gagah. Jadi begitu khatibnya khutbah, si Merbabu yang ganteng ini jadi semacam background. Sayangnya sih saat itu kabut dan awannya lebih tebel. Jadi gak terlalu kelihatan. Saat khatibny mimpin doa, kan suasananya sepi tuh. Baru deh kerasa bangeeet angin-angin dinginnya. Bicara n salam salaman setelah itu sambil keluar asap gitu mulutnya. Bbbrrrrrrr.

merbabunya kelihatan nggak? ketutup awan banget

merbabunya kelihatan nggak? ketutup awan banget

Lebaran di sini, gak sesibuk kalo lebaran di rumah ortu Papua sih. Setelah keliling sama keluarga, udah gak banyak aktivitas lagi. Kalau di Papua sana, tamu-nya gak habis-habis. Kalo lagi selo pun curi-curi waktu disempetin buat gantian keluarga kita yang keliling. Semingguan gitu bisa dibilang full lebaran gak istirahat. Gak ada deh yang namanya lebaran main-main ke tempet wisata.

Berhubung lumayan selo, jadi tadi disempetin tidur siang. Trus sorenya saya dan adik balik lagi ke Jogja. Seperti pernah saya bilang sebelumya, kalau sepertinya saya dari negara api. Jadi kena dingin yang begitu, sempet bikin saya tumbang. Padahal amunisi penghangat udah komplit banget. Manja bener saya yaa… Perasaan kalau main-main ke daerah dingin atau ke gunung gitu bisa sehat-sehat aja.

Dihitung-hitung, ini bukan kali pertama saya bertemu hari raya dalam keadaan kurang sehat. Sayang banget sebenarnya. Atau jangan-jangan saya homesick aja ya? Pengen lebaran di Papua? Hihihi

Ini juga bukan kali pertama keluarga kami lebaran di tempat terpisah. Tahun ini adik kecil bareng sama Ibu dan Bapak di Papua. Saya dan Adik di tempet nenek. Kakak ikut keluarga suaminya. Tahun-tahun sebelumnya, mencarnya dengan formasi berbeda juga. Tapi tetep ada beberapa kali lebaran full personil di satu tempat. Tapi tak apa lah, bukankah kita masih berpijak di bumi yang sama? Bukankah seluruh kaki langit adalah rumah kita?

Itu ceritaku, mana ceritamu?

rumah nenek

rumah nenek

 

*Aqied mengucapkan Taqabbalallah Minna Wa Minkum. Mohon maaf atas segala salah posting, komen, caption, interaksi dan segala yang dari saya. Semoga ke depannya lebih baik. Selamat Idul Fitri 1435 H

#EidFitri

27 Jul
image

Loc. Depan Joglo Abang saat event Blogger Nusantara 2013

Ramadhan telah usai.
Luluskah kita?
Akankah 11 bulan ke depan dapat kita amalkan nilai nilai Ramadhan yang baru saja lalu?
Menahan diri dari amarah, bergosip, menggunjing, berbohong, dan lainnya.
Senantiasa berlomba untuk memperbaiki kualitas amal.

Semoga 11 bulan ke depan cukup untuk kita memperbaiki diri, sehingga berjumpa kembali dengan Ramadhan, dalam keadaan lebih baik.

Mohon maaf atas segala kesalahan selama berkomunikasi dengan rekan2 blogger dan reader. Salah yang disengaja, tak sengaja, dalam posting, dalam komen, dalam interaksi, dan segalanya.

Berkenan memaafkan saya?

Judulin Apa Ya?

26 Jul

” Salah satu peristiwa penting di bulan Ramadan perpindahan kiblat ke masjidilharam,
pada awal Ramadan memang
umat Islam berkiblat ke masjidilharam tapi menjelang akhir Ramadan sebagian berkiblat
ke pasar pasar, super market, toko toko, Bank-bank, pegadaian,agen tiket dan tempat tempat lain yang sejenis.
ini kejadian rutin tahunan.
Apakah kita juga akan berpaling dari masjidilharam….???
Berkiblat kemana yang lebih menguntungkan….?
Masih ragukah kita untuk serius dan istiqomah berkiblat kemasjidilharam kapan dan dimana saja kita berada……!!!!?

Copas dari status akun facebook bapak saya.

image

Jogja masih basah pagi ini, Ramadhan tinggal menyisakan 2 hari.

Sudah Bersyukur?

23 Jul

“Kerja di bank enak gak, mbak?”

Pertanyaan seorang ibu dalam kereta Fajar Utama Yogya yang membawa saya ke Jakarta.
, awal bulan lalu.

image

Fajar Utama di Stasiun Tugu Yogyakarta

Jawaban saya :

Dibawa enak, Bu :)”

Mungkin jika pertanyaan itu diajukan pada saya dua atau satu setengah tahun lalu, jawabannya akan berbeda. Saya sempat mengalami masa-masa tidak betah dan tidak benar sebagai karyawan.

Menghabiskan malam dengan meratapi umur saya yang sepertinya habis di meja kantor. Mengasihani diri saya yang terpenjara jam kerja. Menangisi jam istirahat saya yang terbatas. Mengeluhkan rekan kerja yang tak menyenangkan. Meratapi gaji yang habis lebih cepat, dan lain sebagainya.

Ah betapa tidak bersyukurnya saya.

Seiring berjalannya waktu, pekerjaan saya masih sama. Gaji juga belum naik. Rekan kerja meski berganti bisa dibilang hampir sama. Tugas tugas juga sama. Tapi ada hal lain yang kemudian membuka mata saya, dan mengurangi sedikit demi sedikit keluhan, ratapan dan tangisan seperti yang saya sebut di atas.

Mungkin hingga kini saya masih belum bisa memastikan apakah saya mulai mencintai pekerjaan saya atau tidak. Tapi ada hal hal yang membuka mata saya sampai kemudian menampar saya dengan keras soal betapa tak bersyukurnya saya.

Sempat menjalani masa masa terpaksa nggembel di terminal, stasiun, hingga airport, rupanya perlahan memberi banyak pelajaran bagi saya. Dari yang awalnya terpaksa menggunakan bus ekonomi jarak jauh yang penuh sesak karena sulit mendapat bus Cepat Eksekutif/Bisnis di saat weekend hingga kini selalu merindukan ke penuh sesak an itu.

Awalnya hanya karena berusaha membunuh kebosanan dengan memulai percakapan pada siapa saja yang terdekat. Lama kelamaan saya merasa justru mereka mereka lah guru saya. Guru saya dalam kelas belajar bersyukur.

Tak perlu dijelaskan siapa saja yang bisa saya temui di terminal pada malam hari bahkan yang sampai menginap. Siapa kawan ngobrol saya di bus ekonomi penuh sesak jalur Surabaya ke barat. Siapa yang menemani saya saat harus berdiri lama di pinggir jalan provinsi menanti bus. Berbincang dengan mereka, meski singkat seringkali memaksa saya untuk merenung di sepanjang perjalanan. Kadang rasanya ingin menangis.

Ya sehari kalo lancar lumayan, mbak. Bisa dapat 20rb. Rame-rame nya 50 ribu lah bisa bawa pulang. Asal ditelateni terus, mbak” (bapak warung kopi pinggir jalan)

“Ya gak mesti, mbak. Sehari gak narik juga pernah. Ya terus cari-cari cara lain. Kerja kaya saya harus ada sambilannya, mbak. Nanti dapatnya seberapa-berapa, dibawa pulang, kasih Ibuknya (istrinya)”
(Pak Becak, sesekali ikut kuli panggul)

Profesi-profesi yang sering dianggap tidak menjanjikan. Penghasilan yang tidak dapat selalu dipastikan, dengan keluarga yang selalu membutuhkan kepastian, makan apa hari ini.

Mereka-mereka lebih layak disebut guru dan inspirator. Motivator terbaik bagi saya dibanding mereka yang berlabel motivator dalam balutan jas necis di televisi.

Karena dengan belajar dari cerita-cerita kehidupan mereka lah, saya selalu punya jawaban:

“Yang jauh lebih susah dari saya aja masih bisa bersyukur, “

Apakah masih pantas buat saya untuk selalu mengeluh?

*nyatanya masih suka ngeluh jugak sih ;(

#CHSA: Lebaran Su Dekat

20 Jul

Buat yang belum tau, #CHSA itu singkatan dari Cacatan Hari Senin Aqied, yang publish perdana senin minggu lalu. Isinya sih suka suka saya aja. Intinya say hai to monday seperti yang sudah sudah.

Senin ini senin terakhir ngantor di bulan Ramadhan. Alhamdulillah berarti libur kian dekat. Tapi sedih juga pake banget. Kenapa?
Karna kenapa Ramadhan cepat banget berlalu sementara saya belum ngapa-ngapain sepanjang bulan istimewa ini. *menangis, kmudian ngumpet di mesin waktu doraemon.

Lebaran kali ini berbeda dengan tahun lalu. Di tanggal segini tahun lalu, saya sedang ribut kelimpungan ubah rute dan jadwal pesawat karna rencana saya berubah total. Dari yang tadinya diniatkan berangkat dari Surabaya, harus diubah jadi berangkat dari Yogyakarta. Alhamdulillah penerbangan ke luar jawa cukup mudah meski harus nambah harga yang lumayan buat bayar listrik satu tahun.

image

Kangen Lautnya Papua

Tahun ini, saya gak ke Papua seperti tahun lalu. Tidak bisa menikmati lebaran meriah dan menyenangkan di sana. Bagaimana tidak menyenangkan, dengan mayoritas penduduk muslim adalah pendatang, lebaran jadi menarik dan mengenyangkan.
Silahkan sesekali main di Kota Sorong, Papua Barat saat lebaran. Setiap rumah menyajikan makanan khas daerah masing-masing. Bertamu di pendatang asal Palembang, akan disapa dengan pempek. Ke  orang Jawa ada ketupat dan opor. Ke orang Bugis ada buras dan coto makassar, bisa juga pisang ijo, pisang epek, atau lainnya. Ke orang Ambon bisa disuguhi papeda. Indah sekali, bukan? Wisata kuliner keliling Indonesia tersaji dalam paket lengkap bernama Lebaran Idul Fitri.

Tentu saya juga yang tidak selalu berharap dapat suguhan seperti itu terus. Jadi kalau kemudian saat berkunjung bisa dapat itu semua, rasanya sangat bahagia.

image

Bakar ikan. Ikan laut di sana fresh banget

Selain makanannya, kekerabatan saat lebaran terasa sekali. Di rumah orang tua saya, tamu tak berhenti bahkan bisa hingga seminggu. Berbeda dengan lebaran yang saya rasakan di jawa. Kebanyakan silaturrahim hanya ke tetangga terdekat dan yang masih memiliki ikatan keluarga saja. Jarang saya temukan kunjungan silaturrahim dari rekan kerja, rekan satu pengajian, rombongan murid ke guru-guru nya, atau bahkan sekedar kenalan saja.

Tidak jarang juga tamu-tamu cilik yang datang. Ada lucunya juga ketika mereka kemudian sibuk membahas hasil studi banding hidangan tiap rumah yang mereka kunjungi ramai-ramai. Ada juga anak-anak yang mungkin tidak kami kenal, datang berombongan mengelilingi kompleks perumahan. Sudah tentu mengumpulkan apa yang biasa disajikan tiap rumah. Terutama yang bisa mereka bawa pulang seperti softdrink kalengan, kotak, atau gelas. Atau snack-snack yang berbungkus. Pendapatannya tentu cukup banyak melihat dari kantong plastik yang mereka tenteng.

Ah ramai sekali…

Saat shalat eid adalah momen paling bahagia dan mengharukan bagi saya. Papua Barat, ujung timur negri ini, dapat mengumpulkan jamaah ribuan banyaknya di beberapa titik. Lapangan Batalyon TNI Yonif 752, tempat favorit saya untuk sholat Eid, kerap tak cukup menampung jamaah. Tak peduli saat lapangan becek atau panas terik, jamaah tetap khusyu’ dalam syahdunya Idul Fitri. Tak cukup di lapangan, ada yang tersebar hingga ke jalan, hingga yang di emper bangunan bangunan sekitar lapangan.

image

Lapangan Batalyon Yonif 752

Lebaran kali ini, mungkin akan sangat berbeda dengan yang saya tulis itu. Saya tdk berada di Papua 1 syawal besok. Saya akan kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. Shalat Eid berkawan hawa dingin di kaki gunung merbabu. Menikmati sajian makanan khas kampung, berkirim ucapan lebaran, dan mungkin menghadapi beberapa pertanyaan kepo.

image

Hello Merapi dan Merbabu

Gimana Caramu Move On?

20 Jul

Setelah seminggu gak ketemu, tiba tiba teman saya nanyain pertanyaan di judul itu ke saya.

image

Buka puasa dengan sebotol air

Saya sempat kaget dapat pertanyaan begitu. Masalahnya sejauh ini kami gak pernah bahas bahas yang nyerempet nyerempet seperti ini.

Saya sendiri juga gak yakin n gak tau cara saya buat move on dari sesuatu atau seseorang itu seperti apa. Berfikir keras dan gak bisa nemu jawaban yang meyakinkan. Akhirnya cuma bisa jawab dengan kebanyakan tips n trik yang pernah saya baca di beberapa blog aja.

Intinya sih rata-rata ya cari kesibukan yg positif. Ada yg nyaranin cari pengganti sesegera mungkin. Atau mikirin jelek jeleknya si masa lalu. Atau pergi melakukan perjalanan untuk lebih membuka mata. Well, mungkin tiap orang beda beda ya strategi move on nya. Mungkin juga tiap orang butuh waktu yang berbeda untuk benar-benar move on n let go. Jadi saya pun tetep gak bisa kasih jawaban yang pas dan sesuai dengan yang diperlukan teman saya itu.

Diantara obrolan itu, ada pertanyaan saya:

“Kamu 5 hari weekdays kemarin mikirin gak?”

Saya pikir, ada benarnya juga ketika otak kita mulai diisi dengan hal-hal lain, si masa lalu bakal berkurang porsinya buat jd beban pikiran. Mungkin aja sampai di masa nya nanti, porsinya makin lama makin hilang dan akhirnya move on sepenuhnya. Ini yang dimaksud move on dengan menyibukkan diri pada hal hal positif. Meski saya pun tidak yakin apakah selalu benar-benar berhasil pada tiap orang atau tidak.

Dengan segala keraguan saya itu, perbincangan kami tidak menemukan kesimpulan yang jelas. Yang ada, malah tanpa terencana kami sepakat untuk menjauh sejenak dari kota Jogja dan buka puasa di Embung Nglanggeran, salah satu embung di dekat Gunung Api Purba, sekitar 30 menit dari tempat tinggal saya di Kota Jogja. Namanya tanpa rencana, menu buka puasanya cuma air minum yg dibeli se lewat nya warung. Hingga saat makan malam dengan 2 porsi sate kambing sepulang dari Nglanggeran, kami sudah tidak lagi membahas hal itu. Tidak pula terlihat teman saya ini se galau sebelumnya.

image

Embung Nglanggeran, foto stok lama

Namun dalam hati saya masih belum terjawab pertanyaannya tadi sore.

“Bagaimana caramu move on?”

image

Malam di Embung Nglanggeran


*playlist:
Moving On – Andien
Terlatih Patah Hati – The Rain feat Endank Soekamti

Rasanya Kaya Kerja….

16 Jul

Beberapa hari ini, saya ngetwit yg isinya hampir sama. Kurang lebih seperti di judul itu lah.

