diSTribuSi

24 Aug

disampaikan pada mata Kuliah:

TafSir Ekonomi

di ISLAMIC BANKING SCHOOL YOGYAKARTA

Dalam perekonomian modern, tidak dapat dipungkiri bahwa distribusi merupakan sector penting dalam aktifitas perekonomian. Distribusi, termasuk distribusi pendapatan dan distribusi kekayaan, baik yang melalui aktivitas yang bersifat ekonomi maupun social. Distribusi sangat kental dalam perekonomian Islam.

Menurut Muhammad Anas Zarqa (1995)1 terdapat beberapa factor yang menjadi dasar distribusi (atau redistribusi); tukar menukar (exchange), kebutuhan (need), kekuasaan (power), system social dan nilai etika (social system and ethical values). Anas Zarqa melihat begitu pentingnya memelihara kelancaran distribusi agar tercipta sebuah perekonomian yang dinamis, adil dan produktif. Contoh jelas dari urgensi distribusi dalam Islam adalah eksistensi mekanisme zakat dalam ekonomi.

Islam menjunjung tinggi hak individu atas kepemilikan terhadap sesuatu, namun karena mekanisme kepemilikan tidak dapat dilakukan oleh semua individu, bahwa orang yang berkuasa, berkeahlian tertentu, akan mendapatkan “kelebihan” yang dapat saja mengarah kepada “kecenderungan menghambat pemerataan kesejahteraan”. Karena itulah diperlukan system yang menjamin terjadinya distribusi atau redistribusi dalam perekonomian. Ingatlah tentang kelebihan karunia Allah yang diberikan Allah kepada sebagian hamba-hamba-Nya. Pelajari, ayat-ayat berikut; an-Nisa(4): 32, an-Nahl(16): 71, an-Naml(27): 15, al-Isra(17):70, al-Jasiah(45):16, ar-Ra’d(13): 4

Dalam Islam penjaminan kelancaran distribusi ini sudah disistemkan melalui prinsip-prinsip atau ketentuan-ketentuan syariah, misalnya kewajiban menjalankan mekanisme zakat dan mekanisme aktivitas perekonomian yang diatur oleh syariah.

Dari perspektif lain dalam dunia usaha (ekonomi riil) kegiatan distribusi dapat juga diartikan sebagai usaha melancarkan penyebaran sumber daya sehingga kesejahteraan dapat merata dirasakan. Artinya distribusi terjadi karena aktifitas ekonomi, seperti kegiatan jual-beli dan dunia kerja (reward and effort). Bahkan pelaku distribusi kini telah menjadi pelaku ekonomi dominan di samping konsumen dan produsen. Karena itulah, ekonomi Islam menempatkan secara strategsis terhadap posisi sector ini dalam mekanisme perekonomiannya.

Wahai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-haknya dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (Hud(11) : 85)

Fungsi distribusi dalam aktifitas ekonomi pada hakikatnya mempertemukan kepentingan konsumen dan produsen dengan tujuan kemashlahatan ummat. Ketika konsumen dan produsen memiliki motif utama adalah memenuhi kebutuhan maka distribusi sepatutnya melayani kepentingan ini dan memperlancar segala usaha menuju ke arah motif dan tujuan ini.

Aktifitas usaha distribusi ini kemudian dituntut untuk dapat memenuhi hak dan kewajiban yang diinginkan oleh syariat bagi konsumen dan produsen. Dengan demikian, aktifitas distribusi sebaiknya sejalan dengan motif dan tujuan utama dari aktifitas produksi dan konsumsi, yaitu pemenuhan kebutuhan masyarakat luas dengan landasan kemaslahatan. Kebutuhan utama adalah kebutuhan dasar atau pokok yang harus menjadi prioritas utama untuk dipenuhi dari perekonomian yang dijalankan produsen, konsumen dan distributor. Pemenuhan kebutuhan dasar dan penjaminan kelancarannya dalam perekonomian menjadi faktor penentu kestabilan ekonomi, politik dan sosial dalam kehidupan manusia.

Disamping faktor penjaminan distribusi yang dilakukan oleh mekanisme syariah melalui zakat dan lain-lain serta mekanisme ekonomi melalui aktivitas perekonomia seperti jual-beli, reward and effort, peran pemerintah atau negara juga tidak kalah penting dalam memastikan dan menjami kelancaran distribusi ini. Negara memiliki banyak pilihan berupa kebijakan atau instrumen untuk menjamin agar distribusi dapat berlangsung secara baik.

Bahasan Ayat

Pelajaran ayat-ayat di bawah ini dan ayat-ayat lainnya;

Berdasar urutan dalam mushaf adalah ayat-ayat di bawah ini adalah sebagai berikut; Al-Anfal(8): 1, at-Taubah(9): 60 al-Isra’(17): 12, al-Hadid(57): 7, al-Hasyr(59): 7,

Sedangkan berdasarkan kronologis turunnya surat-surat dalam al-Qur’an adalah sebagai berikut;

al-Isra’(17): 12 [ ], Al-Anfal(8): 1[ ], al-Hadid(57): 7, [ ]

al-Hasyr(59): 7 [ ], at-Taubah(9): 60[ ]

Dari urutan demikian dapat disimpulkan pemahaman; Allah telah menyediakan waktu siang dan malam yang beredar terus menerus sebagai media mencari nafkah. Bahwa harta yang didapat (ghanimah dan lain-lain) adalah milik Allah karena kemenangan atau perolehan atas harta itu atas karunia Allah. karena itu nafkahkanlah dari apa yang kamu peroleh. Mengapa? Agar tidak terjadi penumpukan harta di kalangan tertentu. Kepada siapa didistribusikan nafkah atau zakat itu, yaitu kepada 8 asnaf sbagaimana di sebutkan dalam ALQUR’AN…..

1 Muhammad Anas Zarqa, Islamic Distributive Scheme, Readings in Public Finance in Islam, (Edited by Mahamoud A. Gulaid & Mohamed Aden Abdullah), Islamic Research and Training Institute (IRTI) – Islamic Development Bank (IDB), Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia, 1995, pp. 181-184.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: