Archive | January, 2014

Seharian Ngapain Aja?

31 Jan

Long weekend, seperti saya sebutkan di bio, selalu saya rindukan. Dan gimana sih rasanya kalo rindu itu terbalas? Seneng donk ya dan saya sudah punya plan buat touring bareng Schofield dengan titik stop 3 kota dalam 2 hari (sip kedengerannya keren yaa). Kota-kota yang cuma lewat doank alias gak masuk titik stop tidak dihitung yaa. Hari terakhir buat istirahat total.
Mengingat kondisi cuaca dan rute serta jam terbang yg cukup padat (sok keren lagi), saya sudah berusaha menyiapkan fisik yg prima bagi pengendaranya dan tunggangannya.
Sayang seribu sayang, saya malah gak bisa share perjalanan yang mungkin bisa jadi asyik bisa jadi mbosenin itu di blog ini. Karna ketika bangun dini hari Kamis (pukul 2.30 WIB), suhu tubuh saya cukup tinggi. Saya mati-matian berusaha menyangkal kalo saya sedang tidak sehat dengan tetap menjalankan aktivitas kantor. Tapi fisik saya menolak. Saya terkapar (kerennya memudar jadi cemen).
Kamis sore, stelah segala tetek bengek kantor usai, setelah makan banyak dan merasa sehat, saya balik ke jogja bareng Supri ( 55 menit). Membatalkan segala rencana indah yang sudah disusun. Fisik saya menuntut istirahat total.

image

Kenaliiin ini Suprii teman jalan saya

Pagi tadi, saya bangun kepagian dan bingung mau ngapain. Akhirnya memutuskan untuk jogging dan mencari kesempatan hirup oksigen segar dengan rakus. Niatnya sih sekalian kasih hak buat perut aku (ngomong cari sarapan aja ribet).
Lagi lagi sayang seribu sayang, sudah 1,51 km ditempuh baru sadar kalo gak ad rupiah yang ikut saya bawa. Kebiasaan buruk yang gak hilang hilang, suka ketinggalan duit. Hikz. Pulang dengan masih lapar dan kaki lecet gara gara saya malah pake sepatunya Qolbiy. Masak nasi dan bongkar2 kulkas buat cari alternatif lauk. Nunggu nasi mateng sambil baca baca.

image

Nyampe sini baru sadar gak bawa duit. Langsung rombak rute

Part sedihnya sudah lewat. Untunglah saya memiliki teman teman yang luar biasa baiknya. Saya yang lagi bengong sendiri di rumah, ditinggal adik saya liburan ke Kalimantan dan Kakak saya liburan ke Solo, gak kesepian karna mereka main ke rumah. Sembuh donk ya saya nya.
Siangnya, karna di rumah sudah saya habisin semua makanannya, kami makan siang di Sop Ayam Pak Min dan malah ketemu kakak tingkat saya jaman kuliah yg skarang aktif banget di Pesantren Menulis.
Selanjutnya iseng mampir ke Yogyatourium Dagadu Djogja yg emang deket dari rumah. Entah saya selalu seneng aja kalo kesini. Walo dari sekian kunjungan, baru 2x beli beneran produk Dagadu disana ;p.
Ternyata karna usianya kini 20 tahun (tuaan saya dikit), sepanjang jalan menuju parkir belakang gedung gitu dipamerin donk desain2 kaos Dagadu sejak 1994 sampai 2014. Jd semacam nostalgia gitu kan yah. Sekalian juga buat referensi biar tau kalo ad yg pke Dagadu gambar apaa gitu jd tau beli nya taun berapa (eh gak penting ya?). ūüėČ
image

image

Bagian dalamnya Yogyatourium.

image

Ini nih sebagian yg dipamerin dari desain2 Dagadu sejak 1994-2014. Abaikan objek berbaju merah

Jadi sekarang saya sudah selesei ngeteh2 cantik sepoci sendiri sambil cap cip cup milih buku apa yg mau diajak nemenin malam ini.
Itu ceritaku, bagaimana hari liburmu?

*maafkan kualitas gambar yg jelek ya. Uploadnya susah

Advertisements

Malam Ini Saya Menangis, Flashback Jawa papua 1990-1994

29 Jan

Malam ini saya menangis.

Sampai sampai saya tidak tau mau nulis apa. Gak usah ngirain tangisan saya ini seperti tangisan jomblo di malam minggu. Atau tangisan karyawan di tanggal tua. Sama sekali Nggaak.!!

Malam ini saya menangis. Sudah lama saya tidak menyentuh laptop ini, sampai tadi sore. Satu folder menggelitik saya. Sejenak saya terdiam, teringat tumpukan surat-surat tulisan tangan kedua orang tua saya. Masa LDR Jawa-Papua sepanjang 1990-1994 menghasilkan mahakarya sejarah keluarga kami. Kisah kisah yang jelas tercatat rapi, torehan sejarah perjuangan dua orang paling saya cintai di alam raya ini.

Bapak memberikan kami bukti-bukti sejarah itu beberapa tahun lalu. Harapan beliau, kami bisa mendokumentasikan setiap yang tertulis dalam sekian kilogram kertas itu dengan lebih baik. apa daya, sulit sekali bagi saya melaksanakan tugas beliau. Tak bisa dipungkiri, pandangan saya pasti dan selalu kabur pada surat ke-2 atau ke-3. Air mata  menggenang, sesekali badan saya terguncang membuat saya tak mungkin bisa dengan santainya mengetik atau men-scan satu satu lembaran-lembaran itu. Cerita-cerita yang belum pernah sekalipun aku tau keluar dari mulut beliau berdua, baru aku ketahui faktanya.

Pesan-pesan dan harapan sejak aku lahir (saya lahir Februari 1990, surat pertama pada April 1990), terdokumentasi rapi. Setiap langkah dan perjuangan pahit, panjang, dan penuh liku mereka tanpa rekayasa akhirnya saya ketahui.

Bagaimana cinta dan perjalanan panjang Ibu mengasuk mendidik seorang anak nakal 3 tahun (kakak saya), dan seorang bayi kecil yang rewel dan merepotkan (saya) di rumah mertuanya disamping tugasnya sebagi guru.

Bagaimana cinta dan perjuangan Bapak di ujung negri antah berantah kota Sorong Irian Jaya yg tidak pernah tau apapun disana, jauh dari keluarga, jauh dari anak dan istri yang selalu bisa jadi penyejuknya. Bagaimana usaha Bapak untuk terus bertahan bahkan tak bisa menahan untuk membantu orang lain di saat beliau pun harus bertahan hidup sendiri disana dan menafkahi istri dan 2 anaknya di Jawa.

Bagaimana Ibu bercerita tumbuh kembang kami, bagaimana Ibu bercerita kenakalan kami, bagaimana cara ibu menguatkan Bapak yang selalu merindu. Bagaimana tulisan Ibu apapun isinya selalu bisa menjadi suplemen semangat Bapak.

Bagaimana Bapak menghibur, berbagi cerita, bagaimana Bapak mengutarakan perasaan sedihnya tak bisa berada disisi istri, ibu dari anak-anaknya yang selalu disebutnya ‚Äúyang selalu menyatu denganku‚ÄĚ. Bagaimana Bapak mensyukuri dan berdoa untuk ulang tahunnya yang ke-27 (Juli 1990)

Diantara pesan-pesan untukku*:

kita baru menghadapi permulaan dari perjuangan dan semoga Allah membimbing kita. (April 90)

kau jauh dariku secara lahir saja tapi hakikatnya kau berada satu denganku. Menyatu dalam jiwakudan bersama-sama selalu memohon bimbingan dan karunia dari pemberi, yaitu Allah swt. (April 90)

Ma-inn, aqid, kowe saiki iso opo. Ora pareng nakal, sing manut karo ibu. Ibu dibantu lan di hibur ben ora pati susah. ngaji lan sinau sing sregep. Adik’e diajari sing apik. Bapak lagi nindak ke kewajiban ono panggon sing adoh, nanging sejatine bapakmu malah luwih cedhak karo kowe kabeh dan ibumu ora tau ucul soko pikiranku, kowe kabeh (April 90)

‚Äúkesabaran dan ketahanan berjuang hanya akan diberikan kepada mukmin yang mendekatkan dirinya kepada Allah swt‚ÄĚ (Mei 90)

Mainn, Aqid, bantulah ibumu baik-baik agar masa depanmu dan keluargamu mendapatkan keberuntungan dan Allah pun ridho memberikan kebahagiaan kepada kita semua. (Dzulqo’dah 1410)

Ma-inn, Aqid, kamu harus taat pada Ibu. Bapak baru berjuang disini, doakan bapak berhasil dalam perjuangan ya nak… (Juni 90)

Dimana saja kita berada kita harus selalu berusaha menjadi orang islam yang baik. Bersikap pemurah, ramah, dan rendah hati. Dengan begini, Allah akan selalu memberi kemudahan, walaupun kelihatannya berat tapi ringan setelah dijalani. Dan Allah akan selalu mencukupkan kebutuhannya. Sedang rezeki datang tanpa diduga-duga. Mungkin berupa materi, mungkin pula berupa saudara, sikap dihargai sehingga jalan akan semakin lapang. Aku telah membuktikan itu. Janji Allah selalu benar. ma-inn ku sayang… Aqid ku sayang…

Doakan bapakmu yang akan sellau membahagiakanmu, menyelamatkanmu.. dengan izin Allah (Juni 90)

ma-inn, Aqid > kuharap kau menjadi penghibur ibumu dan menjadi tabungan masa depan orang tuamu. (Juni 90)

Ma-inn, aqid…. Apa sudah pinter ngaji, masak, mbaca, nyanyi, nggambar, dan apa lagi? Mestinya kau tidak nakal lagi, atau mungkin tambah kreatif sehingga njengkel ke. Itu mungkin cirri anak cerdas. Iya gak?? (Juli 90)

Tahun baru kita

Tahun kemenangan kita

Selamat tinggal kegagalan, kegalauan, kesalahan, kekalahan, keraguan, kekhawatran, kemaksatan, kemusyrikan……. (tahun Baru Hijriah 1411)

 

Malam ini saya menangis, sehingga tak mampu teruskan membaca episode selanjutnya dari sejarah ku sendiri. Sejarah kedua orang tuaku yang penuh liku, dibalut cinta dan perjuangan panjang.

*yang bikin mbrebes mili banget banget gak di share disini yaa……a

Aqied Kecil Bersekolah *catatan Papua 1994-2001

23 Jan

Untunglah saya sempat tinggal di ujung timur negri. Tidak berhenti saya bersyukur pada skenario Yang Maha Kuasa tentang masa kecil saya.
Tahun 1994, saya menjejak Kota Sorong, Papua (saat itu Irian Jaya) untuk pertama kali. Kami sampai di pelabuhan dini hari.
Tahun 1995, saya Aqied kecil iseng didaftarkan Bapak di salah satu sekolah dasar Islam dekat tempat tinggal kami. Kala itu usia saya seharusnya belum saatnya masuk SD. Orang tua memandang niat dan keinginan saya yang begitu membaja (ceilah) untuk sekolah seperti Qolbiy. Mari kita bayangkan Sorong di tahun 1994.
Tidak ada TK terdekat di sekitar kami. Bahkan yang searah dengan sekolah tempat Bapak ngajar. Saya tinggal di Jl Basuki Rahmat KM 9,5 (sekarang sebelah Perumahan Pertamina pas) sedang Bapak mengajar di KM 13. Akhirnya saya diikutkan sekolah SD yang masih bisa ditempuh jalan kaki.
Menonton Laskar Pelangi mengingatkan saya pada sekolah Aqied kecil. Sekolah swasta dengan siswa/siswi low-end meski kondisi sekolah lebih baik dari SD Muhammadiyah Gantong.
Sekolah Aqied kecil ad 6 kelas, masing2 untuk satu tingkat. Jumlah guru ad 7, sudah termasuk satu kepala sekolah.
Lapangan sekolah sangat cukup untuk upacara bendera, bermain kasti, atau olahraga lain. Sebagian besar tanah berwarna coklat-oranye, sebagian ditumbuhi rumput, dan ad beberapa pohon kelapa di salah satu bagian. Jika musim hujan, ad baiknya berhati hati kecuali bagi penganut paham ‘berani kotor itu baik’
Ruang kelas kami beralas semen, sebagian mulai berlubang2. Setiap satu meja dilengkapi bangku panjang kapasitas 2 anak kecil. Kaca jendela model nako yang sudah tidak lengkap baik jumlah kaca maupun besi teralisnya. Memudahkan beberapa teman Aqied kecil kabur saat mobil puskesmas datang. Jarum suntik masih tajam dan menakutkan kala itu. Jendela yang bolong2 juga memudahkan tebu tebu dibelakang sekolah menerobos masuk kelas. Yang kemudian kami potong dan berebut potongan tebu untuk di sesap.
Toilet sekolah ada dua. Disebelahnya ada sumur untuk mengambil air. Jadi kalau sedang kebelet, mohon menimba dulu. Oya nimbanya gak pke katrol yaa, jadi ada ember yg diikat dengan tali panjang. So, timbanya tanpa bantuan ‘pesawat sederhana’ bernama katrol.
Ada sungai berair coklat di belakang sekolah. Jembatan kecil titian bambu menjadi penghubung untuk ke sebrang. Aqies kecil tidak begitu tau apa saja yg ada di sebrang. Yang Aqies kecil tau hanya Soa-soa (semacam kadal besar, sekitar 70cm-1meteran, tp gak pernah ngukur juga sik) sering terlihat di pepohonan sebrang sana. Kadang entah kenapa Soa-soa tersebut terlihat di kamar mandi/toilet. Mungkin nyasar.
Tapi itu masa lampau.
Seiring berjalan waktu, prestasi demi prestasi menghiasi sekolah ini. Peminat nya turut meningkat. Lama kelamaan sekolah ini bermetamorfosa. Cukup melesat jauh. Jumlah siswa yang terus meningkat, berbanding lurus dengan jumlah kelas yang akhirnya dibangun.
2001 Aqied kecil lulus, sekolah ini sudah menambah jumlah ruang kelas. Ad beberapa perubahan  semacam ruang guru, toilet, dan jumlah siswa. Tepat angkatan sekolah dibawah Aqied kecil, satu tingkatnya ada dua kelas, A dan B. H+1 menerima ijazah, saya diterbangkan Merpati (MNA) ke pulau Jawa.
Baru pada 2010 lalu saya sempat menengok silaturrahim, dan bingung (pertama mudik setelah 9 tahun di jawa). Hampir tidak menemukan nostalgia masa lalu si Aqied kecil.
Ruangan2 sederhana dulu telah menjadi gedung bertingkat. Lengkap dengan R Multimedia, Masjid sekolah dan ramainya lalu lalang siswa siswa di sekolah ini (saya tidak memperhatikan banyak). Menurut cerita Bapak, kini halaman sekolah itu sesekali ad tampilan Ka’bah, untuk latihan manasik haji.
Ah, betapa merindu masa masa kami mengenal hampir seluruh siswa satu sekolah. Betapa merindu masa masa kami bergantian merebus air dan membuat teh untuk bapak ibu guru. Betapa merindu tidur tiduran dan bermain sesukanya di atas rerumputan bersandar pohon kelapa. Betapa merindu saat saat menjerit heboh kala soa-soa mengintip kami dari luar kelas. Betapa merindu tidur dan camping di sekolah untuk pesantren kilat Ramadhan. Betapa merindu ketika harus terpleset genangan air pasca hujan di halaman sekolah yg becek. Betapa merindu Bapak dan Ibu guru yang bisa bisa nya masih bertahan dengan segala keanehan dan kenakalan kami. Betapa ah betapa……..

*Aqied kecil, seandainya neverland itu ada

Menghitung Hari Gajian

22 Jan

Hitungan jelang tanggal gajian semacam otomatis nempel di kepala buruh macam saya. Sempat mengalami beda beda kantor dan rekan kerja, tanggal gajian tetap jadi hari keramat. Heran juga hitungan mundur jelang gajian semacam tersetting otomatis di kepala kepala kami. Dan bangun tidur paling indah adalah bangun tidur di pagi tanggal 25 (atau sebelumnya jika 25 tanggal merah).
Tanpa perlu memperhatikan, sudah kelihatan koq masing masing sudah punya rencana pengeluaran yang wajib terlaksana setelah gajian. Mulai dari mendata kebutuhan2 pribadi yang sudah menipis, mendata kesenangan dan hura2 yang diinginkan, mendata tas sepatu dan gadget yang kemarin ditaksir. Apalagi hal hal itu biasanya sudah diampet mungkin sejak tanggal 15 ;).
Jadi buruh itu asyik, kalo tanggal 25. Begitu kata teman saya. Seperti kata iklan salah satu provider:

Masalahnya gaji cuma tahan sampe tanggal 15,

kesindir gak sama iklan itu?

Ada asyiknya juga sih gajian tanggal 25. Setidaknya gak harus nunggu ganti bulan buat nggendutin rekening. Setidaknya pusat perbelanjaan belum sepenuh tanggal muda. The problem is pas tanggal muda ud kerasa tanggal tua. ;(
Bagi buruh dengan tata kelola keuangan buruk macam saya, saya juga punya rangkaian to do list yang harus saya lakukan begitu tgl 25 pukul 00.00 gaji saya masuk. Saya harus segera menyingkirkan nominal tertentu untuk saving.
Belajar dari pengalaman yang sudah sudah, saya memang sempet sih selalu berhasil menyisihkan gaji hingga gajian berikutnya. Tapi ternyata hanya bertahan beberapa bulan (saya kerja di institusi ini baru 15 bulan-an), dan ujung ujung nya malah berapapun yang ada, habis atau hanya tersisa saldo jaga jaga saja.
Apalagi saat itu saya sering merasa perlu bolak balik jatim-jogja di weekend yang setelah dihitung2 cukup boros juga. Ditambah lagi selama disana saya banyak kepingin jalan jalan nya. Alhasil begitu balik ke Jogja, saya bingung sendiri koq keuangan saya kacau.
Akhirnya saya memilih kalo dulu saya mendahulukan kebutuhan baru disesuaikan nominal yang saya punya, sejak kembali ke Jogja, pendekatan itu saya balik. Sekian persen pemasukan saya harus dikeluarkan dulu untuk saving, dan dengan sisa yang tersedia itu saya atur strategi bagaimana supaya memenuhi semua kebutuhan saya.
Saya memulai disiplin ini di Juli, namun ambyar karna saya malah mudik ke Sorong n short-trip sampe emper Raja Ampat. Disana gak ada yang murah kalo mau kuliner, juga hunting oleh oleh.

Alhamdulillah begitu September saya mulai bisa bertahan hidup yang lebih menyenangkan dengan nominal yang lebih rendah dr bulan bulan kemarin. Lagian kebutuhan saya apa sih? Masih buat diri sendiri aja. Belom bayar cicilan rumah, belom bayar SPP anak, kalo gak makan juga kagak ad yg sms ‘dah makan belum?’ , intinya ya cuma buat dipake sendiri.
Nyatanya saya masih bisa jalan jalan ala bolang, sesekali makan enak, ngopi ngopi cantik, paket internet ponsel jalan terus, sesekali hura hura, belanja buku atau outfit. Sempet coba nurunin nominalnya ternyata saya gagal karena pengeluaran2 tak terduga. Tapi setidaknya saya tetap bertahan dengan bekal yang saya siapkan sejak awal. Gak tergoda buat utak atik yang lain. Pengalaman sih kalo ud pegang duit (fisik maupun elek), berapapun bisa aja ngabisinnya.

Jadi apa rencanamu setelah gajian? Rencana saya gak gagal lagi untuk saving. oh iya sama beli kopi kesayangan ;).

*jangan tanya saving nya untuk apa yang pasti untuk macem macem n banyak. Saya kan banyak maunya

Ibu dan Lumia nya

18 Jan
image

Lumia Ibu, sedang transit di Sultan Hasanudin Airport Makassar

Saya dan orang tua memang sudah sejak SMP tidak tinggal bersama. Saya menjalani sekolah berasrama di Solo sejak lulus SD, sementara kedua orang tua saya di Sorong, Papua. Kontak memang sering, dari jaman kombinasi telpon dan surat pos, ponsel, hingga sekarang pesan instan dan jejaring sosial.
Awalnya, memang sudah cukup bagi kami berbincang dan bercerita secara audio saja (baca: telpon) atau sms. Seiring semakin banyak hal baru yang kami temui, dan sangat ingin kami ceritakan, kami mulai hal baru. Jadi biasa setelah cerita by phone, ad gambar2 atau foto yang kami saling kirim melalui email.
Contohnya saat saya ikutan volunteer ASEAN Para Games di Solo, Bapak pingin tau gimana gimana nya atlet atlet difable di event pasca SEA GAMES itu. Juga saat saya wisuda, bapak gak ikutan. Jadi dikirimnya via email. Pernah juga waktu Bapak dan Ibu ada acara tahun baru di Waisai Raja Ampat. Kami anak anak beliau penasaran maka di email lah foto2 beliau berdua disana.
Lama kelamaan, kami mulai merasa email tidak cukup praktis. Fyi, jangan bayangkan kualitas koneksi di pelosok sana dengan pulau jawa. Juga listriknya. Selain itu, koq jd ngerasa ud gak real time. Kerasa gak sih, ketika ud penasaran bangeet ato ud seru banget ceritanya, gambar visualnya masih meraba raba. Dan pas diterima sudah gak se exciting pas seru2nya. Gak cuma itu, banyak hal remeh temeh yg selalu pengen kami bagi, dan gak asyik banget kalo harus di email dan bapak downloadnya masih entaran banget. Pas selo, pas sinyal bagus, pas bukan jam kerja tp pas gak di rumah juga (sinyal di rumah juelek maksimal). Selain itu, kami pengen juga kan selalu berbagi tumbuh kembang baik diri kami sendiri masing2 atau segala hal di sekitar kami.
Maka, Qonita dan Qolbi muncul dengan ide menghadiahkan smartphone untuk Ibu. Awalnya karna kami belum uji coba sinyal di sana, bayangan mereka tar bisa skype an gitu. Atau minimal bisa kirim2an foto sesukanya di whatsapp. Dua itu harapan minimal kakak dan adik saya yg cerdas (saya gak ikutan punya ide pas itu, bodohnya).
Misi pun di mulai, setelah mencari tau sana sini dan berunding antar kami, disepakati Lumia dari brand (yang sempat) Besar. Ini untuk bujukan lebih mudah juga sih, karna Bapak gak pernah beli ponsel selain merk ini. Pada Juli 2013, Qonita sebagai sesama pengguna Windows Phone mulai membeli dan membekali ponsel tersebut dg aplikasi2 yang dibutuhkan.
Karena Qonita dan si kecil gak ikutan mudik lebaran, saya jadi petugas yang mengantarkan ponsel tersebut pada 3 Agustus 2013. Berhubung saya gak ngerti ngerti banget Windows Phone, jadilah disana Ibu tinggal belajar n make aja. Satu satu nya aplikasi paling aktif adl Whatsapp. Selain berkomunikasi dengan kami, Ibu juga bisa komunikasi dengan teman2nya sesama ibu ibu, teman2 kuliahnya, dosennya, dan siapa aja. Saya cuma bisa ngajari penggunaan search engine yg bisa dg scan dan ketik manual. Yang Ibu suka banget, karena Ibu bisa ngetik arab dan bisa translate di ponselnya. Bisa baca quran beserta terjemahnya, bisa cek kata2 sulit di Quran dan langsung ke search engine (meski dulu Sarjana di Matematika, sekarang Ibu kuliah lagi Bahasa Arab).
Akhir tahun kemarin, Ibu ke Jawa. Mulai berdiskusi dengan Qonita soal ponselnya. Pernah suatu hari saat saya utak atik ponselnya, saya tanya
“Bapak suka make juga gak sih?”
Ibu: “iya, kadang yg kirim2 foto itu bapak. Kadang juga bapak cari2 kalian tuh di situ (nunjuk tanda search engine).”
Saya: “What? Nyari Aqida Shohiha gitu?”
Ibu: “gak tau tuh bapak. Aqied gitu deh kayanya. Tar ketemu yg itu tu satunya facebook(twitter). Kadang ya Aqida Shohiha kayanya”.
Oh my, bagi Anda pembaca twitter saya, tentu tau kalo saya lebih banyak nyampah, alay dan gak mutu kalo ngetwit.
Saat itu saya rada kaget. Twitter saya memang gak pernah digembok. Jadi Ortu tau donk saya suka galau galu gak jelas, saya mention2an sama siapa aja, ato kalo saya lagi kode kode n no mention. !!!
Ternyata setelah percakapan itu, Qonita kembali dengan ide brilliannya
“Ibu follow aja twitnya Aqido. Tar aku taro di home biar tinggal baca”
Dziiiiiiinnngggg!!!
Belum sempat saya protes, Ibu sudah bersuara
“O iyo sudah”
dan nemplok lah shortcut ke timeline twitter saya dengan manis di home windowsphone yang kotak kotak itu. Sebelumnya facebook 4 anaknya ud berjejer manis.
Yasudah lah, saya pikir biarlah malah saya jadi gak harus panjang2 kan kalo crita di telp. Kan ud baca sendiri. Hehehehe. Telp nya bisa buat ngobrol2 yang lain yg private2 ajah.
Tapi lucu juga, meski saya tau kalo Ibu dan Bapak suka kepoin saya, Ibu semacam gak pengen ketahuan gitu kalo kepo.
Pada suatu hari:
Saya: “aku tau loh kalo Ibu kepo in aku. Ibu suka gak sengaja kepencet favorit kaaan”
Ibu: “hah iya ya? Masa sih? Kalo kaya gitu emang ketahuan ya kalo suka baca baca?”

Sebelum mudik kmaren, Ibu sempet juga tanya tanya instagram. Tapi oleh Qonita saat itu disampaikan kalo instagram gak penting2 amat dan di WindowsPhone masih versi Beta.
So, mulai saat itu, twit, posting facebook, bahkan posting di blog ini bisa jadi bahan bacaan Ibu dan Bapak saya. Soal blog saya masum radar bwliau berdua juga saya baru tau beberapa hari lalu.
Ibu via Whatsapp : “maksudnya apa sih kamu menang undian PKK Anak SMA? Kalo artikelnya aku sudah baca sih”
Nah looo. Bahkan posting absurd yang itu pun dibaca oleh beliau. Mungkin hanya akun Path aja yang sampai sekarang belum masuk radar.

Posting yang ini pun sepertinya bakal dibaca beliau. Haiii Ibuuu, Haiiiii Bapaaakkkk…… ūüėČ

Aku dan Schofield

15 Jan

Pernah denger saya nyebut Schofield? Yup dia partner saya yang oleh beberapa teman diolok-olok sbagai pacar saya. Schofield yang sejak pertemuan pertama kami selalu mendampingi saya, gak pernah rewel hujan badai kabut panas atau lautan pasir yang kami lalui. Schofield gak protes dan tetap baik baik saja meski beberapa kali saya buat dia terluka.
Satu yang penting, Schofield ini dari Jepang meski dia hitam.
Ini salah satu rekam jejak saya dengan Schofield:

image

Dieng: Medio 2012

Saya berkenalan dengan Schofiels pd 2009, pertama kali pabrikan Honda mengeluarkan Absolut Revo (New Revo) dg kapasitas 110cc ini. Sebenarnya saat itu tipe ini bukan idaman saya. Sama sekali malah. Tapi melirik faktor U dan U dan D (ujung2nya duit), saya bawa pulang lah si Hitam kece yang akhirnya diberi nama Schofield.
Nama Schofield sendiri rada penting gak penting sih. Tau film seri nya FOX yg tokohnya lulusan MIT tp ngerampok bank demi nyelametin kakakny? Yes Prison Break dengan tokoh Michael Schofield yang bikin saya gila.
Bersama Schofield saya mengalami perjalanan panjang (ceileh). Di kilometer awal2 Schofield, pernah dengan tanpa persiapan saya bawa treking jalur boyolali-selo-kedung kayang- ketep-kopeng- ujug ujung njedul salatiga. Saat itu saya belum punya pengalaman motoran di jalur gunung. Tidak sampai seminggu, saya bawa lagi dari jogja ke Gunung Kidul maghrib-maghrib dan baru turun ke Jogja (sya masih ngekost di Jl Kaliurang KM 5 saat itu), jelang gerbang kost tutup. Seminggu kemudian saya ajak lagi nyusurin pantai gunung kidul, dan karena pelit banget buat parkir dan bayar uang masuk, saya pilih lewat pinggir pantai yg berpasir, jd bisa tiba di beberapa pantai tanpa melalui gerbang. Pulangnya dengan apes masih kehujanan pula.
Schofield memang tidak pernah pergi jauh. Rekor terjauh saya bersama Schofield hanya Jogja-Dieng lewat Kepil Sapuran dan pulangnya lewat Temanggung-Magelang-Jogja. Itupun perjalanan yang gak berat. Kendala hanya di kabut aja. Tapi karna pernah terjebak kabut plus hujan bareng juga di Irung Petruk nya Selo Boyolali, tidak terlalu masalah untuk Schofield.

image

Kejebak Kabut sore sore di Irung Petruk menuju Selo, Boyolali (pos daki merapi-merbabu)

Saya mencintai Schofield, saat itu (menurut kakak dan beberapa teman) berlebihan. Pernah kunci saya hilang di UMY Ring road, saya maksa pinjem motor temen untuk ngambil kunci cadangan di Jl Kaliurang pada jam 14.00 Ramadhan karna gak tega njebol rumah kunci. Saya pernah uring2 sama temen saya yang setelah jalan bareng Schofield, plat motornya jd hilang. Saya rajin nemenin Schofield creambath (baca: cuci salju) dan check up (baca: service rutin). Saya juga gak keberatan sesekali traktir pertamax. Saya mulai belajar2 otomotif sederhana meski hanya yg berhubungan dengan dia, dan sekarang gak ad yg nyantol. Bahkan saya sempet berfikir menghadiahi dia lampu kabut.
Tapi diantara itu semua, kadang saya juga melakukan kekejaman padanya. Susur pantai di jalanan berpasir dan rentan cipratan air laut tidak sehat untuk Schofield. Sering juga saya paksa dia bolak balik Solo Jogja meski kadang gak penting2 amat. Atau kalo lagi males, saya biarkan dia menginap di stasiun dan saya selingkuh sama Pramex. Belum lagi kalo kerendem banjir, tetap saya paksa dia untuk jalan. Bahkan tahun pertama dengannya, beberapa kali dia lecet bahkan sempat beradu badan dengan roda 4 sampai pecah 3 bagian depannya. Saya sendiri di semua insiden itu sehat wal afiat. Masih sangat sehat untuk memeriksakan luka dan patah tulang Schofield ke dokternya. Mas mas bengkel kadang heran “siapa yg make mbak motornya sampe gini?” Dan langsung bengong saat dijawab “saya”.
Yang saya suka dari Schofield, dibandingkan rekan rekan seusianya, Schofield cukup sehat. Saya senyum2 aja kalo tukang parkir nyalain motor saya dan gak percaya kalo Schofield lahir 2009. Gak percaya juga kalo itu sepeda motor saya beneran (u know lah ad anggapan tertentu soal perempuan dan kendaraan). Apalagi kalo sedang diperlukan dipinjam teman untuk waktu yg cukup tuk berkenalan. Rata2 responnya positif dan ikutan suka dengan Schofield. Setidaknya meskipun tampilan luar nya gak selalu kinclong, suara mesin dan tarikannya kasih kesan pertama yg positif.
Tapi itu dulu, sejak setahun lalu saya hijrah ke Jawa Timur, mau gak mau saya berpisah dengan Schofield. Dia dibawah pengasuhan orang lain, dan kami menjalani LDR. Tidak setiap akhir pekan saya bisa jumpa dengannya. Sampai pada Juli lalu saya dipindahtugas kembali ke Klaten dan Jogja. Saya bahagia kala itu, saya pikir we officially ended up the long distance relationship. Saya sempat menjalani hari kembali bersama Schofield, meski dengan rute yang itu itu saja.
Dilema hadir ketika saya harus menerima konsekuensi kepindah tugasan saya. Setelah 9 bulan bekerja di institusi saya saat ini, saya mendapat promosi dan dipindahkan ke area yang lebih delat dengan KTP saya. Amanah baru ini saya mendapat fasilitas Supri, sesama sepeda motor pabrikan Honda dengan volum silinder lebih besar dari Schofield. Saya dihadapkan kebingungan, sampai akhirnya saya memilih memulangkan Schofield di Jogja saja dan hanya digunakan jika saya butuh atau jika ada yang membutuhkan. Sementara saya konsen dengan Supri.
Sedih? Bangeeet. Saya sedang di masa mengenal kembali Schofield yang (menurut saya) cukup berbeda dengan setahun lalu saya tinggal dan terpaksa berpisah lagi. Saya bisa saja bersama keduanya, tapi koq kesannya gak efektif banget.
Nyatanya meskipun kini saya menjalani hari hari bersama Supri, saya tidak bisa melakukan hal hal yang sama dengan yang pernah saya lakukan pada Schofield. Supri hanya menjalani hari yang begitu begitu saja. Makan makanan yang itu itu saja. Juga creambath dan service yang tidak pernah saya temani (diurus kantor, lebih terurus sih). Menurut teman teman dan kakak adik saya, saya pun terlihat koq mencintai Supri. Namun mungkin tidak bisa dengan cinta yang sama seperti terhadap Schofield.
Terlalu banyak cerita indah dan perjalanan2 menyenangkan bersama Schofield. Mungkin sewaktu waktu saya harus buat posting khusus tentang rekam jejak Schofield.

*aqied, motorider who knows nothing about automotive

Senin Ini Bukan Senin Biasa

13 Jan
image

Es teh seger nih kayanya. *gak nyambung biarin

Senin ini tidak seperti biasanya. Karna Kakak saya sudah tinggal bersama suami, dan Adik saya berlibut ke Bogor sejak Sabtu, saya di rumah sendiri aja. Minggu sore saya melakukan ritual weekend semacam mencuci, memasak (karna lagi penghematan jajan), menyetrika dan mempersiapkan yg perlu saya bawa ke mess selama seminggu. Herannya setelah semua aktivitas itu, bukannya ngantuk malah insomnia saya kambuh. Untunglah sekitar pukul 2 saya bisa tidur dengan tenang. Sempat bangun untuk Subuhan, tapi terkapar lagi dan KESIANGAN.
Sekedar informasi, saya butuh waktu perjalanan 1 jam. Dengan kondisi limit waktu yg tersisa hanya 30 menit, mandi, bersiap (baca: dandan), packing, manasin motor dan cek kondisi rumah harus sudah DONE. Rupanya saya sedang tidak beruntung. Jam tangan saya sudah berbunyi menandakan pukul 7.00 saat saya baru menyiapkan sepeda motor.
Sepanjang perjalanan saya tak henti melirik jam tangan saya dan menghitung estimasi jam tiba saya. Untunglah setelah keluar dari Provinsi DIY, jalanan lebih bersahabat. Tepat pukul 07.55 saya sampai dan ternyata rata-rata kecepatan saya masih hitungan normal (54.41 Km/hr versi My Track dalam 52 menit).
Tentu ini bukan senin yang biasa. Saya biasanya lebih suka berangkat lebih awal. Banyak destinasi sarapan yang bisa saya cicip dengan santai sepanjang perjalanan. Saya juga bisa dipuaskan dengan pemandangan matahari terbit karena perjlann saya menghadap ke Timur jika berangkat selepas subuh.
Senin ini alih alih mampir sarapan, apalagi menikmati sunrise. Tiba tepat waktu tanpa insiden berbahaya di jalanan saja saya sudah syukur. Apalagi tau sendiri lah kondisi jalan Solo-Jogja yang bergelombang dan berlubangnya keterlaluan.
So, pagi ini saya hanya bisa melirik Gudeg Yu Djum, Dunkin Donuts, warung Soto, dan tempat2 lain yang pernah jadi tempat saya singgah sarapan. Saya hanya bisa menatap langit didepan saya yang tak lagi menampilkan bola emas batu terbit. Ditambah penyakit pagi saya yang kambuh, tak henti bersin sepanjang perjalanan.
Senin ini memang bukan senin biasa buruh semacam saya.

Mencicipi Emperan Raja Ampat

12 Jan
bukti sudah sampai Kab Raja Ampat

bukti sudah sampai Kab Raja Ampat

Lebaran 2013 lalu saya berencana mudik. Rumah orang tua di Kota Sorong, Papua Barat membuat rncana mudik saya harus disiapkan jauh jauh hari. Apalagi kali ini mudik nya atas kemauan sendiri 9of course berarti budget sendiri).
Ada beberapa alternatif transportasi untuk menuju Sorong.  Melalui udara, bisa pilih maskapai Merpati Nusantara Airlines, Sriwijaya Air, Lion Air dan Expressair. Dari pulau jawa bisa pilih titik keberangkatan Jakarta, Jogja dan Surabaya.

Paket paling hemat sampai di Sorong, kalau waktu tidak menjadi kendala Anda, bisa menggunakan jasa PELNI. Harga kelas Ekonomi hanya Rp. 556.Xxx untuk tarif dewasa dari Surabaya, dan sekitar 700an dari Jakarta. Perjalanan normal 3 hari 2 malam saja. Ada juga kapal lain seperti Dobonsolo, Sinabung, dan lainnya saya gak ngerti lagi.

Hasil survey saya akhirnya memilih Sriwijaya Air (sebelumnya selalu MNA), Surabaya-Sorong dan Sorong Surabaya meski akhirnya harus saya reschedule dan ganti rute jadi Jogja-Sorong dan Sorong-Surabaya. Total tiket pertama untuk PP saya bulatkan jadi Rp. 3,200,000 (seharusnya bisa 2,9 tp telat booking, jd uda naik harganya)  setelah ganti route jadi via Jogja,  nambah Rp. 700,000. Itulah kenapa saya gak ganti rute yang perjalanan balik nya (kena nambah 900-1jt an kalo mau mendarat di Jogja) :(.

Saya berangkat sendiri 3 Agustus malam dari Jogja dan tiba di Domine Eduard Osook Airport Sorong pukul 7 Pagi. Transit di Surabaya +/- 30 menit dan di Makassar 3-4 jam, membuat saya mau gak mau sahur di Airport. Jam segitu tidak semua outlet makanan buka. Akhirnya saya memilih istirahat di Starbucks.

Setelah Ramadhan dan tamu-tamu Ied Fitri mulai mereda, saya dan kakak saya Qolbi bersama Bapak berangkat ke Waisai (Ibu Kota Kab Raja Ampat). Kapal menuju Raja Ampat dijadwalkan berangkat pukul 14.00. Jadi kalau Anda menggunakan Sriwijaya, tidak perlu menginap di Sorong bisa langsung berangkat ke R4 (Raja Ampat). Merpati jam tiba di Sorong sesuai jadwal pukul 13.00, saya pikir terlalu terburu2 meski seharusnya bisa terkejar. Asal gak lama nunggu bagasi, asal kendaraannya lancar, asal pesawatny gak delay, de el el.

Kapal ke Waisai ad beberapa macam. Yang kami pakai untuk berangkat ini modelnya kursi kursi seperti Bus. Ad kelas Ekonomi (tanpa AC, letaknya di lantai atas Kapal), VIP dan VVIP. Tiket VIP saat itu Rp. 130,000. Berikut penampakan kapalnya:

sambil nunggu antrian keluar kapal, mejeng dulu

sambil nunggu antrian keluar kapal, mejeng dulu

image

Ini jenis kapal yang cepat. Sekitar 3 jam perjalanan. Pukul 17.00 WIT kami tiba di Port of Waisai, pelabuhan Raja Ampat.

Kapal tampak luar. ini posisi sudah di Port of Waisai

Kapal tampak luar. ini posisi sudah di Port of Waisai

Dejemput dan jalan jalan sore pake Strada oleh Pak Tony. Kami diajak santai sore di Pantai WTC, disambung sholat maghrib di Masjid Raya Raja Ampat . (tentang masjid raya, WTC dan gedung Pari pernah saya posting di https://aqied.wordpress.com/2013/10/15/raja-ampat-tidak-melulu-laut/ )

malamnya, kami diantar ke tempat menginap. karena gelap banget (jalan umum baru dibuka dan masih terus dalam proyek pembuatan jalan) gak banyak lampu, jadi saya tidak tau kalau ternyata tempat menginap kami berhadapan langsung dengan laut.

Listrik disini masih belum cukup memadai.  Jadi banyak yang pasang genset juga. saran saya kalau ke raja ampat, pastikan powerbank, baterai ponsel dan kamera terisi full. Untuk sinyal, tidak perlu khawatir.  Operator merah cukup kenceng kalau sekedar untuk telpon, chatting dan upload foto sesekali.

terlalu gelap membuat malam terasa lebih cepat. usai ngeteh dan santap pisang goreng, kami makan malam. Saya dan Qolbi masuk kamar, sementara Bapak masih ngobrol-ngobrol denga Pak Tony.

keesokan pagi, setelah subuh kami baru melihat sendiri kalau lokasi menginap kami menghadap laut. main main air sedikit, sambil menikmati sunrise.  Kalau biasanya saya suka sunrise dari ketinggian, kali ini saya menikmati sunrise sambil berbasah basahan.

Searah jarum jam dr kiri atas: 1. sunrise depan penginapan, bapak dan qolbi, 2. laut depan penginapan, 3.tempat kita bobo, 4. sunrise saya

Searah jarum jam dr kiri atas: 1. sunrise depan penginapan, bapak dan qolbi, 2. laut depan penginapan, 3.tempat kita bobo, 4. sunrise saya

Puas main air pagi pagi, dan matahari mulai meninggi, kami sarapan dan mandi air tawar (harus banget dijelasin). Lagi-lagi kami berkendara Strada (strada Hitam). Tujuan kali ini lihat ikan ikan di Waiwo Dive Resort.

Waiwo Dive Resort (WDR) merupakan salah satu resort yang cukup bagus di Raja Ampat. Cottage-cottage (saat itu) tanpa AC, memadukan konsep hutan dan laut.  Sekitar Cottage banyak pepohonan (bisa dibilang hutan), meski tetap dengan pasir putihnya, tetapi pemandangan di depan Cottage adalah laut. Tempat makan dan BBQ terletak tepat di depan dan menghadap laut. Kebayang kan gimana asyiknya sruput teh sore-sore menikmati sunset sak mendeme diiringi debur ombak dan belaian angin lembut berpadu udara segar khas laut. Atau mungkin party BBQ hasil laut dengan semilir angin dan sapaan ombak. Kenikmatan setara one million dollar.

Searah jarum jam: 2 foto paling atas: Tempat makan Resort yg langsung menghadap laut, 3. pintu masuk, jd ngelewatin hutan dulu, 4. resepsionis, 5. menuju area dermaga, 6. paket alat snorkel 7. Waiwo Dive Center buat yg mau diving.  ad alat dan instruktur, 8. tampilan resort

Searah jarum jam: 2 foto paling atas: Tempat makan Resort yg langsung menghadap laut, 3. pintu masuk, jd ngelewatin hutan dulu, 4. resepsionis, 5. menuju area dermaga, 6. paket alat snorkel 7. Waiwo Dive Center buat yg mau diving. ad alat dan instruktur, 8. tampilan resort

Menurut saya, untuk ukuran Cottage dengan suguhan pemandangan seperti ini harga yang ditawarkan cukup murah. Pada saat itu untuk wisatawan domestik Rp. 450,000 permalam dan USD 50 atau 55 (lupa). Waiwo Dive Resort juga menyediakan fasilitas Snorkling (yang bisa dilakukan tepat di situ jugaakk) seharga 50,000 dan diving Rp. 500,000 per titik diving ( saya lupa sudah termasuk kapal atau belum). Sejauh yang kami temui, tamu tamu yang menginap disini saat itu turis mancanegara semua.

narsis sek disini, sambil tepe tepe sama ikan. lautnya bening banget, tanpa snorkel pun kelihatan dasarnya

narsis sek disini, sambil tepe tepe sama ikan. lautnya bening banget, tanpa snorkel pun kelihatan dasarnya

Dari dermaga di WDR, Anda bisa menebar remah roti untuk memancing ikan ikan mendekat. Kalau sudah mendekat terus ngapain? ya di ajak foto bareng donk…. Jadi kalau mau langsung nyebur snorkling disini juga bisa, tidak harus sewa kapal dan jauh jauh (kalo males lho yaa). Kalo masih males juga, air laut yang kebangeten jernihnya sudah bisa nunjukkin isi dalam laut tanpa kita perlu menyelam ato ngintip (snorkel). Foto di header saya pun diambilnya di salah satu sudut dermaga WDR (saat itu masih setengah jadi).

Jelang siang, kami ke Pantai Saleo. Sebelum itu kami disarankan Mbak Novi (yang mengantar dan menjadwalkan wisata kami) pakai sunblock SPF 110++ dulu. Thank You, Mbak Novi. Saya aja gak kepikiran :p.

Seri Saleo copy

Qolbi

Qolbi

Pantai ini (saat itu) sepi, seingat saya tidak dipungut biaya parkir dan retribusi masuk tempat wisata. Ada gazebo-gazebo untuk meletakkan bawaan kita, atau untuk yang malas nyebur. Disediakan juga cottage-cottage mini untuk beristirahat. Saya? dengan suka cita langsung nyebur. Disini juga menyediakan sewa alat snorkel. Puas main air, kami makan siang dengan bekal yang kami bawa di salah satu gazebo. penjual makanan di sana sulit dan tidak selalu cocok di lidah (mungkin karena keterbatasan bahan makanan juga yang lebih banyak harus impor dari Sorong). Jadi lebih aman bawa bekal sendiri (lagi lagi ini inisiatif Mbak Novi). bahkan saking langkanya yang jual kelapa (untuk masakan santan), di Pantai kelapa-kelapa yang berserakan diangkut semua di bak belakang Strada. untuk stok masak, katanya.

image

di bak belakang strada bareng kelapa

Setelah itu kami rencananya ingin bebersih diri dari pasir dan air laut, namun ternyata air tawarnya mesti nimba dulu dan sedang dipakai mencuci. jadilah kami hanya mengguyur berapa gayung air tawar, sekedar membilas air laut dan meluruhkan pasir pasir yang menempel saja. Lalu kami pulang dengan duduk di bak belakang Strada (untung pakai mobil ini). Jalanan di Waisai membutuhkan keahlian mengemudi tersendiri. Juga tidak direkomendasikan untuk city car. Sepanjang perjalanan, kami dimanjakan pemandangan laut dan langit yang sama cerahnya. tidak heran begitu menginjak pulau jawa kembali, warna kulit saya melegam sekian tingkat.

sepanjang yang bisa dijepret selama perjalanan

sepanjang yang bisa dijepret selama perjalanan

Siangnya, kami dibelikan tiket oleh Mbak Novi di Pelabuhan. Kapal yang kali ini sedikit lebih lama, tapi instead of kursi, kami disediakan tempat tidur betingkat. Tarifnya Rp. 100,000 per orang. Jika ingin lebih private, bisa sewa kamar (saya gak tau tambah tarif berapa) berisi 1 ranjang tingkat, dispenser air panas dan disediakan Pop Mie per orang nya. Mbak Novi kemudian memesan 1 kamar untuk kami setelah bertemu Pak Tony (hihihi).  Karena kapal masih berangkat pukul 14.00, kami mampir dulu untuk pamitan ke Pak Tony (inisiatif Mbak Novi). Bapak ngobrol-ngobrol, saya dan Qolbi foto-foto geje. Sebelumnya, karena terlihat dari jauh, kami mampir juga ke Gedung Pari, Gedung Balaikota nya Kabupaten Raja Ampat.

image

pemandangan dari dalam kamar

Perjalanan di kapal kali ini lebih lambat, 4 jam perjalanan. Yang unik dan menurut saya inspiring, setiap kapal yang lepas landas selalu diawali dengan Do’a yang cukup panjang dan bagus isinya (saat itu doa dalam agama nasrani). jarang sekali saya mendengar doa persiapan perjalanan yang seperti ini. Biasanya hanya informasi keberangkatan dan basa basi semacam “semoga selamat sampai tujuan”. Seingat saya yang kali ini semua bagian dalam perjalanan didoakan. ¬†Semua faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi perjalanan disebutkan.

Sejau yang bisa dijepret di kapal. *foto tiket cm punya yg tiket berangkat

Sejau yang bisa dijepret di kapal. *foto tiket cm punya yg tiket berangkat

Awal awal dikapal, seru dan seneng. lama kelamaan bosan juga. jadi kami tidur dan baru bangun saat sampai Pelabuhan Rakyat Kota Sorong.

kapal, baru saja berangkat dr Kab Raja Ampat

kapal, baru saja berangkat dr Kab Raja Ampat

yang saya simpulkan adalah, kami berlibur di Raja Ampat bukan pada waktu yang tepat. ¬†Libur lebaran menyebabkan banyak warga waisai ¬†mudik sehingga sulit mencari warung, toko, pasar dan layanan apapun yang buka. Hal ini juga dikeluhkan wisatawan mancanegara, bahkan mereka mengira lebaran Idul fitri sampai hari Senin ūüėČ . Normalnya, untuk menikmati Raja Ampat, wisatawan perlu menyewa kapal. Pulau-pulau seperti Pianemo, Kri, Mansuar, atau yang paling Dahsyat indahnya (juga jauhnya) WAYAG, masterpiecenya Raja Ampat.

image

Patrick di Pianemo. *sumber foto: instagram @marischkaprue

Kami tidak stay lebih lama di Raja Ampat, juga karena alasan Motoris kapal sedang Mudik.  Jadi saya hanya bisa memandangi Speedboat yang nangkring depan penginapan dengan tatapan sendu (haisy).  Sedangkan tanpa Kapal (dan motoris nya tentunya), kami cuma bisa ublek di Waisai saja.

image

Ah, tak apalah. Saya diberi kesempatan mencicipi emperan Raja Ampat saja sudah merupaka nikmat yang luar biasa besarnya. Menurut yang saya baca di cerita-cerita traveling ke Raja Ampat, perlu sekitar Rp. 6,000,000 kalo gak diving. Itu masih exclude Tiket Pesawat PP dari lokasi asal.  Sementara saya/ selama di Raja Ampat tidak mengeluarkan biaya apapun.  tidak pantas lah buat saya merutuki yang tidak saya dapat. Saya hanya harus mensyukuri yang saya dapat dan itu sudah Jauuuuh dari ekspektasi saya.  Sebagian foto yang saya upload ini SANGAT gak bisa menggambarkan keindahan sesungguhnya yang saya dapat, apalagi Raja Ampat secara keseluruhan. You can ask Google for more fantastic pictures.

Mungkin suatu saat nanti atas ijin Nya saya bisa memantaskan diri menikmati surga dunia-Nya yang jatuh di ujung timur negri ini, sebelah Barat Papua.

Dan akhirnya, ini jadi posting terpanjang saya yang ingin saya tutup dengan kata-kata Kamga

BE CAREFUL, CAUSE INDONESIA IS DANGEROUSLY BEAUTIFUL!!!!

ekspresi lebay pertama kali nginjek tanahnya Raja Ampat

ekspresi lebay pertama kali nginjek tanahnya Raja Ampat

Aqied, berharap tahun ini bisa ke Derawan

*Terima kasih terbesar untuk Pak Tony (atau di Raja Ampat lebih dikenal dengan Pak Nas), Pak Slamet dan Ibu, Mbak Novi dan tim (Driver dan Cook), Bapak dan Qolbi. Semoga Alloh membalas kebaikannya.

*header, gravatar dan favicon  blog ini (saat tulisan ini dipublish) semua diambil saat di Raja Ampat

Beauty Class, Perlukah?

10 Jan

Kamis kemarin saya mengikuti Beauty Class yang diselenggarakan perusahaan saya. Begitu mendapat invitationnya, saya langsung merasa malas. Silahkan Anda bayangkan seorang Aqied yg lebih sering nggembel, bakal berhadapan dengan palet warna warni segede laptop 14′. Sementara yang menjadi kanvas adalah wajahnya sendiri. Saya tak kuasa membayangkan diri saya sendiri.
Sejak dulu saya tidak terbiasa dengan make up. Hal ini bertahan sampai saya lulus kuliah. Sebagai pengendara sepeda motor, jangankan rajin ber sunscreen. Disiplin ber slayer dan sarung tangan saja saya gagal. Tidak jarang saya lupa dimana menyimpan kedua benda pelindung tersebut padahal baru saya beli seminggu sebelumnya. Sesekali memang saya iseng atau berusaha bertaubat dengan beli sunscreen atau lotion dengan SPF (meski kadarnya rendah, paling pol 30++). Tapi paling paling saya rajin make pas masih baru saja. Seminggu kemudian sudah entah entah an. Itulah kenapa pergelangan tangan saya punya warna tersendiri :p.
Apalagi make up warna warni. Saya gak ngerti nama nama produk make up warna warni yg harus ditotol totol ke wajah perempuan. Saya baru tau jenis jenisnya dr katalog produk kosmetik punya teman saya. lumayan lah walo gak beli, bisa jd pengetahuan.
Jangan tanya salon2 SkinCare. Dari dulu kalo ditanya teman teman saya perawatan kulit dimana, kawaban andalan saya gak pernah berubah “Pake air wudhu aja” (pasang image solehah, hehehehe). Untunglah meskipun saya rutin bermandi matahari dan berkawan debu, masalah kulit muka saya tdk banyak (selain warna yaa).
Seiring berjalan waktu dan pergaulan yg mulai berganti dan meluas, saya sdikit2 terpengaruh untuk jd lebih feminim. Kalo kata mbak mbak tutor Beauty class yg wajib dimiliki perempuan paling tidak adalah pelembab, foundation, bedak dan lipstick.
Bedak yg saya punya diusia 20-an ternyata di TV diiklankan untuk segmen Teens. Lalu saya mulai punya hydrogloss. Itupun jarang banget jg dipakenya. Jadinya awet dan sekarang malah hilang ;(.

Sekarang, saya memang mulai punya beberapa benda yang sebelumnya saya anggap aneh itu. Tapi ternyata tetap saja, cm dipakai kalo inget, kalo lagi pengen, atau kalo terpaksa. Dan itu juarang bangeeeet. Rasanya koq sayang banget menghabiskan waktu bermenit2 di depan cermin buat aplikasi segala macam itu. Coba kita lihat urutan standar untuk make up profesional (untuk kerja):
1. Bersihkan wajah dg pembersih. Segarkan dengan penyegar
2. Gunakan pelembab di 5 titik wajah. Ratakan (ini aja ada cara khususnya. Gak boleh asal oles sana sini).
3. Oleskan foundation secara merata.
4. Aplikasikan bedak tabur (tdak diusap, tidak ad gerakan rotasi)
5. Lanjutkan dg compact powder (kagak sekalian baking powder?)
6. Aplikasikan eye shadow base pd kelopak mata. Lanjutkan dg eye shadow sesuai warna yg diinginkan. Lanjutkan dg eye liner cair. Jepit bulu mata dan gunakan maskara untuk kesan lentik dan tebal
7. Sapukan blush on pd pipi (konon cara aplikasiny pke teori angka 9)
8. Beri warna bibir dg long lasting lipstick, tambahkan lipgloss untuk kesan segar.
Itu baru buat muka doank. Masih ad tutorial hijab yang pake peniti n jarum pentul se abrek abrek. Waktu sebanyak itu cukup untuk menghabiskan sekian lembar buku ditemani segelas besar kopi panas.

Tapi dipikir piki ternyata memang ad saat saat tertentu ketika perempuan sebaiknya tidak bertampang kembang desa (istilah mbak tutor untuk kondisi tanpa polesan). Apalagi di profesi-profesi tertentu yang kadar make-up dianggap sebagai standar profesional orang tersebut. Kenapa beauty class itu perlu bahkan laris di prusahaan2? karna ternyata tidak semua yang kesehariannya full make-up, berdandan dengan cara yang benar.
Saya mengalami sih, kadang saya melihat orang yg ber make-up tebal dan (mungkin) mahal, tp bukannya terlihat cantik malah serem. Ada yg riasan mata nya terlalu tebal, ad yg eye liner nya gak pas, ad yang blush on nya menimbulkan kesan Tabok instead of blushing, ada yg kelihatannya bedaknya bagus, tetapi saat berkeringat ternyata blonteng2 alias warna bedak/wajahnya jd gak rata, dan lain lain. Mungkin juga ad yg terlihat tidak pas antara tema make up yg dipakai dengan situasi dimana orang tersebut berada.
Ada untungnya juga saya (terpaksa) ikutan kelas ini. Setidaknya ad tips dan jadi tau gimana caranya terhindar dr kesalahan2 dalam berdandan yg berefek hal hal yg saya sebutin di atas.
Nah, kalau ad yang bertanya apakah setelah mengikuti kelas make up apakah saya insyaf dr kemalasan saya? Hmmm terlalu cepat untuk memberi jawaban. Yang pasti pendapat saya jadi sedikit bergeser. Yang tadinya menganggap warna warni di wajah itu gak penting banget, jadi sdikit bergeser bahwa make up itu mungkin memang perlu, dengan syarat digunakan dengan tepat di waktu dan situasi yang tepat pula.
Maaf posting kali ini tanpa bukti otentik kalo saya sudah berhasil praktek make-up profesional saat kelas (karna lupa gak foto juga. Langsung dihapus). Dianggap hoax juga gapapa lah. ;P

*Aqied, Karna Air Wudhu adalah sebaik baik tata rias

Hello, Monday……!

7 Jan
image

Sumber foto dari akun instagram pribadi saya

Rasanya terlambat sekali posting ini mengingat judulnya tentang senin dan ini sudah bukan senin lagi. Bisa saja saya tunda tayangnya hingga senin pekan esok. Tp ide dan tak bisa ditunda. Kadang ia menguap dan mencair tanpa kita duga.

Sebagai buruh, senin sempat menjadi hari yang cukup sensitif bagi saya. Apalagi sebelumnya saya sempat mengalami masa masa mengawali senin dengan mata mengantuk dan punggung pegal akibat menghabiskan malam di bus ( jaman jadi Bus Mania ). Belum lagi kalau sedang dlam kondisi tidak normal, semisal kurang tidur, atau macet, atau sedang peak season sampai sulit dapat bus hingga larut. Huft rasanya ingin me-merah-kan semua hari senin.

Namun semua itu ternyata membuat saya sekarang jadi lebih bersyukur. Sejak tidak perlu lagi menghabiskan malam dalam bus dan berganti dengan satu jam bersama matahari. Meskipun kecintaan saya terhadap senin belum sebesar cinta pada hari libur, hasrat memerahkan kalender sudah tak sebesar dulu. Bahkan saya mulai membuat terapi terapi dan berusaha membahagiakan diri di hari senin.
Dalam How Can I Hate Monday saya menyemangati diri saya dengan hal hal positif yang mestinya bisa saya dapat di hari senin.
Ternyata sebelum posting tulisan tersebut, saya sudah dua kali menyambut pagi senin dengan gambar positif. Pertama sebagaimana yg saya pasang di awal posting ini. Yap, teh panas dengan celupan lemongrass menenangkan minggu malam saya untuk bersiap menyambut senin. Sebelumnya saya pernah upload sekitar september:

image

Berusaha ceria menyapa Hello Monday

Dan untuk senin ini, karna saya baru pulang dari deMata 3D Trick-Eye Museum, saya upload juga Monday as Money Day (secara saya kerjanya jg di lembaga keuangan)

image

Caption di Instagram : Monday means Money Day?

Mungkin ada yang berpendapat cara saya belajar mencintai senin sedikit aneh. Atau mungkin posting saya baik foto maupun tulisan sama sekali gak penting. Bagi saya, dengan menyebarkan energi positif pada alam (dalam hal ini lewat sosial media), alam akan turut mengamini usaha positif kita dan memberi kemudahan untuk kita pula.

*Aqied
Buruh yang belajar mencintai Senin