Seperti saya bilang si #CHSA alias Cacatan Hari Senin Aqied kalo institusi tempat saya bernaung ini baru aja spin off alias jadi Bank Umum Syariah sendiri. Nah selama proses transisi itu, load pekerjaan saya (dan tim) jadi meningkat. Karna kami semacam menghandle dua kantor unit sekaligus. Jadilah kudu siap tenaga dan pemikiran ekstra. Kalo mau nambah waktu ekstra kan gak mungkin ya. Sehari tetep 24 jam. Gak bisa nambah. Hari kerja juga 5 hari aja seminggu dan gak pengen nambah. Jadi lah saya yang selama ini kalo kerja berusaha dibawa asik, jadi mulai ngerasain yang namanya kerja.

Semoga saya sehat-sehat aja. πŸ™‚

Selain itu, pekan pekan ini dingin dan mendung awet banget. Bikin males ngapa ngapain. Kangen rasanya ngeteh ngeteh atau ngopi ngopi di balkon kamar sambil ngeliat bulan yang lagi cantik-cantiknya. Atau pulang sore sore trus hunting sunset-sunset kece. Meski sekarang sih paling ketutupan mendung terus ya.Β  Dengan load kerja yang naik itu jadi begitu beres, pulang, langsung pengennya istirahat (baca: tidur). Jarang juga jadinya haha hihi sapa sapa sana sini di sosmed, blog, maupun chat. Maafkeun saya yaa…

Semoga aja dingin yang kaya gitu gak ganggu ibadah Ramadhan saya ya…

image

Selamat Pagi, Ramadhan

Saya bersyukur banget punya tim yang baik. Jadi dengan kerjaan seabrek gitu, tiap hari selalu adaaa aja yang bikin saya ketawa sampe sakit perut. Adaaa aja yang bikin saya sampe ketawa tanpa suara saking geli nya. Walo kadang masih ada hal hal yang bikin bete, capek, atau uring-uringan gak jelas. Tapi selalu ada celah tiap harinya untuk tertawa selelah apapun kami (halah).

Akhirnya, mau ngucapin terima kasih juga buat semua sahabat2 blogger yang komen komennya kadang bikin saya terhibur. Atau kasih informasi baru buat saya. Insya Alloh saya selalu baca komennya koq karna masuk di notifikasi ponsel saya. Cuma mungkin gak bisa respon seperti biasanya. Atau rutin kunjungan balik. Mohon maafkan untuk saat ini ya…

Jadi, apa kamu pernah ngerasain juga yang rasanya kayak kerja?

*PS. Jarang jarang banget loh sampe curheit kerjaan gini πŸ˜‰

#CHSA, Cacatan Hari Senin Aqied

14 Jul

Judul itu bukan judul sinetron ya. Meski mungkin ada yang cukup familiar dengan salah satu sinetron yang lagi ngehits dengan Hello Kitty nya itu. Sinetron yang layarnya bisa dibajak selama pakek hestek #CHSI di twitter.

Well, seharian ini jogja dan sekitarnya dibayangi mendung mendung mesra. Sesekali turun gerimis gerimis romantis yang hanya bisa saya pandangi dari jendela kamar berkawan Kopi Hitam Tanpa Kamu.

Haish koq malah galau.

Hari senin, 14 Juli ini ada beberapa peristiwa. Pertama tentu saja saya harus bangun dan tampil rapi sebelum pukul 8 pagi. Tidak bisa lagi seenaknya bergelung selimut atau duduk galau memandangi jendela sampai waktu berbuka tiba. Senin berarti hari awal dalam seminggu saya menjalani peran sebagai buruh eight to five berdedikasi (kemudian ditampol).

Hari senin ini juga, di kantor bakal kedatangan anggota baru di Team saya. Menggantikan anggota lama yang promosi jabatan. Seneng sih ya kalo ada temen kita yg promosi. Tapi kadang sedih juga karna kehilangan anggota tim yang bagus. Soal anggota baru ini, meski bukan pertama kali nya, tetep aja saya selalu deg-deg-an. Entah kenapa kalo dpt kabar mau ada anak baru, saya malah jadi grogi bahkan dari hari sebelum anak baru nya masuk.

Apa ya, ada semacam ketakutan-ketakutan. Gimana kalo terus saya gak bisa ngajarin yg bener. Atau gimana kalo saya nanti malah menyesatkan. Gimana kalo nanti dia gak cocok sama Tim kami. Gimana kalo nanti baru seminggu tau-tau udah minta resign. Hahahaha. Walau akhirnya sampai sekarang belom ada yg kejadian kaya gitu sih. (Ada dink yg sempet gak cocok 1 kasus, lupakan).

Senin ini juga di kantor ad kelahiran penting. Karna kami yang tadinya Unit Usaha Syariah dari suatu Bank Umum Konvensional, per 14 Juli 2014 resmi spin off jadi Bank Umum Syariah. Alhamdulillah….. ini berarti turut nambahin jumlah BUS di Indonesia tercinta.

Mmmm, 14 Juli juga tanggal kick off Piala Dunia 2014. Saya sih mengakui banget kalau season ini adalah Piala Dunia yang paling saya abaikan. Meski saya gak inget berapa pertandingan yang saya tonton, tapi pasti lebih banyak yang enggaknya. Kalaupun nonton, spertinya saya lebih banyak merasa cukup nonton di alam mimpi aja (kata lain dari gak nonton). Siapapun yang menang, semoga aja gak ada dua Timnas yang sama sama klaim. Atau ada perbedaan versi menang di beda stasiun televisi ya.

Senin ini juga diawali dengan hujan angin pukul 00.01, yang menemani saya mengetik posting ini. Selain kopi hitam tanpa kamu, tentunya.

Sekian #CHSA alias Cacatan Hari Senin Aqied.

image

Kopi Hitam Tanpa Kamu

Apa cerita hari senin kamu?

Kopi Hitam Tanpa Kamu

11 Jul

Malam berbintang dengan bulan malu malu di balik awan.

Kopi di hadapanku dalam cangkir hitam.

Asapnya antarkan aroma, gelitik indra penciumanku.

Membuatku tertegun. Ada memori yang bangkit bersama harum kopi ini.

Mungkin aku tak selalu ingat parfum favoritmu bahkan tak ingat apakah ada memori yang lekat dengannya.

“Kamu payah terhadap detail” katamu.

Namun aroma dari cairan hitam pekat di hadapanku ini, tak bisa tidak selalu memanggil kembali ingatanku tentangmu.

Cangkir itu masih penuh.

Entah mengapa gumpalan halus asapnya menarik perhatianku.

Hei, mengapa asap itu membentuk wajahmu?

Ataukah memang kau sedang turut menikmati cangkir kopi mu di hadapanku seperti kita dulu?

Perlahan ku raih cangkir hitam. Menyesap nikmat dalam setiap tetes yang juga hitam.

Tertinggal ampasnya di dasar cangkir.

Bersama nikmat yang mengalir di kerongkongan, aku memejamkan mata.

Mendadak sesuatu yang lirih berbisik di telingaku.

Aku tersentak

Suaramu kah?

Aku membuka mata

Aku panik

Menoleh ke kanan ke kiri, mencari-cari.

Tak ada siapa pun.

Hanya desir angin malam kah?

Hanya aku dan cangkir kopi ku.

Mataku menangkap sesuatu yang ku kenal dalam cangkirku yang kosong.

Ah, rupanya kau ada di sana.

Siluet senyummu terbentuk sempurna di dasar cangkir.

Meski dari ampas kopi.

image

Pulau Kelagian, Mau Lagi dan Lagi

9 Jul
pertama nyampe. bawaannya masih rempong

pertama nyampe. bawaannya masih rempong

Entah apa asal mula nama Pulau Kelagian yang terletak di Lampung Selatan ini. Tapi bagi saya, sempat mencicip satu malam di Pulau cantik ini, bikin saya KEtagihan pingin kesana LAGI dAN lagi (perhatikan huruf yang capslock).

Pulau Kelagian, saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan saya mengagumi pulau ini. Kelagian menjadi tempat saya tinggal (meski hanya semalam) untuk menemukan bahwa Indonesia Barat pun punya laut yang indah.

Pulau Kelagian. masih takut gosong?

Pulau Kelagian. masih takut gosong?

Pasir putih dan lembut seperti bedak, membuat saya tak ingin sering-sering menggunakan alas kaki di pulau ini. Ditambah air lautnya yang begitu jernih, membuat saya tak perlu ragu ragu bermain air.

SAMSUNG CSC

Di siang hari, terutama jika hari libur, ada permainan-permainan pantai seperti banana boat, atau kapal kapal an (gak tau namanya). Atau mungkin akan lebih menarik untuk berkeliling ke pulau-pulau lain di sekitar seperti Pahawang, Pahawang Kecil, Maitem, Tegal, Tanjung Putus, de el el dengan menyewa snorkel gear. Silahkan cari tau sendiri kenapa perlu snorkeling di Pahawang.

pahawang kecil

pahawang kecil

boong kalo bilang gak pengen nyemplung

boong kalo bilang gak pengen nyemplung

Keasyikan snorkeling jangan sampai membuat terlambat pulang, karena Pantai di Pulau ini menghadap ke barat. Tentu menjadi pesona sendiri, karena berarti Matahari akan langsung berpamitan pada kita dengan caranya yang selalu indah.

cuma bisa motoin ;(

cuma bisa motoin ;(

Ketika malam , desir angin dan suara ombak akan menjadi lagu nina bobo yang mengantar tidur kita. Tak lupa langit dengan taburan bintangnya. Tak perlu buru-buru tidur, mungkin bisa bersantai sejenak di dermaga kecil, memancing, atau menanti bintang jatuh (leebaay).

percaya deh, aslinya jauuuh lebih keren

percaya deh, aslinya jauuuh lebih keren

Untuk menginap di Pulau Kelagian ini, tak perlu khawatir. Ada penginapan kecil dengan fasilitas kasur dan kamar mandi (saya lupa harganya). Atau jika ingin mendirikan tenda, juga tak masalah (mungkin ada biayanya juga tp tidak mahal). Listrik bisa dianggap cukup meski hanya hidup di malam hari. Tak perlu takut kelaparan, karena warung makan dengan aneka makanan, kopi, mie instan tersedia. Tak perlu takut untuk urusan MCK karena cukup tersedia toilet, kamar mandi, dan air tawar untuk menjawab panggilan alam.

duduk galau pagi-pagi. masih muka bantal

duduk galau pagi-pagi. masih muka bantal

Dan ketika pagi datang, tentu sudah cukup siap untuk menyambut mentari dengan suka cita.

Pagi di Kelagian

Pagi di Kelagian

 

*Pulau Kelagian terletak di Kab Pesawaran, Lampung Selatan. Sekitar 20 menit menggunakan perahu motor dari Pelabuhan Ketapang

*Untuk mencapai Pulau Kelagian, dari Jakarta menggunakan Bus ke Pelabuhan Merak ( Rp, 25,000), Ferry hingga Bakaheuni (Rp 13,000). Dari Pelabuhan bisa menggunakan mobil carter ke Pelabuhan Ketapang dan minta diarahkan ke kapal-kapal yang menuju Pahawang. Sewa kapal untuk minta diantarkan ke Pulau Kelagian.

*harga normal per Juni 2014, harga sewa kapal untuk seharian (keliling spot snorkel dan pulau-pulau sekitar) Rp. 500,000 dengan kapasitas 15 orang. Fasilitas: Life jacket. Snorkel Gear bisa disewa juga sekalian seharga Rp. 90,000/set hingga 2 hari. (harga mungkin ada yang berbeda atau berubah).

%d bloggers like this: