Raja Ampat tidak Melulu Laut

15 Oct

image

Siapa tidak kenal Raja Ampat. Jika Franky Sahilatua sempat menyebut Papua sebagai Surga Kecil jatuh ke bumi, sungguh benar adanya. Bahkan saya koq yakin Franky membuat lagu itu sebelum mengenal Raja Ampat.
Raja Ampat adl Kabupaten kepulauan hasil pemekaran DATI II Sorong. Dengan usianya yang masih muda ini, banyak sekali pembangunan yang sedang berlangsung. Tim Kemen PU punya banyak PR untuk surga kecil kita ini.

image

Sudut foto dr teras kantor Kemen PU Raja Ampat, jelang 17 Agustus

Sebagaimana namanya, Raja Ampat menyebut dirinya sebagai Kabupaten Bahari. Setuju banget sih, siapa yang masih mau membantah indahnya kekayaan bahari Raja Ampat? Apalagi memang kabupaten ini terdiri dr gugusan pulau pulau.
Saya bersyukur diberi kesempatan Tuhan untuk tak henti berdecak kagum dan terbengong takjub menginjak kedua kaki saya di wilayah ini.
image

Tidak perlu membayangkan saya blusukan mencari keindahan yg ditawarkan disini, karna sesungguhnya saya menginjak tanah dan laut Raja Ampat kurang dari 24 jam. Waktu yang terlalu singkat. Anda bisa simpulkan sendiri bahwa pastinya saya baru sampai di EMPERAN belaka.
Ah, tapi tak apalah. Siapa yang meragukan emperan Surga?
Bicara pesona air dan bawah air raja ampat tidak pernah bisa habis. Seperti yang disampaikan Tuhan, takkan habis Kuasa dan Nikmat Nya jika kita sebagai manusia berusaha menghitung. Anda bisa dapatkan banyak sekali referensi menarik hanya dengan mengetik keyword “Raja Ampat” di segala search engine.
Karna itu, saya mau cerita sedikit saja. Skedar menambah informasi sisi lain dr Raja Ampat yang tidak harus ‘basah’.
image

Saya tiba di Waisai, ibu kota Raja Ampat pukul 5 sore WIT. Dijemput di Port of Waisai dan dengan berkendara Strada, kami diajak mampir santai sore di Pantai WTC, singkatan dr Waisai Torang Cinta.
WTC yang ini menurut saya cukup ramah untuk santai sore. Saat itu sekelompok anak muda sedang bermain bola di bawah landmark “Kabupaten Raja Ampat”. Di sisi lain ada yang sekedar mengobrol.

image

Saya dg latar belakang Pantai WTC

Saya dan Qolbi (kakak saya), apalagi kalo bukan terbengong bengong dan berusaha mendokumentasikan sejauh yg bisa diabadikan kamera ponsel kami.
image

Tarif? Oke saya tidak perlu cerita tarif. Karna disini Anda tidak perlu buka dompet atau rogoh kantong. Bahkan untuk parkir sekalipun. Tapi memang fasilitas pendukung sebagai tempat wisata bisa dibilang tidak ada.
image

image

Qolbi, strada merah, plat merah, jaket merah

image

image

Usaha cari sinyal buat check in 4sq, hahaha

Bagi saya ini benar2 tempat untuk santai sore. Benar2 santai. Perjlanan pulang dari sini, kami melewati pasar. Benar2 melewati karna kami memang tidak berniat berbelanja dan maghrib segera datang.
image

Sebenarnya sapaan pertama selepas meluncur dr Port of Waisai ada di kanan Anda. Yap Masjid Agung Waisai (atau mgkn Masjid Raya Raja Ampat, saya lupa namanya dan memang blm ad papan namanya). Cerita yg saya dengar sekilas dari kepala PU, area masjid ini akan digunakan untuk seleksi MTQ tingkat Propinsi Papua Barat. Memang masjid ini masih tahap pembangunan.

image

Selasar dr bangunan utama ke tempat wudhu

Alhamdulillah, saat maghrib datang kami sempat menikmati sujud di sini. Masjid ini memang masih dalam masa pembangunan. Kondisinya (Agustus2013) masih belum terlalu ready dan sedikit kurang rapi (ada bahan2 n alat2 bangunan karna masih proses,) , namun cukup nyaman bagi kami.

image

Tampak depan

image

Teras

image

Tempat wudhu perempuan

Siapa sangka di Tanah Papua, jatuhnya Surga Keçil, Rumah Tuhan ini yang menyapa kami.
Saya sempat melihat rancangan (gambar arsitek) Masjid ini dan kompleks nya (cukup luas). Sayang sekali karna kami sholat maghrib disini, hari sudah terlalu gelap dan penerangan yg ada tidak cukup untuk menggambarkan masjid luar biasa ini ke dalam kamera ponsel.

Di kota kita mengenal balaikota, di desa ada balai desa. Di Raja Ampat, Waisai tepatnya punya yang dinamakan Gedung Pari.
image

Bagi saya selain bentuknya yang unik, letaknya juga tepat. Terletak cukup tinggi dibanding kantor2 pemerintahan lain, kami bisa melihat jiwa ke-pari-an nya dr sepanjang jalan utama. Bangunan inti yg cukup lebar, dengan buntut panjang.
image

image

Selain itu, dari halaman gedung ini, kita bisa melihat Waisai dan sebagian Raja Ampat.

image

Cucok buat duduk galau, walo panas2 sekalipun

Saya membayangkan jika malam, mungkin lebih indah dr bukit bintang nya Jogja. ;p

image

Nyolong jepret Bapak dan Qolbi yg lagi melayang pandang Kota Waisai from top

Saya yakin sekali gambar gambar hanyalah segelintir kecil dr indahnya ciptaan Tuhan yang terlukis di sana. Apalagi dg tambahan objek gembel berjaket merah yg mungkin merusak mata Anda. Hehehe,,,
Anyway, tetap saya katakan yang terbaik dr raja Ampat tetaplah Lautnya.
Namun sesekali tidak harus basah tidak masalah, bukan?

Advertisements

2 Responses to “Raja Ampat tidak Melulu Laut”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Travel to Raja Ampat for FREE | cacatan hari hari - November 10, 2013

    […] ** sedikit cerita saya soal sisi lain raja ampat ada di Mampir Waisai, Ibu Kota Raja Ampat […]

  2. Mencicipi Emperan Raja Ampat | cacatan hari hari - January 12, 2014

    […] Dejemput dan jalan jalan sore pake Strada oleh Pak Tony. Kami diajak santai sore di Pantai WTC, disambung sholat maghrib di Masjid Raya Raja Ampat . (tentang masjid raya, WTC dan gedung Pari pernah saya posting di http://aqidshohih.wordpress.com/2013/10/15/raja-ampat-tidak-melulu-laut/ ) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: