Archive | November, 2013

Temukan Saya di Path

25 Nov

Mungkin sebagian dr Anda sedikit akrab dg judul di atas. Biasanya kalimat tersebut dibarengi dg foto seperti berikut

image

Sebagian dr Anda mungkin terganggu dengan cara promo akun Path yg seperti itu. Salah satunya ad yg berkomentar “kenapa sih banyak yang ilang di Path trus minta dicariin”, tepat saat foto di atas terpublish di akun facebook saya mll instagram.
.
Foto di atas tentu bukan foto terbaru saya. Kurang lebih diambil januari-februari lalu. Ternyata Path saya sudah aktif pada bulan bulan itu. Saya tdk pernah mengoperasikan Path ini. Tidak ada juga yang mengajak saya untuk aktif ber-Path ria. Sekitar sebulan yang lalu saya iseng ‘bersih bersih’ ponsel dg menghapus aplikasi2 dan file2 yg menurut saya tdk penting. Sampai pada logo merah berhuruf P ini.
Entah dorongan apa saya memilih tdk menghapus bahkan mulai berjalan-jalan dalam path.

Sedikit sekali pengguna Path yang terkoneksi dg saya. Tp sebagai orang dg kadar kepo tinggi, Path tidak memberi keleluasaan bagi saya untuk kepo.
Pertama, tentu saja dr sisi saya awalnya menyenangkan siapa saja yang sudah membaca update saya. Siapa saya yang ikut tertawa, turut sedih, atau suka dg posting saya (di facebook hanya ad opsi ‘like’). Siapa saja yang memang sudah baca posting tp tdk berkomentar, dll.
Tp itu dari sisi saya pengguna/pemilik akun. Bagian paling gak enak di Path menurut saya seperti era Frienster terdahulu. Ada laporan (bahkan dinotif) kalo ada siapapun yg berkunjung ke Path kita (istilahe kalo di FB tu yg liat wall). Pastinya males banget buat orang2 yang kadang suka hobi stalking fb/twitter org lain.  *ops ketahuan.

Saya dg prinsip searching before asking kadangkala memilih mencari tahu sesuatu termasuk mencari tahu seseorang lewat akun2nya. Menurut saya ini sah sah aja dan tdk melanggar hak privasi. Karna setiap yg dibuka baik untuk publik ato di privat friends only, maka tidak ada hak2 pemilik akun yg saya langgar.
Tapi mungkin berbeda dg Path yang prinsipnya seperti rumah. Siapapun yang berkunjung, harus sepengetahuan pemilik rumah.
Sebenarnya bukn masalah besar, hanya terkadang ad persepsi lain yg ditangkap jika ad akun tertentu yang berkunjung ke rumah nya. Ibaratkan saja saya orang yang senang berkunjung kesana kemari. Namun karna ke tidak tahuan tuan rumah yang saya kunjungi, dikiranya saya ad maksud istimewa tertentu sehingga rajin berkunjung ke rumahnya. Pdhl saya berkunjung ke banyak rumah, dan berkunjung memang hobi saya. Saya hanya tdk ingin menimbulkan dugaan2 yang mengganggu akun2 rekan2 saya.
Tp ternyata dibalik keunikan aturan2 Path dibanding dengan aturan2 di jejaring sosial lain, sampai sekarang saya masih betah ber-Path ria. Walo jml akun yg terkoneksi dg saya sangat sedikit, walopun posting saya hanya dibaca sekian gelintir orang, walopun update saya sepi komentar, de el el.
Jadi, apakah Anda masih mau mencari anak hilang ini di Path?

Happy Path-ing

New blog post

24 Nov

Dear, facebooker. Pernahkah Anda merasa ingin menulis status tp bingung status apa yg sebaiknya Anda tulis?. Atau mungkin Anda pernah menulis status, namun karna sepi komentar dan tak ada bombardir like, Anda merasa lebih baik postingan status Anda dihapus saja.

Dear Pengkicau. Pernahkah Anda ingin berkicau dalam jejaring mikroblog Anda namun tak tau apa nyanyian apa yg ingin Anda kicaukan. Atau mungkin ad seseorang yang ingin Anda mention tp Anda tak yakin dg isi pesan mention Anda atau Anda khawatir mention Anda tak terjawab.

Dear Instagrammer. Pernahkah Anda ingin sekali unggah gambar melalui akun instagram Anda tp Anda tak yakin dg gambar yang Anda punya. Atau mungkin Anda tak punya stok gambar namun ingin unggah foto sekedar bukti eksistensi bahwa Akun Anda benar berpenghuni dan beraktivitas. Atau mungkin gambar Anda yg sudah terupload tdk menunjukkan respon positif dr follower ANda kemudian Anda pilih menghapusnya.

Dear Blogger, pernahlah Anda merasakan sepi nya blog Anda. Seakan tak ada nafas berhembus dan nadi berdenyut dari blog Anda, sehingga sangat ingin Anda menulis sesuatu. Sekedar menambah angka di arsip Anda, sekedar pemberitahuan bahwa blog Anda belum wafat. Namun Anda tidak punya ide, tdk ada topik, dan tidak ada apapun melintas di kepala Anda yang dapat dituangkan untuk menggores lembar blog Anda.

Karna, itu yang sedang saya rasakan……
.
.
.
.
Kotagede di tengah hujan, blogger yang lupa pada blog nya

Catching Fire The Movie: Melampaui Imajinasi

22 Nov

Catching Fire, film kedua dari sekuel The Hunger Games yang dibuat berdasarkan novel Trilogi karya Suzanne Collins, Tayang di Indonesia mulai 21 November 2013.
Sebelumnya dikabarkan dengan cukup gencar kalau Film yang berjudul sama dengan novel nya ini rilis per 22 November 2013. Setidaknya ada teman saya yang begitu gencar menginfokan pada saya. Bahkan teman saya ini sampai menyiapkan diri sejak jauh2 hari, untuk ambil jatah cuti di hari premier Film yang dibintangi pemenang oscar muda Jennifer Lawrence ini.
Flash back sedikit, perkenalan saya dengan Hunger Games sebenarnya cukup terlambat dan tidak direncanakan. Saat itu saya dan rekan2 berniat nonton bareng The Raid, film produksi lokal rasa internasional. Namun apa daya, ternyata 3 studio di Empire XXI tidak lagi menyisakan kursi untuk kami. Sehingga teman kami memilihkan The Hunger Games.
Ini di luar kebiasaan saya. Biasanya kalo merencanakan nonton (berlaku jg buat beli buku), saya minimal baca sinopsis nya dulu. Jd pas masuk gedung Cinema, gak blank-blank banget soal apa yg ditonton. Tapi ternyata saya jatuh cinta pada ide gila survival games disini. Baru saya tahu kemudian kalau buku Trilogi nya cukup sukses.
Tersulut display trilogi di gramedia, akhirnya setahun lalu saya mulai baca buku kedua nya. Catching Fire ato disebut dalam alih bahasa ‘Tersulut’. Dan kemudian melanjutkan Mockingjay buku ketiga yang dikirim teman saya jauh2 sampe jogja (ceritanya waktu itu kado ulang tahun yg kecepetan).
Balik lagi ke cerita awal, rupanya saya tersulut ide gila teman saya yang cuti demi premier film. Since cuti tahunan saya masih 4 dan gak bisa diambil berturut2, saya ambil juga lah cuti tgl 22 November (yang mana sebelumnya diberitakan sbg tanggal premier Catching Fire), Disambung senin 25 november.
Menonton Catching Fire membuat saya merasa tidak rugi memilih cuti. Semua imajinasi saya saat membaca bukunya, runtuh dan terasa tak ada apa2nya dibanding tampilan visual yang dihadirkan dalam film nya.
Hampir semua visualnya mengalahkan imajinasi saya dahulu. Juga dramatisasi yang pas, scoring musik yang minim, serta bagian bagian menonjok yang diberi ruang bagi penonton untuk terkejut.
Di awal2 film, digambarkan bagaimana kegalauan Katnis, kebencian Snow, dan aroma pemberontakan.
Selanjutnya bagaimana pemberontakan2 mulai terjadi, simbol simbol perlawanan yang ditampilkan sekilas sekilas, perlawanan di distrik2.
Kekejaman Snow, langkah2nya memberantas pemberontakan, siksaan dan strategi2 dendamnya.
Begitu juga strategi2 perlawanan tribute yang disampaikan tdk terlalu gamblang. Cerdas untuk menjadi bagian yg dapat diolah dalam otak penonton.
Arena Hunger Games sendiri luar biasa. Saya tdk membayangkan pantai dan hutan yg demikian. Ditambah acting luar biasa Lawrence. Saya pribadi lebih senang acting2 Lawrence di arena ketimbang di luar. Cara bertarung nya, rintihan dan jerit kesakitan, mata yang menantang, dan langkah2nya yg gagah (Opo sih).
Bagi saya, film kedua ini lebih mengedepankan action. Adegan drama tidak berlebihan, namun cukup dan pas. Kesenjangan (lebih tepatnya kejomplangan) antar Capitol dan kehidupan Distrik meski tdk banyak, ditunjukkan cukup menonjok.
Beberapa bagian dari buku nya tidak ditampilkan. Sepertinya memang disimpan untuk seri ke tiga nya, melihat ad yg hanya ditampilkan sekilas untuk efek kejut penonton pada akhir film.
Over all, film ini menampilkan action2 yg luar biasa, mengaduk2 emosi, dan kerja total seluruh kru film. Saya merekomendasikan untuk fil akhir pekan Anda.

Oh ya, yang cukup berkesan bagi saya adalah gaun pengantin yang terbakar dan berubah menjadi Mockingjay. Awesome!!! Jauuuh melampaui imajinasi saya yg terbatas. Dan sekedar tambahan, wedding gown Katniss yang berwarna putih adalah hasil rancangan Putra Indonesia: Tex Saviero.

Satu Jam bersama Senja

21 Nov

Perjalanan bagi saya selalu ingin saya nikmati. Sebagai warganegara dengan status tempat tinggal tidak jelas, perjalanan perjalanan sederhana kerap membersamai saya.
Mungkin jika dirunut ke belakang, perjalanan panjang saya dimulai saat berusia 4 tahun dengan kapal laut milik PELNI selama 5 hari.
Setelah itu kembali ke tanah jawa melalui udara dg jarak yang sama jarak tempuhnya cukup 5 jam.
Pernah pula saya menjadi bagian dr penikmat perjalanan darat via Bus. Sampai2 tergerak untuk jd member bismania.org karena aktivitas mobile saya kerap bersama bus.
Ada pula cerita perjalanan saya yang serba ekonomis dengan total pengeluaran Jogja-Denpasar-Jogja hanya 132.000 melalui KA ekonomi plus ferry plus bus.
Tapi saya sedang tidak ingin bercerita ttg moda-moda transportasi di atas. Saya kembali ke favorit saya: Sepeda Motor.
Yap, sejak berhasil mengendalikan sepeda motor, perjalanan dengannya bagi saya terasa istimewa. Setidaknya selalu berusaha saya nikmati.
Alam seakan mendukung. Kini setiap senin pagi dan jumat sore, hampir selalu bisa ku nikmati agungnya lukisan Tuhan.
Why? Oke sekedar tambahan info, tujuan saya nge buruh senin-jumat ada di Timur. Sedang tempat beristirahat dan menikmati day off saya ada di Barat. Jarak tempuh dg kecepatan rata2 kemampuan saya selama 50-60 menit.
Sudah dapat bayangan?
Dengan perjalanan ke timur di pagi hari, berarti saya disuguhi kehangatan mentari pagi. Jika sedikit lebih rajin, saya akan ditemani saat saat golden sunrise. Satu jam tak henti memuaskan mata saya dengan setiap momen pergerakan matahari dari intipannya, kerlingannya, cahaya emasnya, hingga berakhir sentuhan hangatnya.
Momen terindah lebih saya sukai saat senja. Saya lebih sering pulang jumat sore. Fyi, jam kantor saya berakhir pukul 17.00. Bisa dirasa saat saat itu, surya tak lagi menyengat. Namun sinarnya masih melimpah dan menjaga saya dari kemungkinan tersandung jalan2 rusak bergelombang yang menjadi rute saya.
Tak perlu menunggu lama, perjalanan saya selanjutnya dipayungi awan cantik bersemburat jingga. Warna senja yang mewah, romantis, namun menantang. Sedang bola emas raksasa bernama matahari serasa berada tepat di depan saya. Terkadang bersaput awan lembut, seakan sapuan kanvas halus berusaha menggoresnya. Perlahan ia merendah dan mulai bersembunyi di balik gedung2 dan pepohonan nun diujung bumi sana. Malam seakan mengirimkan kode, bahwa tirai nya akan segera turun.
Aneka warna yang seringkali bahkan lebih indah dari pelangi, lebih mewah dari kilau emas di langit sekeliling saya, menjadi pengantar terindah perjalan pulang saya yang selalu sendiri…
Hingga kemudian matahari resmi berpamitan pergi, melanjutkan tugasnya sinari sisi lain bumi ini, dan malam menurunkan pekatnya. Lampu lampu kota, lampu kendaraan semakin terlihat nyata, adzan maghrib menyapa telingaku.
Ternyata tujuanku telah sampai, dan jarum pendek arlojiku sudah bergeser satu angka.
Bagaimana saya akan bosan jika perjalananku bersama lukisan agung sang alam.
Bagaimana saya akan merasa kehilangan waktu jika sudah dibayarnya keindahan visual yang memanjakan.
Bagaimana saya akan merasa sepi jika sekelompok awan menjadi pengantarku.
Seolah seluruh alam bersekutu tuk bahagiaku..
Terima Kasih, Tuhan
Betapa ku cinta Satu Jam ku bersama Senja.

Travel to Raja Ampat for FREE

10 Nov
image

Saya memeluk pohon kelapa saat menanti sunset di Pantai Waisai Torang Cinta, Kab Raja Ampat agustus lalu

Simpati Lumia dan Tamasya Hati lagi ngadain program photo challenge dg hadiah paket perjalanan ke Raja Ampat. Caranya cukup punya akun instagram, follow akun2 ig dan twitter yg diminta, trus aplot foto sesuai tema, pake caption wajib:

#tamasyahaticm5 bareng @@NokiaIndonesia dan @@Simpati (Caption bebas sesuai TEMA HARIAN) #Lumia1020 #Simpatitraveling #polimolidotcom #travelIndonesia #travelRajaAmpat #ShareTheSun .

Challenge di mulai hari ini dg maksimum aplot 8 malam. Nah, buat yg pernah tanya saya gimana caranya ke Raja Ampat, bisa dicoba koq, guys….
Cukup modal niat aja. Info lebih lanjut bisa follow @tamasyahati ato @nokiaindonesia di twitter.
Kalo Syarat n Ketentuannya lihat di
SINI

So, gak usah mikirin itinerary n bongkar tabungan. Biar penyelenggara aja yg mikir. Kalo emang Anda dijodohkan tiba di Raja Ampat Tahun ini, pasti sampai.
Kalo belum beruntung, yaa namanya jg yg pengen gak cuma Anda….

*foto di atas foto pertama saya untuk challenge hari ini dg tema #SharetheSun

** sedikit cerita saya soal sisi lain raja ampat ada di Mampir Waisai, Ibu Kota Raja Ampat

The Park Solo Supermall

9 Nov

Saya itu bukan anak emol. Gak terlalu suka nongkrong2 gak jelas di mall. Ato belanja belanji makan makan ngopi ngopi maenan timezone di bangunan besar itu. Tapi saya jg bukan anti mall, meski sesekali suka blusukan pasar juga.
Mungkin saya emang gak jago belanja. Kalo diinget2 kebutuhan saya ke mall itu paling kalo emang diajakin temen, ato nonton film, ato memang ad yg mau dibeli beneran disana. Sisanya kalo ad waktu ya muter2 windowshopping sampe mata pegel n kaki pedes. Itung2 olahraga.

Nah malam halloween seminggu lalu, iseng2 bareng temen ke Hartono Mall. Shoppingmall yg lumayan baru di Solo (baru bagi saya karna blm pernah kesana) letaknya di Solo Baru. Jl utama sih, masih satu arah sama Carrefour yg dulu nya Alfa. Saat itu kita ngelewatin gedung besar berlampu lampu dg parking area yg penuh dg mobil mobil. Judulnya “The Park”. Jangan bayangin kaya Jurrasic Park ato Gembira Loka Amphibian Park yaa. Yg ini lebih tepat disebut Supermall (gitu yg saya temuin di 4sq). Tp rupanya mlam itu kami gak bruntung karna pas mw belok, kami diusir sama bapak2 penjaga pintu masuk. Terang aja lha wong ternyata itu jalan masuk mobil. Jadi lah kami bablas ke Hartono Mall yg hanya berjarak puluhan meter.
image

Adegan ditolak karna bersepeda motor itu bikin saya penasaran. Akhirnya pd Minggu 3 November pas ad perlu ke Solo, saya sempatkan mampir The Park sebelum balik lagi ke jogja.
Daripada diusir lagi, saya berhenti n nanya baik2 “Pak parkiran Motor dimana ya?” Dan ditunjukkin lah jalan yg benar buat roda dua 125 cc saya.
Beuh rupanya untuk mencapai parkir sepeda motor kita harus mengitari itu gedung dulu. Jadi nih umpama jl masuknya mulai di timur (sya waktu itu buta arah), parking area Anda ada di barat gedung pojok belakang.
Aroma diskriminasi jumlah roda makin terasa begitu saya mengantri untuk dpt tempat parkir.
image

image

Parkir mobil (atas), parkir sepeda motor (bawah)

Gak cuma itu. Karna kondisinya masih dlm tahap pembangunan, untuk masuk ke pintu depan mall nya (saya gak nemuin pintu masuk pengunjung di samping kanan kiri), dr parkiran td ya jalan kaki sampe ke depan diantara debu2 proyek n sampah. Jaraknya kira kira segini (lihat foto di bawah)

image

Jarak dr keluar lewat depan ke parkiran

image

Jarak dari parkiran buat masuk lewat depan

Berhubung saya gak sama siapa siapa, ya saya menikmati aja obrolan org2 yg jalan kaki demi pintu depan itu. Ada yg bilang gini “mestinya disini ada becak”,, ;).
Untung hari itu sedang cerah (panas tepatnya), saya gak bisa membayangkan apa kami harus pke jas hujan dr parkir ke pintu masuk.
image

Pernah punya pengalaman dilarang memotret di Solo Square, saya gak berani ngeluarin kamera begitu masuk. Tp ternyata setelah lihat2 sekeliling, saya jd curiga jangan2 The Park ini dibangun untuk lokasi pemotretan. Ini salah satu sudut lokasi photo session 😉

image

Pojokan lantai 1

image

Lantai 3 ato 4

image

Yg mau adegan video clip payphone bisa mejeng sini


image

Kalo rame nya seperti itu, ya saya gak berani pasang kamera dg minitripod buat selftimer. Hehe

Dept Store disini Metro. Sempet muter2 dikit ternyata sepiiu. Antrian di kasir jg gak ada. Rupany Metro yang baru banget di Solo ini kurang jd magnet.

image

Batik manekinnya ala ala Solo Batik Carnival

Kalo coffeeshop nya ada Coffee Bean, J.co, OldTimeCoffee, dan lain lain. Setidaknya yg 3 itu paling terlihat.
Batik Keris jg buka lapak disini.

image

Lapak Batik Keris

Saya lupa di lantai berapa, rencananya disini jg ada XXI dg keterangan Opening Soon dg soon yg gak ketahuan kapan.
FoodPark ada di lantai paling atas, sebrangan sama arena bermain Hula Hula,

image

Foodcourt

image

Hula Hula

Saya gak tertarik untuk masuk di dua dua nya.

Tengok kanan kiri, ternyata banyak bener yg foto2. Entah keluarga, remaja, bapak dan anak, ibu dan bapak, dll. Ya baiklah saya jg ambil kamera pocket. Kalo sepi iseng selftimer (walo habis itu diliatin orang).
Ini dua selftimer di dalam gedung yang berhasil
image

image

Ada kesamaan atap The Park dg Hartono Mall. Yaitu sama sama dibuat motif langit yg cerah.

image

Langit2 di lt 4 hartono mall

Sementara di The Park, lagi banyak bango2an kertas juga. (Rada gak penting jg si but dicerirain)

image

Hari mulai siang dan saya sudah tdk tertarik lagi untuk berlama lama. Setibanya di lantai dasar, saya baru teringat klo buat balik ke parkiran ada energi yg harus disiapkan. Apalagi saya rencana langsung balik ke jogja. Tengok kanan kiri, akhirnya saya memutuskan istirahat dulu. Untungnya saya baru aja beli “Anak-Anak Revolusi” tepat sebelum hinggap ke The Park.

image

Ternyata di dalam coffeeshop yg adem inipun, segerombol orang yg dtg dengan mobil mengeluhkan jarak tempuh dr mobil ke lobi. Lagi2 tercetuk kata ‘Becak’ yang mendadak begitu dirindukan.

Kurang lebih 1,5 jam setelah foto itu diambil, saya sudah duduk kepanasan di jl Adi Sutjipto dg sepeda motor merayap lambat macet. Piufh…..

image

Selftimer di luar gedung

%d bloggers like this: