Temukan Saya di Path

25 Nov

Mungkin sebagian dr Anda sedikit akrab dg judul di atas. Biasanya kalimat tersebut dibarengi dg foto seperti berikut

image

Sebagian dr Anda mungkin terganggu dengan cara promo akun Path yg seperti itu. Salah satunya ad yg berkomentar “kenapa sih banyak yang ilang di Path trus minta dicariin”, tepat saat foto di atas terpublish di akun facebook saya mll instagram.
.
Foto di atas tentu bukan foto terbaru saya. Kurang lebih diambil januari-februari lalu. Ternyata Path saya sudah aktif pada bulan bulan itu. Saya tdk pernah mengoperasikan Path ini. Tidak ada juga yang mengajak saya untuk aktif ber-Path ria. Sekitar sebulan yang lalu saya iseng ‘bersih bersih’ ponsel dg menghapus aplikasi2 dan file2 yg menurut saya tdk penting. Sampai pada logo merah berhuruf P ini.
Entah dorongan apa saya memilih tdk menghapus bahkan mulai berjalan-jalan dalam path.

Sedikit sekali pengguna Path yang terkoneksi dg saya. Tp sebagai orang dg kadar kepo tinggi, Path tidak memberi keleluasaan bagi saya untuk kepo.
Pertama, tentu saja dr sisi saya awalnya menyenangkan siapa saja yang sudah membaca update saya. Siapa saya yang ikut tertawa, turut sedih, atau suka dg posting saya (di facebook hanya ad opsi ‘like’). Siapa saja yang memang sudah baca posting tp tdk berkomentar, dll.
Tp itu dari sisi saya pengguna/pemilik akun. Bagian paling gak enak di Path menurut saya seperti era Frienster terdahulu. Ada laporan (bahkan dinotif) kalo ada siapapun yg berkunjung ke Path kita (istilahe kalo di FB tu yg liat wall). Pastinya males banget buat orang2 yang kadang suka hobi stalking fb/twitter org lain.  *ops ketahuan.

Saya dg prinsip searching before asking kadangkala memilih mencari tahu sesuatu termasuk mencari tahu seseorang lewat akun2nya. Menurut saya ini sah sah aja dan tdk melanggar hak privasi. Karna setiap yg dibuka baik untuk publik ato di privat friends only, maka tidak ada hak2 pemilik akun yg saya langgar.
Tapi mungkin berbeda dg Path yang prinsipnya seperti rumah. Siapapun yang berkunjung, harus sepengetahuan pemilik rumah.
Sebenarnya bukn masalah besar, hanya terkadang ad persepsi lain yg ditangkap jika ad akun tertentu yang berkunjung ke rumah nya. Ibaratkan saja saya orang yang senang berkunjung kesana kemari. Namun karna ke tidak tahuan tuan rumah yang saya kunjungi, dikiranya saya ad maksud istimewa tertentu sehingga rajin berkunjung ke rumahnya. Pdhl saya berkunjung ke banyak rumah, dan berkunjung memang hobi saya. Saya hanya tdk ingin menimbulkan dugaan2 yang mengganggu akun2 rekan2 saya.
Tp ternyata dibalik keunikan aturan2 Path dibanding dengan aturan2 di jejaring sosial lain, sampai sekarang saya masih betah ber-Path ria. Walo jml akun yg terkoneksi dg saya sangat sedikit, walopun posting saya hanya dibaca sekian gelintir orang, walopun update saya sepi komentar, de el el.
Jadi, apakah Anda masih mau mencari anak hilang ini di Path?

Happy Path-ing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: