Saya pun Dulunya Bolang (Bocah Ilang)

2 Jan

Saya lahir di Klaten, 23 tahun 11 bulan yang lalu. Jika Anda melewati Jl Raya Jogja Solo, di daerah Delanggu Anda bisa lihat RS PKU Delanggu. Yap itu saksi hadirnya saya di dunia. Menghabiskan 1 Tahun di Klaten, dan 3 Tahun di Boyolali.
1994, 4 tahun usia saya. Kami sekeluarga pindah domisili ke Sorong, daerah Kepala Burung di Pulau (saat itu) Irian Jaya. Ujung timur negri ini. Menghabiskan masa kanak kanak saya yang indah, di tanah yang terkenal dengan wabah malaria nya itu.

Disana pulauku yang kupuja slalu
Tanah papua, pulau indah
Hutan dan lautmu yang kupuja slalu
Cendrawasih burung emas.

Seperti anak anak pada umumnya, di masa itu saya senang bermain. Sayangnya saya tidak punya banyak tetangga. Tidak juga tinggal di kompleks perumahan atau di perkampungan yang bisa bermain beramai ramai. Saya tinggal di pinggir Jl Basuki Rahmat KM 9,5 (saat ini tepat di sebelah perumahan Pertamina Sorong). Sayangnya keadaan saat ini sama sekali berbeda dengan masa kecil saya dahulu sehingga pd kepulangan saya 2013 lalu tdk ada yg bisa saya abadikan sbg kenangan.
Meski tak berkawan, saya tetap gemar bermain. Sesekali dengan kakak saya Qolbiy, seringkali pula saya bermain sendiri. Alam sekitar saya terlalu menyenangkan untuk di explore.

Tanah papua tanah yang kaya
Surga kecil jatuh ke bumi

Pernah saya memanjat dan menikmati pete. Diajari salah seorang kakak (anak asuh bapak), Aqied kecil senang sekali menemukan makanan baru, apalagi dimakan langsung di pohonnya. Kesenangan itu saya bawa pulang dan dengan bangga kupamerkan pada ibuku. Jika Anda seorang ibu, pasti bereaksi sama. Ya, beliau memintaku untuk menyikat gigi. Namun tetap diterima nya pete oleh2ku itu. Aqied kecil tdk mengerti apa yg salah, tapi tetap patuh menyikat gigi (kmungkinan tahun 1995-1996)

Anak SD generasi saya pasti pernah membaca buku Bahasa Indonesia tentang anak gembala meniup seruling dari atas punggung sapi. Itu pula cita cita saya. Sampai suatu hari, saya bertemu kesempatan itu. Sapi2 yang sebagian kaki nya terendam lumpur, saya naiki dan saya mulai berkhayal menjadi Budi. Tokoh gembala yg meniup seruling dan belajar di atas punggung sapi. Pengalaman ini harus Aqied kecil ceritakan dengan sangat bangga pada Ibu. Dengan aroma sapi dan lumpur yang kental di sore hari, aqied kecil pulang dan bercerita dengan bangga. Tapi Aqied heran, kenapa Ibu mempersilahkan mandi bahkan menyediakan baju ganti yang biasanya dipilih sendiri. (Kelas 2 SD, 96-97).

Saya tidak ingat tahun berapa, kami pindah tempat tinggal ke daerah dekat Jl Pendidikan Kota Sorong. Tidak tepat demikian karena dr Jl Pendidikan, masih ad sekitar 1 -2 KM masuk (hampir menuju Malanu, skarang dikenal dg Jl Arteri). Kami memiliki kolam yang cukup besar. Bapak menyediakan kole kole (perahu kecil dr batang pohon yang di keruk bagian dalamnya sehingga menjadi perahu). Setiap siang sepulang sekolah, saya hampir selalu bermain kole kole. Mengitari kolam besar berair coklat (banyak ikannya), dibawah terik matahari tanpa sunscreen tanpa topi. Pernah sekali penyeimbang kole kole tersebut patah. Sehingga tdk aman untuk dinaiki. Namun saya tetap ingin, sehingga saat Ibu dan Bapak pergi, saya nekad naik kole kole. Dan pada kayuhan dayung ke 3, kole kole terbalik. Anehnya, saya gak langsung pulang tp menikmati dulu berenang2 di kolam itu. Kemudian pulang, mencoba mencuci baju sendiri, dan mengepel jejak kotor saya di rumah. Belakangan saya baru tau baju saya dicuci ulang Ibu, tanpa saya disalahkan karna nekad ber kole kole.

Tanah Papua tanah leluhur
Disana aku lahir
Bersama angin bersama daun
Aku dibesarkan

Aku Papua-Franky Sahilatua
.

Saat ini jika melihat tayangan Bocah Petualang di TV, saya selalu teringat masa kecil. Sempat saat nyinyir, saya membatin ‘ini kan aktivitas sehari2 anak kecil, kenapa jd istimewa gini?’ Mengingat yang didongengkan dalam Bolang hampir mirip dengan keseharian saya dulu.
Namun saya kemudian sadar, di era dengan gadget, TV, PS, dan berbagai permainan modern masa kini, Bolang mengajak anak anak untuk bermain dengan alamΒ  berpetualang layaknya Dora dan Diego, dan lebih banyak bersosialisasi. Jika demikian, mungkin masa kecil ku pun Bolang, namun bukan petualang karna lebih sering bermain tidak ramai ramai. Jadi, Bocah ilang πŸ˜‰

*jika ad kesempatan, saya berharap bisa mendokumentasikan lebih banyak lagi masa kecil saya di Tanah Papua. Semoga dimudahkan.

Advertisements

5 Responses to “Saya pun Dulunya Bolang (Bocah Ilang)”

  1. Aqida Pu Teman January 2, 2014 at 5:19 PM #

    Papua memang selalu menyenangkan untuk dijelajahi. Papua 2013-ku saja begitu, apalagi Papua 1994-mu.

    Kapan ke Papua lagi? πŸ™‚

    • aqied January 2, 2014 at 5:45 PM #

      Akhirnya ojan komen juga.. πŸ˜‰
      Aku iri jan kamu kesana terus. Kapan2 ajak ajak donk

  2. sandiiswahyudi January 3, 2014 at 9:52 AM #

    Wah… bisa dikasih tahu refrensi tempat-tempat mempesona di Papua. Saya pengen suatu saat menjelalajah kesana πŸ˜€

    • aqied January 3, 2014 at 9:56 AM #

      Nomor Satu pastinya Raja Ampat. Ad sedikit di kategori jalan jalan mas.
      Trima kasih sudah berkunjung

      • sandiiswahyudi January 3, 2014 at 10:17 AM #

        hehe sama-sama. Saling mengunjungi rumah (blog) untuk cari ilmu ma jalin silaturrohim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: