Beauty Class, Perlukah?

10 Jan

Kamis kemarin saya mengikuti Beauty Class yang diselenggarakan perusahaan saya. Begitu mendapat invitationnya, saya langsung merasa malas. Silahkan Anda bayangkan seorang Aqied yg lebih sering nggembel, bakal berhadapan dengan palet warna warni segede laptop 14′. Sementara yang menjadi kanvas adalah wajahnya sendiri. Saya tak kuasa membayangkan diri saya sendiri.
Sejak dulu saya tidak terbiasa dengan make up. Hal ini bertahan sampai saya lulus kuliah. Sebagai pengendara sepeda motor, jangankan rajin ber sunscreen. Disiplin ber slayer dan sarung tangan saja saya gagal. Tidak jarang saya lupa dimana menyimpan kedua benda pelindung tersebut padahal baru saya beli seminggu sebelumnya. Sesekali memang saya iseng atau berusaha bertaubat dengan beli sunscreen atau lotion dengan SPF (meski kadarnya rendah, paling pol 30++). Tapi paling paling saya rajin make pas masih baru saja. Seminggu kemudian sudah entah entah an. Itulah kenapa pergelangan tangan saya punya warna tersendiri :p.
Apalagi make up warna warni. Saya gak ngerti nama nama produk make up warna warni yg harus ditotol totol ke wajah perempuan. Saya baru tau jenis jenisnya dr katalog produk kosmetik punya teman saya. lumayan lah walo gak beli, bisa jd pengetahuan.
Jangan tanya salon2 SkinCare. Dari dulu kalo ditanya teman teman saya perawatan kulit dimana, kawaban andalan saya gak pernah berubah “Pake air wudhu aja” (pasang image solehah, hehehehe). Untunglah meskipun saya rutin bermandi matahari dan berkawan debu, masalah kulit muka saya tdk banyak (selain warna yaa).
Seiring berjalan waktu dan pergaulan yg mulai berganti dan meluas, saya sdikit2 terpengaruh untuk jd lebih feminim. Kalo kata mbak mbak tutor Beauty class yg wajib dimiliki perempuan paling tidak adalah pelembab, foundation, bedak dan lipstick.
Bedak yg saya punya diusia 20-an ternyata di TV diiklankan untuk segmen Teens. Lalu saya mulai punya hydrogloss. Itupun jarang banget jg dipakenya. Jadinya awet dan sekarang malah hilang ;(.

Sekarang, saya memang mulai punya beberapa benda yang sebelumnya saya anggap aneh itu. Tapi ternyata tetap saja, cm dipakai kalo inget, kalo lagi pengen, atau kalo terpaksa. Dan itu juarang bangeeeet. Rasanya koq sayang banget menghabiskan waktu bermenit2 di depan cermin buat aplikasi segala macam itu. Coba kita lihat urutan standar untuk make up profesional (untuk kerja):
1. Bersihkan wajah dg pembersih. Segarkan dengan penyegar
2. Gunakan pelembab di 5 titik wajah. Ratakan (ini aja ada cara khususnya. Gak boleh asal oles sana sini).
3. Oleskan foundation secara merata.
4. Aplikasikan bedak tabur (tdak diusap, tidak ad gerakan rotasi)
5. Lanjutkan dg compact powder (kagak sekalian baking powder?)
6. Aplikasikan eye shadow base pd kelopak mata. Lanjutkan dg eye shadow sesuai warna yg diinginkan. Lanjutkan dg eye liner cair. Jepit bulu mata dan gunakan maskara untuk kesan lentik dan tebal
7. Sapukan blush on pd pipi (konon cara aplikasiny pke teori angka 9)
8. Beri warna bibir dg long lasting lipstick, tambahkan lipgloss untuk kesan segar.
Itu baru buat muka doank. Masih ad tutorial hijab yang pake peniti n jarum pentul se abrek abrek. Waktu sebanyak itu cukup untuk menghabiskan sekian lembar buku ditemani segelas besar kopi panas.

Tapi dipikir piki ternyata memang ad saat saat tertentu ketika perempuan sebaiknya tidak bertampang kembang desa (istilah mbak tutor untuk kondisi tanpa polesan). Apalagi di profesi-profesi tertentu yang kadar make-up dianggap sebagai standar profesional orang tersebut. Kenapa beauty class itu perlu bahkan laris di prusahaan2? karna ternyata tidak semua yang kesehariannya full make-up, berdandan dengan cara yang benar.
Saya mengalami sih, kadang saya melihat orang yg ber make-up tebal dan (mungkin) mahal, tp bukannya terlihat cantik malah serem. Ada yg riasan mata nya terlalu tebal, ad yg eye liner nya gak pas, ad yang blush on nya menimbulkan kesan Tabok instead of blushing, ada yg kelihatannya bedaknya bagus, tetapi saat berkeringat ternyata blonteng2 alias warna bedak/wajahnya jd gak rata, dan lain lain. Mungkin juga ad yg terlihat tidak pas antara tema make up yg dipakai dengan situasi dimana orang tersebut berada.
Ada untungnya juga saya (terpaksa) ikutan kelas ini. Setidaknya ad tips dan jadi tau gimana caranya terhindar dr kesalahan2 dalam berdandan yg berefek hal hal yg saya sebutin di atas.
Nah, kalau ad yang bertanya apakah setelah mengikuti kelas make up apakah saya insyaf dr kemalasan saya? Hmmm terlalu cepat untuk memberi jawaban. Yang pasti pendapat saya jadi sedikit bergeser. Yang tadinya menganggap warna warni di wajah itu gak penting banget, jadi sdikit bergeser bahwa make up itu mungkin memang perlu, dengan syarat digunakan dengan tepat di waktu dan situasi yang tepat pula.
Maaf posting kali ini tanpa bukti otentik kalo saya sudah berhasil praktek make-up profesional saat kelas (karna lupa gak foto juga. Langsung dihapus). Dianggap hoax juga gapapa lah. ;P

*Aqied, Karna Air Wudhu adalah sebaik baik tata rias

Advertisements

4 Responses to “Beauty Class, Perlukah?”

  1. anna January 10, 2014 at 8:34 PM #

    Iya qid, minimal pelembab, foundation, bedak, sama lipstik.
    Bukan berarti kalo dandan itu selalu kecentilan, tp jg supaya muka kita ga lansung kena panas matahari, debu, dll.

    Percayalah!
    #macak mbak tutor.

    • aqied January 10, 2014 at 8:56 PM #

      Hehe iya mbak. Kalo day cream, night cream, bedak sama hydrogloss aku punya. Tp sering lupa make nya. Hehehehe

  2. jampang January 12, 2014 at 8:45 AM #

    sekali=sekali nggak apalah . apalagi kalau nanti buat suami 😀

    • aqied January 12, 2014 at 9:54 AM #

      Oh iya yaa
      Lupa gak kepikiran yg itu ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: