Aku dan Schofield

15 Jan

Pernah denger saya nyebut Schofield? Yup dia partner saya yang oleh beberapa teman diolok-olok sbagai pacar saya. Schofield yang sejak pertemuan pertama kami selalu mendampingi saya, gak pernah rewel hujan badai kabut panas atau lautan pasir yang kami lalui. Schofield gak protes dan tetap baik baik saja meski beberapa kali saya buat dia terluka.
Satu yang penting, Schofield ini dari Jepang meski dia hitam.
Ini salah satu rekam jejak saya dengan Schofield:

image

Dieng: Medio 2012

Saya berkenalan dengan Schofiels pd 2009, pertama kali pabrikan Honda mengeluarkan Absolut Revo (New Revo) dg kapasitas 110cc ini. Sebenarnya saat itu tipe ini bukan idaman saya. Sama sekali malah. Tapi melirik faktor U dan U dan D (ujung2nya duit), saya bawa pulang lah si Hitam kece yang akhirnya diberi nama Schofield.
Nama Schofield sendiri rada penting gak penting sih. Tau film seri nya FOX yg tokohnya lulusan MIT tp ngerampok bank demi nyelametin kakakny? Yes Prison Break dengan tokoh Michael Schofield yang bikin saya gila.
Bersama Schofield saya mengalami perjalanan panjang (ceileh). Di kilometer awal2 Schofield, pernah dengan tanpa persiapan saya bawa treking jalur boyolali-selo-kedung kayang- ketep-kopeng- ujug ujung njedul salatiga. Saat itu saya belum punya pengalaman motoran di jalur gunung. Tidak sampai seminggu, saya bawa lagi dari jogja ke Gunung Kidul maghrib-maghrib dan baru turun ke Jogja (sya masih ngekost di Jl Kaliurang KM 5 saat itu), jelang gerbang kost tutup. Seminggu kemudian saya ajak lagi nyusurin pantai gunung kidul, dan karena pelit banget buat parkir dan bayar uang masuk, saya pilih lewat pinggir pantai yg berpasir, jd bisa tiba di beberapa pantai tanpa melalui gerbang. Pulangnya dengan apes masih kehujanan pula.
Schofield memang tidak pernah pergi jauh. Rekor terjauh saya bersama Schofield hanya Jogja-Dieng lewat Kepil Sapuran dan pulangnya lewat Temanggung-Magelang-Jogja. Itupun perjalanan yang gak berat. Kendala hanya di kabut aja. Tapi karna pernah terjebak kabut plus hujan bareng juga di Irung Petruk nya Selo Boyolali, tidak terlalu masalah untuk Schofield.

image

Kejebak Kabut sore sore di Irung Petruk menuju Selo, Boyolali (pos daki merapi-merbabu)

Saya mencintai Schofield, saat itu (menurut kakak dan beberapa teman) berlebihan. Pernah kunci saya hilang di UMY Ring road, saya maksa pinjem motor temen untuk ngambil kunci cadangan di Jl Kaliurang pada jam 14.00 Ramadhan karna gak tega njebol rumah kunci. Saya pernah uring2 sama temen saya yang setelah jalan bareng Schofield, plat motornya jd hilang. Saya rajin nemenin Schofield creambath (baca: cuci salju) dan check up (baca: service rutin). Saya juga gak keberatan sesekali traktir pertamax. Saya mulai belajar2 otomotif sederhana meski hanya yg berhubungan dengan dia, dan sekarang gak ad yg nyantol. Bahkan saya sempet berfikir menghadiahi dia lampu kabut.
Tapi diantara itu semua, kadang saya juga melakukan kekejaman padanya. Susur pantai di jalanan berpasir dan rentan cipratan air laut tidak sehat untuk Schofield. Sering juga saya paksa dia bolak balik Solo Jogja meski kadang gak penting2 amat. Atau kalo lagi males, saya biarkan dia menginap di stasiun dan saya selingkuh sama Pramex. Belum lagi kalo kerendem banjir, tetap saya paksa dia untuk jalan. Bahkan tahun pertama dengannya, beberapa kali dia lecet bahkan sempat beradu badan dengan roda 4 sampai pecah 3 bagian depannya. Saya sendiri di semua insiden itu sehat wal afiat. Masih sangat sehat untuk memeriksakan luka dan patah tulang Schofield ke dokternya. Mas mas bengkel kadang heran “siapa yg make mbak motornya sampe gini?” Dan langsung bengong saat dijawab “saya”.
Yang saya suka dari Schofield, dibandingkan rekan rekan seusianya, Schofield cukup sehat. Saya senyum2 aja kalo tukang parkir nyalain motor saya dan gak percaya kalo Schofield lahir 2009. Gak percaya juga kalo itu sepeda motor saya beneran (u know lah ad anggapan tertentu soal perempuan dan kendaraan). Apalagi kalo sedang diperlukan dipinjam teman untuk waktu yg cukup tuk berkenalan. Rata2 responnya positif dan ikutan suka dengan Schofield. Setidaknya meskipun tampilan luar nya gak selalu kinclong, suara mesin dan tarikannya kasih kesan pertama yg positif.
Tapi itu dulu, sejak setahun lalu saya hijrah ke Jawa Timur, mau gak mau saya berpisah dengan Schofield. Dia dibawah pengasuhan orang lain, dan kami menjalani LDR. Tidak setiap akhir pekan saya bisa jumpa dengannya. Sampai pada Juli lalu saya dipindahtugas kembali ke Klaten dan Jogja. Saya bahagia kala itu, saya pikir we officially ended up the long distance relationship. Saya sempat menjalani hari kembali bersama Schofield, meski dengan rute yang itu itu saja.
Dilema hadir ketika saya harus menerima konsekuensi kepindah tugasan saya. Setelah 9 bulan bekerja di institusi saya saat ini, saya mendapat promosi dan dipindahkan ke area yang lebih delat dengan KTP saya. Amanah baru ini saya mendapat fasilitas Supri, sesama sepeda motor pabrikan Honda dengan volum silinder lebih besar dari Schofield. Saya dihadapkan kebingungan, sampai akhirnya saya memilih memulangkan Schofield di Jogja saja dan hanya digunakan jika saya butuh atau jika ada yang membutuhkan. Sementara saya konsen dengan Supri.
Sedih? Bangeeet. Saya sedang di masa mengenal kembali Schofield yang (menurut saya) cukup berbeda dengan setahun lalu saya tinggal dan terpaksa berpisah lagi. Saya bisa saja bersama keduanya, tapi koq kesannya gak efektif banget.
Nyatanya meskipun kini saya menjalani hari hari bersama Supri, saya tidak bisa melakukan hal hal yang sama dengan yang pernah saya lakukan pada Schofield. Supri hanya menjalani hari yang begitu begitu saja. Makan makanan yang itu itu saja. Juga creambath dan service yang tidak pernah saya temani (diurus kantor, lebih terurus sih). Menurut teman teman dan kakak adik saya, saya pun terlihat koq mencintai Supri. Namun mungkin tidak bisa dengan cinta yang sama seperti terhadap Schofield.
Terlalu banyak cerita indah dan perjalanan2 menyenangkan bersama Schofield. Mungkin sewaktu waktu saya harus buat posting khusus tentang rekam jejak Schofield.

*aqied, motorider who knows nothing about automotive

Advertisements

18 Responses to “Aku dan Schofield”

  1. jampang January 15, 2014 at 7:51 AM #

    saya sudah tiga kali ganti pasangan kalau soal ini…. niatnya hari ini mau memperkenalkan “si eneng” di blog ๐Ÿ˜€

    • aqied January 15, 2014 at 7:58 AM #

      asiik nanti saya pantengin ah.
      sebenere sebelum schofield ad Astrea Grand ’95. tp dipakenya bareng sama kakak. jd belom ngerasa kaya Schofield.

      • jampang January 15, 2014 at 8:00 AM #

        pertama punya supraX, lalu thunder, dan awal tahun ini… neng verza

      • aqied January 15, 2014 at 8:54 AM #

        Sampai skarang saya masih naksir MX 135. Sejak 2009, walo MX skarang beda debgab MX dulu.
        Bisanya cm pake bebek soalnya

      • jampang January 15, 2014 at 8:59 AM #

        saya malah lupa-lupa inget cara naik bebek karena operan giginya berbeda ๐Ÿ˜€

      • aqied January 15, 2014 at 10:17 AM #

        Skarang gak ad motorny n gak ad yg ngajarin sih. Saya agak takut sama kendali kiri. Matic aja kalo gak terpaksa saya ogah

  2. farizalfa January 16, 2014 at 9:02 AM #

    Kalau masalah ini aku suka gonta-ganti pasangan.. kalau lagi mau bawa motor classic, bawa Astrea, kalau lebih classic lagi bawa vespa. hahahaha

    • aqied January 16, 2014 at 9:28 AM #

      sama jugaa aku gabisa pake vespa. dulu pas SD jatoh, trus gak lagi lagi ๐Ÿ˜‰
      saya payah deh soal kendaraan

  3. giewahyudi January 17, 2014 at 9:37 AM #

    Namanya keren, Schofield. Kalau motor saya namanya ya mereknya aja, biar gampang. Hehehee. Tapi seru juga ya kalau dikasih nama, jadi ga ada yang nyamain..

    • aqied January 17, 2014 at 9:51 AM #

      Iya, jadi berasa punya temen jalan juga kalo lagi jalan sendiri. Hehe
      Kalo yg dr kantor ini kukasih nama merk nya aja (Supra–> Supri), males n blm nemu nama yg cocok. Ee malah keterusan jd supri

  4. Tina Latief January 17, 2014 at 6:20 PM #

    wah, ternyata aqied gadis motor ya..
    hehe, penasaran saja sih berapa kecepatan yang sering dipake. Ngga kebayang aku motoran menembus kabut begitu..

    • aqied January 17, 2014 at 6:48 PM #

      Hai, Tina. Hehe standar aj koq klo 50 km biasanya 50-55menit, 29 km biasany 30 menit. Kadang aku ukut pke MyTrack di Andro.

  5. Miz Tia January 21, 2014 at 3:49 PM #

    gimana itu rasanya terjebak kabut ๐Ÿ˜€ .. brrrr ๐Ÿ™‚ .

    • aqied January 21, 2014 at 4:57 PM #

      Ngeri ngeri sedap. hahahaha
      pke lampu jauh jalan pelan pelan konsentrasi. nyampe juga sih dg selamat. ud dua kali kea gitu

Trackbacks/Pingbacks

  1. Seharian Ngapain Aja? | cacatan hari hari - January 31, 2014

    […] sih rasanya kalo rindu itu terbalas? Seneng donk ya dan saya sudah punya plan buat touring bareng Schofield dengan titik stop 3 kota dalam 2 hari (sip kedengerannya keren yaa). Kota-kota yang cuma lewat […]

  2. “Sama Siapa?” | Cacatan Hari Hari - February 19, 2014

    […] kalo lagi iseng saya jawab: “Berdua sama Schofield“ Gak tau dia kalo Schofield itu motor […]

  3. #CHSA: 110 vs 125 | Cacatan Hari Hari - September 8, 2014

    […] kepo sih). Kali ini lagi pengen ngomongin teman setia saya seperti yang pernah dikenalin di “Aku dan Schofield“. Yep, my ride yang punya volume silinder 110 […]

  4. Menuju Negri di Atas Awan, Dieng Part 3 | Cacatan Hari Hari - February 29, 2016

    […] apa Sama dengan sebelum-sebelumnya, perjalanan kali ini bersama Schofield, alias Honda Revo 110 cc saya dengan titik start Yogyakarta. Total bahan bakar yang saya habiskan […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: